Perempuan Am(Bulan)

pernah disiarkan Republika, Minggu 27 Juli 2008
-->
Ini cerita agak rumit tentang perempuan bergaun putih yang berjalan bagai melayang sendirian pada malam gelap dan lengang. Gerimis berhamburan bagai kesedihan yang ingin memeluk sekujur tubuhnya yang letih. Membentenginya dari bisikan-bisikan malam yang berbahaya.  Rambutnya jatuh sampai ke punggung. Dia melewati jembatan panjang di atas sungai yang curam. Pandangannya lurus ke depan. Bulan lenyap dimamah gumpalan awan.  Kini ia menyeret langkahnya di jalan beton bergaris-garis kasar yang membelah perkuburan China. Lihatlah, wajahnya seputih kapas. Matanya dipenuhi kekosongan yang menghalau kegembiraan. Tubuhnya meruapkan wewangian yang membuatmu seakan terbang.

Ia berjalan demikian tenang seakan menyatu dengan kesedihan yang agung sekaligus kebahagiaan paling sempurna dalam perjalanan malam menjelang pagi yang lengang penuh hamburan embun dan gerimis tipis. Sebentar lagi bayangan tubuhnya lenyap di balik gerumbul semak tikungan jalan. Oh tidak! Aku harus mengejarnya, mengetahui di mana jejak langkahnya bakal berhenti. Dan kalau mungkin mengajaknya ngobrol di pinggir sungai. Bukankah sudah lama aku menunggunya? Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin saja tidak akan datang dua kali. Aku memekik memanggilnya, “Hoiiiiiiii…”

Dari jauh, kulihat ia berhenti sejenak. Namun wajahnya tak ditolehkan ke arahku. Tetap lurus ke depan. “Hoiiiiii…tunggu akuuuuu,” pekikku makin lantang. Tebing sungai dan tembok-tembok kuburan China memantulkannya kembali menjadi gema yang panjang.  Perempuan itu meneruskan langkahnya, lenyap di gerumbul semak tikungan jalan. Aku mengejarnya, terengah, paru-paruku seperti hendak pecah, kedua tungkai kakiku terasa patah…

Kini ia benar-benar raib dari pandanganku. Ruas jalan beton tak berapa lebar itu tak menyisakan bayangan tubuhnya. Ia menuruni jalanan berbeton yang diapit semak di bawah sana. Aku jatuh tersujud di jalanan itu. Saat itu gerimis telah reda. Embun terasa makin kental melekati kulitku. Perempuan itu makin jauh, makin panjang jarak yang ditinggalkannya. Ia terus berjalan dalam ketenangan menyerupai telaga di tengah hutan. Tak ada yang bisa kucatat selain gaunnya putih melambai-lambai. Wewangian tubuhnya tersisa di sepanjang jalan, bagai mengendap di rerimbun daun-daun.

Ia hampir sampai di ujung jalan. Di ujung jalan itu adalah jalan bercabang dua. Ke kanan arah setapak menuju pasar yang hanya ramai pada malam hari; ke kiri menuju hutan kecil berbukit dan berair terjun. Dengan mantap perempuan itu memilih berbelok ke kanan. Sebentar lagi keriuhan pasar bakal terdengar. Orang-orang menjajakan sayuran, daging sapi, ayam potong, rempah-rempah. Ia masuk ke sana, dalam ingar bingar pasar. Gerakannya tampak anggun menyibak kelimun orang,  menyelinap ke salah satu toko paling pojok yang menjual bermacam-macam selendang.

Toko itu tampak sepi seperti terpisah dari keriuhan pasar. Ia mendekat dan berbisik pada si penjaga toko yang kemudian manggut-manggut. Lantas membawa perempuan itu ke ruang bagian dalam.  Cahaya remang di toko itu tidak dapat memperlihatkan dengan jelas barang-barang apa saja yang dijualnya di sana. Perempuan itu kembali berbisik-bisik. Penjaga toko itu kembali manggut-manggut.  Seperti pembicaraan rahasia yang tidak seorang pun boleh tahu. Tiba-tiba aku dibakar api cemburu.

Mereka terus berbisik-bisik. Wajah penjaga toko itu berubah tegang sejenak, tapi kemudian kembali dipenuhi kegembiraan dan senyum  misterius. Orang-orang hanya lalu di depan toko itu, seakan mereka tidak melihatnya. Hanya mereka berdua di toko bercahaya remang-remang itu, berbisik-bisik, saling bertatapan sejenak, lantas sibuk memilih-milih selendang yang berjuntaian. 

Aku berdiri di lorong pasar, pundakku berguncang dilanda orang lalu. Mereka masih memilih-milih selendang. Tampaknya ia tidak menemukan selendang yang dicarinya. Buat apa dia membeli selendang? Buat terbang ke bulan? Aku terus mendekat ke toko. Lagi-lagi cahaya remang dalam toko menyulitkan mataku menangkap wajahnya secara jelas. Ups! Hanya sekilas aku melihat matanya.  Tubuhku hampir tersungkur didorong orang. Ketika kutengok ke toko itu, perempuan itu tak ada.  Dan penjaga toko bersiap menutup tokonya. Ke manakah perempuan itu?

