Negeri Dongeng

pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 9 Mei 2009
-->
Sekembali dari negeri dongeng Arif mengurung diri dalam kamar, berhari-hari tak mau keluar; menelungkup di tempat tidurnya yang lembab dan acak-acakan namun terasa nyaman. Ia baru percaya bahwa negeri dongeng itu ternyata benar-benar ada. Bagaimana nanti menceritakannya pada Kael, Ayub, Upin, Indra dan lain-lain? Arif benar-benar tidak habis pikir, bagaimana mungkin negeri dongeng itu ada. Selama ini Arif selalu mencibir pada Ayub dan Kael kalau mereka bercerita tentang negeri dongeng.
“Sedikit pun aku tidak percaya. Itu tidak rasional sama sekali. Kapan mau maju kalau masih percaya cerita-cerita irrasional begitu.” Begitu Arif selalu mencibir Ayub dan Kael yang ngotot mengatakan bahwa mereka pernah berkunjung ke negeri dongeng. “Makanya kalian jangan terlalu sering gaul dengan dukun. Sekali-sekali main ke kota . Lihat kemajuan, isu yang sedang hangat. Di kampung melulu, beku!” ledek Arif.
“Terserah kalau kamu tak percaya. Yang pasti kami sering bolak-balik ke sana ,”
“Sudah, sudah, aku tak mau berdebat lagi. Bisa-bisa aku ketularan tak rasional. Bahaya. Di zaman serba internet begini, pikiran irrasional membuat kita tak maju-maju, ketinggalan terus. Coba bayangkan, bagaimana bisa diterima akal, masa ada patung batu bercakap-cakap tentang nasib manusia. Lalu ada keluarga monyet yang hidup rukun dan bergotong-royong dengan keluarga Kancil, Gorila, Orangutan, Beruang, dan apa lagi? Dasar pembual besar, pengkhayal kelas berat.”
Arif menelungkup sepanjang waktu. Ia takut keluar bertemu dengan Ayub dan Kael yang diolok-oloknya. Bahkan Arif juga takut bertemu Upin, kawan satu gengnya. Tidak lucu kalau tiba-tiba ia berbalik jadi percaya pada takhayul. Bagaimana nanti sikap Upin padanya. Bisa-bisa Upin mencapnya tidak rasional dan ketinggalan trend. Wah, kalau begini caranya, bisa gawat urusannya. Ia tidak bisa lagi diajak main dengan kawan-kawan Upin yang selalu berpikiran rasional. Mereka orang-orang yang selalu mengagungkan nalar dan logika.
Arif tahu persis, Upin dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang gemar menertawakan mereka yang tidak berpikir berdasarkan realitas yang dihadapi sehari-hari. Arif pernah merasakan betapa tidak enak menjadi pihak yang ditertawakan dan bahan olok-olokan. Sudah lama Arif sepaham dengan Upin yang tidak pernah mempercayai ada rasionalitas lain di samping rasionalitas yang mereka yakini dan alami sehari-hari. Kalaupun ada, itu pasti rasionalitas khayalan. Padahal kita hidup dalam kenyataan.
Itulah sebabnya Arif bersitahan, mengunci diri dalam kamarnya yang sumpek oleh buku-buku, koran dan majalah yang betumpuk, komputer penggaris, kalkulator dan peralatan menghitung lainnya yang berserakan di mana-mana. Bahkan Arif jadi takut bertemu siapa saja, dengan ayah ibunya yang jarang pulang. Menelungkup begitu. Diam-diam Arif juga takut membuka mata, menatap kamarnya, bahkan menatap wajahnya sendiri di cermin Arif tak punya nyali.
Beberapa malam lalu, sekembali dari negeri dongeng yang dikunjunginya secara tidak sengaja, Arif langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Tidak menghiraukan panggilan Meli, pembantu rumahnya yang berteriak-teriak menyuruhnya makan. Arif menyesali dirinya, kenapa bisa tersesat ke negeri dongeng. Memang tidak dapat dimungkiri, bahwa setiap ia mencibir Ayub dan Kael yang bercerita tentang negeri dongeng, Arif sebenarnya penasaran. Dan diam-diam mencari jalan bagaimana menuju negeri dongeng itu.
Arif tak menyangka cara yang iseng-iseng ia coba telah membawanya ke negeri dongeng itu. Arif benar-benar dibuat gugup ketika perlahan-lahan memasukinya. Seekor boneka Panda yang menuntun langkahnya ke sana . Menyusuri jalanan sempit, gang-gang yang serba panjang dan berliku. Arif terus saja menurut dituntun boneka Panda yang jalannya gesit dan lincah. Matanya yang bening, tajam dan jenaka. Daun telinganya yang lebar bergoyang-goyang seperti daun bergetar-getar dihembus angin. Arif hampir saja memekik kalau saja boneka Panda tidak segera menutup mulutnya ketika ia melihat patung manusia batu di muka gang tiba-tiba bergerak hidup, menari. Menggoyang-goyangkan perutnya yang terbuka hingga kelihatan pusernya yang bodong.
“Ssst! Jangan berisik. Dia sedang bergembira, jangan diganggu.”
Arif melongo, matanya tak lepas menatap patung batu yang terus menari samba. Ia tergagap-gagap tak dapat berucap. Langkahnya hampir tersandung. Boneka Panda yang terbiasa jalan cepat menarik tangannya dengan gemas.
“Jalannya agak cepat sedikit. Jangan menatap terus begitu, nanti dia tersinggung. Heh,  kamu bangsa manusia, bukankah kamu suka menari juga kalau sedang bergembira?”
Arif mengangguk saja. Meski sebenarnya ia mau berkata bahwa di dunia bangsa manusia cara menyatakan kegembiraan bukan cuma menari.
Sekarang mereka memasuki kota. Jalanan halus dan bersih. Gedung-gedung bertingkat, kendaraan berlalu lalang. Bangku-bangku panjang menghadap jalan di setiap taman. Para penghuninya lucu-lucu; bermacam-macam keluarga boneka Beruang yang sedang khusuk pacaran di bangku taman. Mereka cuek berciuman. Di sekitarnya boneka Gorila, Siamang, dan Lutung tak menghiraukan. Hidup mereka tampak rukun penuh kekeluargaan.
“Tidak usah diperhatikan, “ sergah boneka Panda. “Sorry kita tidak punya waktu banyak. Lain kali saja bermain di sini dengan mereka, berfoto bersama untuk kenangan.”
Boneka Panda tidak memberi kesempatan pada Arif untuk sekadar memandang lebih lama sepasang boneka Beruang yang sedang asyik mashuk pacaran. Bagaimana sih cara mereka bermain cinta? Ah, pasti tidak berbeda jauh dengan Manusia. Di pelataran sebuah kafe, sebuah grup musik sedang mempertontonkan kebolehannya dengan mikropon dan pengeras suara. Arif mau tertawa terpingkal-pingkal andai saja Panda tidak menjewer kupingnya ketika melihat bagaimana boneka Komodo—Anak-anak biasa menyebutnya Si Komo—dengan lincah dan tangkas menabuh drum; boneka Monyet dengan gaya piawai seorang saksoponis kondang meniup saksopon;  boneka Siamang menggesek biola. Di tengah ada sebuah wadah yang dibiarkan terbuka sebagai tempat menaruh uang. Arif bertanya apakah kita akan melempar uang, ia merogoh saku mengambil koin.
“Tidak perlu,” kata Panda. “Mereka tidak peduli betul dengan uang. Hidup mereka toh ada yang menjamin, “ lanjut Panda, lalu ia mengajak Arif mampir ke sebuah kafe. “Kamu pasti lapar. Kita makan di kafe itu.”
Mereka masuk ke sebuah kafe bergaya terbuka. Kursi-kursi dengan meja berpayung berderet di halaman berlantai batu bata putih dirindangi bermacam jenis pohonan berbunga indah. Mereka memilih yang paling sudut supaya lebih leluasa melihat-lihat pemandangan. Seekor boneka Kanguru betina dengan pita merah di kepala menghampiri.
“ Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya genit dan manja dengan suara dibuat merdu namun tetap saja terdengar cempreng.
“Saya minta jus tomat dan kentang goreng. Sambalnya jangan terlalu pedas dan asam. Yang sedang-sedang saja.”
“Lalu tuan yang tampan dan aneh ini, mau pesan apa? Tidak usah gugup.”
“Dia juga sama,” sahut Panda cepat melihat Arif terbengong-bengong dari tadi.
“Oya kenalkan ini teman baru kita. Maklum kalau kelihatan  grogi, dia memang baru kali ini  berkunjung kemari.” Boneka Kanguru cuma senyum senyum genit, menatap Arif yang semakin grogi dan sedikit gemeteran.
“Kasihan dia nampaknya lelah sekali.”
“Ya dia belum terbiasa jalan jauh.”
Sebelum pergi boneka Kanguru melirik Arif sekali lagi sambil mengerling. Sebentar kemudian dia kembali dengan membawa senampan besar menu yang dipesan. Panda segera menatapnya dengan lahap.
“Kenapa tidak segera makan, bukankah kamu lapar?” tanya boneka Panda melihat Arif cuma membolak-balikkan santapan.
“Ayo, makanlah, setelah itu kita merokok.” Boneka Panda mengeluarkan sebungkus rokok merek luar negeri. Cara dia menyalakan dan menyedotnya sangat hati-hati. Mungkin khawatir bulu-bulu yang lembut terbakar.
Kafe makin ramai. Bermacam-macam keluarga boneka datang berpasang-pasangan. Sepasang boneka Kingkong datang bersama anak-anak mereka yang berjalan tertatih-tatih. Suara tawa mereka terdengar ramai namun tertib dan sopan. Ayah dan ibu mereka melarangnya meniup terompet.
Setelah merasa agak segar kembali boneka Panda mengajak melanjutkan perjalanan. Mereka menyetop taksi yang melintas.
“Antarkan kami ke Screet Apartment, Bung.”
Sopir taksi, seekor boneka Simpanse, segera tancap gas. Taksi meluncur dengan kecepatan 200 kilometer/ jam. Meliuk-liuk di atas jalan layang yang berseliweran di antara bangunan-bangunan bertingkat.
“Kamu kok mengkerut begitu, takut ya. Jangan khawatir, di negeri ini tidak pernah terjadi kecelakaan lalulintas. Sorry, kamu tidak dapat menikmati pemandangan di luar. Kita harus segera tiba sebelum pukul dua. Mereka sudah menunggu.”
Taksi berhenti di depan Screet Apartment. Lalu menekan tombol lift yang membawa mereka ke sebuah kamar paling tinggi. Di sana keluarga boneka Panda, Gorila, Simpanse, Siamang, Orangutan, dan lain-lain sudah menunggu. Sebuah persiapan acara pesta  sedang dimulai. Meresa tampak sibuk hilir mudik, memasang dekorasi, menata kue-kue, mengecek sound system.
“Oh kamu, akhirnya datang juga, kami semua cemas menunggu.” sambut mereka, riang gembira.
“”Kenalkan, ini teman baru kita.”
“Satu persatu mereka mengucapkan selamat dan nenyalami Arif. Merubung Arif. Senyum-senyum ramah dengan pandangan iba dan takjub.
“Kami keluarga besar yang berasal dari berbagai suku bangsa. Kami telah menciptakan adat istiadat menurut cara kami masing-masing, hidup damai dan merdeka tanpa menghiraukan asal-usul kami. Anda sendiri, Tuan, datang dari negeri mana?*” Arif diam tak menyahut. Dadanya bergemuruh mau marah. Ia merasa keluarga boneka itu telah mencibir dan mengolok-olokinya secara semena-mena.
***
Arif masih menelungkup di tempat tidurnya yang lembab dan acak-acakan namun terasa  nyaman. Ia tak menghiraukan teriakan Meli.
“Den, Den Arif, bangun, Den. Makan dulu. Nanti sakit kalau nggak makan. Ini lho Ayub, Kael, Upin, Indra, Nuni, Usman. Mustafa, Jasyim, menunggu.”
Arif terus menelungkup memeluk guling.***
Lebak Bulus 2010. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka