Menanti Pinangan

pernah disiarkan Tribun Jabar, Maret 2011

Tiga tahun lewat sudah sejak janji itu ia ucapkan. Janji akan menerima pinangan siapa pun yang datang lebih dulu dari dua lelaki itu. Begitu lekas waktu bergegas. Seperti baru kemarin ia mengucapkan janji tersebut kepada Marwan dan Dadang, dua lelaki yang datang meminangnya secara bersamaan hanya berselang tiga bulan kematian suaminya.
Selain bola lampu di ruang tamu yang entah telah berapa kali diganti, seluruh perabotan di ruang tamu ini masih seperti dulu: sofa tempatnya duduk sekarang, taplak meja corak kembang-kembang, rak buku, guci porselen, jembangan bunga, foto-foto keluarga, baling-baling kipas angin, jam dinding. Bahkan warna cat temboknya yang hijau muda seakan tak tersentuh putaran waktu yang terus berlalu meninggalkan perasaan ngilu. Kalau ada yang berubah itu adalah kesunyian yang makin runcing dipantulkan benda-benda itu.
Dua pokok pohon mangga masih berdiri di halaman. Adalah pohon yang sama yang tiga tahun lalu menghalangi pandangannya melihat punggung kedua lelaki itu; mereka yang pulang dengan wajah tertunduk membawa hati yang kecewa. Hanya kini batangnya lebih tinggi dan gemuk dengan jumlah cabang makin banyak serta rantingnya merindang dan daunnya merimbun, meneduhkan halaman. Dua anak lelakinya kini telah beranjak remaja. Mulai sibuk dengan berbagai kegiatan mereka di luar rumah. Begitulah anak lelaki, tak pernah betah di rumah, keluhnya.
Pada bulan-bulan pertama setelah ia mengucapkan janji itu, ia ingat, kedua lelaki itu masih kerap menelpon dan mengirim sms-sms mesra dan penuh perhatian. Ia merasa sangat tak nyaman dengan kiriman-kiriman pesan pendek semacam itu. Ia ingin marah tapi tak tahu kepada siapa melampiaskannya. Tak mungkin kepada Tuhan yang begitu lekas memanggil pulang suaminya melalui sebuah kecelakaan tragis yang membuat hatinya teriris. Sejak kecil ia diajarkan untuk selalu berprasangka baik pada takdir. Tapi tak urung ini membuat stabilitas emosinya terganggu. Ia ingin sendiri, menjaga jarak dari siapa pun terutama lelaki yang bermaksud mendekatinya. Ia tak mau berkhianat pada almarhum suaminya. Ia memang merasa sedih dan hampa. Tapi ia hanya ingin menghibur diri dengan bekerja membina karir sebagai guru madrasah tsanawiyah dan mengurus sebaik mungkin dua orang anak yang kini menjadi yatim.     
Namun dua lelaki itu seakan tak mau mengerti. Telepon dan sms-sms mesra itu seperti teror yang meresahkan. Dengan diselubungi kalimat-kalimat berbelit mereka bertanya, adakah keputusannya menunda tiga tahun telah bulat? Tidakkah ingin diralat?  
“Kalau keputusanmu berubah kapan pun aku siap datang untukmu, Anin.”
“Aku tahu keputusanmu menunda sampai tiga tahun lamanya bukan keputusan bijak. Kamu membutuhkan seseorang untuk mendampingimu, mendengar keluh kesahmu, membagi suka dukamu, ”
“Sebenarnya kamu mau menerimaku kan? Tapi kamu takut menyakiti Marwan kan?”
“Mengapa kamu terlalu menimbang perasaan Dadang, jika kamu sesungguhnya ingin memilihku sesuai wasiat almarhum Mas Jamal? Coba pikirkan kembali, Anin. Kasihanilah dirimu,”
Ia tak pernah sanggup menjawab kalimat-kalimat menghiba penuh bujukan yang meluncur dari mulut kedua lelaki itu, selain permintaan maaf dan memutus sambungan telepon sesopan mungkin supaya tidak ada perasaan yang tersinggung. Meskipun kalimat-kalimat itu kadang terdengar sok tahu dan menerbitkan benci. Sejujurnya, ia tak bisa memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada satu di antara keduanya, bukan bingung lantaran mereka mengaku diwasiati almarhum suaminya untuk menikahinya.  Melainkan karena hatinya sepenuhnya masih dimiliki Jamal. Bahkan seluruh keping-keping hatinya turut terpendam bersama jasad suaminya untuk selamanya. Janji yang ia ucapkan hanya sebentuk penolakan halus. Tiga tahun, manalah ada laki-laki yang bisa tahan menunggu sepanjang itu.