Penjaga toko itu memandangi mataku dengan tatapan aneh, penuh misteri. Tak sepotong kata pun terlontar dari bibir kelabunya. Aku berbalik arah dengan lesu. Keluar dari keriuhan pasar yang sebentar lagi menguap. Berjalan ke arah tadi aku datang. Semak-semak bergesekan. Suaranya melengkapkan keheningan pasar di bawah sana. Tembok-tembok besar kuburan China menyembul dari semak dan rumputan yang terus meninggi. Seperti tonggak-tonggak yang mengingatkan orang akan kefanaan sekaligus keabadian.

Aku berjalan tertatih. Sejenak aku berhenti di tikungan tempat semalam perempuan itu berhenti tanpa menolehkan wajah ke arahku. Ya, di tikungan ini. Semalam tubuh semampainya berhenti. Aku tak tahu apakah telapak kakinya memijak tanah.  Tepat di bekas tapak kakinya—kalau tapak kakinya memijak tanah—aku duduk tersimpuh,  mencari sisa-sisa kehadirannya. Aku hanya mendapatkan debu, terasa kasar di telapak tanganku. Siapakah dia? Perempuan bulankah? Perempuan ambulankah? Gelap telah lewat, sinar matahari mulai merayapi udara. Tapi jalanan ini tetap lengang. Tak ada orang lewat. Keresek serangga di gerumbul alang-alang, kicau burung bersahutan, melayang dari ranting ke ranting pohon kamboja. Sesekali saja terdengar keloneng genta di kejauhan, dari sebuah vihara atau mungkin juga rumah duka.

Aku melanjutkan langkah dengan pikiran dipenuhi perempuan bulan. Perempuan ambulan. Aku melintasi jembatan beton. Kulihat permukaan sungai itu berkilau keperakan. Sungai yang membelah kota ini menjadi dua bagian. Mungkin kau pernah mendengar tentang perempuan bulan, perempuan ambulan. Ia hanya muncul di kala malam bergerimis tipis dan tak ada bulan. Bertahun-tahun aku hanya mendengar ceritanya. Aku telah lupa siapa yang pertama kali menceritakannya. Begitulah, aku mendengar kisahnya sepotong sepotong. Tetapi sejak pertama aku mendengarnya sosoknya seakan utuh hidup dalam pikiranku.      

Ia jatuh dari bulan suatu malam, kata seseorang.

Bukan, bulan, tapi ambulan, bantah seseorang.

Seorang lelaki menemukannya terkapar di jalan itu. Dia membawanya pulang ke rumah, menyembuhkan luka-luka di tubuhnya. Konon ia tak pernah berbicara kecuali berbisik-bisik. Lantas lelaki itu menjadikannya istri. Dia sungguh lelaki yang mujur. Perempuan itu tidak sekadar cantik, tapi juga membawa keberuntungan. Toko kain di pojok pasar milik lelaki itu mengalami kemajuan pesat. Sayang, dalam suatu kerusuhan massal lelaki itu terbunuh. Tokonya dijarah dan dibakar kawanan orang. Perempuan bulan itu juga tak selamat dari renggutan tangan-tangan hitam penuh angkara. Tetapi sebelum semuanya berlangsung lebih buruk perempuan itu terangkat ke bulan. 

Bukan bulan, tapi ambulan, kata seseorang entah siapa.

Perempuan bulan. Perempuan ambulan. Siapakah dia?

“Kamu tidak akan bertemu dengannya,” kata seseorang entah siapa.

“Hanya dongeng belaka,” bantah seseorang.

Ia telanjur hidup dalam benakku. Menggelisahkanku. Sejak itu aku merasakan kehadirannya di dekatku.  Kadang serupa bisik-bisik lirih disertai dengusan lembut  pada tengkukku. Malam-malam ia kadang membangunkanku. Seperti semalam, kudengar suara tangisnya yang pilu. Maka aku bangun, menyingkap selimut, turun dari pembaringan, menekan sakelar lampu. Aku mencari suara tangis itu. Suara yang begitu dekat, seakan melekat pada tembok-tembok kamarku. Tetapi sekaligus jauh, jauh di seberang sungai, dari area permakaman China. Kutinggalkan kamar, melangkah keluar perlahan-lahan.  Lalu membuntutinya dengan perasaan berdebar-debar.
Aku ingin mengenalnya. Ingin memastikan dari manakah dia berasal. Jatuh dari bulan atau hanya dari ambulan. Sungguh cerita tentang muasal perempuan itu yang simpang siur, antara jatuh dari rembulan dan dari ambulan, menyita waktuku.
Seandainya benar ia jatuh dari bulan, bukan dari ambulan, sungguh menarik, bukan? Pasti kau pun ingin bertanya lebih jauh. Kenapa ia sampai jatuh dari bulan. Apakah  terusir dari sana lantaran ia melakukan kesalahan tak termaafkan? Kesalahan macam apakah yang membuatnya harus menerima hukuman dijatuhkan ke bumi berdebu? Sungguh ini pertanyaan yang tidak pernah terjawab sebelum aku berhasil bertemu langsung dengannya.
Bisa saja perempuan itu memang jatuh dari ambulan, bukan bulan. Tetapi bagaimana ceritanya ia dibiarkan jatuh dari ambulan. Apakah karena ia kere yang hanya menyusahkan pihak rumah sakit sehingga sah-sah saja dijatuhkan dari ambulan pada suatu tengah malam bergerimis tipis dan di langit rembulan padam? Sungguh banyak sekali kemungkinan. Bisa saja ia tidak jatuh dari ambulan maupun bulan. Melainkan jatuh dari angan-angan orang-orang senang mengarang cerita gombal?
Pondok Pinang, 7 Juli 2008.

Comments