Pasar dalam Lukisan

pernah disiarkanTribun Jabar, April 2009

Pasar itu tidak begitu ramai. Terletak di pinggir  sungai bawah jembatan  yang menghubungkan dua propinsi. Pasar makin nampak teduh dan sunyi dalam cahaya senja yang menyepuh atap gubuk-gubuk dan permukaan air sungai menjadi merah keemasan. Di jembatan tampak sebuah bus dan beberapa becak melintas.  Di sudut  kanan ada penjual minuman dengan dua pembeli bertopi tikar pandan yang sudah jebol-jebol pinggirnya. Mereka duduk sambil merokok . Tangan salah seorang dari mereka melambai pada orang di atas perahu yang juga balas melambai dengan mulut terbuka lebar. Barangkali dia berteriak , “Ooi, ngapain di situ?” atau mungkin juga, “Ooi, ayo ikut berlayar denganku.”
Wulan amat suka dengan pasar dalam lukisan itu . Dia selalu memanfaatkan waktu bermainnya  untuk menikmati lukisan itu berlama-lama. Kalau memandang lukisan itu ia sering terhanyut sehingga kadang seharian ia berdiri di sana. Tahu-tahu sudah  maghrib. Ia tidak tahu sudah banyak peristiwa yang terjadi di luar selama ia memandangi lukisan. Ia terlalu asyik melihat peristiwa-peristiwa yang berlangsung dalam lukisan.
Lukisan itu sudah berada di sana sebelum Ayah dan Ibunya menempati rumah itu. Wulan terlalu sering berpindah-pindah rumah mengikuti Ayahnya yang pekerjaannya tidak memungkinkan mereka tinggal menetap di satu kota . Keadaan yang membuatnya selalu merasa asing dengan lingkungan dan teman-temannya bermain. Ia cuma merasa kenal dengan tiga orang dalam hidupnya: Ayah,  Ibu, serta Teh Empon, pembantu rumahnya yang tetap setia menyertai ke manapun keluarga itu pindah dari satu kota ke kota lain. Teh Empon hapal betul dengan kebiasan anak ia punya majikan yang tidak begitu gandrung bermain sebagaimana anak seusia SMP lainnya. Termasuk dengan kebiasaan baru Wulan memandangi lukisan berlama-lama. Paling banter hanya menegur bila Wulan sampai lupa makan siangnya, “Neng Wulan, makan dulu, nanti sakit. Kalau sudah makan boleh pandangi lagi pasar itu, sampai subuh sekalian kalau mau.” Teh  Empon merasa percuma kalau harus bertanya,”Apa tidak bosan memandangi lukisan itu-itu juga yang bersuara juga tidak. Televisi saja yang banyak chanel dengan acara yang gonta-ganti tiap jam tetap saja membosankan bila ditongkrongi terus menerus.“ Sebab salah-salah dapat jawaban ketus seperti yang kerap dialaminya, “Tak ada gunanya menjelaskan sama Teh Empon yang urusannya cuma mengulek sambel.”
Pernah karena penasaran Teh Empon ikut memandangi lukisan itu agak lama dan teliti siapa tahu memang ada keajaiban yang membuat seseorang bisa terhanyut oleh sebuah lukisan. Namun belum lima menit kepalanya sudah terasa pusing. Ia tidak menemukan apa pun yang bisa membuat orang terhanyut dari lukisan itu. Apakah ketajaman pandangan setiap orang tidak sama?  Teh Empon makin pusing kepalanya oleh pertanyaannya sendiri. Akhirnya ia menyimpulkan anak majikannya ini memang agak ganjil. Ia tidak sampai hati mengatakannya tidak normal alias gila atau barangkali kesambet. Karena siapa tahu lukisan itu memang ada penunggunya.
Kadang saking terhanyut memandangi lukisan Wulan bukan cuma lupa makan, lupa minum, lupa mandi, ia bahkan seperti lupa diri. Berdiri tanpa bergerak sedikitpun seperti patung. Kalau terpaksa harus makan karena  sudah berkali-kali diperingatkan Wulan akan makan sambil memandang lukisan. Teh Empon cuma bisa melihatnya dengan kepala digeleng-gelengkan.
“Neng makan dulu, lalu mandi. Sebentar lagi Ayah sama Ibu pulang.”
Ayah-ibunya yang jarang berada di rumah karena pekerjaan yang mengharuskan     mereka selalu  pulang  malam tidak tahu menahu dengan kebiasaan baru Wulan. Mereka menganggap angin lalu saja ketika mendengar cerita dari Teh Empon. Setelah berulangkali pembantunya menceritakan kebiasaan baru anak semata wayang mereka, barulah wanita yang tidak muda lagi namun tampak segar dan gesit itu menanyakan langsung pada Wulan suatu malam menjelang tidur.
Wulan tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Ia menerawang, barangkali masih membayangkan perahu dengan orangnya yang melambai di sungai yang permukaan airnya merah keemasan oleh cahaya senja.
Ibunya menepuk pundak, “Wul, ada apa sih dengan pasar dalam lukisan itu?”
“Lukisan itu hidup, Bu. Ia menyedotku masuk.”
“Ah kamu, jangan ngarang dong!”  
“Apakah aku seperti pengarang?”
Ibunya mau bertanya menyedot bagaimana? Tapi Wulan nampak menguap lebar.
“Aku ngantuk, tidur dulu Bu.”
Paginya dalam perjalanan ke tempat kerja Ibu bertanya pada Ayah.
“Ayah pernah mendengar ada lukisan bisa hidup dan menyedot orang yang memandangnya?”
Ayah tidak menggeleng tidak pula mengangguk. Ibu kesal dan cuma bisa menggerutu sepanjang perjalanan. “Dasar Ayah, selalu sibuk dengan diri sendiri. Mentang-mentang lelaki.”
Begitulah, sejak itu Ibu jadi rajin mengamati perilaku Wulan. Ia khawatir jangan-jangan anaknya memang kenapa-napa. Berkali-kali pesan pada pembantunya supaya Wulan diawasi terus. Alihkan perhatiannya bila terlalu lama memandang lukisan.
“Kenapa tidak disimpan saja ke gudang?” Teh Empon memberi saran.
“Tidak perlu,”
Sejak itu pula Ibu selalu menyempatkan ngobrol dengan Wulan setiap malam sepulang kerja. “Jadi benar kamu bisa masuk dan jalan-jalan di pasar itu?”
Lagi-lagi Wulan menerawang. Lantas bercerita bagaimana ia menyusuri pasar itu yang semua penghuninya laki-laki. Tidak ada seorang pun perempuan. Ia sudah menyisir seluruh lorong pasar, tapi tidak seorang perempuan pun yang dijumpa. Pedagang sayur-mayur, pedagang buah, sampai penjual makanan dan minuman semuanya laki-laki. Begitu pula yang hilir mudik dia atas jembatan maupun sungai tak ada yang perempuan.  Wulan tak habis pikir bagaimana sebuah pasar tanpa perempuan. Bersembunyi di mana mereka?                                                                                                                       
Ibunya hanya mendengarkan tanpa menyela. Ia berusaha ingin mempercayai sedikit saja cerita Wulan. Namun tetap tidak bisa. Mesti menggunakan logika mana supaya bisa percaya? Batin Ibu. Meski demikian ia cuma mengangguk saja bila  Wulan bertanya, “Ibu percaya’kan?” Malam-malam berikutnya cerita-cerita Wulan tentang petualangannya di pasar dalam lukisan itu makin deras. Ibunya kadang juga terhanyut mendengar Wulan bercerita. Bukan cuma karena ceritanya memang menarik dan mendebarkan, tapi karena Wulan sangat pintar bagaimana menyampaikan cerita dengan baik. Memilih dan menggunakan setiap kata dengan sangat tepat. Entah belajar tata bahasa dari mana.
“Jadi kamu sendiri yang perempuan di pasar itu?”
“Ya.”
“Wah, berbahaya sekali. Lantas apa kamu juga sempat makan disana?”
“Pernah beberapa kali.”
“Pantas Teh Empon bilang kamu sering lupa makan seharian.” ujar Ibunya dengan pikiran tak menentu. Ia mulai berpikir untuk mengonsultasikan soal ini ke psikiater.
“Apa sudah seserius itu?” ucap suaminya ketika ia mengungkapkan niatnya.
Dalam ceritanya yang terbaru Wulan bilang dia sudah punya seorang teman di sana. Katanya dari teman itulah dia tahu tempat-tempat tersembunyi yang mencekam di mana banyak ditemukan mayat-mayat  bergelimpangan dalam keadaan mengerikan. Ada yang kepalanya pecah dihantam martil, lehernya putus digorok gergaji. Ada mayat yang membusuk dengan perut robek dan ususnya terburai keluar diseret-seret anjing.
Kali ini ibunya tidak bisa menyela atau pun berkata-kata lagi mendengarnya, kecuali menganga dan mengelus dada.. “Kalau begitu kamu jangan pernah ke sana lagi. Nanti kamu celaka.”
“Ibu tidak perlu cemas, aku bisa menjaga diri.”
“Dengar ya, Sayang, pokoknya kamu jangan pernah ke sana lagi! Ibu tak mau kamu jadi korban!”
Pada saat lain Ibunya mendengar cerita Wulan bersama temannya menyusuri sungai besar yang memisahkan dua propinsi sampai ke muara dengan pantai  yang luar biasa indah. Lebih indah dari pantai Sanur. Sebuah pantai dengan latar belakang cakrawala senja yang  merah membara seperti pepaya masak. 
“Di sana senja tak pernah berubah, kekal. Bisakah Ibu bayangkan? Nyiur melambai, sekawanan burung tak henti-henti terbang memintas langit jingga.”
Lama-lama Ibunya tak peduli lagi dengan cerita-cerita Wulan. Ia juga tak mau risau dan mencemaskan anaknya. Toh Wulan baik-baik saja. Ia tak merasa perlu menyimpan lukisan itu ke dalam gudang. Tapi suatu malam suaminya berkata, “Bagaimana kalau kita minta bukti pada Wulan tentang ceritanya itu?”
“Bukti bagaimana?”
“Kita suruh dia membawa segenggam pasir dari pantai itu kemari, atau sejumput saja cahaya senja dari sana .”
“Apa kita punya waktu mengurusi perkara ini?”
Laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari istrinya ini tidak menjawab. Matanya perlahan redup, lantas pulas. 
Paginya,  mereka terbangun oleh teriakan Teh Empon, “Nyah, Nyah… Neng Wulan hilang, Neng Wulan hilang…”
Ibu yang terkejut mencelat dari ranjang, “Hilang bagaimana?”
Dengan terengah-engah Teh Empon menjelaskan, usai salat subuh tadi ia melihat Wulan sebelum mandi berdiri memandang lukisan. Waktu ia mau menyuruhnya supaya lekas mandi, Wulan tidak ada di tempatnya.
“Sudah saya cari sampai ke kolong ranjang, tidak ada.”
“Mungkin keluar beli nasi uduk…”
“Tidak ada, Nyah. Tidak pernah dia keluar pagi-pagi. Lagi pula di sini tidak ada yang jualan nasi uduk.”
Mereka pun gempar. Ayah berusaha tetap tenang .
“Jangan-jangan dia masuk ke dalam lukisan.”
“Sepagi ini?”
“Bukankah di sana senja tetap abadi?”
“Tapi ini  kan waktunya sekolah.”
“Lantas gimana, Bu? Kita tidak bisa masuk dan menyuruhnya pulang.”
“Cari akal kek bagaimana caranya bisa masuk ke sana .”
Mereka menatap lukisan yang tetap menggantung bisu. Tidak ada yang berubah pada gambar yang tergores di atas kanvas berukuran 100 kali 50 sentimeter itu. Permukaannya saja yang makin bersih karena  selalu dilap kemoceng. Mereka menurunkan lukisan itu, bolak-balik diamati.
“Dari sudut sebelah mana ya, Wulan bisa masuk ke dalam sana ,” gumam Ayah dan Ibu hampir bersamaan. Teh Empon pura-pura ikut sibuk mengamati lukisan sampai melotot-lototkan matanya yang agak juling.
“Ah sudahlah, Bu. Nanti juga Wulan kembali.”
Wulan memang kembali saat Ayah dan Ibunya tidak berada di rumah. Teh Empon tergopoh-gopoh menyuruhnya makan. “Pasti kamu lapar habis bertualang, ya kan. Nih Teh Empon masak rendang.” Wulan nampaknya memang lapar, ia makan dengan lahap.
“Lain kali kalau mau masuk ke sana, bilang-bilang dulu Neng! Jangan bikin gempar.” ujar The Empon. Tapi Wulan tidak mendengar, dia berlalu ke kamarnya. Di sana dia termenung, memikirkan tawaran teman barunya yang meminta dia untuk tinggal selamanya dalam lukisan.
“Boleh saja, asal kenalkan dulu sama Ayah dan Ibu. “ ujar Ibu waktu Wulan menceritakan tawaran ia punya teman. Ayah sepakat dengan Ibu, “Dan kalau kami kangen boleh menjenguk kamu di sana.” tambah Ayah dengan mata berbinar.
Wulan menatap Ayah dan Ibu dengan wajah riang seperti mau diajak liburan ke Paris . Kemudian semuanya sepakat. Wulan akan mengenalkan Ibu dan ayah pada teman barunya nanti malam.
Saatnya tiba bagi Wulan untuk menjemput temannya ke dalam lukisan. Ayah, Ibu serta Teh Empon berdiri berjajar menantikan semuanya dengan perasaan berdebar. Mereka telah menyiapkan acara penyambutan ala kadarnya.
“Sabar ya, Aku akan membawa dia kemari.”
Wulan berdiri persis satu meter di depan lukisan. Suasana sunyi beberapa lama. Lalu sayup-sayup, Ayah, Ibu serta Teh Empon mendengar keriuhan pasar, suara sungai yang mengalir lengkap dengan kepak burung, deru bus serta gerincing becak dari lukisan. Perlahan lukisan bergetar, disertai keredap-keredap cahaya senja yang memancar keluar menyiram Wulan yang khidmat memandang. Ayah, Ibu serta Teh Empon seperti melihat layar bioskop yang bergerak menampilkan gambar-gambar hidup. Mereka terhanyut beberapa saat. Tubuh Wulan tiba-tiba lenyap seiring lenyapnya suara-suara…
“Ayaah, Wulan hilang, Yah! Wulan benar-benar lenyap. Aduh ke mana dia?! Wulaaaaaan…” Ibu berteriak histeris, lalu pingsan.***
Pasar Losari-Cirebon, Akhir Mei 2009.

Comments