Lelaki Rokok

disiarkan di Radar Banten, Minggu 20 Juli 2008
-->
Begitu sampai di bawah jembatan penyeberangan itu, dia berhenti. Artinya dia telah sampai di bawah billboard bergambar iklan rokok. Dia sudah terlalu hapal tanpa perlu mengangkat wajahnya. Sekilas diliriknya gambar orang-orang yang tengah bergelantungan di tebing curam itu. Dikeluarkannya rokok dari sakunya, mengambil sebatang, lalu membakarnya seraya menunggu bis. Tapi ketika bis yang ditunggunya datang dia tak juga beranjak lantaran rokoknya masih panjang. Begitu santai dia mengisap rokok, mengembuskan asapnya, terbang ke mana-mana, menampar kelimun orang di bawah jembatan penyeberangan itu.

Orang-orang memandangnya hanya sepintas. Mungkin di antara mereka ada yang merasa terganggu dengan asap rokok yang menyebabkan matanya perih dan haknya menghirup udara segar terampas, tapi tak ada yang bisa dilakukannya. Ini bukan wilayah terlarang buat merokok. Dia tidak akan membuang rokoknya sebelum bara api sampai ke bagian gabus filter, sampai betul-betul tinggal puntung yang tidak mungkin bisa dihisap lagi. Dia akan mengambil lagi sebatang yang baru, membakarnya, sebelum bis yang ditunggunya datang.

Dia menunggu bis nomor 86, warna hijau, yang akan mengantarnya pulang ke rumah, menemui istri dan anak-anaknya saban petang. Bis yang dimaksud tak banyak yang melintas di daerah sini. Paling banyak setiap satu jam hanya ada satu bis. Itu pun seringkali sudah penuh oleh penumpang dari terminal. Bukan masalah. Dia bisa berdiri atau bergelantungan di pintu. Dan jelas dia tidak bisa melakukannya sambil merokok. Kalau dipaksa akan sangat beresiko. Bukan saja jadi gerutuan penumpang lain, tapi dia juga tidak menikmati artinya merokok.

Tentu, buat apa merokok kalau tidak bisa menikmatinya. Dia tahu dia bukan pecandu rokok. Dia hanya penikmat rokok. Bahkan bercakap-cakap pun bisa mengurangi nikmatnya merokok. Maka dia hanya akan merokok bila benar-benar memiliki waktu khusus. Yaitu saat tidak ada kegiatan lain yang mungkin dilakukannya sambil merokok. Kegiatan lain yang bisa dilakukannya sambil menikmati merokok hanya saat menunggu bis, melamun, atau memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu bis seperti dirinya. Bagi dia aneh sekali ada orang bilang sambil merokok melakukan pekerjaan jadi lebih lancar, kalau mengarang jadi lebih mengalir.   

Menunggu bis pun ternyata membuat dia tidak bisa sepenuhnya menikmati merokok. Terbukti dia begitu terganggu manakala bis jurusan ke arah yang ditujunya datang. Maka yang dilakukannya adalah membiarkan bis itu berlalu. Dia akan naik bis ketika merasa telah cukup menikmati rokok.

Dia masih ingat kapan pertama menjadi penikmat rokok, yaitu mulai kelas dua SMP. Pamannya yang mengajari. Setiap pulang dari pekerjaannya sebagai pengemudi bis antar kota diberinya dia sebatang Dji Sam Soe. Dilihatnya si paman begitu nikmat menghisap sebatang rokok. Mula-mula dia mendapatkan sebatang rokok secara cuma-cuma. Lama-lama dia harus melakukan pekerjaan lebih dulu untuk mendapatkannya. Biasanya si paman meminta dia memijit punggungnya atau menyuruh dia membelikan jamu atau bakso atau apa saja yang dibutuhkan si paman. Dia akan menerima sebatang rokok sebagai upah. Dia menolak manakala sang paman mengupahnya dengan uang atau benda lain. Sebab kalau beli sendiri di kios rokok dia takut kepergok kakak perempuannya atau kawan sekolah yang akan melaporkannya kepada guru.  Dia akan rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sebatang rokok dari si paman. Tanpa disadarinya dia diperbudak si paman demi mendapatkan sebatang rokok. Dia tak peduli. Diterimanya sebatang Dji Sam Soe, dan dinikmatinya sendirian.

Tentu, dia harus jauh-jauh dari rumah kalau mau merokok atau harus mengunci rapat-rapat kamarnya. Supaya dia bisa mematikan rokok dan membersihkan asapnya apabila terdengar ada yang mengetuk pintu. Dia tidak mau kepergok siapa pun kala tengah merokok. Terutama kakak perempuannya yang sangat keras melarang dia merokok. Pernah suatu kali dia kepergok kakak perempuannya. Dirampasnya sebatang rokok yang sedang nikmat-nikmatnya dia hisap.

“Belum saatnya kamu merokok, setan!” hardik sang kakak. Betapa sakitnya nikmat merokok terpenggal tiba-tiba.
“Siapa yang ngajari kamu ngrokok! Siapa yang ngajari!” kejar kakak perempuannya.

Dia berlari kesal menghindari kakak perempuannya. Pergi mencari sang paman untuk meminta lagi sebatang rokok, meski dia tahu pamannya tidak akan pernah memberi lebih dari sebatang. Maka dipungutnya puntung rokok sisa si paman yang masih seperempat di asbak. Pamannya memang punya kebiasaan hanya menghabiskan tigaperempat batang rokok yang dihisapnya. 

Tetapi suatu kali dia bisa mendapatkan rokok sebanyak dia minta dari si paman gara-gara dia memergoki si paman tengah bergumul dengan seorang perempuan tetangganya. Dia mendapati tubuhnya gemetar menyaksikan tubuh telanjang sang paman menindih tubuh perempuan tetangganya yang juga telanjang dan saling membelit, begitu erat, begitu kuat.

Sejak itu dia tidak hanya bisa mendapatkan rokok berapa pun dia mau, sedikit demi sedikit bahkan dia mulai memeras si paman. Dia membagi-bagi rokok hasil memeras si paman kepada kawan-kawan sekolahnya. Mereka ramai-ramai menghisap rokok di stasiun. Dia jadi makin terampil bagaimana cara menikmati rokok. Merokok harus didampingi segelas kopi. Supaya awet batang rokok dia olesi ampas kopi.
***
Kala malam gambar iklan di billboard itu makin jelas karena disorot lampu ribuan watt. Dia suka menatapnya berlama-lama. Gambar yang menakjubkan. Tapi sekaligus iklan yang aneh. Dia tahu gambar itu sama sekali tidak menyiratkan ajakan untuk merokok.  Dan sama sekali tidak nyambung dengan produk yang diiklankannya. Tapi apa peduli dia. Toh tanpa diiklankan pun orang tetap saja tidak berhenti meluangkan waktu buat merokok.  Memang  sekarang di mal, di hotel-hotel, di gedung bioskop semakin dibatasi tempat buat merokok. Dipisahkan dalam tempat khusus mirip kandang binatang.

Sungguh dia tidak bisa menikmati rokok di tempat khusus seperti itu. Lebih baik tidak merokok sama sekali. Semua toh baik-baik saja. Sekali lagi, dia memang bukan pecandu. Hanya penikmat. Tidak lebih.  Di keluarganya tidak ada yang perokok selain sang paman, suami dari adik ibunya itu. Ayahnya memang merokok, tapi itu dilakukannya apabila ada tamu yang memang suka merokok. Ayahnya merasa tidak bisa menghormati si tamu apabila ia tidak turut merokok.
Sementara kakak laki-laki dia merokok hanya seusai makan. Ini pun tidak wajib. Tetapi keduanya tidak sekeras kakak perempuannya dalam melarang dia merokok.

Sekarang siapa pun tentu saja tidak ada yang melarang dia merokok. Di rumah, istrinya pun tidak berani melarang dia merokok. Asal tidak di dalam kamar, atau di ruang keluarga saat berkumpul dengan anak-anak. Sebenarnya tanpa dilarang pun dia tahu waktu kapan saatnya merokok kapan saatnya rumahnya terbebas dari asap rokok. Maka ia hanya akan merokok di ruang belakang, menghadap taman, kala sendirian.  Hanya anak perempuannya yang kerap protes tiap melihat dia merokok. Pemborosan, anak perempuannya bilang. Kalau kena protes begitu secara otomatis dia tidak mungkin bisa menikmati merokok. Tidak bisa tidak, dibuangnya rokok bahkan bila baru dihisap ujungnya sekalipun. Sedang anak lelakinya—yang kini kelas 2 SMP—tidak pernah peduli dia merokok atau tidak. Dia khawatir anak lelakinya tidak hanya mulai merokok. Dia belum pernah mengingatkan anak lelakinya supaya tidak merokok. Mungkin sekarang sudah saatnya dia perlu melarang anak lelakinya merokok sebelum ia mulai mencoba-coba ganja.

Pada istrinya dia tidak perlu melarang merokok. Sejak pertama kali mengenalnya perempuan itu memang tidak pernah merokok. Makanya dia begitu heran ketika mendapati puntung rokok di pojok kamarnya. Tampak jelas puntung rokok ini bekas dihisap tadi siang. Dan itu bukan rokok merek kegemarannya. Mendadak hatinya berdesir. Di kamar mandi didengarnya istrinya tengah mandi sambil-sambil bernyanyi-nyanyi…  

Pondok Pinang, Juli 2008
 

Comments