“Lagi pula aku masih berduka, Bu,” keluhnya pada ibunya.
“Ibu mengerti, Anin. Tak ada yang memaksamu menerima pinangan lelaki mana pun.” ujar perempuan yang kini menjadi satu-satunya orang tempat ia menumpahkan kesah. 
Tetapi semangat kedua lelaki itu bagai tidak pernah surut. Tidak hanya sms dan telepon, kedua lelaki itu bahkan mengirimkan utusan lengkap dengan sekeranjang buah tangan, berbasa-basi menanyakan kabar. Ia heran, apakah semangat mereka karena benar ingin menjalankan wasiat ataukah lebih didorong oleh keinginan pribadi? Ah, ini pikiran yang bikin tambah runyam keadaan. Apa pun motivasi mereka, dengan halus namun tegas ia mengatakan bahwa dirinya tetap teguh pada keputusannya.
“Sampaikan pada Bang Marwan, datanglah tiga tahun lagi,”
“Sampaikan pada Bang Dadang, saya akan menerima pinangannya tiga tahun mendatang.”
Pernah suatu kali Dadang datang ke sekolah menjemputnya. Ia terkejut melihatnya duduk menunggu di ruang tamu sekolah. Ia tak bisa lagi menghindar. Sore itu ia pulang dibonceng Dadang. Ia juga tak kuasa menolak ketika di tengah jalan Dadang meminta ia—dengan sedikit memaksa—menemaninya datang ke acara perkawinan seorang kawannya. Ia tak menjawab ucapan terima kasih lelaki itu. Tiga hari berikutnya giliran Marwan bertandang ke sekolah dengan alasan mau menyumbang buku untuk perpustakaan. Tidak bisa tidak ia yang menerima Marwan di ruang perpustakaan. Tapi ia membisu manakala Marwan mengutarakan maksudnya berkunjung ke rumah.
Adakah mereka marah? Ah, bukankah waktu itu ia juga layak marah?
**
Kini tiga tahun telah lewat. Kedua lelaki yang dulu menggebu ingin menggantikan posisi almarhum suaminya itu tak juga datang mengetuk pintu. Tiap hari sepulang dari mengajar ia duduk menunggu di sofa dan berharap bayangan tubuh salah satu dari lelaki itu muncul dipantulkan sinar sendu matahari sore. Ia akan memenuhi janjinya untuk menerima pinangan siapa pun yang lebih dulu datang mengetuk pintu. Adakah ia salah menghitung waktu? Kadang terbersit pertanyaan itu dalam benaknya. Maka ia akan menghitung-hitung dan mengingat kembali waktu yang telah dilaluinya. Ini hanya membuat ia seperti menyusuri labirin kesepiannya yang menciptakan lara. Ia berharap salah menghitung; dan kedua lelaki itu belum datang lantaran belum genap tiga tahun. Ia akan makin dilanda gelisah manakala menemukan kenyataan bahwa ia sama sekali tidak keliru.
Adakah mereka tahu janji itu bentuk penolakan halus semata? Dulu sungguh tak terbayang bahwa sebelum tiga tahun ia bakal merasa demikian hampa dan menyesal telah mengucapkan janji tersebut. Bahkan baru lewat setahun ia mulai merasa membutuhkan seseorang untuk berbagi, bahu tempat bersandar, persis kalimat yang diucapkan Marwan melalui telepon. Keping-keping hatinya yang ia duga turut terkubur seluruhnya bersama jasad suaminya ternyata telah kembali lebih cepat dari dugaannya. Hidup lagi dengan sosok yang baru, lebih rapuh.
Secara berganti-ganti sosok Marwan dan Dadang menyembul dalam lorong ingatannya. Perawakan dan garis garis wajah Marwan sekelebatan memiliki kemiripan dengan almarhum suaminya. Ia memang masih saudara sepupu Jamal. Ayah Marwan merupakan adik ayah Jamal. Masa kecil dan remaja keduanya dihabiskan di lingkungan yang sama. Sementara Dadang tak lain sahabat terdekat Jamal. Ia memiliki tubuh agak tinggi dan tegap dibanding Jamal. Namun sifat, gerak gerik, dan kegemarannya hampir semuanya sama dengan Jamal. Barangkali itu yang mempererat persahabatan keduanya, ataukah sebaliknya? Persahabatan yang erat mempengaruhi sifat, gerak-gerik dan kegemaran keduanya.
Bagi siapa pun tiga tahun memang waktu yang teramat panjang untuk menunggu, apalagi untuk lelaki sehat jasmani dan rohani seperti Marwan dan Dadang. Barangkali mereka telah jera lantaran ia dulu selalu menghindari keinginan mereka bertemu. Barangkali sekarang mereka telah berbahagia dengan istri dan keluarganya masing-masing. Ia tak pantas lagi berharap kedatangan mereka meminang dirinya. Sungguh tak perlu kecuali ia mau menghabiskan waktu secara percuma. Baru kali ini ia merasa begitu sia-sia.
Ia mendesah keras. Beranjak ke muka jendela melepas simpul tali gorden. Sekilas ia melihat bayangan wajahnya yang terpantul di kaca rak buku. Wajah yang masih jelas memperlihatkan garis-garis keindahan alami. Mata yang sendu, garis hidung yang lurus, bibir yang pipih menyembunyikan sebaris gigi yang rapi. Suaminya dulu memanggilnya Humaira* lantaran bibirnya yang kemerah-merahan meski tanpa polesan gincu. Betapa bangganya ia mendapat panggilan itu. Betapa pintarnya lelaki itu membuat ia merasa istimewa, merasa seperti remaja meski telah melahirkan dua orang anak. Jamal juga selalu memuji teh panas buatannya.
“Rasa gula dan tehnya pas. Tak ada yang lebih mendominasi.” Ia kerap tersipu mendengar pujian itu. Lantas duduk begitu rapat di sebelah lelaki itu seraya menghindari tatapan mata sayunya. Ia akan makin salah tingkah jika dua anaknya yang kala itu berusia sebelas dan sembilan tahun turut menggodanya pula.    
Kejadian-kejadian indah seperti itu sekarang teringat lebih jelas sampai kepada detil-detilnya, seperti warna kaus lengan panjang yang dilipat sebatas siku yang dikenakan suaminya dan pikiran bagaimana bisa suami dan kedua anaknya yang masih bocah itu bersekongkol membuatnya gugup. Tapi ingatan-ingatan ini hanya makin menegaskan kehampaan batinnya, kekerontangan hatinya.
Selama tiga tahun penantian itu bukan tak ada lelaki lain yang mencoba mendekatinya. Ia lupa, mungkin ada dua atau tiga orang lelaki yang secara serius menyatakan maksudnya menjadikan ia istri. Tapi tak ada satu pun yang cocok. Ketika ia merasa ada yang sesuai laki-laki itu ternyata telah beristri dan bermaksud menjadikannya istri kedua. Demi Tuhan, kesendirian memang menyiksa. Tapi menjadi benalu bagi kebahagiaan sesama perempuan sungguh lebih buruk dari sekian banyak perkara yang buruk.  
***
Magrib menjelang. Suasana remang membayang di halaman. Tapi anak-anak kenapa belum juga pulang? Kecemasan mendadak menyergap perasaannya. Lekas diraihnya gagang telepon. Tetapi sebelum ia memijit nomor anaknya, pesawat telepon mendadak berdering.
“Anin…”
Didengarnya suara yang pernah akrab. Ya, suara Marwan. Dadanya bergemuruh.
“Marwan…”
“Apa kabar? Saya harap kamu bahagia bersama Dadang.”
Ia mau menyahut ketika telepon mendadak terputus. Belum lagi kesadarannya  mampu mencerna kalimat itu, didengarnya anak-anak datang mengetuk pintu. Mereka menghambur masuk seraya memberikan sebuah amplop.
“Dari siapa nak?”
“Dari kotak pos,” sahut anaknya sambil berjalan lurus ke meja makan. Lekas ia baca pengirimnya: Dadang. Dadanya berdebar lebih kencang. Tanganya bergetar seperti mau menerima keputusan hidup atau mati manakala merobek sudut amplop pelan-pelan. Sejenak ia diam dan berdoa ketika ibu jari dan telunjuknya menyentuh kertas dalam amplop. Lantas ditariknya perlahan sekali…
Semoga kamu bahagia hidup bersama Marwan. Aku rela, Anin. Asal kamu bahagia.
Dadang.

Pondok Pinang 12 Desember 2010

Comments