Orang Kayangan

juga disiarkan Tribun Jabar, Februari 2012

Pukul sebelas malam. Saat Jaka merobek daster Nawang, lantas mengempas tubuh lampai perempuan itu ke pembaringan, Nawang sampai pada kesimpulan bahwa ia memang tidak bahagia. Cicak itu benar, batin Nawang, ini memang bukan surga. Aku harus kembali ke kayangan, keluhnya seusai pergumulan yang menyedihkan. Aku tidak boleh membiarkan diriku menderita berlama-lama di bumi celaka ini.

Sudah lama Nawang menimbang-nimbang perasaannya. Lima tahun, sungguh bukan waktu yang pendek untuk menimbang-nimbang, bukan? Kini Nawang sudah membuat keputusan. Ia tidak ingin menunda-nunda melaksanakannya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi! Desisnya meniru sebuah iklan di televisi. Sebelum semuanya terlambat.

Dengan ekor matanya, dilihatnya Jaka lelap terkapar bersimbah peluh. Baju, celana, dan sepatu lelaki itu berserakan di lantai. Dengkur napasnya terdengar nyaring sekali. Nawang makin yakin lelaki itu bukan untuk dirinya. Keputusannya sepuluh tahun yang lalu menikah dan menjadi bagian dari kehidupan laki-laki itu, harus dikoreksi. Bukan lantaran Nawang jijik dengan cara Jaka mengekspresikan cintanya; atau merasa diabaikan gara-gara laki-laki itu terlalu menggandrungi film-film box office di saluran televisi berlangganan. Bukan pula lantaran gaji suaminya tak naik-naik meskipun sudah sepuluh tahun bekerja di dinas perairan. Sama sekali bukan itu, melainkan betapa membosankannya menjadi bagian dari kehidupan di bumi. Kangen dengan suasana di kayangan.

Sepuluh tahun yang lalu, ya sepuluh tahun, saat dirinya dinikahi Jaka, Nawang menyangka inilah kebahagiaan. Semua tampak begitu menakjubkan. Cita-citanya dinikahi lelaki gagah itu tercapai. Nawang, tahu betapa kawan-kawan sebayanya merasa iri dengan keberuntungan yang diraihnya.

“Hebat kamu, Nawang. Selamat menikmati takdir baru. Sekarang kamu bisa menentukan takdirmu sendiri,” kata Nasiri, kawan sepermainan yang menjadi pesaing terkuatnya untuk saling membuktikan diri mana yang lebih unggul. Dengan pelbagai cara Nawang berupaya lepas dari garis takdir yang mengungkung kaumnya. Menikah dengan lelaki kampung itu dipilihnya menjadi cara paling jitu.

NAWANG tersengal, kenangan itu berseliweran di kepalanya seperti mengolok-olok dirinya. Bersama kawan-kawannya, Nawang turun ke bumi. Kegiatan ini sebenarnya tidak dibenarkan oleh para tetua di dalam kaumnya. Terlalu beresiko. Tetapi sebagai bidadari-bidadari yang baru menginjak dewasa selalu merasa ingin tahu demi mereguk pengalaman baru. Semakin dilarang semakin penasaran. Ia kerap mendengar kakak-kakak kelasnya bercerita, kehidupan di bumi sekalipun brengsek tapi mengasyikkan, penuh kebebasan. Pokoknya mendebarkan. Tak ada yang membuat para abege lebih bergairah selain memperoleh pengalaman baru yang menggetarkan, bukan?

“Di sini segala sesuatu dengan mudah kita dapatkan. Tapi justru itu hidup jadi hambar karena tak punya tantangan. Kita tak punya pilihan selain bersetia pada takdir yang telah digariskan.” Begitu kata-kata kakak kelasnya terus mengiang membuat Nawang dan kawan-kawan semakin merasa hidup mereka di kayangan, membosankan. Bayangan kehidupan di bumi yang penuh kerusuhan, peperangan, sikut-sikutan, persaingan begitu menggoda keinginan.

Sewaktu kecil, Nawang ingat, kakak-kakak kelasnya sering hilang berhari-hari. Membuat cemas para orang tua. Sekarang Nawang tahu, mereka kelayapan ke bumi secara sembunyi sembunyi. Ketika kembali Nawang mendengar kakak kakak kelasnya bercerita dengan begitu hebohnya. Di antara mereka ada yang membawa benda-benda aneh dari sana sebagai cenderamata.

