Malam Pergi

pernah disiarkan Jurnal Nasional, Minggu 3 Agustus 2008 Panggung seluas 12 x 14 meter berdiri di pelataran rumah sohibul hajat. Disanggah empat batang besi, atap panggung berbentuk melengkung setengah lingkaran dengan terpal berwarna ungu. Lampu-lampu bertengger rapi di sisi-sisi atap, siap dimainkan bila pertunjukan dimulai. Di latar belakang panggung tertulis: Tarling Dangdut Kencana Ungu Pimpinan Sanan Asmara. Gulungan layar, dan peralatan musik seperti gong, gitar, seruling, organ, gendang, dan sejumlah properti hampir beres ditata di tengah panggung. Tinggal perangkat sound system yang masih dikerjakan di dua sisi panggung. Azan isya sudah berkumandang setengah jam lalu. Dalam bilik belakang para sinden sibuk berdandan. Sanan tampak hilir mudik cemas. “Murti ya mas?” suara Desti terdengar penuh nada cemburu. Yang ditanya sama sekali tak merespons. Wajahnya makin tampak gelisah. “Dia memang tak tahu balas budi. Baru segitu mau ninggalin kita,” ujar Desti. Terdengar orang mengetes microphone, “Tes tes…” Sanan melihat lagi jam tangannya, 19. 45. Dia menghubungi Nurohmat, anak buahnya yang dia suruh menjemput Murti, lewat ponselnya. “Gimana, Mat? Ketemu nggak?” “Belum, Mas. Jauh sekali,” sahut suara di seberang. Sanan segera memutus kontak dengan geram. Dia kembali menghubungi nomor Murti. Tidak ada jawaban. “Sudahlah, Mas. Nggak ada Murti juga bisa jalan kok,” celetuk Desti. Sanan menatap Desti antara marah dan kesal. Lalu bergegas meninggalkan bilik sempit itu, keluar. Sanan berjalan melewati para anak buahnya yang sibuk melakukan segala persiapan. Mereka harus memberikan tontonan yang bagus dan sesempurna mungkin. Mereka tidak boleh mengecewakan sohibul hajat. Itulah yang selalu ditekankan Sanan pada anak buahnya. Kepuasan sohibul hajat adalah segalanya. Kalau sohibul hajat puas tentu akan menjadi promosi gratis bagi Kencana Ungu, rombongan tarling dangdut pimpinannya. Tanpa disuruh mereka akan menyampaikannya pada teman dan kerabat sehingga Kencana Ungu akan makin kondang. Tetapi kali ini Sanan ragu, persiapan yang dilakukan anak buahnya bakal menghasilkan kepuasan sohibul hajat apabila Murti tidak datang. Dia hanya melambaikan tangan kepada anak buahnya yang memandangnya penuh tanya. Dia menyapukan pandang pada deretan kursi yang masih diduduki anak-anak kecil. Sekilas di melihat ke dalam rumah sohibul hajat yang sibuk menyambut para tamu. Kedua mempelai dengan wajah sumringah menyalami para undangan yang terus berdatangan. Sanan merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Dia takut sohibul dan penonton hajat kecewa. Sebab waktu sohibul hajat datang ke sanggarnya meminta dia untuk menampilkan Murti, sinden yang sedang digandrungi bukan saja lantaran suaranya yang bagus tapi juga permainannya dalam membawakan lakon sangat luar biasa. Dia berjanji akan memenuhi permintaan sohibul hajat. “Jangan sampai tidak ada Murti. Soalnya Pak Kades juga mau nonton,” “Pasti, Pak. Jangan kawatir. Murti pasti datang, lha wong dia saya yang mengorbitkan,” ujar Sanan meyakinkan. Selama bertahun-tahun merintis grup tarling dangdut Kencana Ungu, baru kali ini Sanan menikmati pemasukan yang lumayan besar. Permintaan mentas tak pernah putus dengan tarif yang terus naik. Ini semua gara-gara Murti. Kecantikan sekaligus totalitasnya dalam menyanyi dan membawakan lakon membuatnya digemari. Kencana Ungu yang mengasuhnya secara otomatis turut kondang di jagat hiburan antar desa. Sebulan biasanya hanya mentas paling banyak dua kali, sekarang bisa lebih dari sepuluh kali. Apalagi manakala musim hajatan yang biasanya jatuh pada bulan Sawal. Sehingga dia bisa mengganti peralatan musiknya yang sudah tua dengan merek keluaran baru, melengkapi properti panggung, serta membuat baju seragam yang lebih modis untuk para anak buahnya. Bukan cuma itu, tanah kosong di sebelah rumahnya yang merangkap sanggar dia beli untuk memperluas bangunan sanggarnya. Bisa kredit mobil pick up untuk mengangkut peralatan musik dan properti. Dan tahun depan berencana naik haji. Sanan terus berjalan keluar dari area rumah sohibul hajat. Melewati para penjual bakso, mie ayam, es campur, gerobak rokok, permainan judi sintir yang mulai ramai dikerumuni pembeli. Dia melihat lagi ponselnya. Pesan yang dia kirim ke nomor Murti masih menunggu. Dia menyelinap ke tenda penjual minuman. Memesan teh botol dingin. Menyesap teh botol Sanan merasakan kekosongan melanda dadanya. Air teh manis itu terasa pahit di lidahnya. Sebenarnya bukan kekecewaan sohibul hajat yang dia khawatirkan benar, melainkan Murti telah berpaling darinya. Di mana sih kamu, Murti? Gumamnya lirih. Bagi Sanan, Murti bukan hanya anak asuhnya yang telah memberinya banyak rejeki. Lebih dari itu, Sanan sangat mencintainya bahkan berniat menjadikannya istri. Sanan sudah mengungkapkan maksudnya untuk melamar Murti. Namun Murti yang sekarang kulitnya tampak putih mulus itu tak kunjung memberi jawaban. “Saya tidak bisa jawab sekarang, Kang,” kata Murti. “Sampai berapa lama aku menunggu?” desak Sanan. Apabila didesak demikian Murti hanya diam menunduk atau memalingkan wajahnya dari mata Sanan yang menatapnya penuh harap. Sanan tahu, Murti anak sulung yang membantu ibunya menghidupi tujuh orang anak. Bapaknya seorang marbot yang tak memiliki penghasilan kecuali bila ada warga yang meninggal. Di luar itu kerjanya hanya shalat dan zikir di masjid. “Kamu boleh tetap jadi sinden dan membantu ibumu,” Sanan terus membujuk. “Bukan itu persoalannya, Kang, bukan itu,” “Jadi apa, Murti? Ngomong saja,” Murti tetap tidak mengungkapkan alasan dia tak mau segera dilamar Sanan. Tak mungkin dia menjelaskannya. Sejujurnya bagi Murti tak ada alasan cukup kuat bagi perempuan untuk menolak laki-laki seperti Sanan. Seorang pekerja keras dan sangat menghormati perempuan. Sanan bukan jenis laki-laki yang suka memanfaatkan kedudukannya sebagai pimpinan rombongan masres untuk main dengan para sindennya. Dan yang paling penting Sanan masih melajang. Dia tidak akan menyakiti perempuan mana pun apabila mau menerima lamaran Sanan. Sanan ingat pertama kali Murti bergabung dengan Kencana Ungu. Pagi itu Murti datang ke sanggarnya dengan wajah murung. Dia menghiba supaya boleh bergabung di Kencana Ungu. “Memangnya kamu bisa menyanyi Murti?” “Saya mau belajar, Kang, asalkan Akang mau mengajari saya,” pintanya. “Apa bapakmu mengijinkan?” tanya Sanan. Bapak Murti memang dikenal sangat taat beribadah. Menjadi sinden tentulah tak akan diijinkannya. Tapi Murti terus menghiba. Sanan yang saat itu memang sedang mencari sinden baru akhirnya menerima Murti. “Saya ingin membantu ibu membiayai sekolah adik-adik,” sergah Murti. Hari itu juga Murti diajari Sanan main drama dan nyinden. Murti memang berbakat, Sanan tidak perlu terlalu lama mengajari dia main lakon dan nyinden. Murti di mata Sanan sangat istimewa Memang Murti tidak langsung jadi pesinden yang turut bermain lakon. Selama beberapa mentas Murti hanya tampil sebagai sinden yang menyanyi untuk pemanasan. Lantaran penampilannya yang bagus dan banyak digemari, beberapa minggu berikutnya Murti bisa tampil di panggung sebagai pemain inti. Dia menggeser Desti memainkan lakon Ratminah, perempuan kaya yang menolak cinta si lelaki miskin Baridin. Walaupun lakon Ratminah berakhir tragis—dia jadi gila diguna-guna Baridin dengan ajian jaran goyang— melalui lakon tesebut Murti seakan membalas dendam terhadap kenyataan hidupnya. Dia bisa menghina Baridin, meludahi laki-laki kere itu dengan puas. Towi yang kebagian peran sebagai Baridin merasa mendapat lawan main yang pas. Mimik wajah Murti saat menghina Baridin selalu dipuji-puji Sanan. “Kamu sungguh hebat Murti,” kata Sanan. “Terima kasih, Kang. Seandainya akhir ceritanya sedikit diubah pasti lebih bagus lagi,” kata Murti. “Diubah bagaimana?” “Ajian jaran goyang yang dikirim Baridin tak mempan,” “Wah, jangan sampai. Penonton bakal nggak terima. Mereka menyukai lakon ini justru karena akhir ceritanya itu. Kalau diubah bisa-bisa mereka bakal meninggalkan kita,” Diskusi seperti ini biasanya mereka lakukan seusai pementasan. Tapi Bapak Murti akhirnya tahu. Suatu malam, saat Murti sedang menyanyi sebagai pembuka sebelum masres sebagai pertunjukan utama dimulai. Bapaknya sekonyong-konyong naik ke panggung dan menyeret Murti turun. “Berani-beraninya kamu jadi sinden,” maki bapaknya memaksa Murti pulang. Pertunjukan terhenti dan heboh. Sambil menahan malu dan tangis Murti terpaksa pulang malam itu. Sanan yang mencoba menahan Murti kena tinju bapak Murti. Bahkan giginya tanggal satu karena rupanya bapak Murti mengenakan batu cincin di jarinya. Akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa, membiarkan Murti dibawa pulang. Untunglah saat itu Desti bisa mengambil alih peran Ratminah. Kejadian ini jelas saja membuat nama Kencana Ungu tercoreng. Sejak peristiwa itu Murti tidak datang lagi ke sanggar. Dia membantu ibunya jualan sayuran di pasar. Sanan menemuinya di pasar, “Murti, kamu nggak mau nyinden lagi?” “Bapak, Kang,” “Nanti saya ketemu bapakmu,” “Jangan, Kang,” Nekat Sanan datang ke rumah menemui bapak Murti. Laki-laki itu tengah zikir saat Sanan datang ke rumahnya. “Murti jadi sinden untuk membantu adik-adik,” ujar Sanan begitu Bapak Murti menerimanya dengan dingin. “Heh, walaupun saya miskin saya tidak mengijinkan Murti nyinden. Tidak berkah uang dari nyinden,” ujar Bapak Murti. Laki-laki itu tetap teguh. Sanan pun pulang dengan hampa. Di jalan di bertemu dengan Umirah, adik Murti pulang dari bekerja di rumah tetangga sebelah rumah. Sanan tahu Umirah tidak melanjutkan sekolah dan harus mengubur cita-citanya jadi guru. Sanan merogoh kantong celana. Diberinya Umirah uang. “Buat adik-adik,” bisik Sanan lesu. Malamnya Murti datang ke sanggar. Tentulah membuat Sanan gembira. “Kang aku nyinden lagi,” katanya. “Bapakmu?” “Dia sedang pergi dakwah keluar kota,” Murti kembali memainkan lakon Ratminah. Kali ini permainannya lebih total. Bukan cuma itu, saat dia tampil menyanyi, sebelum lakon dimulai, dia tampil dengan gaya joget yang baru. Meliuk-liuk bagai ular yang memang melilit di tubuhnya. Ya, Murti berjoget sambil membawa ular! Sanan sampai heran dari mana Murti belajar joget seperti itu, membawa ular pula. Setahunya Murti tidak pernah belajar di tempat lain. Tapi Sanan tak sempat bertanya. Yang dia tahu sejak itu dia makin sibuk meladeni permintaan mentas. Bukan hanya di acara orang hajatan, tapi juga dalam acara syukuran desa, ulang tahun pabrik gula. Nama Murti pun makin kondang. Beberapa kali rombongan tarling dangdut lain membujuknya untuk bergabung dengan mereka. “Kami berani membayar kamu lebih tinggi dari yang selama ini kamu terima,” Tapi Murti tetap teguh dia tidak mau mengkhianati Kencana Ungu. “Dibayar berapa pun aku tak mungkin meninggalkan Kencana Ungu,” tukas Murti. Tetapi kesetiaan Murti tidak bertahan lama. Bukan karena bapaknya yang pergi berdakwah tak pernah kembali, tapi karena ibunya terserang sakit sehingga dia membutuhkan biaya yang banyak untuk berobat. Bukan Sanan tidak menaikkan honornya. Tapi tak pernah cukup. Dengan hati berat Sanan mengijinkan Murti nyinden untuk rombongan musik lain dengan syarat tidak bertabrakan dengan jadwalnya nyinden untuk Kencana Ungu. *** Malam terus menanjak. Di langit bulan tak tampak. Di panggung Desti membawakan lagu “Kucing Garong”. Orang-orang berjoget. Sanan memantau dari kejauhan. Dia kehilangan kontak dengan Rimat. Pesan pendek yang dia kirim ke Murti belum juga dijawab. Masih ada waktu satu jam lagi menuju acara puncak. “Kucing Garong” habis, Desti melanjutkan dengan lagu kedua. Emsi mengumumkan akan segera menampilkan Murti menjelang pertunjukan masres dimulai. Tapi penonton tak sabar meneriakkan “Murtii….Murtii…” “Hadirin diharap sabar, sinden kita Murti pasti hadir untuk kita semua. Tapi sebelum itu kami Kencana Ungu mempersembahkan sinden-sinden cantik yang siap menggoyang para hadirin sekalian…” suara emsi terdengar jelas di telinga Sanan yang masih berada di dalam tenda penjual minuman. Kembali terdengar penonton meneriakkan “Murtii..Murtii…” Sanan sudah putus asa. Sekarang dia berpikir untuk meminta maaf pada sohibul hajat atau pergi meninggalkan rombongan tarling dangdut pimpinnya. *** Sore begitu lengang. Di halaman daun-daun belimbing berjatuhan. Sanan duduk melamun di sanggarnya sendirian. Tak ada lagi anak buahnya yang sibuk berlatih. Tak ada lagi peralatan musik kecuali sebuah gitar listrik tua yang sudah putus senarnya, nemplok di dinding. Gulungan layar mengonggok lapuk di pojok ruangan yang kini dipenuhi sarang laba-laba. Terkenang lagi peristiwa malam itu. Dia pergi meninggalkan rombongan tarling dangdut Kencana Ungu, mencari Murti. Dia memang menemukan Murti tengah menyanyi di tempat lain. Murti yang cantik menari meliuk-liuk dengan ular yang melilit di tubuhnya. Dia melihat Murti dieluk-elukan. Sanan menunggu Murti turun di belakang panggung. Murti memang turun tapi dia langsung berlalu bersama laki-laki pimpinan rombongan tarling dangdut Cahaya Muda. Sanan berusaha mengejar, tapi dia segera dihadang dan dipukuli hansip. Dari kejauhan dia masih bisa melihat Murti dibimbing laki-laki itu masuk ke dalam mobil. Sanan pulang dalam keadaan bukan saja babak belur dipukul hansip, tapi hatinya pun terkoyak-koyak. Dia tidak kuasa untuk menahan pembalasan dendam. Serupa Baridin dia bertapa untuk mendapatkan ajian jaran goyang. Dengan ajian itu dia membuat Murti seperti Ratminah: gila diguna-guna. Murti berlari-lari telanjang mengejarnya. Sanan akhirnya mendapatkan Murti. Tapi pengaruh ajian jaran goyang tak bisa ditarik kembali. Murti telanjur hilang ingatan. Pondok Pinang, Mei 2008.

Comments