Luka Mama

pernah disiarkan Seputar Indonesia, Minggu 7 Desember 2008
lukisan karya Satya Morgana
-->
Hidup yang sudah tidak begitu muda lagi, telah cukup dilukai (Toety Herati)

Marsa melihat Mama sudah begitu tua: kerut merut di wajahnya tampak makin kentara.  Rambutnya memang tidak banyak beruban sekalipun tak pernah dicat tidak sebagaimana dilakukan perempuan masa kini yang tak mau kelihatan tua. Gerakannya pun masih gesit berkat olah raga jogging yang rajin dilakukannya saban pagi usai salat subuh. Dan yang paling penting Mama telah meninggalkan kebiasannya merokok sejak usianya memasuki angka 50 pada sembilan tahun yang lalu. Namun kesehatan Mama secara fisik tidak mampu menutupi luka hatinya yang menahun. Luka hati yang menjejak pada kerut merut wajah dan sepasang matanya.

“Mama,” suara Marsa.

Mama tak mendengarnya. Dia duduk di ruang tengah menghadap teras samping. Pikirannya terbang lagi pada kegagalannya. Sampai kapanpun agaknya Mama akan terus dihantui kegagalannya memperjuangkan status pernikahannya dengan Walrengkah. Memperjuangkan status Marsa sebagai anak sah hasil pernikahannya dengan mantan pejabat di masa orde baru itu. Marsa bertahan untuk tidak perlu bertanya dan menyinggung kembali soal itu pada Mama, sebab sama saja dengan menguak luka lama Mama. Setidaknya untuk sementara ini. Marsa sudah dewasa, sudah bisa memahami keadaan. Kalaupun dia bertekad mau melanjutkan perjuangan Mama, dia akan menempuh dengan cara yang lebih elegan dan cerdas. Maaf,  ini sama sekali bukan berarti Marsa menganggap apa yang dilakukan Mama dalam perjuangannya tidak cerdas. Melainkan lawan yang dihadapi Mama terlampau kuat. Masih beruntung Mama tidak dilenyapkan seperti umumnya para pengganggu pejabat orde baru.

“Kenapa sih Mama mau menikah siri? Jadi istri simpanan? Amit-amit deh…” kata Marsa dulu, waktu baru masuk SMA, gara-gara kesal diledek teman-temannya. Marsa ingat, betapa marahnya Mama waktu itu. Betapa terlukanya hati Mama. Marsa begitu menyesal, air matanya selalu tumpah bila mengenang peristiwa itu.   

Marsa urung menghampiri Mama. Dia tahu saat-saat begitu Mama tidak ingin diganggu. Marsa lantas memilih menelonjorkan kaki di sofa ruang depan, melepas lelah setelah seharian bekerja. Marsa baru diterima bekerja di kantor pembuatan iklan tiga bulan lalu. Masa-masa bergairah memasuki dunia baru. Pekerjaan yang menjadi minatnya sejak kuliah. Marsa sama sekali tidak berminat menjadi penyanyi, apalagi penyanyi dangdut seperti Mama.  Pandangannya mengedari ruangan seperti baru kali itu Marsa berada di sana. Mengagumi selera Mama dalam mengatur tata ruang rumahnya. Dinding-dinding bercat ungu pudar di ruang depan ini bersih dari segala macam poster, kecuali sebuah lukisan kawanan kuda yang muncul dari lautan berukuran 30 cm x 50 cm yang tergantung tepat di atas bufet mungil tempat meletakan kaset dan DVD. Mata Marsa meloncat ke ruang tengah, di sana, beberapa senti di atas televisi tergantung potret Mama berukuran 10 cm x 15 cm. Mama tersenyum manis dengan make up yang tampak berlebihan dan gaun yang ramai. Potret Mama kala mau naik pentas untuk menyanyi. Gambar itu diambil kira-kira saat Mama umur 24-an, seusia Marsa sekarang.

“Kemarilah, Marsa,” suara Mama terdengar pelan. Marsa bangkit menghampirinya. Mungkin ini kesempatan bagi Marsa untuk mengutarakan niatnya melanjutkan perjuangan Mama menuntut Walrengkah mengakui status pernikahannya dengan Mama.

“Mama melamun lagi deh.” Marsa duduk di samping Mama dengan mata masih terpacak ke potret itu. Begitu saja terbayang Mama berada di atas panggung yang penuh sorak sorai penonton dari bawah. Mama lantas menembang lagu yang membikin namanya populer sebagai penyanyi dangdut kenamaan: Kenangan dan Luka. Judul dan syairnya buat Marsa cukup puitis, sekaligus norak. Hmm, apa boleh buat, di mata Marsa lagu dangdut tak pernah hilang imejnya sebagai lagu norak dan kampungan sekeren apa pun mereka mengemasnya.

Tetapi jangan main-main, berkat lagu itu Mama mampu membawa kehidupan keluarganya lebih baik. Membuatkan rumah lebih dari layak bagi orang tua di kampung, membantu membiayai adik-adik, dan keponakan. Bahkan memodali saudara-saudaranya buka usaha. Tidak hanya itu, namanya yang menjadi terkenal membuat seorang pejabat tinggi masa orde baru mengundangnya untuk menyanyi pada masa kampanye partai. Hubungan pejabat tinggi, yang tak lain Walrengkah, dengan Mama tidak sekadar sebagai penyanyi dengan klien-nya. Hubungan mereka berlanjut secara khusus dengan pernikahan siri. Dari pernikahan itu lahir Marsa.

Itulah masa keemasan bagi Mama dan Walrengkah. Sebagai penyanyi karir Mama tengah melejit dengan album yang laris manis sampai jutaan kopi. Sementara Walrengkah, apa yang tidak bisa dilakukan  pejabat masa orde baru itu? Tentulah hidup Mama dalam limpahan uang dan segala kemudahan. Barangkali ini yang membuat Mama merasa tidak penting dengan urusan status pernikahan siri mereka.

Masa keemasan itu tidak berlangsung lama. Ketika orde baru runtuh hubungan Mama dan Walrengkah pun berakhir, bahkan jauh sebelum itu, yakni manakala Walrengkah tidak lagi memegang jabatan tinggi di lingkaran kekuasaan. Tidak banyak yang bisa diingat Marsa pada masa-masa akhir perpisahan antara Mama dan Walrengkah. Dia hanya ingat pada usianya yang ke tujuh atau delapan tiba-tiba begitu banyak wartawan yang mendatangi Mama dan dia rumahnya. Mama duduk di meja panjang, di depanya para wartawan menyorong-nyorongkan recorder. Wajah Mama yang basah oleh keringat makin tampak berkilau oleh jepretan kamera. Mama menjawab pertanyaan wartawan perihal gugatannya kepada Walrengkah untuk mengakui pernikahan yang telah dilakukan dengan dirinya, mengakui Marsa sebagai anak dari pernikahan mereka.  Semua hanya lamat-lamat dalam ingatan Marsa.

“Marsa, ada yang ingin Mama sampaikan,” ujar Mama.

“Ceritakan saja, Ma” Marsa menggenggam tangan Mama untuk menegaskan bahwa dia siap apa pun yang akan Mama sampaikan. Marsa menggeser duduk lebih merapat ke tubuh perempuan yang telah melahirkan dan mendidiknya itu.

Marsa merasa nyaman dengan sikap yang dibuatnya ini. Namun sekian lama Mama masih membisu membuatnya khawatir sikapnya justru membuat Mama tidak nyaman dan ragu-ragu untuk menyampaikan hal agaknya sangat penting ini. Diliriknya sang Mama. Oh, dia kelihatan begitu tegang seperti menahan perasaannya yang hendak meledak.

“Marsa, kamu sudah dewasa. Sudah saatnya tahu tentang Mama, tentang kamu, tentang semuanya yang menyangkut perjalanan hidup kita,” ujar Mama dengan suara sedikit serak, “Mama tahu, tentu kamu sudah mengetahuinya lebih jelas dari Mama sendiri. Tapi Mama ingin menceritakannya padamu.”

Makin erat jemari Marsa menggenggam tangan Mama untuk, sekali lagi, memastikan bahwa dirinya akan selalu memberi dukungan pada Mama, memberi seluruh kekuatan yang dimilikinya. Marsa merasakan telapak tangan Mama sedikit berkeringat namun tetap hangat dan lembut. Menjalarkan perasaan teduh. Tangan yang telah membelai dan memberinya kehangatan. Sepadat apa pun jadwal Mama menyanyi dari kota ke kota, dari daerah-dareah, bahkan luar negeri, Mama tak pernah meninggalkan Marsa. Dibawanya Marsa ke manapun dia pergi. Disusuinya sampai usia dua tahun. “Saya lebih tenang membawa anak saya ke mana pun saya show,” ujar Mama pada wartawan. Marsa membacanya dari kliping koran. 

“Cerita saja, Ma,” suara Marsa, pelan dan hati-hati, “Marsa akan menyimak baik-baik,” Marsa menatap Mama, “Semua akan baik-baik saja,” Marsa ingin meyakinkan.

Apa yang dituturkan Mama kemudian sama persis dengan apa yang sudah diketahui Marsa. Namun dengan tekun Marsa menyimak penuturan Mama, sambil sesekali mengusap-usap dan mendekap punggung Mama. Marsa memang sudah tahu secara detil bagaimana Mama melakukan perjuangan menuntut Walrengkah mengakui perkawinannya dengan dirinya, mengakui Marsa sebagai anaknya. Itulah masa ketika Marsa mulai memasuki usia sekolah dasar. Mama kewalahan setiap Marsa mendesakkan pertanyaan tentang seorang ayah. Marsa ingin seperti teman-temannya yang ke sekolah diantar ayah mereka.

“Papa sibuk, Marsa. Nanti Mama minta Papa segera kembali ya,” kata Mama getir. Kalimat ini selalu diulang-ulang namun tak pernah jadi kenyataan. Mama sungguh bingung bagaimana menjelaskan pada Marsa yang terus mendesak. Marsa tidak mempan lagi dengan berbagai macam rayuan Mama supaya berhenti bertanya. Bahkan kakeknya, paman-pamannya yang datang untuk menghibur Marsa tak sanggup lagi melipur Marsa dari keinginannya bertemu Papa. Ketika Marsa jatuh sakit dan terus menerus menagih janji Mama meminta Papa kembali, Mama mulai serius memikirkan status pernikahannya.

Mama mengundang Om Gunadi, seorang pengacara yang masih kerabat Mama sendiri, untuk membicarakan persoalan status pernikahannya. Dibantu Om Gunadi, Mama menulis surat secara resmi kepada Walrengkah untuk datang dan menyelesaikan persoalan ini secara damai dan adil. Mensahkan status pernikahan, setelah itu bercerai pun bukan masalah, supaya jika Mama punya rencana menikah lagi tidak melawan hukum. Dengan demikian status anaknya pun jelas. Mama tidak menuntut apa-apa, kecuali laki-laki itu memenuhi tanggung jawabnya sebagai ayah dari Marsa.

“Marsa, Sayang, sabar ya. Nanti Papa pasti datang. Sementara Om Gun saja yang mengantar Marsa ke sekolah. Oke?” bujuk Om Gunadi.

Beberapa kali surat Mama tak pernah digubris. Karena jalan damai yang ditempuh Mama menemui jalan buntu, Mama lantas mengajukan permohonan isbath nikah ke pengadilan agama untuk mensahkah status pernikahannya dengan Walrengkah. Berita permohonan isbat nikah Mama ke pengadilan agama menjadi pemberitaan media hiburan dan infotainment secara luas.
 “Saya melakukan ini demi status anak saya, bukan mencari sensasi atau memeras seperti dituduhkan orang,” ujar Mama emosional pada wartawan.

Hampir sampai 10 tahun Mama bersama Om Gunadi mengusahakan pengesahan status pernikahan ke pengadilan agama. Mengumpulkan dokumen dan menyerahkannya kepada pengadilan. Namun perjuangan puluhan tahun itu berakhir hampa. Pengadilan selalu mengulur-ulur proses sidang karena Mama dianggap tidak memenuhi bukti-bukti pernikahannya dengan Walrengkah.  Permohonan isbath nikah diajukan Mama tidak dikabulkan pengadilan agama.

“Maafkan Mama, Marsa,” suara Mama bagai tercekat.

“Tidak perlu minta maaf, Ma. Mama sama sekali tidak gagal. Tak ada yang percuma.” Marsa memeluk Mama dan menciumi kedua pipinya. “Mama, percayalah Marsa baik-baik saja. Tidak perlu terlalu dicemaskan. Mama sudah pengin punya cucu ya?” Marsa mencoba mencairkan perasaan Mama.*

Comments