Lombok, Serpih Surga yang Letih

Pantai Tanjung Aan, Lombok, NTB, suatu sore
-->
Lombok menjadi tempat tujuan wisata yang makin populer sejak beberapa tahun belakangan. Pulau yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat ini memang memiliki hamparan pantai yang permai dengan butiran pasir  putih bersih dan tidak terlalu lembut sehingga terasa enak saat dipijak dan tak mengotori telapak kaki.  Tak heran pasir dari pantai-pantai Lombok banyak dijual sebagai penghias akuarium di kota kota kota besar seperti Jakarta.

Saya mengetahui  keindahan Lombok melalui majalah gaya hidup di rubrik catatan perjalanan entah berapa tahun silam. Tapi sejak itu saya begitu terobsesi untuk suatu ketika mengunjungi pulau yang juga termashur dengan kendaraan tradisional  cidomo. Semacam andong di Jawa Barat, namun dengan bentuk dan ukuran yang khas.  

Saat awal September lalu saya berkesempatan datang ke sana untuk urusan pekerjaan, saya menemukan banyak cidomo hilir mudik di jalan-jalan. Sayang sekali, saya tidak sempat menaikinya. Tapi saya pikir pasti rasanya tidak berbeda dengan naik andong.  Tapi yang unik dari cidomo bukan hanya bentuknya yang lebih pendek, tapi juga kendaraan yang ‘bebas hukum’. Maksudnya, pengendara mobil atau motor  tidak bisa meminta ganti rugi kepada pemilik cidomo jika ia menabrak atau ditabrak cidomo. “Bahkan polisi pun tidak bisa membantu,” kata pemandu saya. Kenapa bisa begitu? Saya hanya dapat menduga, mungkin lantaran cidomo kendaraan tradisional masyarakat kecil.   

Saya tidak hanya  tidak berkesempatan menaiki cidomo, bahkan saya hanya sempat mengunjungi Pantai Tanjung Aan dan Senggigi,  di wilayah Lombok Barat. Tidak sempat menginjak Pantai Gili Trawangan yang kondang itu. Menurut pemandu banyak lokasi wisata di Lombok yang dijadikan tempat syuting video klip maupun film layar lebar. “Film Sajadah Ka’bah Rhoma Irama syutingnya di Pantai Tanjung Aan,” terang pemandu saya.

Di koran lokal Lombok Eskpress saya juga mendapat informasi, pembuatan iklan sebuah minuman suplemen juga tengah berlangsung di pantai ini. “Video klip Indah Dewi Pertiwi dibuatnya di pantai ini juga,” tambah si pemandu.  Di Tanjung Aan, selain menghampar pantai yang permai kamu akan mendapati beberapa gugus bukit yang hijau di kalau musim hujan.

Beberapa pekan sebelum berangkat ke Lombok, saya mencari kawan pengarang yang tinggal di pulau itu. Harapannya saya dapat menyuruki sisi terdalam Lombok dengan orang setempat yang tentunya tahu betul seluk beluknya, sehingga saya dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya sejarah dan kebudayaan Lombok dengan biaya lebih murah.

Harapan saya tidak terwujud. Kiki Sulistyo, penyair Lombok, yang saya kontak tidak sempat saya temui. Kami hanya sms-sms-an.  Akhirnya saya hanya terpelanting dari kamar hotel ke Pantai Tanjung Aan, lalu Senggigi. Serta menikmati makanan khas Lombok yang saya temui di sepanjang jalan. Saya lebih banyak duduk mengamati pantai yang permai, turis-turis manca bertubuh lampai. Dan mencoba menjalin komunikasi dengan mereka.  Di antaranya adalah Christina. Dia datang dari Switzerland, sebuah negeri makmur di daratan Eropa. 

Christina masih kuliah dan ia tengah menikmati liburannya di Lombok bersama kedua orang tuanya. “Saya menikmati sekali liburan di Pulau Lombok,” ujarnya dalam Inggris. Ketika saya sebutkan Jakarta, dia berujar, ‘Jakarta kota yang brisik dan penuh sampah’ dengan ekspresi  wajah seolah mengatakan, dirinya tak pernah berminat ke sana lagi.  “Di sini lebih tenang dan nikmat,” katanya. Saya mendapatinya tengah mencoba memanjat trampolin yang mengambang di pantai Senggigi yang disediakan hotel tempat kami menginap. Saya lihat kulitnya kemerahan oleh paparan sinar matahari.

Tubuh Christina terbalut bikini mini two piece, berkali-kali terjatuh, gagal mencapai permukaan trampolin.  Ada pula Ludwig, bocah Jerman yang getol sekali berenang di kolam. Selama tiga jam dia terus menerus menyelam, terjun, dan berkecipak dengan aneka macam gaya.    

“Kamu tidak kedinginan, Ludwig?” tanya saya. Dia menggeleng dan terus melanjutkan aksinya. Kali ini dia naik ke prosotan berbentuk kepala naga. Tubuh Ludwig lenyap ditelan kepala naga, lantas muncul seakan dimuntahkan mulut sang naga, dan langsung tercebur ke kolam di pinggir pantai.

Di pantai Tanjung Aan, saya membeli  cenderamata berupa gelang-gelang dari batu-batu warna warni yang diuntai benang. Saya pikir menarik sebagai oleh-oleh untuk orang rumah. Saya membeli empat buah seharga sepuluh ribu perak dari bocah-bocah penjaja. Saya hampir terpingkal saat salah seorang perempuan penjaja kain khas Lombok menggerundel akan demonstrasi jika para wisatawan tidak ada yang membeli dagangan mereka. Saat itulah saya teringat sms Kiki Sulistyo, “Tapi pariwisata membuat Lombok tampak letih.”  merespons sms saya sebelumnya yang berbunyi “Lombok bagai serpihan surga yang tercecer di bumi fana.”

Ya, keletihan Lombok, seperti yang dirisaukan Kiki, memang saya rasakan. Di celah celah batu karang yang indah sekaligus mengerikan di sepanjang pantainya, terlihat mulai terkotor oleh sampah-sampah plastik bekas kemasan minuman dan makanan yang dibuang serampangan wisatawan. Tampaknya, gencarnya pemerintah Lombok mempromosikan potensi wista pulau ini tanpa dibarengi kesiapan mereka mengelola industri ini.

Selain, pantai Tanjung Aan dan Senggigi, saya pergi ke kaki gunung Rinjani, mengikuti acara penanaman pohon. Menurut gubernur NTB, 2/3 kebutuhan air bersih masyarakat Lombok dipasok oleh Gunung Rinjani. Saya begitu tergoda untuk mendaki gunung ini dan bertemu dengan suku Sasak.

Suku Sasak konon mengamalkan ajaran shalat tiga waktu (wetu telu), tidak lima waktu sebagaimana umat Islam umumnya. Pasalnya, dulu kala, saat salah seorang sunan utusan kerajaan Demak menyebarkan ajaran Islam kepada mereka,  sebelum tuntas mengajarkan shalat, ia  keburu dipanggil pulang oleh pihak kerajaan lantaran terjadi perang.  Mungkin penggantinya yang dikirim kemudian ditolak masyarakat suku Sasak. Entahlah,  saya tidak sempat menggali informasi ini.  Semoga Kiki Sulistyo kelak bisa memberikan penjelasan.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka