Mendadak Nikah

disiarkan Majalah Anggun edisi April 2009
-->
Saat yang paling ia tunggu-tunggu, pernikahan itu, akhirnya tiba: Minggu Pahing, pekan depan akad nikah bakal dilangsungkan. Ia dan lelaki itu akan duduk berjejer di hadapan penghulu, dirubung kaum kerabat. Laki-laki itu akan mengucapkan janji untuk menjaganya, mencintainya sampai akhir hayat.  

Setelah peristiwa itu ia tahu, ia harus bangun pagi-pagi, mandi, menyiapkan sarapan, menyeduh kopi atau teh, mengepel lantai, menyiram bunga-bunga di halaman. Ia harus menyingkirkan jauh-jauh kegemarannya bangun siang, membaca novel puluhan halaman sebelum turun dari ranjang.
“Kamu siap, Sayang?” ia teringat pertanyaan itu. 

Bunda yang melontarkannya ketika ia merajuk pada wanita itu minta dinikahkan.

“Siap, Bunda,” ujarnya bersemangat. Tapi ia tahu, jauh di dalam benaknya ia tak bersungguh-sungguh. Bahkan perasaan ragu datang begitu keras hampir mematahkan suaranya sendiri. 

Tapi…

“Kamu tidak boleh tak ada di rumah saat suamimu pulang seusai petang,” lanjut Bunda. Ia tak berani menatap mata Bundanya. Takut wanita itu menangkap keraguan yang mengambang di matanya yang bening. Hanya kupingnya mendengar lanjutan ucapan Bunda.

“Kamu harus berani menolak ajakan kawan-kawanmu jalan-jalan ke mall, nongkrong di kafe. Kamu harus siap jika suamimu memintamu sepanjang hari hanya di rumah. Kamu harus siap menyimpan novel-novel dan film-film favoritmu jika suamimu menginginkanmu.” kata Bunda seperti sedang menatar murid baru.
Ia terhenyak. Ia menatap novel-novel dan film-film kegemarannya bertumpuk di sisi ranjang. Ia takut laki-laki itu tak menyukai kegemarannya pada novel, mengoleksi film. Mencegah ia memburu novel klasik di lapak-lapak buku bekas.

“Jangan kawatir, kamu bisa tetap membaca novel dan memutar film ketika suami di kantor sehingga kamu tidak perlu merasa kesepian. Bunda yakin kamu bisa. Pernikahan bukan penjara seperti kawan-kawanmu bilang,”

Ia menghela napas, memandang bayangan dirinya di cermin. Ia menemukan sebentuk wajah ranum nan molek dengan bentuk hidung, bibir dan mata yang serba mungil. Kecantikan  meneduhkan yang disebut banyak orang mirip dengan Annisa, tokoh yang ia lihat dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Ia membayangkan wajah itu bakal dibelai bukan oleh tangan lembut Bundanya, bibir tirus itu bakal disentuh bukan oleh tangannya. Ia lalu menatap dadanya. Dada itu, dada yang belum lama membentuk bulatan gunung mungil, bakal bukan lagi menjadi miliknya semata. Tiba-tiba ia merinding betapa akan ada sepasang tangan merengkuh dada itu. Ia terus berjalan ke jendela. Seraya mengamati jalanan di seberang halaman rumahnya ia mulai mengingat-ingat bagaimana mulanya ia terdorong minta menikah.

Mula-mula ia terkejut sendiri mendapati keinginan menikah begitu kuat memenuhi benaknya. Seakan tak mempedulikan bahwa pernikahan membawa konsekuensi yang belum tentu siap ia tanggung: meninggalkan bangku kuliah, melupakan cita-citanya. Sementara ia baru memasuki tahun kedua duduk di bangku kuliah. Ah, semuanya gara-gara dosen muda itu yang begitu menarik perhatiannya. Tak pernah ia merasa begitu terganggu memikirkan laki-laki sebelumnya. Dosen muda yang belum lama mengajar di fakultasnya. Dosen muda yang ketampanan, sikap-sikapnya mengingatkan ia pada Fahri dalam film Ayat Ayat Cinta.
Siang itu, setelah berpekan-pekan mengamati dan memikirkannya, dosen muda itu menghampirinya ketika dia tengah iseng membaca di perpustakaan.

“Baca buku apa?”

Ia tergeragap. Matanya menubruk tatapan sayu dosen muda. Selebihnya adalah kesibukan meredakan gugup yang sulit dikendalikan. Itulah pertemuan pertama yang mencemaskan sekaligus membahagiakan. Menyusul pertemuan-pertemuan berikutnya yang sepenuhnya membahagiakan. Kadang di kantin kampus, lebih sering di toko buku.

Puncaknya suatu siang, ia mendapati air muka dosen muda itu tiba-tiba berubah muram. Sekian menit lamanya ia menduga-duga apa gerangan yang terjadi dengan dosen muda pujaannya ini. Lantas ia sibuk mengingat-ingat ulah dan perkataanya yang barangkali salah dan menjadi penyebab si dosen tersinggung lantas murung. Belum sempat ia mengurai ingatannya ketika lorong pendengarannya bagai dipalu genderang.

“Orang tuaku menjodohkan aku,”  

Ia mendapati kerongkongannya kering, tercekat. Mukanya memerah dan air matanya tanpa dapat dicegah luruh.

“Padahal aku belum ingin menikah. Aku masih menikmati masa lajang ini. Tapi mereka memintaku harus segera menikah. Orang tuaku ingin segera menimang cucu dari putra bungsunya. Mereka memang sudah lanjut, kawatir tak sempat melihat aku menikah. Jadi mereka mencarikan jodoh buatku. Karena mengira aku tak punya kekasih…”

Ia makin tercekat. Susah sekali mengeluarkan suara, kecuali air mata. Tubuhnya bagai mengambang oleh ledakan kekecewaan.

“Kukatakan pada mereka bahwa aku sudah punya kekasih, kamu, dan aku hanya mau menikah denganmu, Nuri.”

Kalimat ini membuat gemuruh kesedihannya menyurut, perlahan-lahan berubah jadi bahagia dan tersanjung. Perasaannya teduh.

“Kamu mau menikah denganku?”

“Mau,” ucapnya tanpa dapat dikendalikan. Bagai di bawah sadar.

“Secepatnya?”

“Ya,”

Bunda, seperti sudah diduga, kaget bukan kepalang manakala ia membicarakan pernikahan seperti membincangkan masalah jatah uang saku harian. Terbata-bata ia menjelaskan tentang dosen muda itu, tentang hubungan cinta mereka, tentang cintanya yang begitu besar, tentang masalah yang dihadapi dosen muda itu.

“Nuri Sayang, pernikahan itu bukan main-main. Ada konsekuensi yang harus kamu tanggung. Bunda tak akan mengizinkan kamu menikah jika alasannya semata ingin menyelamatkan laki-laki itu dari desakan orang tuanya,”

“Tidak, Bunda. Nuri juga sangat mencintainya,”

“Tapi tidak secepat ini, Sayang,”

Bunda kemudian memintanya merenung, memikirkan ulang tentang keinginannya menikah paling tidak sebulan. Wanita itu ragu ia hanya menuruti emosi. Sementara dosen muda itu memintanya kurang dari sebulan untuk memberi kepastian. Ia sungguh kalang kabut. Ia sangat takut lelaki itu tak sabar dan kalah oleh desakan orang tuanya; menikah dengan gadis yang disodorkan orang tuanya.

“Kalau dia sungguh mencintaimu tentu dia bersabar menunggu sampai kamu lulus dan mencapai cita-citamu,” kata Bunda. Lantas ia mengulang kalimat tersebut pada dosen muda itu.

“Kamu ragu, Nuri? Aku sangat mencintaimu sekaligus orang tuaku. Dalam hal ini kuakui aku lemah,”
**
Pernikahan yang sudah ditetapkan itu hampir ia batalkan. Keraguannya mengeras manakala Bunda kembali menjelaskan konsekuensi-konsekuensi yang harus ia tanggung. Ia sedih mengapa Bunda seperti sengaja menakut-nakuti. Mengapa ia tak bisa meyakinkan Bundanya bahwa ia akan berusaha keras menerima konsekuensi-konsekuensi itu dengan baik. Tetapi memang, jauh di lubuk hatinya keraguan itu memang masih ada. Ragu bahwa ia bisa meninggalkan kebiasaannya menggantungkan banyak hal kepada Bunda. Ditambah lagi saat ia mendengar kabar kawan dekatnya, Hashya, yang menikah muda, belum lama ini cerai gara-gara tak tahan merasa dikekang suami.

“Bunda tak bermaksud menakut-nakuti, Sayang. Tapi coba kamu pikirkan, kuliahmu bakal terganggu. Upayamu meriah cita-cita bakal terpenggal di tengah jalan.” ucap Bunda lembut, namun membuat ia ragu lagi.
Ia datang lagi pada kekasihnya dan mengatakan ulang kekawatiran sang Bunda.

“Aku tak akan melarangmu tetap kuliah dan mencapai cita-citamu. Kamu bisa langsung menggugat cerai jika aku mengekang dan membatasimu menempuh pendidikan setinggi-tinggi, Nuri,” kata laki-laki itu. Tapi ia tidak juga puas. Berdasar pengetahuan dari majalah wanita dan sejumlah buku tentang pernikahan yang ia baca, ia meminta laki-laki itu membuat kesepakatan tertulis. Kekasihnya sempat terkejut namun akhirnya bersedia membuat kesepakatan. Menghabiskan waktu beberapa hari kesepakatan itu akhirnya selesai mereka buat. Inilah isi kesepakatan itu:

(1)   Kedua belah pihak tidak boleh melarang pihak lain melanjutkan pendidikan demi cita-cita.
(2)   Kedua belah pihak tidak boleh membatasi kegiatan masing-masing sejauh kegemaran tersebut tidak mengganggu komitmen pernikahan.
(3)   Kedua belah pihak tidak boleh memaksakan kehendak pada pihak lain.
(4)   Kedua belah pihak melakukan sesuatu atas dasar persetujuan bersama.
(5)   Kedua belah dalam memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah yang disepakati kedua belah pihak. 
(6)   Kedua belah pihak saling menghargai dan mengedepankan kepentingan bersama.
(7)   Kedua belah tidak boleh saling menyakiti
Jika salah satu pihak melanggar kesepakatan maka pihak yang merasa dirugikan boleh mengugat cerai.

“Kita tanda tangani kesepakatan ini?”

“Ya!”
Pondok Pinang  musim hujan, Januari 2009.

Comments