Moningka


dari devianart.com
pernah disiarkan Jawa Pos, Minggu 16 April 2006
Bus yang membawaku sampai lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Barangkali karena penumpangnya sedikit sehingga sopir punya alasan untuk ngebut supaya lekas sampai dan dapat cepat istirahat. Sekarang memang musim hujan. Sejak pagi langit dilapisi gumpalan awan kelabu. Ketika bus bergerak meninggalkan kota kecilku hujan tiba-tiba turun sangat lebat, menampar-nampar jendela bus menimbulkan bunyi berkeretap. Di luar jalanan tampak samar-samar bagai diselubungi kabut. Orang-orang bergegas dengan langkah-langkah lebar, merapatkan jas hujan. Aku menyandarkan kepala, menyedekapkan tangan berusaha untuk sedikit mengusir dingin. Dan bersiap tidur supaya lebih segar begitu sampai di Bandung, paling tidak membayar tidurku yang tak pulas semalam.

Sesungguhnya aku tidak begitu yakin dengan perjalananku kali ini. Harapan bertemu dengan Moningka kadang jadi terasa aneh. Aku belum pernah bertemu dengannya. Kukenal namanya pertama kali dari surat elektronik yang dikirim padaku sebagai perkenalan. Aku membalas surat singkatnya itu, kukatakan senang berkenalan dengannya. Mendengar namanya yang unik entah kenapa aku langsung membayangkan seunik penyandangnya. Pada email berikutnya dia memuji cerita-ceritaku. Laki-laki manakah yang tidak melambung perasaannya dipuji perempuan muda—yang dibayangkan cantik pula?

Aku meminta komentarnya tentang cerita-ceritaku. Dia bilang ceritaku memaksanya kembali berhadapan dengan kenyataan yang ingin dihindarinya. “Buatku membaca cerita fiksi adalah untuk melupakan kenyataan,” katanya. “Membaca ceritamu seperti menonton tayangan berita kriminal di televisi.”

Belum lagi tengah hari saat bus memasuki terminal Leuwipanjang. Para penumpang yang  tertidur tergeragap dibangunkan kondektur. Hujan tinggal rintik gerimis ketika aku keluar dari bus. Aku berlari mencapai tempat teduh untuk menghindari cipratan air. Cuaca terasa makin redup. Matahari tersesat entah ke mana. Terminal tampak sepi. Orang-orang berkerumun di warung-warung menghindari rintik hujan yang kembali deras.

Aku masuk kedai kopi dan duduk berlama-lama di sana. Tentu saja aku tidak berharap Moningka muncul di kedai kopi ini. Ada sebuah tempat yang sudah kami sepakati di bilangan Buah Batu, jam 3 sore. Meski begitu aku selalu tertarik mengamati setiap perempuan yang mengenakan sweater merah jambu. Siapa tahu dia iseng menunggu di terminal ini. Moningka bilang dia akan mengenakan sweater merah jambu dengan celana kedoray putih susu, dan mungkin juga topi warna coklat.

“Nggak mungkin kan, dingin-dingin begini pakai tank top?” kilahnya terdengar lucu. Aku teringat lagi kalimat-kalimat smsnya yang puitis nan erotik yang datang secara bertubi.   

“Smsmu erotis banget sih,” kataku langsung kutelpon malam-malam karena tergelitik penasaran.

“Itu baru smsnya lho, belum orangnya.”  

Segelas susu coklat dan sepotong roti  selai tandas ke dalam lambungku. Rintik gerimis tak habis-habis. Dua jam berlalu sudah. Berarti masih enam puluh menit lagi waktu yang disepakati. Dari terminal ini menuju Buah Batu hanya butuh waktu 45 menit. Aku cukup hapal daerah itu. Mencari kafe itu tentu bukan pekerjaan yang terlalu sulit. Maka kuputuskan keluar, berlari menyibak gerimis. Menerobos deretan angkot. Mencari taksi.

Dalam taksi kembali terngiang suara Moningka yang seksi. ”Kenapa tidak menjawab smsku?”

“Menjawabnya hanya membuatku teringat pada kenangan pahit.” jawabku.

“Kenangan apa sih, cerita dong. Aku siap mendengarkan.”

“Nanti saja,”

“Hmm,”

“Kalau kamu sudah membaca bukuku pasti tahu.” ujarku agak gugup.

“Ya sudah. Nanti aku cari bukumu. Apa judulnya?” tanyanya. Suara itu terdengar mendesah, membuat pikiranku terbang ke negeri antah berantah.

“Saya antar ke mana, Kang?” suara sopir taksi membuyarkan lamunanku.

“Buah Batu” ucapku, membetulkan posisi duduk.

Beberapa hari berikutnya kuangkat lagi panggilan telepon darinya, “Nama anakmu bagus,” ujarnya begitu kutekan tuts ok pada ponselku. Aku tak menyahut.

“Kenapa diam? Tenang saja, aku nggak marah. Hasratku takkan berubah,”

“Di mana kamu mendapatkan bukuku?” ujarku menutupi kegugupanku.

“Tentu bukan di apotik,” selorohnya. Percakapan kemudian disambung dengan sms-sms seronok.

“Kalau kamu hamil bagaimana?” tanyaku saat kubaca kalimat sms-nya yang mengajak bersetubuh.

“Kalau pun aku hamil itu berarti aku memilih hamil,”

“Tapi aku tak siap memiliki anak darimu.”

“Tidak setiap persetubuhan menyebabkan kehamilan.” ujarnya, “tenanglah, lagi pula aku tak berencana punya anak kecuali bangsa ini sudah bebas hutang.”  

“Tapi aku takut.”
“Kenapa kamu takut hamil?”

“Aku belum siap memiliki anak darimu.” ulangku makin tak sungkan.

“Ya, aku tahu kamu hanya siap memiliki anak dari istrimu, kan?”

“Ah kamu sok tahu!”

“Jangan berkelit lagi. Awalnya memang menyakitkan. Tapi sekarang aku menerimanya sebagai garis takdirku. ”

“Ah, lupakanlah.” Aku menukas, “nanti kukulum bibirmu. Mudah-mudahan bibirmu cukup ranum untuk kukulum.”  

Zuhur telah lewat, di langit tak ada tanda-tanda matahari bakal terbebas dari perangkap awan. Trotoar yang basah meredam suara langkahku. Tak ada debu kecuali asap tipis yang disemburkan knalpot mobil yang berlalu lalang. Kafe-kafe dan rumah makan tampak masih ramai oleh para pengunjung yang makan siang. Perutku kembali terasa lapar. Tapi tentu aku harus menahannya. Aku akan makan bersama Moningka. Setelah makan, apa yang akan kami lakukan untuk merayakan pertemuan ini? Pikirku. Tidak mungkin sekadar berdiskusi perihal tokoh-tokoh dalam novel Pramudya? Apakah  bersetubuh seperti yang diiinginkannya? Bukankah itu yang diam-diam mendorongku melakukan perjalanan ini?   

Aku hanya memesan jus alpukat pada pelayan kafe. Dengan ramah pelayan meletakkan segelas jus alpukat bertabur susu coklat di permukaannya. Kubalas senyumnya yang tampak makin manis oleh lesung pipit yang menghias ranum pipinya. Tanpa kuaduk terlebih dahulu, pelahan aku menyuapkan jus ke dalam mulutku sambil melirik pelayan tadi. Aku berharap setidaknya Moningka tidak jauh anggunnya dengan pelayan ini. Leher yang jenjang seperti leher angsa. Bibir yang seranum buah pir. Jika  Moningka muncul nanti aku akan mempersilahkan ia memilih menu. Lantas kami bercakap-cakap ringan sekadar basa-basi. Meski Moningka mengatakan dirinya tidak menyukai basa-basi. Rasanya tidak mungkin langsung mengulum bibirnya di kafe ini. Setelah itu barangkali kami akan menentukan tempat tepat untuk merayakan pertemuan ini. Sebuah pertemuan harus dirayakan, kan? Aku tak percaya. Apa boleh buat. Alunan musik yang terdengar lirih kembali menghanyutkanku dalam khayal, “Setuju kita ke Cipaganti?” ucap Moningka. Sorot mata beningnya mengisyaratkan sesuatu yang segera dapat kutebak.

“Tentu, Moningka. Kau yang menentukan di sini,” ujarku. Moningka melirikku dengan ekor matanya.

“Sebaiknya memang begitu. Akan kubawa kamu ke tempat yang tepat untuk merayakan pertemuan ini. Penginapan itu cukup teduh, besih, dan yang paling penting murah.” katanya seakan mau menyindir isi kantongku yang pas-pasan. 

“Moningka, tolong katakan di mana kamu melihatku pertama kali,” kataku saat taksi melaju menyibak rintik gerimis. Moningka tersenyum, “Kenapa kamu pengin tahu banget. Apakah itu lebih penting dari pertemuan ini,” ucapnya dengan bibirnya yang merekah. Ia menyerahkan telapak tangannya untuk kuremas. Taksi meluncur di jalan raya yang basah dan lengang.

Kurasa dia memang tak salah. Penginapan itu memang sangat sahdu. Resepsionisnya  mengenakan busana tradisional Sunda, menyambut kami dengan keramahan yang khas. Bentuk bangunannya yang memanjang seperti tertelan rindangnya dedaunan. Resepsionis langsung menyerahkan kunci kamar. Tampaknya Moningka sudah familiar dengan seluruh karyawan penginapan ini. Namun aku buru-buru mengabaikan bermacam dugaan di benakku. Pikiranku telah lebih dulu dibuai fantasi-fantasi erotik yang mendebarkan. Bibir Moningka menyusuri setiap inci tubuhku. Aku merangkum wajahnya pada telapak tanganku… 
  
Tanpa terasa segelas jus alpukat telah amblas ke dalam lambungku. Kutengokkan kepala keluar mencari mobil yang suara klaksonnnya barusan membuyarkan lamunan. Kulirik jam digital di ponselku. Baru jam 14.30. Aku melambaikan tangan pada pelayan. Dengan senyum yang terus mengembang dia menghampiri. “Saya minta susu coklat dan roti bakar.” Gadis itu mengangguk dan segera berlalu. Kutatap punggung dan bokongnya yang padat. Kutaksir umurnya baru dua puluh. Kira-kira sebaya dengan Moningka.

“Apakah aku tidak terlalu tua untuk kamu?”

“Kamu baru tiga puluh. Ada lagi yang lebih tua.”    

“Pernah pacaran berapa kali?”

“Tak perlu kusebutkanlah. Tapi semuanya menyakitkan.”

Lima menit berlalu dari pukul tiga sore. Beberapa pengunjung sudah keluar, berganti pengunjung baru. Beberapa kali kulihat pelayan itu melirikku. Kadang terpikir untuk memanggil dan memintanya menemani aku ngobrol. Tapi aku tahu ini tak mungkin. Dia bisa kena marah majikannya. Aku berusaha meredakan kegelisahan yang mulai menyerang perasaan. Tapi aku tak akan menelpon atau mengiriminya sms. Kecuali jika Moningka lebih dulu menelponku. Barangkali Moningka terjebak kemacetan. Bagaimana jika ia tidak jadi datang, dan hanya berniat mempermainkan? Ah, bukankah ini pun sudah kuantisipasi. Bahkan jika Moningka hanya nama fiksi dari seorang laki-laki. Sebelum berangkat toh aku telah bersiap bahwa perjalanan ini tak lebih dari sebuah petualangan iseng yang meragukan. Aku telah bersiap untuk tidak menyesal dengan apa yang bakal kualami.

Hampir maghrib. Selain segelas jus alpukat, segelas susu coklat, dan beberapa potong roti bakar, aku juga telah menghabiskan sepiring nasi goreng. Moningka tak juga muncul. Kiranya dugaanku tak salah bahwa aku telah jadi korban permainan. Aku meminta billing pada pelayan dan membayarnya. Kemudian segera melangkah keluar meninggalkan kafe itu dengan mantap. Aku menertawakan keisenganku sendiri.

Beberapa langkah keluar dari kafe itu, kudengar sesuara memanggil namaku,

“Bung Komar, Bung Komar…”
Aku menoleh dan kumelihat seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Moningka, batinku, tanpa beranjak dari tempatku berdiri. Tapi ia tidak mengenakan sweater merah jambu dan celana kedoray putih susu. Kuabaikan perempuan itu dan terus melangkah.

Perempuan itu terburu berlari menghampiri aku.

“Kenalkan, saya Mona, kawan Moningka” kata perempuan itu menjulurkan tangan.

“Moningka? Siapa dia?” kataku bertanya palsu.

“Bung Komar, maaf saya terlambat. Sweater saya bermasalah“

“Maaf, saya bukan Komar!”

Balai Budaya Tangerang 2006      

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka