Natal Telah Lewat

pernah disiarkan Suara Pembaruan, Minggu 28 Desember 2008
-->
Rumah ini kembali sepi. Tak ada lagi jerit anak-anak berebut mainan. Tak ada lagi ceceran susu  dan serakan bungkus bekas makanan di lantai. Semua telah kembali tertata rapi. Warti sudah mengepelnya bersih-bersih, menggulung karpet dan menyimpannya di gudang. Televisi di ruang tengah memang masih menyala menyiarkan berita-berita kriminal yang bikin perut terasa mual: seorang istri memutilasi suami, seorang ibu meracuni bayinya sendiri sampai mati, seorang kakek bunuh diri. Hartiningsih segera memindahkan channel. Ah, semuanya sangat membosankan. Sebenarnya Hartiningsih ingin membiarkan karpet itu tetap terhampar di sana lengkap dengan ceceran susu, serpihan makanan yang berserakan supaya ia tetap merasakan kehadiran anak-anak dan cucunya di rumah ini sedikit lebih lama. Tetapi Warti, pembantunya yang setia menemaninya sejak puluhan tahun, tanpa diperintah segera melakukan tugasnya merapikan semuanya menjadi seperti sediakala. Seperti anak-anak dan para menantu serta cucu-cucunya tak pernah datang merayakan Natal di sini. 

Di halaman depan pohon mangga itu kembali sendirian, tak ada lagi deretan mobil-mobil diparkir. Anak-anak dan para menantu serta cucunya sudah kembali pulang ke kota tempat tinggal mereka masing-masing. Hartiningsih menarik napas dalam-dalam. Betapa lekas semuanya bergegas lewat, seakan Natal tak pernah terjadi di sini. Hartiningsih harus menunggu setahun lagi untuk bertemu kembali dengan anak dan cucu-cucunya yang menyebar di pelbagai kota. Cepat sekali Natal pergi, gumamnya. Seperti sekedipan mata saja. Betapa ingin Hartiningsih lebih lama berkumpul dengan mereka. Melihat anak-anak dan menantunya rukun bercengkrama. Menyuruh Warti membuatkan wedang jahe atau teh poci yang disuguhkan dengan lepet, gadungan, jalabiya, dan makanan khas desa lainnya kegemaran mereka di masa kanak. Melihat cucu-cucunya yang lucu-lucu berlarian membuat rumah gaduh dan berantakan. Lalu dengan ketulusan seorang ibu Hartiningsih memberesi kembali. Betapa menyenangkan mempunyai kesibukan mengurusi anak-anak.

Tetapi Hartiningsih sadar, mereka tak mungkin ditahan. Dia harus kembali menahan rindunya sampai Natal yang akan datang. Bisakah usianya kembali sampai tahun depan? Tubuhnya memang sehat berkat kedisiplinannya berolahraga jogging secara rutin saban pagi. Tapi umur siapa yang tahu?

“Mbok ya kamu minta papamu cuti supaya bisa lebih lama menemani nenek di sini,” ujar Hartiningsih pada Herman, cucunya yang tertua, malam sebelum esoknya mereka balik ke Jakarta. Papa Herman menatap dia penuh pengertian. “Nggak bisa, Ma. Pekerjaanku tak mungkin ditinggal. Coba Mama minta Gunadi saja yang cuti. Pekerjaan dia kan tidak mengikat,” kilah anak sulungnya. Gunadi memang bekerja jadi copywriter lepas yang sering melakukan perjalanan guna mencari ide.

“Mas Eprim saja. Pekerjaanku memang tidak mengikat, tapi besok harus bertemu calon klien,” ujar Gunadi  memberi lemparan pada kakak keduanya. Tapi Eprim segera menangkis lemparan adiknya secara lebih gesit, “Wartawan itu nggak ada liburnya, Ma. Dikejar deadline tiap hari. Sekarang bisa mudik saja untung.  Mba Yuni saja, waktu dia kan lowong. Bukan begitu, Mas Toro? Sampean nggak keberatan kan kalau Mba Yuni pulangnya menyusul?”

“Nggak bisa, aku harus segera mengurus keberangkatan ke Amerika. Aku dapat kesempatan mengajar di sana.” ujar Yuni tak kalah gesit.

“Ya sudah, kalau kalian nggak pada bisa tinggal lebih lama di sini. Tapi si Herman dan si Yasa seminggu lagi di sini. Kemaren dia bilang bisa minta sekolah masuknya minggu depan kan?”

“Nggak mau, Nek” ujar kedua cucunya itu serempak.

Hartiningsih mendesah pelan. Dunia mereka memang sudah berbeda. Hartiningsih tahu dia tak mungkin membawa mereka ke dunianya yang sepi. Mereka tidak pernah tertarik lagi pada sawah ladang peninggalan ayah mereka. Kebun kelapa dan ikan-ikan di kolam. Cucunya sudah bisa melihat semuanya melalui televisi, internet dan game play station. Dan mereka agaknya merasa cukup melihat ikan-ikan, kerbau, sungai, pematang sawah melalui gambar-gambar di layar komputer.

“Sudahlah, Mama tidak usah sedih. Ada Warti kan yang selalu menemani. Lagi pula kalau kangen Mama kan bisa menelpon kami kapan saja. Mama sendiri kan yang nggak mau tinggal dengan salah satu di antara kami?” ujar anak sulungnya seperti memojokkan Hartiningsih.

Anak-anaknya memang sudah berkali-kali meminta Hartiningsih tinggal secara bergiliran di rumah mereka yang tersebar di Bandung, Bogor dan Jakarta.  Namun berkali-kali pula dia menolak. Bermacam-macam alasan dia kemukakan. Tidak betah tinggal di kota, tak kuat melakukan perjalanan jauh, sampai tak tega meninggalkan Warti. Untuk semua alasan itu anak-anaknya bisa dengan mudah membantahnya.

“Ma, di kota atau di desa sama saja. Di halaman rumah kami juga ada pohon mangga. Kebun bunganya malah lebih terawat.”

”Kami siapkan sopir untuk mengantar ke mana pun Mama ingin pergi. Mama bisa tidur sepanjang perjalanan supaya tidak mabuk.”

“Bi Warti ajak saja sekalian. Pasti dia mau.”

Anak-anaknya tidak bisa lagi membantahnya manakala Hartiningsih mengungkapkan alasan yang sesungguhnya.

“Aku tidak tega meninggalkan ayah kalian sendirian,” ujar Hartiningsih dengan suara rendah, sebelum bibirnya mengatup lama sekali.

Ya, Hartiningsih selalu merasa almarhum suaminya masih hidup dan tinggal bersamanya di rumah ini. Anak-anaknya sudah tak tahu lagi bagaimana memberi pengertian pada Hartiningsih bahwa ayah mereka sudah meninggal. Dan orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa diajak bercakap-cakap dengan orang yang masih hidup. Kalau sudah begitu Hartiningsih tidak bisa lagi mempunyai alasan menahan-nahan anak-anak dan cucunya untuk sekadar dua atau tiga hari lagi menemaninya di rumah ini.

“Gimana ya, Pa. Mereka nggak pernah mau percaya kalau sampeyan masih berada di sini, mengawasi mereka,” ucap Hartiningsih kepada suaminya yang selalu dianggapnya tak pernah pergi jauh dari sisinya.

“Mama ngomong sama siapa sih?” kata anaknya ketika suatu kesempatan memergoki Hartiningsih berucap sendirian di ruang tengah. Waktu itu Hartiningsih bermaksud mengabarkan pada suaminya tentang kedatangan anak-anak dan cucunya yang sudah pada besar, tentang Natal yang segera datang.

“Ayahmu, Nak, ayahmu. Lihatlah dia senang sekali melihat kalian datang,” ujarnya lirih dengan mata mengharap anaknya sekali saja mempercayai omongannya.

Hampir lima tahun lalu, ketika suaminya dinyatakan meninggal oleh dokter, Hartiningsih tidak percaya. Ketika jenazah sang suami diantar ke rumah dari rumah sakit, Hartiningsih menyambut  laksana suaminya pulang dari liburan.

“Hati-hati di jalan, Pa,” ujar Hartiningsih ketika jenazah suami diberangkatkan ke permakaman. “Aku nanti menyusulmu bersama anak-anak,”  kata Hartiningsih berdiri di muka pintu. Anak-anak dan para pelayat menenangkannya.

Begitulah, sampai bertahun-tahun Hartiningsih tidak pernah merasa ditinggal mati suaminya. Dua hari setelah jenazah suaminya diberangkatkan ke permakaman, Hartiningsih melihat suaminya kembali pulang. Masuk ke ruang tengah, nyetel televisi dan minta dibuatkan teh poci lalu dikeroki.

“Begadang terus ya di luar, Papa jadi masuk angin. Biar Mama minta si Warti yang ngeroki,” kata Hartiningsih melihat suaminya tampak letih dan kacau sekali pakaiannya.

Warti yang diminta ngerok, terbengong-bengong. Tapi Warti yang tahu dirinya tidak boleh membantah mengerjakan saja apa yang diperintah.

“Tuannya di mana, Nyah?”
“Warti, Warti, di sebelahku ini siapa? Mulai lamur mata kamu ya,”
***

Hari begitu redup. Hartiningsih melangkah masuk ke ruang tengah. Dia terheran-heran melihat suaminya sumringah. Kata suaminya Hendarman tidak jadi pulang ke Jakarta. Anak sulungnya itu berserta istri dan anak-anaknya sedang dalam perjalanan kembali ke rumah ini.

“Oya, kenapa mereka nggak ngabari Mama,  ya Pa?”

“Mungkin pingin bikin kejutan,”

Ternyata benar, tak lama setelah itu Hartiningsih mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Tergopoh-gopoh Hartiningsih berlari ke depan menyambut mereka seraya berteriak supaya Warti menyiapkan makan malam.

“Warti, jangan ke mana-mana kamu. Siapkan makan malam lebih banyak, cucu-cucuku kembali lagi,”

Hartiningsih memeluki anak dan cucunya itu. “Nenek bilang apa, pasti kalian pengen ke sawah kan, menunggang kerbau lagi?” ujar Hartiningsih kepada Herman, cucu tertuanya. Tepat pada saat itu, telepon di ruang tengah berdering. Hartiningsih mengangkatnya. Dari Gunadi yang pulang beriringan dengan Hendarman karena searah, pagi tadi. Di telepon suaranya terdengar parau, terputus-putus.

“Ma, Mas Hendarman, Ma. Mobilnya tubrukan, dia di rumah sakit sekarang… ”

Pondok Pinang Musim Hujan, Novemer 2008.
 



 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka