Pria Kedua

pernah disiarkan Majalah Good Housekeeping, April 2011

Sore itu aku pulang kantor lebih cepat untuk kembali datang menemui Kesya. Kubawakan ayam dan kentang goreng, serta komik terbaru kegemarannya. Aku berharap misiku kali ini untuk mengambil hati Kesya, berhasil. Paling tidak dia tidak bersikap judes dan menatapku dengan pandangan mengusir. Tetapi begitu taksi berhenti di depan rumahnya, dari jauh sudah kulihat tatapannya penuh kebencian memandangku. Aku berusaha tetap mengembangkan senyum.

“Kesya…” panggilku seraya membuka pintu gerbang. Aku mengacungkan komik padanya. “Ini Tante beliin komik buat kamu,” kataku dengan suara selembut mungkin. Tapi gadis cilik itu hanya melirik sekilas, lantas melengos. Gayanya sungguh membuatku gemas setengah mati. Seandainya dia bukan putri kesayangan Prana, lelaki yang kuingini, mungkin sudah kucubit keras-keras.

“Kamu belum mandi, Sayang?”

Kesya bergeming, duduk di kursi busa dengan pandangan dibuang ke jalan. “Ayo Tante mandiin, terus makan sambil nunggu papa pulang,” bujukku.

“Kesya bisa mandi sendiri,” sahutnya tanpa menatap ke arahku. Dia beranjak ke dalam, dan masuk kamar mandi.

“Maaf, Maira. Kesya memang begitu, jangan diambil hati.” ujar neneknya yang muncul dari ruang tengah.

“Nggak apa-apa, Tante,” kataku, agak tersipu. Aku khawatir perempuan ini melihat ekspresi geram pada wajahku. Aku segera merapikan mainan Kesya yang berantakan di ruang tamu, pekerjaan yang tak mungkin kulakukan di rumah sendiri.

“Jangan, Maira. Biar nanti Kesya saja yang merapikan sendiri.” kata perempuan itu. Tentu saja aku tak perlu menghiraukan kata-katanya. Karena ini memang kulakukan untuk mendapatkan simpati dan memberikan kesan bahwa aku perempuan baik yang pantas dijadikan menantu barunya.

Sambil merapikan mainan Kesya, sepintas kulirik foto di dinding. Tampak Prana dan Hashya berangkulan mesra dalam busana pengantin. Dadaku kembali terusik, kenapa Prana masih memajang foto itu? Apakah dia belum bisa melupakan Hashya? Kamu tak perlu cemburu seperti itu, Maira. Toh Hashya telah dipenjara sekarang. Dan Prana tak mungkin menginginkan dia kembali!

Kesya telah selesai mandi ketika perempuan itu menyuguhkan teh di meja.

Aku duduk dengan memasang sikap yang semanis dan sesantun mungkin di depan perempuan ini. Kukira usianya hampir sebaya dengan ibuku. Hampir enam puluhan. Tapi masih terlihat cantik. Bentuk hidung dan bibirnya serba mungil dan menarik. Keindahan yang diwariskan kepada Prana. Aku ingin perempuan ini segera masuk kembali ke dalam, membiarkan aku sendiri. Tapi tampaknya dia bersemangat sekali menemaniku. Mestinya aku senang, tapi entahlah. Aku merasa tak nyaman, bahkan sedikit tersiksa harus bersikap seperti ini. Ah sudahlah, apa pun rela kulakukan demi mendapatkan Prana. Aku harus belajar menikmati segala ketidak nyamanan ini. Lihatlah, Maira, perempuan ini tak henti-hentinya memandangmu. Tentulah dia tengah menilaimu. Dan tampaknya dia mulai mendapatkan kesan baik tentang dirimu.

Dari ruang tengah entakan musik dari DVD terdengar nyaring sekali.

“Kesya, jangan kenceng-kenceng dong, Sayang,” ujar perempuan itu dengan suara lembut. “Dia memang keras kepala seperti ibunya!”

Nah, dengarlah, dia mulai mengungkapkan kejelekan Hasyha.
Aku terus meladeninya ngobrol di ruang depan. Sebenarnya bukan ngobrol karena aku hanya menyimak sambil sesekali menimpali kalimatnya yang kurang jelas, mengangguk dan berucap ‘oh’ untuk sekadar mengesankan dia bahwa aku betul-betul mendengar apa yang dia bicarakan. Sejujurnya, pembicaraannya tidak ada yang menarik minatku untuk terlibat lebih jauh. Aku berharap Prana segera datang supaya penderitaan ini lekas berakhir.

Rupanya doaku terkabul. Kudengar suara mobil Prana di luar. Klakson menyalak lembut. Kesya segera berlari menyambut ayahnya di depan. Begitu pintu mobil ditutup Kesya langsung menghambur memeluk Prana. Prana masuk ke dalam dengan menggendong Kesya. Aku berdiri dan memberikan senyum terbaikku.

“Kesya Sayang, sudah kasih salam Tante?”

Kesya melengos dan membenamkan wajahnya ke dada Papanya.

“Kesya jangan begitu dong!”

“Maafkan sikap Kesya, Mai,” ujar Prana ketika kami hanya berdua duduk di teras depan. Bau segar badan Prana sehabis mandi membuatku bergairah. Kuperhatikan bibir mungil Prana saat mengucapkan kalimat itu. Betapa aku menginginkan bibir itu membisikkan kalimat mesra di telingaku. Sabarlah maira, waktunya akan tiba.

Aku teringat ketika Prana mengatakan keinginannya untuk kembali padaku, beberapa minggu setelah peristiwa penangkapan Hashya oleh polisi lantaran dia kedapatan membawa narkoba di dalam tasnya. Tentu saja aku menyambut keinginannya. Bukankah ini memang rencanaku?

“Tak apa-apa, Pran. Aku yakin tak lama lagi Kesya akan bisa menerimaku.” kataku bergetar. Sebenarnya aku ingin mengatakan ‘segeralah meresmikan hubungan kita’.

“Semoga. Aku berharap selekasnya supaya kita segera menikah, aku tak mau terlalu lama sendiri. Kasihan juga ibuku harus bolak balik mengurus Kesya.” tutur Prana dengan sendu.
Aku seperti terbang mendengar kalimat yang diucapkan Prana. Laksana mendapat kemenangan. Ternyata benar kata cenayang muda Melisa, tidak terlalu sulit mendapatkan Prana. Masalah Kesya aku rasa hanya ganjalan kecil yang tak membutuhkan waktu lama untuk diatasi. Lihatlah Hashya, Prana sebentar lagi jatuh ke tanganku. Hashya, sebenarnya semua ini tidak perlu terjadi jika saja kamu tidak merebut Hans dari tanganku Kau memang hebat Maira, hebat…

“Aku tak mengira Hashya bisa begitu tega melakukan semua ini.” ujar Prana, mulai bicara lagi tentang Hashya. “Ini sangat menyakitkan Mai.”

“Sudahlah, Prana. Toh sekarang dia sedang menerima akibat perbuatannya,” kataku.

Sebenarnya aku sudah tidak mencintai Prana. Kusadari dia bukan tipeku. Aku ingin mendapatkannya sekadar untuk membuktikan pada Hashya bahwa aku bukan perempuan yang selalu kalah. Permusuhanku dengan Hashya terjadi sejak kami kelas dua di sekolah menengah pertama. Sebelumnya, pada saat kami kelas satu, kami adalah kawan baik. Tidak ada yang menandingi kentalnya persahabatan kami. Kami selalu menempati ranking pertama di kelas masing-masing. Permusuhan terjadi justru ketika kami digabungkan dalam satu kelas manakala naik ke kelas dua.

Aku yang selama ini menjadi murid kesayangan guru harus tersisih lantaran Hashya merebut ranking pertama yang sebelumnya menjadi milikku. Lantas perlahan-lahan teman-teman sekelas berpaling pada Hashya, termasuk cowok-cowok sekelas kami. Hashya menjadi ratu yang segala tingkah dan perkataanya selalu menjadi pusat perhatian. Di mata kami Hashya memang seperti sempurna, selain pintar, dia memiliki pesona kecantikan dan pembawaan yang menyenangkan. Tidak sepertiku yang agak kaku. Hubungan kami perlahan-lahan merenggang. Aku berusaha mati-matian merebut kembali posisiku, namun hasilnya tetap saja berada di bawah Hashya. Hingga aku putus asa dan malas untuk terus mengejar nilai-nilainya. Tapi ini baru permulaan dari sejarah panjang permusuhan kami.

Ketika kami lulus, dengan melenggang Hashya diterima di SMA favorit di kota kami. Sedangkan aku harus puas hanya bersekolah di SMA biasa lantaran nilaiku tak mencukupi (hanya kurang 0,001) untuk diterima di sekolah favorit. Hubungan kami makin renggang, Meskipun sikap baik dan ramah Hashya tidak berkurang. Tapi di mataku Hashya adalah orang yang telah merebut posisiku. Kami selalu mewakili sekolah kami masing-masing dalam setiap lomba bidang studi. Dan Hashyalah yang selalu mematahkan sekolahku menjadi juara pertama.

Pada saat masuk di perguruan tinggi, kami memang bertemu lagi. Tapi hubungan kami justru makin memburuk. Aku tidak bisa lagi menutup-nutupi rasa permusuhan ini. Dan begitu tahu hal ini Hashya menunjukkan sikap meladeni permusuhanku. Dua kali dia merebut pria yang aku cintai. Tapi tak pernah terpikir olehku jika permusuhan akan berlanjut secara lebih sengit ketika kami memasuki dunia kerja. Kami diterima di kantor yang sama. Sebuah kantor perusahaan iklan kenamaan. Kami memang saling menyapa. Tapi perang dingin tetap berlangsung diam-diam.

Aku tersadar dari lamunan saat Prana menggenggam telapak tanganku.

“Mai, sudah malam. Mari aku antar pulang,”

Aku hanya memandang mata Prana sebagai isyarat mengiyakan. Mobil meluncur tenang membelah malam. Alunan suara emas Rihanna menemani kami dalam perjalanan yang terasa sangat singkat itu.

Sebelum menutup pintu mobil Prana mengecup keningku. Aku buru-buru masuk rumah untuk mengangkat ponselku yang dari tadi bergetar-getar. Dari Danang, orang suruhan yang kubayar untuk menjebak Hashya. Dia meminta sisa bayaran yang belum kulunasi.

Ketika aku berhasil menduduki kursi manajer, aku merasa telah mengalahkan Hashya. Memang Hashya berhasil merebut Prana dari tanganku. Tapi sekarang aku atasan dia, dan aku bisa mengatur Hashya sekehendak hatiku. Rasa kemenangan ini membuat rasa permusuhan yang kupelihara sejak lama mulai surut. Tapi rupanya Hashya tak pernah mau ditundukkan. Hashya telah memancing rasa permusuhan itu dengan merayu dan merebut perhatian Hans, direktur kami sekaligus kekasihku. Sebenarnya dengan melaporkan perselingkuhan Hashya kepada Prana, sudah cukup alasan bagi Prana untuk meninggalkan Hashya. Tapi aku kurang puas jika Hashya hanya terpisah dari Prana. Itulah sebabnya kusuruh Danang untuk menjebak Hashya dengan memasukkan bubuk narkoba ke dalam tasnya ketika Hashya berkencan dengan Hans.
Ponselku bergetar lagi. Dari Prana.

“Sudah tidur, Mai?” suara lembut sekaligus murung Prana bagai berbisik di telingaku. Aku mendadak gugup. Aku ingat dengan suara murung seperti itu pula ketika tiga bulan lalu Prana mengadukan kasus tertangkapnya Hashya karena kedapatan membawa narkoba oleh polisi ketika tengah pergi berkencan dengan Hans.

“Kenapa, Pran?”

“Kesya nangis terus, dia ingin bertemu Hashya.”

Pondok Pinang, April 2010

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka