Perempuan Lama

pernah disiarkan Sinar Harapan, Juli 2007 dengan judul Perempuan yang Dimadu

Anisa membuka matanya. Tak seorangpun terjaga di sekitarnya. Tercium aroma karbol. Matanya menyusuri bentangan warna putih di hadapannya. Sprei, selimut, taplak meja putih, kotak obat, segelas air putih. Bunga mawar merah yang warnanya bagaikan bercak darah di antara tumpukan salju.

Anisa beringsut, menyibak selimut tebal yang menangkup tubuhnya, mendekat ke gagang telepon. Dia akan mengontak suaminya. Ingin meyakinkan betulkah suaminya, laki-laki yang telah dikenalnya sejak SMP itu hendak memberinya madu? Bukan madu yang menyegarkan, tapi madu, ya betulkah suaminya hendak menikahi perempuan lain. Oh…

“Mama, ini demi kebaikan mama juga,” Anisa teringat ucapan Fauzan, laki-laki yang sudah dikenalnya sejak mereka kecil. Anisa berharap semua hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu begitu ia terjaga. Tak yakin Fauzan bisa menyakitinya seperti ini. Tidak mungkin. Ia tahu betul Fauzan, ia yakin betul bahwa ia benar-benar mengenal Fauzan seutuhnya. Bukan sekadar penampilan di depan matanya belaka. Sejak kecil setiap hari mereka berjalan bareng menyusuri sungai yang permukaanya gemerlapan ditimpa hangat matahari pagi, berangkat ke sekolah. Ketika mereka baru mengalami apa yang disebut puber pertama. Teringat oleh Anisa baju seragam Fauzan yang lusuh tak disetrika, rambut agak kemarahan dan berantakan. Ibunya yang berjualan sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan terlalu repot untuk mengurusi baju seragam Fauzan.

Terdengar suara baling-baling kipas berdengung lembut. Lalu ketukan langkah sepatu yang mendekat ke pintu. Sebelum Anisa berhasil meraih gagang telepon, pintu itu terkuak. Fitri, putri sulungnya berdiri di sana, memandangnya pilu.

“Mama mau menghubungi Papa?” tanya putrinya, serayu merengkuh pundak Anisa. Mata Fitri menyorotkan iba, Anisa segera berpaling dari sana, menyembunyikan cairan hangat yang bergulir dari sudut-sudut matanya. “Tidak aktif, Ma, ini waktu mereka ijab kabul,” suara Fitri bergetar lirih. Kedua perempuan itu lantas berpelukan dan menangis. Cukup lama. Setelah itu Fitri menyeka pipi Anisa yang basah. Menarik napas panjang. Beranjak ke meja, menuang susu instant ke dalam gelas, lantas menyodorkan pada Anisa. Di luar angin berembus pelahan. Beberapa helai daun kering melayang menabrak kaca jendela. Seperti daun itukah diriku kini, batin Anisa.

Dulu neneknya sering memuji Fauzan sebagai laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Yang dirujuk nenek adalah ayah Fauzan yang di kampung dikenal laki-laki yang menyayangi keluarga, saleh, bertanggungjawab dan mendidik anak-anaknya jadi orang-orang yang menjunjung tinggi sopan santun. Tidak sekali dua kali nenek mengungkapkan pujian seperti itu, tapi setiap nenek melihat Anisa tengah bersedih dan kesal gara-gara disakiti beberapa laki-laki yang memacarinya. Tidak ada yang salah dengan ucapan nenek. Fauzan memang tidak kurang membuat hidup Anisa tenteram sebagai istri.

Anisa menatap wajah putrinya yang mewarisi keindahan mata dan hidung Fauzan, Anisa kembali bimbang, benarkah Fauzan, telah mengkhianatinya? Berapa lama sudah ia mengenalnya? Bocah laki-laki dusun itu sangat lugu ketika pertama Anisa mengenalnya. Sampai bertahun-tahun kemudian Fauzan tetaplah merupakan laki-laki lugu dan polos.

Kala itu Anisa baru datang kota besar, ayahnya yang bekerja dan menetap jauh di kota membawanya ke kampung dan menitipkan Anisa kepada neneknya untuk sekolah di kampung. Ah, sudah berapa lamakah semua berlalu? Setiap pagi selama tiga tahun Fauzan tak pernah telat nyamper ke rumahnya. Dengan suaranya yang kecil dan pelan ia beruluk salam. Anisa seringkali masih tidur kala Fauzan menjemputnya pagi-pagi. Dari balik pintu Anisa melihat Fauzan berdiri di ambang pintu depan. Akan terdengar suara neneknya menyahut dari ruang belakang,

“Masuk, Zan….Anisa masih tidur…”

Tanpa berkata-kata lagi Fauzan segera masuk dan duduk di ruang tamu, sambil menunggu ia membaca baca buku, memeriksa kembali pekerjaan semalam.

Anisa cepat merapikan rambut, meraih handuk, bergegas ke kamar mandi. Masih sempat ia menoleh ke Fauzan yang sudah rapi dan segar duduk di kursi tamu,

“Pagi sekali kamu, Zan…” katanya, bergegas agak malas ke belakang.

Saban pagi mereka menyusuri jalan setapak di sisi sungai. Tentu saja mereka hanya berteman. Usia mereka belum cukup buat pacaran, kan? Ah, lagi pula ayah Anisa masih sepupuan dengan ayah Fauzan. Bagaimana bisa mereka pacaran? Tetapi rupanya perkiraan itu salah. Mungkin karena bukan hanya saban pagi mereka berangkat dan pulang menjelang sore bersama. Pada malam hari Fauzan datang pula ke rumah Anisa. Mereka mengerjakan tugas sekolah bersama. Tetapi rasanya ini pun masih biasa-biasa saja. Sebab setelah tiga tahun bersama, mereka kemudian tidak lagi berangkat sekolah bersama. Karena Anisa sekolah di kota kabupaten yang jaraknya 50 kilo dari desa mereka, dan ia harus tinggal di asrama. Sementara Fauzan tidak meneruskan sekolah. Orang tuanya hanya mampu memasukkannya ke pondok pesantren tidak jauh dari desanya.

Perbedaan sekolah itu membuat keduanya jarang bertemu. Masing-masing sibuk dengan kegiatan dan teman-teman barunya. Anisa bahkan mulai berpacaran. Tentu saja ini bukan kesalahan. Wajar saja anak SMA berpacaran, bukan? Ahmad, itulah nama pacar pertama Anisa. Laki-laki itu sering ikut ke rumah Anisa ketika ia pulang. Paling cepat Anisa pulang ke rumah sekali sebulan. Sebagaimana umumnya orang pacaran, mereka saling memberi perhatian, nonton bioskop, pegangan tangan, berciuman.

Tetapi kedekatan Anisa dengan Ahmad tidak berlangsung lama. Ahmad begitu saja meninggalkannya. Belakangan Anisa tahu Ahmad hanya menjadikan ia hanya pacar keduanya. Peristiwa seperti ini berulang terjadi pada Anisa. Seteah Ahmad, Anisa ditinggalkan Rahman, lalu Zam-zam.

Lulus SMA Anisa mengambil kursus tidak jauh dari kota kecamatan. Sementara Fauzan masih di pondok pesantren. Setiap Anisa berangkat ke tempat kursus ia akan melewati pondok tempat Fauzan mesantren. Laju motornya ia pelankan dan berharap melihat Fauzan. Tanpa disadari Anisa Fauzan rupanya memperhatikan tingkahnya. Hingga sutau kali Fauzan mengadangnya,

“Kursus apa, Anisa?”

“Bahasa Inggris, Zan. Ah tambah nganggur saja, Zan” sahut Anisa.

Pertemuan sederhana seperti itu terus berulang. Lama-lama Anisa gelisah jika melewatkan hari tanpa melintas pondok pesantren itu dan bertemu Fauzan. Kadang masih dengan bersarung Fauzan membonceng Anisa ke kota kecamatan sekadar membeli baju koko atau buku. Kadang mampir di kedai es kelapa.  Sejak itu Anisa memutuskan menikah dengan Fauzan. Dan itu ternyata bukan hal yang sulit. Karena Fauzan pun memiliki perasaan yang sama. Tiga bulan menyusul kedekatan mereka pernikahan pun direncanakan. Dan semuanya berjalan sesuai harapan.

Sampai saat itu Fauzan tetaplah laki-laki lugu, dan sangat menghargai Anisa. Perjalanan perkawinan mereka jarang menemukan sandungan-sandungan berarti. Hampir selalu mulus dan datar-datar saja. Tetapi tidak susah bagi Anisa untuk mensyukuri semua yang diberikan Fauzan. Ia adalah tipe laki-laki dusun yang taat beragama dan sayang keluarga sekaligus laki-laki modern yang menghargai kebebasan istrinya untuk berkarir di luar rumah. Dan kelahiran anak mereka makin menghangatkan kehidupan perkawinan Anisa dan Fauzan. Sudah lama Anisa melupakan pacar-pacar masa lalunya di SMA.

Kalau ada waktu senggang menjelang tidur malam, Fauzan selalu bercerita tentang para nabi yang mencintai istrinya.  Mulanya cerita-cerita ini makin membuat Anisa makin memahami suaminya sebagai seseorang yang selalu ingin taat. Tetapi kemudian Fauzan juga mulai cerita tentang betapa para nabi pun memiliki banyak istri. “Untuk menolong para janda itu, itulah tujuan mereka memiliki lebih dari seorang istri,” ujar Fauzan.

Fauzan lalu mulai menyebut-nyebut nama perempuan yang menurutnya sangat perlu ditolong. “Kita harus menolongnya, Anisa,” kata Fauzan suatu malam. Nada suaranya lembut namun terasa begitu menuntut. Anisa tidak bisa berkata-kata. Ia ingin marah, ingin meluapkan kegeraman. Tapi semua seakan tertelan lagi menjadi gumpalan perasaan yang menyumbat dadanya. Hari-hari Anisa sejak itu menjadi sesak dan dijalari perasaan gerah.

Puncaknya suatu malam yang penuh bintang, ketika televisi menyiarkan acara kontes musik. Fauzan berkata padanya dengan pelan, namun tegas dan tak ingin dicegah,

“Ini demi kabaikan Mama juga,” suara itu disertai nada getar yang merontokkan jantung Anisa.

“Kebaikan siapa yang kau maksud? Kebaikan apa?!” Anisa tidak kuasa lagi menahan perasaannya. Ia menangis, limbung dan terjatuh. Untunglah Fauzan segera menangkapnya dan membaringkannya di sofa.
***
Hari makin meninggi, namun suasana justru makin sunyi menohok perasaan Anisa. Sebentar lagi orang-orang akan menggunjingkan statusnya kini sebagai perempuan yang dimadu suaminya. Sebentar lagi pandangan mata sinis, menertawakan, menghinakan berseliweran di hadapannya. Sejak hari ini pula tidak setiap malam ia  akan bersanding dengan Fauzan. Mendengarkan laki-laki itu menggumamkan ayat-yat Qur’an. Sebab laki-laki itu harus membaginya dengan perempuan lain. Mungkin Anisa juga tidak tiap hari lagi mencuci baju Fauzan. Tidak tiap pagi menyeduhkan teh panas. Oh…

“Hampir maghrib, Mama.” terdengar suara Fitri. Tetapi masih perlukah setiap hampir maghrib ia harus mandi, berdandan, dan seterusnya dan seterusnya sebagaimana telah ia lakukan hampir lima belas tahun sejak menikah dengan Fauzan? Atau harus mengubah semua rutinitas yang sekian lama dijalaninya dengan Fauzan? Sampai menjelang isya Anisa masih bergeming.

Radio Dalam, Juli 2007

Comments