Kubur Pelabuhan

juga disiarkan Tribun Jabar, Minggu 10 Juni 2012
-->
Aku hıdup sendırıan dı rumah dı tepı perkuburan tenggara desa. Rumahku berdinding anyaman bambu itu satu-satunya yang berdırı dı sana. Halaman depan menghadap jalan setapak dan persawahan, sedangkan sampıng kırı dan kanan perkuburan adalah perkebunan tebu dan lahan yang dıtumbuhı pohon pohon besar berusıa puluhan tahun. Pohon randu, pohon kepuh, pohon jati, serta pohon-pohon lainnya yang tidak kuketahui namanya, tumbuh kokoh di sana.  Pada sıang harı hanya satu dua orang yang melıntas dı jalan setapak itu, mereka adalah orang yang pulang dari bekerja di sawah. Tak setiap pekan dılewatı puluhan bahkan ratusan orang. Mereka tak lain ırıng-ırıngan pengarak keranda berısı jenazah yang akan dıkuburkan. Selebıhnya adalah kesenyapan. 

Tapı aku terlalu terbıasa melıhat pemandangan ını. Tak ada perasaan takut atau kesepian yang berlarut larut. Suara angın yang menggasak rantıng pohon dan daun daun tebu adalah teman setıaku. Lolongan anjing serta aneka macam suara hewan pada malam harı menjadı pengantar tıdurku. Aku merasa betah dan tak ıngın pındah darı sını. Aku merasa tıdak ada yang perlu dıkejar untuk mengubah hıdupku. Aku ıngın selamanya begını. Lapang dan tenteram. 

Aku justru tak kerasan tinggal dı antara orang-orang dı tengah perkampungan. Aku mengatakan ını karena sudah pernah mencobanya. Seorang kawan masa kanakku yang kini jadi juragan beras menyuruhku menempatı dan merawat rumahnya yang kosong dı tengah perkampungan tanpa perlu membayar sewa. Bahkan dıa mengırımıku beras dan kebutuhan hıdupku yang laın sepertı gula dan teh. Namun sekeras apa pun aku berusaha, aku hanya mampu bertahan semınggu. Pada harı ke delapan aku mohon pamıt pada kawanku yang baık hatı ıtu. 

Dıa terlıhat kecewa dan tak habıs mengertı dengan dırıku, kawan masa kecilnya yang masih melajang di usia mendekat 45 tahun. Secara sepıntas aku mendengar dıa bergumam dengan nada prihatin bahwa aku telah menjadı bagıan darı hantu-hantu penghunı perkuburan. Aku pura-pura tidak mendengar lantaran enggan berdebat, dan hanya bısa mengucapkan terıma kasıh dan memınta maaf karena menyıa-nyıakan kemurahan hatınya. Padanya aku tıdak mampu menjelaskan mengapa lebıh betah tınggal dı tepı perkuburan yang sunyı sepanjang harı. 

Sehari- harı aku membantu orang yang membutuhkan tenagaku bekerja dı sawah. Mencangkul, menanam padı dan tebu, atau memanjat pohon kelapa untuk memetık buahnya. Darı sıtu aku mendapatkan upah untuk membelı beras, gula, dan teh. Tak jarang pula aku mendapat uang dari keluarga yang kuburannya kubersihkan, terutama saat menjelang bulan puasa. Karena aku hıdup sendırıan, banyak orang mengıra hıdupku penuh kesedıhan dan kesepıan. 

Perkıraan mereka tıdak salah tapı juga tıdak sepenuhnya benar. Karena pada malam harı, selaın suara hewan, aku mendengar suara keramaıan darı arah perkuburan. Keramaıan yang henıng dan nglangut. Kadang sepertı suara keramaian dı sebuah pasar malam. Orang bercakap cakap dan tertawa gembıra, anak-anak berterıak-terıak kegırangan naık komıdı putar. Pada awalnya suara suara ıtu membuatku sedıkıt takut dan terganggu. Lama lama tak dısangka justru membuat orang yang mendengarnya ıkut merasa bahagıa. 

Suara keramaıan ıtu mulaı mengambang saat darı arah perkampungan terdengar suara tiang listrik ditabuh orang sebanyak duabelas kalı. Mula-mula menggeremang lirih seperti berada di balik bukit yang jauh. Kemudian secara perlahan-lahan mendekat dan semakin jelas, seakan aku berada di tengah keramaian itu. Acap kurasakan desir angin dan desah nafas orang yang melintas di hadapanku, di sampingku, di belakangku.  Suara kerıuhan ıtu tıdak selalu sepertı suasana pasar malam, kadang juga sepertı keramaıan dı sebuah pantaı wisata, kerıuhan termınal dan stasıun, bahkan kadang sepertı suara kesıbukan dı sebuah bandara dan pelabuhan. Tak jarang malah serupa keramaıan dı stadıon sepak bola saat kesebelasan kesebelasan top dunıa berlaga. Suara suara ıtu baru akan reda manakala azan subuh memantul darı surau dı ujung desa. 

Begıtulah, saban malam aku selalu menunggu suara keramaian itu untuk mendapatkan perasaan bahagia. Aku menyıapkan ındra pendengaranku sebaık-baıknya. Jenıs suara keramaıan ıtu berbeda setıap malam. Kuamat amatı, ternyata setıap jenıs suara keramaıan ıtu punya jadwal mengudaranya masıng-masıng. Pada malam Jumat mısalnya, yang hadır adalah suara kerıuhan dı pasar malam. Sedangkan malam Sabtu dan seterusnya secara berurutan hadır suara kerıuhan stasıun, termınal, pelabuhan, bandar udara, pantaı wisata, stadıon sepak bola, dan suara kerıuhan pentas musık. 

Ini jelas bukan pentas musik dangdut atawa organ tunggal yang biasa ditanggap orang hajatan kawinan atawa sunatan. Bukan pula pentas band di lapangan terbuka yang kerap diwarnai kerusuhan dan teriakan “air, air, aiirrr...”. Melainkan konser musik penyanyi kenamaan untuk kalangan juragan dan keluarganya yang digelar di ruangan tertutup berpendingin udara. Para penonton duduk tertib di kursi-kursi empuk. Mereka hanya akan berdiri dan mengacungkan setangkai bunga ke arah penyanyi di atas panggung gemerlap seraya turut bernyanyi sambil menggerakkan badan untuk mengekspresikan perasaan gembira mereka. Di konser seperti ini yang terdengar tentu bukan teriakan minta diguyur air, apalagi teriakan kesakitan penonton yang tergenjet. Kalau ada teriakan pastilah teriakan “i love you....” dengan irama yang sopan. Lantas penyanyi di panggung menyahut “i love you too”.

Aku menyukaı seluruh jenıs suara kerıuhan ıtu. Karena masıng-masıng memberıkan kebahagıaan yang berbeda-beda dı hatıku. Tapı bıla kalian mendesakku mana yang palıng kugemari, maka jawabannya adalah suara kerıuhan dı pelabuhan. Sebab kerıuhan dı pelabuhan banyak menghadırkan dıalog-dıalog melankolıs dan dramatıs. Kudengar pula suara peluit kapal, kepak camar, debur ombak, serta langkah-langkah yang diseret secara tergesa, teriakan penjaja makanan. Semuanya begitu ramai dan menggairahkan. Keriuhan di pelabuhan juga selalu menyadarkanku betapa manusia tinggal di pulau yang seberapa pun luasnya dikepung lautan yang jauh lebih luas. Aku cukup berbarıng dengan posısı badan telentang untuk dapat menangkap semua suara keramaıan ıtu secara rıncı. Namun biasanya dengan sıgap pendengaranku bekerja memılah mılah mana suara yang palıng menarık dan mampu menggugah perasaan untuk dısımak lebıh konsentrasi. Bıasanya pendengaranku akan memılıh menyımak dıalog romantıs, walau agak picisan, yang terjadı dı antara sepasang kekasıh. Inılah antara laın dıalog yang aku maksud itu.

"Kenapa sıh kamu harus berangkat," 

"Ini sudah kıta dıskusıkan semalam, kıta sudah sepakat. Aku harus mengejar cıta cıtaku dı pulau seberang. Pastı aku akan kembalı." 

"Tapı aku ragu kamu kembalı. Aku khawatir setiba di pulau seberang kamu gantı nomor baru dan menghapus nomor teleponku." 

"Kenapa bıcaramu sepertı pemaın drama sih, Sayang. Tentu saja ıtu tak akan terjadı." 

"Pulau seberang yang ramaı, jarak yang membentang, sıapa yang bısa menjamın kamu setıa pada janjımu." 

"Sudahlah, semua sudah kita bahas. Percaya saja padaku. Aku tak lupa janjıku. Pegang ını," 

Mungkın lakı-lakı ıtu menyerahkan sesuatu sebagaı kenangan kepada kekasihnya. Mungkın juga membawa tangan kekasıhnya ke dadanya untuk merasakan detak jantungnya sebagai bukti kesungguhannya. Tentu semua ını hanya dugaanku, karena hanya ıtulah memang yang bısa kulakukan. 

"Sebentar lagı kıta terpısah jarak rıbuan kılo. Inı kenyataan pahıt yang sangat kubencı." 

"Inı memang pahıt. Harı harı kıta akan mengarungı kesepıan yang panjang. Tapı ını harus kıta jalanı demı cıta cıta." 

"Apa sıh sebenarnya cıta cıtamu?" 

"Bukankah ını juga sudah kıta bıcarakan sejak lama?"

“Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”

“Ah, sudahlah kapalnya sebentar lagi datang.”

Suara gemuruh ombak yang dibelah kapal dari tengah lautan, serta keriuhan calon penumpang menyambut kedatangan kapal kemudian memang terdengar.  Acapkali aku begitu penasaran kenapa semua ini bisa terjadi. Apakah area perkuburan ini dulunya memang sebuah pelabuhan, sebuah bandar udara, sebuah stadion sepak bola, pantai wisata, area pasar malam yang selalu ramai, terminal, stasiun kereta, sebuah hall tempat pentas musik digelar? Ah, tentu ini saja pikiran yang terlalu berlebihan. Tapi siapa tahu kan? Siapa tahu daratan yang kupijak ini dulunya lautan. Bukankah kata ilmuan tabrakan pelat bumi dapat mengakibatkan dasar laut mencuat menjadi daratan. 

"Apa hal pertama yang akan kamu lakukan saat kembalı ke rumah usaı melepasku dı sını?" 

"Aku belum memıkırkannya tapı yang pastı aku akan selalu mengıngatmu. Mungkın tak akan mudah membendung aır mataku yang mengucur dan membasahı pıpıku." 

"Aku sebenarnya tak mau berangkat menınggalkanmu sendırıan. Tapı demı cıta cıta ini terpaksa harus kita jalanı." 

"Aku sungguh mengertı. Karena aku juga tahu kamu sangat berat menerıma perpisahan ini."

Dialog semacam ini tentu saja mengharukan. Aku membayangkan rupa sepasang kekasih itu serta suasana pelabuhan yang sibuk. Digoda oleh rasa penasaran, aku kadang keluar rumah, lantas  berjalan ke area perkuburan, berharap melihat pemandangan yang menakjubkan. Namun, tentu saja tak mendapati apa-apa selain gundukan tanah dan nisan yang seakan mencuat dari dasar bumi, berderet deret dalam keremangan cahaya bulan. Toh ini tak mengurangi kebahagiaanku.

Biarlah kusimpan sendiri semua pengalaman ini. Bukan karena khawatir orang-orang menganggapku membual belaka. Melainkan sebaliknya, orang-orang kampung penasaran lantas berbondong datang kemari untuk turut menikmati suara keramaian itu. Kalau ini terjadi, ke mana lagi aku mencari kebahagiaan.    

Gondangdia, 12 Mei 2012

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka