Perlawanan Ingatan

Judul film : Total Recall
Genre : science fiction
Rilis : Agustus 2012

Apakah kenyataan sesungguhnya? Ia hanyalah hasil reaksi kimia syaraf-syaraf dalam otakmu terhadap apa yang kamu lihat dan rasakan. Maka ketika ada zat yang mampu mengatur reaksi kimia dalam otakmu sesuai dengan yang kamu inginkan, tak ada lagi jarak antara kenyataan dan fantasi.

Inilah ide yang disodorkan Total Recall, film Hollywood yang saya tonton pada pekan terakhir Ramadhan kemarin. Ini memang bukan gagasan yang baru. Putu Wijaya, pujangga kenamaan Indonesia itu, pernah menyinggung kemungkinan ini dalam sebuah cerpennya yang terkumpul dalam ‘Blok’. Jika Putu Wijaya menyampaikannya lewat rentetan kata yang penuh daya renung. Maka Total Recall memvisualisasikannya dengan megah namun tak butuh acara renung merenung.

Douglas Quaid (Collin Farrel) seorang buruh pabrik mendapati dirinya selalu gelisah dengan ritme hidupnya yang monoton. Setiap hari sepanjang tahun tubuhnya disekap antara pabrik dan flatnya yang sempit. Ia memang memiliki Lori (Kate Beckinsale) istri yang cantik yang selalu siaga membunuh kejenuhan dan frustrasinya yang akut. Tetapi rupanya itu tidak cukup. Ia ingin jeda sejenak dari rutinitasnya melalui tamasya lintas pikiran. Maka Douglas begitu tergoda untuk mencoba jasa Total Recall, sebuah perusahaan yang menjual hiburan tamasya lintas ingatan. Jasa hiburan ini dapat mengubah ingatanmu menjadi apa pun sesuai pesanan.

Namun, inilah yang terjadi. Tamasya lintas ingatan itu membawanya pada kenyataan di luar dugaan. Quaid ternyata bukan dirinya yang selama ini ia kenal. Melainkan hanya selembar ingatan yang ditanamkan seorang penguasa kolonial Kanselir Cohaagen (Bryan Cranston) untuk memata-matai guna mengendalikan perlawanan dari bangsa koloninya.

Film ini mengambil setting waktu masa depan ketika dunia terdiri dari dua kelas: kolonial dan koloni. Negeri kolonial berada di bumi bagian ‘atas’, sebaliknya negeri koloni berada di ‘bawah’. Transportasi berjalan secara vertikal. Dari atas ke bawah, dan sebaliknya, menembus lapisan bumi. Mobil-mobil tak perlu lagi menyentuh aspal. Tak ada pohon, kota hanya terdiri dari gedung gedung kusam oleh bisa polutan.

Sebagaimana lazimnya, negeri kolonial amat kejam menindas negeri koloni. Pemberontakan pun meledak di mana-mana di negeri koloni. Douglas Quaid yang diperalat Kanselir Cohaagen dengan melenyapkan memori dan menggantinya dengan memori buruh pabrik, melalui tamasya lintas pikiran Recal Quaid akhirnya menyadari siapa dirinya sesungguhnya. Maka bersama dengan pejuang perlawanan (Jessica Biel) ia melarikan diri dari polisi yang dikendalikan oleh Kanselir Cohaagen. Ia terpanggil untuk berjuang bersama-sama pemimpin perlawanan bawah tanah (Bill Nighy) dan menghentikan penindasan Cohaagen.

Selain hiburan, Remake Total Recall yang dibintangi Arnold Schwarzenegger era 1990 ini hampir tak menawarkan apa-apa. Visual efek dan aksi kejar kejaran dan tembak-tembakan terlalu sering kita jumpai di film-film futuristik Hollywood. Gagasan perihal kenyataan dan fantasi yang semula saya harapkan menjadikan film ini memiliki bobot dan daya renung, segera kandas di antara tembak-tembakan yang membisingkan. Tapi kita menemukan sosok Collin Farrel yang tidak segagah dan se-wah Schwarzenegger yang membuat film tidak terlalu menyorongkan kepahlawanan yang berlebihan.

Kembali ke soal apakah sesungguhnya fantasi dan kenyataan? Film ini tak cukup ampuh mendorongmu untuk berpikir, jangan-jangan dirimu yang kamu kenal, seperti yang pernah disinggung cerpen Putu Wijaya, hanya bagian dari ingatan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan dirimu!

Comments