“Ini namanya ipad,” kata seorang kakak kelasnya menunjukkan benda kotak pipih kecil yang dapat menayangkan gambar-gambar bergerak disertai suara-suara yang lucu sekali.

“Aku dapat ini,” kata kakak kelasnya yang lain, “mereka menyebutnya BlackBerry,” jelasnya bangga sekali. Benda-benda ajaib itu tentu saja tidak mereka gunakan sebagaimana tujuan diciptakan orang-orang di bumi. Mereka yang di kayangan memang tidak memerlukan. Apa saja dapat mereka lakukan tanpa bantuan benda benda itu. Maka, selain sekadar untuk disimpan sebagai kenangan, ipad kadang mereka gunakan sebagai talenan, BlackBerry untuk ganjal pintu atau meja, bahkan main lempar-lemparan saat berenang di kolam yang mengambang di antara mega-mega.

Namun tetap saja semua itu membuat Nawang dan teman-teman sebayanya bermimpi suatu ketika kelayapan ke bumi. Impian yang terus dirawat sampai mereka menginjak dewasa.

“Sudah saatnya kita mencari pengalaman baru ke bumi,” cetusnya kepada teman-teman sebaya. Mereka saling berpandangan sebentar, sebelum kemudian secara serempak mengangguk sepakat.

“Iya, kita semua sudah dewasa. Sudah saatnya mereguk pengalaman yang lebih seru. Bosan melayang-layang melulu di kayangan. Ke mana mana ketemunya cuma awan, kolam yang mengambang, taman-taman dan istana-istana yang kesepian. Huh sungguh tak ada tantangan,” kata Nasiri.

Mereka pun mengatur rencana. Menyiapkan apa-apa saja perbekalan yang diperlukan untuk tamasya ke bumi. Semua dikerjakan secara rahasia. Para tetua tidak boleh tahu. Namun saking bersemangatnya, ditambah sikap grasa grusu lazimnya anak-anak yang baru menginjak dewasa, membuat ibunya mencium rencana berbahaya tersebut.

“Nawang, batalkan niat kalian kelayapan ke bumi,” kata ibunya kalem, “percayalah, anakku, tak ada yang lebih nyaman selain hidup di kayangan,” lanjut ibunya seraya mereguk anggur dari cawan emas yang bergelantungan di sulur-sulur pohonan yang akar-akarnya menancap pada lapisan pelangi yang memancarkan kilauan cahaya aneka warna. Tatapannya begitu teduh dan anggun.

Sejenak Nawang terkejut, lantas berpura-pura tidak tahu menahu tentang rencana tersebut.

“Sudahlah, nak. Aku yang melahirkanmu, aku tahu segala yang kamu sembunyikan dalam pikiranmu,” ujar perempuan berambut hitam panjang bergelombang. Jenis rambut yang dimiliki semua bidadari penghuni kayangan.

“Tapi, bu. Aku ingin mendapat pengalaman baru. Lagi pula kakak-kakak kelasku, bahkan kau pun waktu seusiaku pernah kelayapan ke sana dan mempunyai kekasih mahluk bumi,” ujar Nawang, merasa tidak dapat berkelit lagi. Kini giliran ibunya yang terkejut, tidak mengira anaknya mengetahui sejarah masa lalu yang ingin ia pendam dalam-dalam.

Ibunya terus membujuk dengan lembut nan bijaksana. Ia mengakui dirinya sewaktu seusia Nawang memang pernah kelayapan ke bumi. Tapi menurutnya itu laku yang tak patut ditiru. Bukan pula sesuatu yang membanggakan. Jika diketahui tetua, mereka yang kembali dari bumi akan menerima hukuman dipasung selama bertahun-tahun. Laku hukuman tidak hanya untuk memberi efek jera tapi juga demi membersihkan mereka dari pengaruh buruk atmosfer bumi.

“Ketahuilah, Nawang, anakku, mereka yang pernah ke sana akan kecanduan. Bahkan membuat nekat menjadi mahluk bumi, meninggalkan negeri kayangan. Padahal, anakku, sekali menjadi mahluk bumi akan sulit kembali menjadi bidadari. Percayalah, Nawang, anakku, kehidupan di bumi hanya menarik untuk dilihat, tidak ketika dijalani.”

Nawang menunduk menyembunyikan gemuruh perasaannya. Ibunya mengira Nawang percaya dan merenungi kata-katanya. Kenyataannya yang terjadi sebaliknya. Wejangan ibunya makin mengobarkan tekad Nawang kelayapan ke bumi. Bersama Nasiri mereka telah bertaruh siapa yang bisa lebih dulu menyambangi bumi, dibuktikan dengan membawa benda-benda antik dari sana.

“Tanpa benda-benda bumi sebagai bukti. Dianggap tidak sah,” kata Nasiri.

Begitulah, Nawang rupanya kalah cepat dari Nasiri. Temannya itu lebih dulu berhasil menunjukkan benda-benda yang dicurinya dari bumi. Dengan jemawa diperlihatkannya oleh-oleh tersebut. Selain ipad, ipod, BlackBerry, dibawanya pula kartu kredit, kartu ATM, bahkan mesinnya sekalian. Entah bagaimana caranya Nasiri menggondol benda-benda menggelikan itu.

Lantas secara demonstratif, sambil tertawa renyah, ditepuknya mesin ATM, hingga ambrollah gumpalan uang kertas dari dalamnya. Terbang berhamburan mengotori kolam dan taman-taman negeri kayangan.

“Aku juga bawa ini,” seru Nasiri nyaring. Dari balik gaun Nasiri yang panjang dan transparan motif kembang-kembang berluncuran benda-benda bumi lainnya. Ada mesin faksimili, mesin fotokopi, VCD Player, USB, serta benda kotak-kotak lainnya.

Nawang melihat semua itu dengan dada dipenuhi dendam. Ia pulang dengan perasaan murung. Berhari-hari ia mengurung diri di biliknya yang berdinding pelangi. Suatu hari ia nekat kelayapan bersama beberapa teman satu geng, ke bumi. Ia sudah siap menanggung resiko apa pun. “Kalau perlu aku tak akan kembali ke kayangan. Biarlah kan kucari lelaki bumi sebagai suami,” janjinya di dalam hati.

Nawang meluncur ke bumi. Melayang-layang mengitari pulau-pulau sebelum akhirnya mendarat di bantaran sungai Ciliwung yang kotor dan bau bukan main. Sekali, dua kali, tiga kali....Benar kata ibunya, bumi bikin kecanduan. Pada kunjungan-kunjungan berikutnya Nawang datang sendirian. Ia terobsesi mendapatakan lelaki bumi untuk dipersuami.

Ibunya pernah berwejang, jika kau menindik sedikit saja bagian tubuhmu, maka kau tak dapat kembali terbang menuju kayangan, alias menjadi bagian dari penduduk bumi yang merana. Segala sifat bidadarimu lenyap diserap polusi bumi, satu-satunya yang tersisa adalah kemampuan berbicara dengan cicak. Itulah yang dilakukan Nawang. Setelah melakukan survey cukup lama mencari lelaki yang pas untuk dijadikan suami, ia menindik cuping hidungnya dengan jarum tepat saat Jaka melintas di Sungai Ciliwung untuk menunaikan tugas rutin.

“NAWANG, tolong buatkan Abang kopi ,” kata suaminya, seraya melangkah ke ruang tengah, meraih remote, menyetel televisi. Tengah malam ini ada film box office yang digandrunginya.

“Iya, Bang, sebentar.” Sedikit gugup Nawang mengaduk kopi, mendadak tangannya gemetar. Ia berjuang sekuat tenaga jangan sampai kopi yang telah diseduhnya dengan hati pecah, tumpah. Nawang khawatir jaka mencium rencananya.

“Nawang, lihatlah, seksi sekali Angelina Joli itu,” kata Jaka.

“Iya, iya, Bang,” Nawang lega akhirnya mampu meletakkan kopi di meja depan Jaka, sebagai tugasnya yang terakhir. Meskipun benci, detik-detik perpisahan membuat hati Nawang bersedih.

“Nawang mau ke mana lagi, Sayang? Temanilah Abang nonton,” seru Jaka, matanya masih lekat ke layar televisi. Ia tidak terlalu peduli manakala Nawang tak mengindahkan seruannya.

Mengikuti petunjuk cicak yang merayap di dinding rumahnya, Nawang keluar meninggalkan suaminya. Berjalan perlahan-lahan menahan kesedihan menuju Kali Ciliwung. Guguran embun dari langit mengantarkan Nawang ke puncak jembatan penyeberangan Kali Ciliwung. Kedua tangannya yang jenjang mengembang seperti Kate Winslet dalam adegan film Titanic. Matanya terpejam, saat dalam keremangan malam tubuhnya meluncur deras ke kali Ciliwung yang berarus deras lantaran Jakarta baru saja diguyur hujan lebat.

Gondangdia Januari 2012

Comments