Lelaki di Toko Buku

pernah disiarkan Riau Pos, Minggu 21 Maret 2010

Ia berada dalam bis padat penumpang. Berdiri berpegangan pada tiang. Bersama  penumpang lainnya tubuhnya terayun-ayun mengikuti gerak laju bis yang bergoyang-goyang. Matanya menatap lurus ke depan, seolah sedang menebak-nebak jarak. Sejatinya tidak. Ia berada dalam sebuah toko buku yang beberapa menit lalu ditinggalkannya. Sibuk mengingat-ingat cerita yang kemarin terpenggal lantaran toko makin sepi pengunjung sehingga tinggal dia sendirian. Petugas toko buku, gadis-gadis cantik dan pemuda tampan itu, serta satpam yang agak sangar, memerhatikannya terus. Ia jadi kikuk, dihabiskannya segera halaman terakhir dari bab ke 23. Lantas bergegas berjalan melewati rak-rak penuh buku yang membuat ia selalu merasa bagai berada di tengah keramaian yang hening. Mereka semua seperti melambai-lambai.

Ia sangat sedih karena tiada mungkin memenuhi lambaian mereka. Seharian tadi saat dia khusuk menelusuri setiap tanda baca, huruf, kata, frasa, dan kalimat dalam halaman buku fiksi yang dibacanya, buku-buku lain seakan memanggil-manggilnya dengan suara halus yang hanya ia yang mendengar. Mereka seolah meronta dari rak, ingin dibelai jari-jari kurusnya, dibaca dengan tatapan mesra. Tapi ia sadar sekalipun misalnya itu bukan semata ilusinya, tetap harus ia abaikan. Tidak semua buku harus dikunjungi bukan? Pikirnya sedih. Ia ingin meminta maaf atas anggapannya ini. Mungkin sebuah anggapan yang salah. Tapi bagaimana lagi? Buku-buku itu sangat banyak jumlahnya. Sedang ia memiliki waktu sangat sedikit.

Ah, ia harus berjalan lekas melewati kasir tanpa menoleh. Senyum sinis dan sorot mata curiga para penjaga ia luputkan.

Bukan. Bukan sekadar risih ataupun malu. Tapi lebih karena pikirannya sibuk membawa cerita yang tak tuntas dibacanya. Sepanjang pulang ia berusaha keras memasukan penggalan kisah itu ke dalam kepalanya, tak boleh ada yang tercecer. Merunut setiap adegan, dialog, alur, dan narasi-narasi yang membuncah. Kerap memang ia merasa ada yang lepas menguap entah ke mana sehingga sebuah dialog misalnya, jadi terasa aneh dan kehilangan konteksnya. Maka ia akan memejam untuk mengingat-ingat. Dalam mengingat-ingat ia kerap membuat alur berbeda berdasar versinya sendiri. Ia kocok demikian rupa sehingga alur cerita jungkir balik dan berbeda sekali dari aslinya. Bagai adonan yang bermetamorfosa menjadi bentuk lain. Versi ini yang kemudian ia tuliskan begitu sampai di rumah. Tak peduli ketika ia baca kepalanya jadi runyam sendiri.

Bis terus melaju dan berhenti di setiap halte naik turun penumpang. Hari mulai remang dan lampu-lampu jalan menyala berpendaran. Menerpa wajah dan matanya yang berkerjap-kerjap lelah. Pergerakan waktu tak pernah ia perhatikan. Saat ia menoleh bis terlihat tinggal sedikit penumpang. Kursi-kursi kini kosong sebagian. Dengan gontai ia memilih yang paling nyaman. Duduk mendekap tasnya yang kempis bagai mendekap alur dan tokoh-tokoh cerita novel yang tadi dibacanya. Tas yang bawa dari kampungnya. Ia tak betul-betul paham kenapa membawa tas lusuh itu ke mana-mana. Tas dari bahan yang telah pudar warnanya sebagaimana kaus dan celana yang dikenakannya. Apa peduliku, desisnya. Toh tak ada orang yang mengenalnya di kota ini. Lihat saja, di bis ini orang memang duduk bersisian, begitu dekat, tanpa celah, tapi tak ada yang ingin menyapa satu sama lain.

Lidahnya menjilat-jilat bibirnya yang kering. Ia tahu beberapa halte lagi bis bakal sampai terminal. Ia kini merasa telah lengkap mengingat secara garis besar ke 23 bab novel itu. Termasuk sejumlah narasi panjang yang indah dan mengagumkan, serta beberapa dialog yang menarik. Ia berjanji pada diri sendiri besok atau lusa ia akan kembali ke toko buku itu, membaca bab berikutnya. Mungkin bukan di toko buku yang sama. Ia telah membaca 23 bab novel itu di tiga toko buku berbeda.

Bab 1 sampai 5 dia baca di toko buku dalam mal samping terminal. Ini toko buku favorit langganannya.  Tempatnya yang luas dan terdapat kursi untuk pengunjung. Ia kerap tenggelam di sana, berjam-jam. Tahu-tahu matahari telah redup dan ia harus bergegas keluar. Istrinya pulang dari tempat kerjanya di minimarket pukul delapan. Ia harus sampai rumah lebih dulu. Menyiapkan sekadar teh hangat dan senyuman cerah. Semacam timbal balik yang harus dilakukannya demi semuanya berjalan secara baik-baik saja. Tapi hari itu ia bagai lupa diri, terbenam dalam dalam bab demi bab sebuah novel terbaru karya pengarang kesayanganya. Ia bagai masuk dalam pusaran yang mengasyikkan. Ia tergeragap manakala tiba-tiba sang penjaga menepuk bahunya.

“Maaf bung toko mau tutup,”

Bagai terperanjat ia tatap sang penjaga sekilas, lantas diletakkannya novel, dan bergegas keluar. Ketika esoknya dia kembali ke sana, dan meneruskan membaca bab berikutnya, belum satu jam penjaga toko buku yang sama telah berdiri di sampingnya, menyentuh pundaknya, dan meminta ia mengikuti langkahnya. Sungguh ia berdebar mulanya. Tapi kemudian ia dapat menenangkan diri lebih cepat. Ia ingat seorang tokoh dalam novel yang tetap tenang saat digiring ke tiang gantungan. Penjaga itu tentu tidak sedang menggiringnya ke hadapan para algojo. Maka sudah seharusnya ia bisa jauh lebih tenang. Seperti kerbau dicokok hidungnya ia mengikuti sang penjaga masuk sebuah ruangan. Ia melihat sebuah kantor yang rapi. Seperangkat meubel yang bersih seperti tak pernah diduduki. Seorang lelaki tampak duduk di belakang meja menghadap komputer, yang agaknya tengah menunggu dirinya.

“Silakan bung,” kata sang penjaga menyuruh ia duduk, lantas keluar lagi. Ia kini merasa dalam keheningan yang mencurigakan.

Laki-laki yang terlihat sibuk kini bangkit menghampiri dirinya, menjulurkan tangan.

“Kenalkan bung, saya Andre. Siapa nama bung kalau saya boleh tahu?”

“Kodru,” sahut ia tenang. Ia menebak-nebak maksud lelaki ini mengundangnya kemari.

“Anda seorang pembaca yang tekun,” ucap lelaki itu.

Ia menatap lelaki itu, lantas menyunggingkan senyum pahit. Berusaha tetap tenang, meski ia benci situasi seperti ini.

“Minumlah bung,” lelaki itu menyodorkan minuman dingin bersoda.  “maaf sudah mengganggu keasyikkan membaca Anda,” lelaki itu memandangnya dengan sorot bersahabat.

“Maaf, tidak usah bertele-tele, ada apa saya dipanggil kemari. Saya kena denda karena membaca buku-buku tanpa membelinya?” ucapnya dengan nada rendah dan sedikit pasrah. Diliriknya minuman dingin kalengan di depannya. Tapi ia merasa malu dan harus menahan diri. Hanya menelan ludah.

“Tenang, Bung,” ujar lelaki itu, “Secara pribadi saya tidak keberatan bung membacai buku-buku di rak kami tanpa pernah membelinya. Saya senang membaca, saya juga senang melihat orang yang gemar membaca,”

Ia mencoba menebak-nebak arah pembicaraan lelaki itu yang terdengar berputar-putar.

“Saya akan meminjami bung buku yang beberapa hari ini anda baca, tapi dengan syarat anda tulis resensinya dan kirimkan ke media. Jika dimuat buku tidak perlu bung kembalikan. Bung sepakat?”

Ia berpikir sejenak sebelum mengangguk penuh semangat. Begitulah, dia menerima buku itu lantas bergegas keluar seraya menyambar minuman kaleng yang sangat menggodanya. Ia pulang dengan dada berdebar-debar. Sampai di rumah istrinya telah menunggunya.

Ia lihat wajah istrinya cemberut marah. “Dari mana saja sih? Kamu keluyuran sementara istrimu bekerja banting tulang,” kata istrinya, pedas. Ia sudah terbiasa mendengar omelan perempuan itu. Ia maklum dan merasa tak perlu marah. Toh ia tahu cara meredakan emosi istrinya. Itu ia dapatkan dari sebuah buku tentang cara mudah menjinakkan istri yang pernah dibacanya. Kadang ia merasa cerita dalam buku-buku yang dibacanya ditulis berdasarkan kejadian nyata yang dialaminya. Atau sebaliknya, ia hanya menjalani hidupnya mengikuti cerita yang ditulis para pengarang itu. Kerap ia bimbang siapa sebenarnya yang lebih dulu: cerita atau perstiwa yang ia alami.

Ia tersadar bis telah memasuki terminal. Ia harus segera turun dan meneruskan perjalanan dengan bis lain. Dari jendela bis dilihatnya dinding mal yang memantulkan cahaya terang benderang. Ia tahu gara-gara memberi ia buku, lelaki itu dipecat dari pekerjaannya. Sejak itu ia tidak pernah ke toko buku itu lagi.  Ia sungguh merasa sangat bersalah pada lelaki baik itu. Ia tidak bisa memenuhi janji yang telah sepakatinya. Ia tak pernah sempat mengirim resensi media karena ia merasa resensinya hanya layak disimpan dilaci atau dibuang di tong sampah. Bahkan pada istrinya pun dia tak punya nyali menunjukkan tulisannya. Ia ingin mencari lelaki itu dan mengembalikan buku. Tapi semua petugas toko buku itu tak ada yang tahu nomor teleponnya sekalipun.  

Bis berjalan sangat lambat dikepung kemacetan. Bisa polutan menyembur dari moncong knalpot menekan dadanya. Sialan, sungutnya.  Mendadak ia memutuskan turun dari bis dan berbalik ke arah terminal. Malam ini ia tak akan pulang.  Toh sekarang ia tak harus pulang sebelum jam sembilan. Perempuan itu telah pulang ke kampung halaman, dan kembali ke kota ini bersama lelaki lain.

Ia memutuskan untuk begadang di taman dekat terminal. Seperti yang pernah dilakukannya pada waktu-waktu yang lalu. Siapa tahu di sana ia bertemu lelaki yang pernah memberinya buku. Siapa tahu!   

Comments