Retak Rindu

pernah disiarkan Pikiran Rakyat, Sabtu 12 Februari 2006 dengan judul Elegi Bulan Retak

Besok, sebelum sinar matahari menyentuh tanah, ia akan pulang untuk kalian. Akan ia tinggalkan mereka. Ia ingin memberikan seluruh dirinya kepada kalian. Akan ia tinggalkan lampu-lampu jalan yang redup menyergap langkahnya yang kerap limbung sempoyongan. Akan ia tinggalkan malam-malam panjang dan dingin di kamar sempit berlampu suram. Akan ia serahkan siang dan malam untuk kegembiraan kalian. Ia bertekad untuk sanggup melupakan semuanya supaya dapat memiliki kalian sepenuhnya. Meski ia tak tahu apakah kalian masih mengenang dan menginginkan kepulangannya.
Akan ia lupakan mimpi-mimpinya menjadi pemain drama terkenal, mementaskan karya-karyanya di gedung pertunjukan yang megah dengan ribuan penonton. Akan ia lupakan kerling nakal perempuan-perempuan liar di diskotek.
Sesungguhnya, kerling mata mereka tak pernah sanggup menghapus ingatannya akan tatapan matamu yang teduh dan sendu. Lihatlah, senyum mereka yang mengerikan. Tawa mereka cekikikan. Tubuh mereka yang menggelinjang dibuat-buat saat diraba-raba.
Tak pernah terpikir olehnya untuk membandingkanmu dengan mereka. Tak mungkin. Tubuh mereka begitu murahan dan menjijikkan. Meski kulit mereka halus dan menyemburkan aroma amat sensual dan menggairahkan. Seperti yang tengah ia hadapi sekarang....
***
Perempuan itu sengaja menyorong-nyorongkan buah dadanya ke mukaku dengan cara sangat kampungan. Tangan mereka begitu terampil meraba-raba. Ayo, kita naik ke dalam, katanya dengan suara mendesah dan sedikit mengiba. Di telingaku, itu sering terdengar seperti kepedihan yang mengharukan, bahkan manakala mereka bertengkar gara-gara berebut pelanggan. Kusentuh tengkuknya.
"Hei, monyet, jangan rakus lu. Jam berapa sekarang, aplusan brengsek!"
"Dia ogah ama lu. Maunya ama gue!"
Kami, para lelaki brengsek itu, malah tertawa seakan mendapat tontonan segar melihat mereka bertengkar, saling tampar, dan hampir cakar-cakaran. Mereka baru akan dipisah jika keadaan sudah benar-benar mengkhawatirkan.
"Sudah, sudah, hentikan. Pergi kalian. Dasar pelacur murahan!"
Aku masih melihat mereka saling memaki. Suara mereka, lamat-lamat, tertelan ingar-bingar musik yang menggedor-gedor jantung dan seperti mau meruntuhkan dinding. Aku bangkit dari duduk, mengejar seorang dari mereka yang berjalan mencari tempat di pojok. Tampaknya, dia menangis. Aku menghampirinya. Jangan menangis, kataku, ikut aku. Dia langsung menyambut tanganku, menggenggamnya seperti mau menyerahkan seluruh hidupnya.
Di luar, orang-orang masih ramai nongkrong. Juga, di langit, bintang-bintang ramai bertebaran. Tak sempat kutatap bulan yang pucat dan retak-retak. Aku menggandeng perempuan itu menapaki koridor pertokoan. Berjalan menjauh, menyetop taksi, mencari penginapan murah.
Begitu sampai di kamar penginapan, perempuan itu langsung menghenyakkan tubuhnya di kasur. Membisu. Murung. Aku tahu, dia sedang berpura-pura berlagak melankolis. Cukup menyebalkan. Tak kuacuhkan dia beberapa lama. Aku tak sudi merayunya. Lihatlah, dia mulai melirikku. Bibirnya sedikit bergetar saat berucap, kenapa diam saja?
***
Ia teringat aroma kopi yang saban pagi kau suguhkan. Aroma kopi yang bertahun-tahun tak ia hirup itu, hari-hari ini begitu menggoda hidungnya. Di sini, ia memang tak pernah telat minum kopi tiap pagi. Tapi, sungguh berbeda dengan aroma kopi yang kau suguhkan, meskipun mereknya sama. Senyummu, suara anak-anak berebut gayung di kamar mandi, bunyi mangkok dipukul sendok penjual bubur ayam di jalan. Semuanya mengapung dan mengepung kepalanya.
Ia teringat bubur ayam dan nasi goreng buatanmu. Tatapanmu selalu menyegarkan pagi yang sendu. Ia menyesal dulu sering tak menghabiskan nasi goreng buatanmu dan lebih suka memilih menyedot berbatang-batang rokok. Tak memedulikan kata-katamu tentang bahaya merokok sebelum perut diisi terlebih dulu. Ia begitu rindu melihatmu yang sabar tetap membelikan juga sebungkus rokok. Karena, tak tega melihat ia gelisah, uring-uringan. Ia begitu sedih ketika kamu memintanya menjauh dari anak-anak kala ia merokok. Kasihan paru-paru mereka, katamu. Dulu, ia kadang jengkel atas sikapmu. Terpaksa, ia menunda keinginannya merokok lantaran anak-anak mengajaknya menemani mereka bermain, nonton tivi, mengajari mewarnai gambar, main tebak-tebakan.
Tapi, kamu lebih sering mendapati ia terkapar mendengkur setelah semalaman begadang memelototi layar komputer. Kamu enggan membangunkannya karena merasa percuma. Juga, anak-anak, kamu melarang mereka mengganggunya. Ia bangun ketika rumah telah kosong kalian tinggalkan. Kamu mengantar anak-anak ke sekolah sebelum kamu sendiri berangkat ke kantor. Secangkir kopi yang telah dingin bersama sebotol air putih kamu sediakan di meja. Kamu memang selalu berpesan supaya ia terlebih dulu minum air putih sebelum minum kopi dan merokok. Tapi, ia kerap memasukkan kembali air putih itu ke dalam kulkas.
***
Tanggal berapakah sekarang? Di dinding, kalender tahun lalu belum kuganti dengan yang baru. Warnanya sudah menguning. Tiba-tiba, aku merasa sunyi. Seperti ada yang hilang ketika hendak kucopot kalender lama itu. Melipat dan membuangnya di kotak sampah. Sudah berapa tahunkah kalian kutinggalkan? Di dusun yang sunyi dan membuatku bosan setengah mati. Tak kuingat sudah berapa kali Lebaran tanganku tak kalian cium. Sudah berapa kali aku berpindah-pindah menyewa kamar sempit di kota ini. Entah sudah berapa ribu pagi aku tak menghirup kopi yang kamu racik dan suguhkan di depanku bersama setangkup senyum dan tatapan lembut matamu. Ribuan malam kulewati tanpa bau tubuhmu.
Kini, aku merasa telah begitu bosan di kota ini. Bosan dengan huruf-huruf di halaman-halaman buku yang bertumpuk-tumpuk tak sempat kujamah. Aku bosan dengan segala macam bualan mereka. Dengan mimpi-mimpiku yang melelahkan, juga perempuan itu. Perempuan yang hampir selalu meneleponku tiap malam. Perempuan yang jadi begitu ceriwis dan mau tahu urusan orang.
Suatu sore, ia diam-diam mencariku ke toko buku di kompleks pusat pementasan kesenian setelah hampir dua bulan aku tak datang ke diskotek itu. Untuk apa kamu mencariku, kataku ketika memergokinya kebingungan di balik rak buku. Dia menunduk menyembunyikan kegugupan dan rasa malunya yang menjengkelkan. Kutinggalkan ia begitu saja setelah kukatakan dengan keras bahwa aku tidak suka dibuntuti. Sebenarnya, aku tidak tega memperlakukannya seperti itu. Bagaimanapun, selama ini, dia sudah banyak mengisi kekecewaanku kepada Bung Tom yang tiba-tiba mencoret namaku dalam susunan pemain untuk sebuah pementasan. Karaktermu kurang cocok memainkan tokoh Bandung Bondowoso, kata Bung Tom, kamu main dalam naskah lain saja.
Sejak peristiwa di kamar penginapan itu, dia sering datang ke kamar kontrakanku. Membuatkan nasi goreng, menyeduh kopi, mencucikan baju-bajuku, merapikan buku-buku. Atau, kadang, ia datang hanya untuk menatapi wajahku yang sedang tidur, membenahi selimut yang melorot. Membetulkan letak kakiku. Aku, yang semula begitu tak memedulikannya, akhirnya luruh. Aku memperlakukan dia secara seimbang dengan apa yang telah kuterima darinya.
Namun, suatu malam, dia sungguh telah mengecewakan aku. Tanpa pamit, dia pergi selama berhari-hari dibawa laki-laki tambun yang tampaknya seorang pejabat. Aku menamparnya begitu dia pulang. Ke mana saja kamu, bentakku. Dasar pelacur! makiku. Kupikir, dia akan menangis dan mengiba. Ternyata, dia balik menatapku, "Apa hak kamu melarang-larang aku? Dasar laki-laki tak tahu malu! Selama ini, aku yang telah menghidupi kamu." Malam itu, pertengkaran hebat tak terhindarkan. Malam itu juga, dia pergi membawa tas besar berisi beberapa baju dan benda-benda miliknya.
***
Sampai sekarang, tak pernah ia dapat mengerti sepenuhnya kenapa ia merasa begitu bosan tinggal di dusun sunyi dan indah itu. Ya, hingga hari ini, ia tak mengerti apa sesungguhnya yang membuat ia bersikeras meninggalkan pagi yang indah dan malam-malam hangat bersama kalian demi mengejar keinginan yang tak sepenuhnya ia yakini, namun selalu menggelegak, merongrong ketenteramannya. Kenapa buku itu telah begitu menghasutnya?
Dari dusun sunyi itu, entah kenapa, kota ini tampak menggodanya dengan segenap petualangan mendebarkan seperti yang diceritakan seseorang dalam buku itu. Hingga ia meninggalkan dusun itu pada suatu malam yang buram. Ia pandangi anak-anak yang telah pulas. Ia kecup kening mereka satu per satu. Ia tahu esoknya kamu kebingungan bagaimana menjelaskan jika mereka bertanya ke mana ia pergi dan kapan akan kembali.
Ia mengecup keningmu sekali lagi sebelum meninggalkan pagar halaman. Ia melangkah menapaki jalan berkerikil.
Beberapa malam, kucari dia di diskotek tempat kami bertemu pertama kali. Tapi, tak pernah kutemukan. Sampai kemudian, kulihat wajahnya dalam satu sinetron.
Besok, sebelum matahari menyentuh tanah, ia pulang, mengetuk pintu dengan bimbang.

Comments