Pelarian

disiarkan juga di Surabaya Post, Minggu 5 September 2010
Pada malam bertabur bintang itu Gunadi pergi meninggalkan Ranti. Perempuan yang baru dinikahinya dua jam yang lalu. Gunadi menjinjing jaket dan ranselnya, membuka jendela, dan meloncat dari sana menerbos remang malam. Meninggalkan Ranti yang menangis sesenggukan di tepi ranjang. “Maaf, Ranti, aku tidak bisa meneruskan perkawinan ini,” ucap Gunadi seusai bersetubuh dengan perempuan berambut lurus itu. “Kamu ternyata sudah tidak perawan,” sungut Gunadi geram, sembari membenahi pakaiannya, sebelum melompat dari jendela. “Kang,” suara Ranti terdengar parau. Gunadi tak tak peduli. Dia sama sekali tidak sudi lagi melihat Ranti. Dadanya dipenuhi kobaran kebencian dan amarah yang bisa meledak apabila tidak lekas meninggalkan kamar pengantin. Gunadi merasa begitu terhina, dibohongi, dilecehkan dengan sangat semena-mena. Tenggorokannya mendadak kering, nafsunya seketika surut, dan tubuhnya bergetar oleh kemarahan ketika dia menyadari betapa dirinya cuma mendapati sisa orang. Begitulah, malam itu Gunadi pergi meninggalkan Ranti sambil membawa kekecewaan, putus asa, perasaan tak berdaya, campur aduk memenuhi rongga benaknya. Perasaan yang berbalik 180 derajat dari dua jam sebelumnya. Ketika dia duduk di pelaminan bersanding dengan Ranti sebagai sepasang pengantin. Perasaannya diluapi kebahagiaan dan bangga. Bahagia bahwa Ranti, gadis pujaan yang menjadi impian setiap pemuda desa, akhirnya menjadi miliknya. Bangga bahwa dia akhirnya memenangkan persaingan dengan belasan pemuda yang mendambakan cinta Ranti. Di kursi pelaminan tak jemu-jemunya dia menatap Ranti yang seakan menjelma bidadari. Wajah Ranti sangat jelita: hidung mungil nan runcing, alis bagai kawanan semut berbaris rapi, sepasang mata yang bening dan tajam dengan bulu mata melengkung lentik. Gunadi begitu terpesona melihat bibir Ranti yang ranum dan tipis yang menyimpan barisan gigi mirip biji mentimun di baliknya. “Kamu cantik sekali, Ranti,” bisik Gunadi berkali-kali di telinga Ranti. Gunadi menikmati betul tatapan iri para undangan yang tertuju pada mereka berdua. “lihatlah, Ranti, mereka semua terpana melihat kita berdua,” bisik Gunadi lagi. Ranti tak bersuara, hanya senyum tersipu dan melirik Gunadi. “Terima kasih, terima kasih,” kata-kata itu saja meluncur dari bibir Gunadi maupun Ranti menyalami para undangan yang berbaris memberi selamat. “Selamat menempuh hidup, baru Gunadi, Ranti. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawahdah warahmah,” “Selamat ya Gun, Ranti. Bikin anak yang banyak ya,” “Kalian cocok sekali. Pasangan yang ideal,” “Beruntung sekali kamu, Gun, beruntung sekali,” Gunadi memang beruntung sekali. Dia merasa betapa tidak sia-sia pengorbanan dan perjuangannya selama ini. “Apa pun yang kamu syaratkan akan aku penuhi, Ranti. Hidupku bakal hancur apabila gagal mendapatkanmu,” Gunadi teringat bagaimana dia merayu Ranti ketika gadis molek itu mengajukan sejumlah syarat. Ranti minta dia meninggalkan kebiasannya bangun siang dan kegemarannya menembak burung. “Ini sesungguhnya syarat yang tidak ringan buatku, Ranti. Tapi aku berjanji akan memenuhinya,” kata Gunadi. “Kamu harus berjanji membuang senapan burung itu, Gunadi.” Ranti menegaskan. Tidak terpikir oleh Gunadi untuk bertanya kenapa Ranti mengajukan syarat demikian. Dia hanya ingin mendapatkan Ranti untuk menggenapi takdirnya. Lelaki yang baik harus mendapatkan perempuan yang baik pula. Demikian keyakinan yang pegangnya kuat-kuat. Pertemuan Gunadi dan Ranti terjadi tepat setahun sebelum mereka akhirnya duduk bersanding di pelaminan. Itu terjadi pada suatu siang yang tidak terduga di sebuah hutan kecil tenggara desa. Waktu itu Gunadi sedang berburu burung ke desa sebelah di mana Ranti tinggal setelah ia bosan dengan burung-burung yang ada di desanya. Ranti memekik mendengar senapan Gunadi meletus dan seekor burung terlempar jatuh ke tanah. “Maaf, kaget ya?” ujar Gunadi melihat Ranti ketakutan, keranjang berisi baju kotor yang dibawanya terpental. “tidak usah takut, Nona, aku hanya menembak burung,” kata Gunadi terpukau oleh kecantikan Ranti. Dilihatnya Ranti buru-buru memunguti baju kotor ke dalam ke keranjang dan bergegas lari meninggalkan Gunadi yang tertegun bagai melihat hantu. Sejak itu Gunadi tidak pernah lepas dari bayangan Ranti. Dia merasa menemukan takdir yang harus digenapkannya. Tidur Gunadi tak pernah lelap membayangkan rambut hitam tebal milik Ranti, betis putih mulus berkilau laksana mutiara. Aku telah jatuh cinta, pikir Gunadi. Esoknya Gunadi kembali ke hutan kecil itu, duduk di atas batu tepi sungai menanti Ranti. Senapan burung dia selempangkan di punggungnya. Sambil menyimak gericik sungai dan desah pepohonan, matanya mengawasi gadis-gadis yang tengah mencuci di sungai. Gadis-gadis rupawan yang membiarkan kulit bersih mulusnya dipanggang matahari. Tapi Gunadi tidak melihat Ranti di antara mereka. Sampai esok dan esoknya lagi dia tidak mendapatkan Ranti. Pada hari ketiga, ketika Gunadi hendak beranjak dari tepi sungai itu dilihatnya seorang gadis berlari di tepi sungai mengejar cuciannya yang hanyut diseret arus. Dialah Ranti. Setelah terpaku sekian detik, tanpa pikir panjang Gunadi meloncat nyebur ke sungai menyelamatkan cucian yang hanyut. “Terima kasih, Tuan,” kata Ranti tanpa menatap mata Gunadi. “Siapa namamu, Nona?” Gunadi bertanya. Ranti menyebutkan namanya. “Banyak sekali cucianmu,” Ranti tidak menyahut. Wajahnya terus menunduk. Gunadi mengangsurkan tangan memperkenalkan diri. Ranti menyambut tangan Gunadi, lantas berbalik hendak bergegas pergi. “Di mana rumahmu? Aku ingin bertemu orang tuamu.” Agak ragu-ragu Ranti menyebutkan letak rumahnya. Gunadi esoknya benar-benar datang ke rumah Ranti. Mengungkapkan maksudnya untuk menyunting Ranti. “Aku mencintaimu, Ranti. Kamulah gadis yang aku cari.” Mendapatkan Ranti bukan hanya membuat Gunadi seorang yang bahagia dan bangga. Kedua orang tua Gunadi pun merasa senang dan bersyukur sekali. Karena sejak mengenal Ranti kebiasaan buruk anak mereka sedikit demi sedikit berkurang. Gunadi tak pernah lagi bangun siang yang menjadi kebiasaannya sejak kembali ke kampung halaman setelah putus kuliah dari Institut Kesenian Jakarta. Kegemarannya begadang dan keluyuran tak keruan perlahan-lahan berubah menjadi rajin membantu pekerjaan orang tuanya mengawasi pembuatan tempe di rumah. Orang tua Gunadi memang pengusaha tempe yang sangat terkenal karena tempe produksinya sangat gurih dan enak. Bahkan secara mengejutkan Gunadi meninggalkan kegemaran yang sangat tidak disukai orang tuanya: menembak burung. Koleksi senapan burung yang bergelantungan di tembok kamarnya dia gudangkan. Pendeknya, pertemuannya dengan Ranti telah membuat Gunadi melakukan revolusi besar dalam hidupnya. Padahal bukan sekali itu Gunadi mengenal perempuan. Waktu kuliah di kota dulu ada belasan gadis yang pernah dia kencani. Namun dari sekian pacarnya itu tak ada satu pun yang pantas dijadikan istri. Soal kecantikan sebenarnya mereka tak kalah dengan Ranti. Bahkan dalam soal selera apa pun mereka jauh lebih bagus ketimbang Ranti. Selera musik misalnya. Mereka tidak mengenal dangdut dengan syairnya yang meratap-ratap. Mereka lebih akrab dengan jazz atau musik-musik kontemporer bercita rasa seni tinggi lainnya yang ditonton dengan duduk tertib, tidak boleh ngobrol, makan, apalagi merokok di dalam gedung pertunjukan yang jadwalnya tak pernah meleset. Tidak boleh berteriak-teriak atau berjingkrak kesurupan, bahkan sekadar tepuk tangan kecuali di akhir pertunjukan. Mereka yang suka tukar pasangan segampang ganti pakaian dan menganggap keperawanan bukan isu yang perlu dibesar-besarkan. Perempuan-perempuan yang gemar mengucapkan demokrasi, emansipasi, kesetaraan, hak asasi, dan kata-kata sejenisnya yang membikin lidah Gunadi semrawut bila ngobrol dengan mereka. Ranti jelas beda sekali dengan mereka. Ketika melihat wajah Ranti benak Gunadi terasa teduh. Dan suaranya membikin hati Gunadi luruh. Sikapnya yang lugu, pemalu, dan tidak pernah berpergian jauh kecuali ke sungai mencuci pakaian membuat Gunadi sangat yakin Ranti adalah gadis suci yang tak pernah terjamah pikiran-pikiran yang merasuki perempuan-perempuan yang pernah dia kencani di kota. Sehingga Gunadi tidak perlu menanyakan apakah dia masih perawan atau tidak. Selama setahun pacaran Gunadi sangat menjaga betul sikapnya. Paling jauh dia hanya menggenggam telapak tangan Ranti. Gunadi sudah bersumpah akan menjamah semuanya hanya pada malam pertama usai hari perkawinan mereka. *** Gunadi terus berjalan menyibak belukar di bawah langit bertabur bintang, melewati rumah-rumah yang mulai redup lampunya. Melintasi jembatan bambu di atas sungai yang permukaan airnya gemerlapan memantulkan cahaya bintang. Hatinya begitu perih membayangkan seorang lelaki telah lebih dulu meniduri Ranti. Ingin sekali Gunadi menembak lelaki itu siapa pun dia dengan senapan burung miliknya. Tetapi bagaimana dia tahu siapa lelaki itu jika Ranti tetap bungkam dan cuma sesenggukan. Langkah kaki Gunadi mulai gontai. Keringatnya bercampur dengan embun yang beterjunan membasahi wajahnya. Dia tidak tahu akan ke mana langkah kaki menyeret dirinya. Tapi jelas tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya. Rasanya tak kuasa dia menanggung malu. Sementara itu di kamar pengantin Ranti masih sesenggukan menangis. Perasaannya hancur lebur bagai agar-agar yang ditumpahkan di lantai. Dia tidak sanggup membayangkan betapa besar malu yang bakal ditanggung keluarganya besok pagi. Ranti tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Mengapa begitu susah menjelaskan kejadian itu pada Gunadi. Kejadian masa remaja menjelang menstruasi pertama. Ketika dia bersama kawan-kawan sebanyanya memanjat pohon jambu tepi sungai. Malang bagi Ranti. Dia terpeleset jatuh dan mendapati celananya berdarah. Ranti ingat, kejadian itu tidak membuat kegemarannya memanjat pohon bersama kawan-kawannya jadi berhenti. Perlahan-lahan Ranti bangun dari tepi ranjang, berjalan, dan membuka jendela. Dia berdiri di sana, menopangkan kedua lengannya di bingkai jendela. Membuang tatapannya ke keremangan malam. * Pondok Pinang, Agustus 2010 cerpen ini sempat disiarkan pula Harian Global Medan

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka