Malam Ziarah

pernah disiarkan Lampung Post, Minggu 27 Maret 2011
Warti tersungkur di punggung makam. Memeluk gundukan tanah dengan sepasang lengannya. Separuh wajahnya yang mulus tak berjarak dengan permukaan tanah yang ditumbuhi alang-alang yang mulai membasah oleh imbun.

Cahaya bulan samar-samar membantunya membaca guratan nama di nisan papan. Dia menahan suara tangisnya, tapi tak kuasa menghentikan air yang ambrol dari kedua sudut matanya. Susah payah dia mengambil posisi bersimpuh lantaran gaun terusan panjang yang dikenakannya, lalu berdoa dalam diam.

Hening. Hanya dengung serangga malam dan detak jantung Warti yang terdengar. Dadang yang berdiri di sampingnya melirik haru namun tetap membersitkan kesan melecehkan. Angin berdesir lembut mengelus tengkuk Warti yang berguncang-guncang.

“Sudahlah, War. Tak usah lama-lama, percuma, doamu tak bakal diterima,” celetuk Dadang menusuk perasaan Warti. Tapi dia tidak peduli, dan merasa tak perlu peduli. Warti sudah terlalu terbiasa dengan kalimat menyakitkan yang ditujukan kepadanya, bahkan sejak dia kanak-kanak, ketika dia bernama Warto. Dan Dadang merupakan orang nomor satu dalam hal melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan. Sekarang kupingnya sudah kebal.

Tak akan pupus dari ingatan Warti lontaran menyakitkan dari mulut Dadang yang pertama kali. Waktu itu Warti baru kelas empat sekolah dasar. Panitia perayaan tujuhbelasan memilihnya ikut menari tari-tarian daerah untuk mengisi panggung hiburan di balai desa. Tari lilin dari Padang, tari pendet dari Bali. Warti menyambut sangat gembira ajakan tersebut.

Namun Dadang berusaha mencegah keikut sertaan Warti. “Jangan mau, Warto. Tarian itu untuk anak perempuan. Jadi banci kamu nanti,” bentak Dadang. Namun Warti bersikukuh. Bagi Warti inilah kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya berguna, bukan dalam turnamen sepak bola, bola voli, atau permainan gobak sodor, seperti kawan-kawan sebayanya dalam tradisi merayakan hari kemerdekaan di kampung.

Sesudahnya ucapan dan umpatan menyakitkan lainnya berhamburan lebih banyak lagi dari mulut Dadang dan saudara-saudara Warti yang lain, juga tetangga, teman-teman, bahkan ibunya turut bersikap keras jika melihat Warti bersikap lemah lembut. Hanya bapaknya yang tak sekalipun bersikap kasar. Bapaklah yang sepuluh tahun lalu membuat Warti begitu berat meninggalkan caci maki, hinaan, dan segenap kenangan buruk masa kanaknya desa ini, ke Surabaya.

“Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Bapak. Aku baik-baik saja di Surabaya. Salam buat ibu dan saudara-saudara semua di rumah.” Begitu Warti menulis surat untuk bapak, sesampai di Surabaya. Warti tidak tahu surat itu sampai atau tidak. Kesulitan memenuhi kebutuhan hidup di perantauan seorang diri membuat dia tak sempat memikirkan nasib surat lebih lanjut. Tapi Warti yakin bapak selalu berdoa untuk keselamatannya.

“SUDAH malam, War.” Suara Dadang mendesing, menggasak hening.

Warti bergeming. Wajah teduh bapak memenuhi kepalanya. Wajah orang yang selalu membelanya saat ibu dan saudara-saudaranya mencaci maki. Menyediakan pangkuannya bagi tumpahan air mata Warti, mengelus-elus kepalanya penuh welas asih. Terngiang pertengkaran bapak dan ibunya yang berbeda sikap terhadap kondisi Warti.

“Walau bagaimana pun kamu tetap anak bapak sampai kapan pun.” Demikian kata bapak, lirih, setiap ibu membentak Warti.

Kata-kata ini yang mengiang dan membuat Warti merasa tidak benar-benar sendiri. Kata-kata yang memberi kekuatan pada Warti untuk menerima takdir yang harus dipikulnya. Kata-kata yang membekali Warti menempuh jalan hidupnya yang lain di Surabaya.

“Aku pergi, Bapak,” kata Warti suatu malam, sambil tersedu.

“Mau pergi ke mana, kamu anakku?” bapaknya bertanya pilu.

Jika mengingat adegan ini, beberapa waktu sesudahnya, Warti seperti melihat sebuah adegan dalam sinetron yang membuat dia tak kuasa menahan haru. Dadanya sesak, air mata berlelehan tak henti-henti sampai Warti berada di dalam bus. Waktu itu, sama sekali dia tak tahu hendak menemui siapa di Surabaya.

“PULANGLAH lebih dulu, Kang Dadang. Aku nanti menyusul.”

“Ini hampir tengah malam, Warti. Tidak aman buat perempuan…”

“Aku bisa menjaga diri,” tukas Warti, pelan tapi tegas. Sekilas dia melirik wajah Dadang. Wajah itu mirip sekali dengan wajah bapak. Tapi kenapa watak keduanya sungguh bertolak belakang? Sungguh, saat ini Warti membutuhkan wajah Bapak untuk meredakan ketakutannya.

“Kamu memang keras kepala!” bisik Dadang. Dia melangkah menjauh, lantas duduk di gundukan makam berporselen, membakar rokok. Klepas klepus sembari mengawasi Warti yang masih bersimpuh, khusu’ sekali. Sampai habis beberapa batang rokok, Warti tak juga selesai berdoa. Dadang agak menyesal kenapa tidak menunggu besok pagi saja mengantar Warti ke makam bapak. Kedatangan Warti dengan wujud baru magrib tadi sangat mengejutkan. Begitu mendengar bapak telah meninggal Warti langsung memohon diantar ke makam. Hhhs…Dadang mendesis gelisah. Sibuk menghalau nyamuk yang berdenging menggigiti kulitnya.

Ketika selesai berdoa Warti tak kunjung beranjak dari simpuhnya. Dia merasa begitu berat meninggalkan makam bapak. Bukan hanya karena menyesal tak bisa melihat bapak untuk yang terakhir kali, tapi ada ketakutan lain yang menguntit perasaannya. Dia takut polisi memburu sampai ke rumahnya. Jantung Warti mendadak berdegup kencang tak mampu mengenyahkan kecemasan yang melanda jantungnya dengan hebat.

Peristiwa itu kembali berkelebatan di kepalanya. Peristiwa yang membuat semua usaha yang dibangunnya di Surabaya berantakan. Sumarsih, karyawan setia di salon miliknya, berkhianat. Pagi itu Sumarsih menelpon minta ijin tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Namun menjelang sore ketika Warti menjenguk di kamar kontrakannya, dia mendapati Sumarsih tengah berangkulan lekat sekali dengan Subardi, kekasih Warti.

Dengan perasaan tersayat Warti berlari pulang. Sekeranjang buah yang dijinjingya terlempar begitu saja. Apel merah Australia dan jeruk Mandarin berpentalan, menggelinding ke sana kemari. Jadi rebutan bocah-bocah dekil penghuni permukiman para kere tersebut.

Sesampai di rumahnya di belakang kios salon, Warti menumpahkan airmatanya sampai habis tak bersisa di dalam kamar. Ternyata ada yang lebih menyakitkan dari segala hinaan dan caci maki yang pernah diterimanya sejak kecil. Kenapa kamu tega sekali, Sumarsih? Mengkhianati aku, orang yang telah mengangkat kamu dari jalanan?

“Ampun, Yu. Mas Subardi yang memulai.” Sumarsih bersimpuh di kaki Warti.

“Apa yang kurang dariku, Marsih? Selama ini aku menganggapmu lebih dari karyawan. Tega sekali kamu, Marsih. Ternyata benar desas desus itu. Jancuk kamu, Marsih.” Suara Warti bergetar oleh kemarahan yang berbaur dengan kepedihan.

“Ampun, Yu.” Sumarsih terus bersimpuh di kaki Warti, menangis sesenggukan.

Perasaan Warti yang lembut dan mudah tersentuh perlahan-lahan luluh melihat Sumarsih terus menghiba-hiba. Warti tahu Subardi memang hidung belang. Tapi Warti telanjur jatuh hati pada lelaki itu. Bahkan tergila-gila. Apa saja keinginan lelaki pengangguran jebolan pesantren itu dia penuhi. Subardi tahu betul merogoh hati Warti.

Tetapi itulah kesalahan Warti yang tak termaafkan. Pengkhianatan itu berulang. Kali ini mereka melakukannya di kamar Warti. Mereka benar-benar sepasang ular berbisa yang harus ditebas kepalanya. Kalap Warti merenggut pedang pajangan di dinding. Kemudian didobraknya pintu. Warti melihat sepasang ular itu terkesiap ketakutan. Dia sibak kain kelambu dengan ujung pedang. Wajah mereka pucat pasi, menyembah-nyembah Warti, lupa menutup tubuh mereka yang telanjang bersimbah keringat dingin.

“Bangun kalian, iblis, tatap mataku.” Suara Warti terdengar menggeram seperti harimau hendak menerkam mangsa yang diincar sekian lama. Dalam hidupnya mungkin baru kali ini Warti bisa sebegini murka. Warti masih sempat melihat wajah Sumarsih yang sepias mayat sebelum pedang dalam genggamannya terayun cepat menyabet leher Sumarsih. Darah muncrat seketika, deras bagai air mancur, memerahkan sprei dan lantai.

“Wartiii, ampuuunn…” Subardi memekik dan berupaya menubruk Warti. Malang bagi Subardi. Tubuhnya disambut pedang terhunus. Subardi ambruk dengan ujung pedang menancap tepat di uluatinya.

“Inilah buah pengkhianatan yang harus kalianmu terima,” desis Warti menatap nanar kedua mayat mereka yang bergelimang darah. Kesadaran Warti lekas bekerja. Dia masukkan jasad mereka ke dalam sejumlah karung setelah memenggal-menggalnya menjadi beberapa bagian.

“AYO War, sudah malam,” Dadang setengah berteriak, membuyarkan lamunan Warti.

“Kang Dadang, biarkan aku bermalam di sini. Sebelum subuh aku mau langsung kembali ke Surabaya. Ambillah kopor dan semua isinya untuk kalian,” kata Warti, hampir berbisik sembari merapikan selendang transparan penutup kepalanya.

Dadang terpaku menatap wajah Warti yang tampak samar di bawah cahaya bulan. Tapi Dadang dapat menangkap betapa wajah itu halus dan cantik, dengan garis rahang yang melengkung lembut.

“Kamu tahu, War, sewaktu bapak sakit sering memanggil-manggil kamu. Bahkan menjelang wafat nama kamu yang disebutnya.” ujar Dadang, “kami mau mencarimu, tapi tak tahu kamu tinggal di mana,” kalimat terakhir tak sempat keluar lantaran segera terpotong kata-kata Warti yang meminta Dadang meninggalkannya seorang diri.

“Sudahlah, Kang Dadang, tidak ada yang perlu disesali, pulanglah,” kata Warti seperti ditujukan kepada diri sendiri. Dia telah merobek gaun panjangnya sebatas lutut.

Dadang berdiri gamang. “Tidak, War. Kamu harus kembali ke rumah. Mereka pasti sudah menunggumu.” kata Dadang, memperkencang debaran jantung Warti. Kulit wajahnya tentulah memucat, tapi Dadang tak dapat melihat perubahan itu dalam keremangan. Keduanya terdiam beberapa saat. Sebelum tiba-tiba terdengar suara kemerosak langkah kaki dari arah jalan desa.

Seketika Warti berkelebat pergi, “Kang Dadang, pulanglah, sampaikan salam dan maafku untuk saudara-saudara semua.”

“Wartiii,”

Langkah-langkah yang datang dari arah desa ternyata saudara-saudara Warti. Segera mereka secara serentak mengejar Warti yang terus lari lintang pukang menerabas semak-semak.

“Wartiii, maafkan kami, kembalilah, kami kangen…Wartiii…” seruan-seruan mereka mengelupas keheningan malam terang bulan itu. Namun Warti terus lari, dan lari, sampai ia tak memperhatikan di depannya melintang sungai.

Pondok Pinang Januari 2011

Comments