Rumah Malam


pernah ditayangkan Republika, Minggu 30 April 2006 
ilustrasi diambil dari deviantart.com
Lelucon acara lawak di televisi tak pernah mampu menata perasaannya menjadi sedikit rileks. Dengan gerak malas komputer ia nyalakan. Dan mulai mengetik. Beberapa kalimat. Kegelisahan kembali menyerangnya. Ngiang suara tawa perempuan beberapa malam lalu membuat bulu kuduknya meremang. Sunyi terasa tajam menggores perasaannya yang selengang gudang di belakang rumahnya. Ia segera bangkit. Menyambar kunci, sapu tangan, dompet, ponsel dan buku kecil. Membanting pintu kamar, dan menguncinya.

Mendadak tenggorokannya terasa kering. Ia bergerak ke dapur mencari air minum, tapi urung. Dua hari ini galon air kosong. Toko langganannya lupa mengantar pesanannya. Tertegun. Lantas bergegas meneruskan langkahnya ke dapur, memeriksa kompor. Siapa tahu lupa mematikannya setelah tadi ia memasak mie instan. Sifat lupanya sering kambuh jika suasana hatinya dipenuhi ketakutan seperti ini. Konsentrasinya buyar. Tergesa ia ke rak sepatu dan merenggut sandal jepit dari sana, mengenakannya secara serampangan.

Dikuncinya pintu. Tertegun beberapa jenak di teras rumah yang berbentuk joglo. Di situ ada satu set kursi. Ia menghenyakkan bokongnya perlahan di kursi. Menyalakan rokok, mengunyah permen, dan membuka-buka majalah untuk meredakan ketakutannya. Ia merasa lebih aman. Jika suara tawa perempuan itu terdengar, ia bisa langsung lari ke jalan. Mungkin secara refleks ia akan berteriak. Di seberang jalan tampak penjual rokok duduk ngobrol dengan orang yang tengah menunggu giliran dicukur. Di sebelah gerobak rokok itu memang terdapat barbershop yang buka sampai jam sepuluh malam.

Memandang mereka membuat perasaannya sedikit lega. Tapi jika wajahnya berpaling sedikit, pandangannya segera menumbuk jajaran pohon-pohon besar yang menyembunyikan rumahnya, membuat perasaannya kembali diliputi cemas. Batang-batangnya yang besar dengan daun-daunnya yang rimbun menyerupai gumpalan hitam wajah raksasa yang menyeringai mengerikan. Pada siang hari pohon-pohon itu menyejukkan udara panas. Para pejalan menjadikannya tempat berteduh, atau untuk orang-orang yang mengadang angkot.
Di halaman samping rumahnya gerumbul bunga anak nakal terdengar berkeresek. Perlahan-lahan digerakkan lehernya ke sana. Ia terlonjak, dan hampir saja memekik. Seekor kucing tiba-tiba meloncat dari sana. Lantas merangkak dengan sorot mata yang menyeramkan ke arahnya. Ia menahan napas saat kucing itu terus mendekat dan menyentuh-nyentuhkan tubuh ke kakinya. Napasnya sedikit lega, kucing itu tidak berubah membesar dan menerkam dirinya. Ia teringat ucapan seorang kawannya waktu di sekolah dulu, bahwa orang beriman tak merasa takut pada hantu. Waktu itu ia menyahut, beriman pada Tuhan adalah satu hal. Takut pada hantu hal yang lain lagi. Perasaan takut pada hantu bukan berarti tidak beriman pada Tuhan.
Hhh, ia mendesah. Jalan di depan rumahnya sudah mulai sepi. Tak ada tukang bakso atau nasi goreng yang lewat. Heran, pada menghilang ke mana mereka. Seandainya mereka lewat ia akan memanggil dan memborong semua dagangannya asal mau menemaninya sampai subuh. Ia yakin mereka pasti bersedia dengan senang hati. Sebab di jaman susah ini belum tentu berkeliling semalaman dagangan mereka habis. Kenapa saat dibutuhkan malah tak ada. Ia mendengus kesal. Kenapa mereka justru lewat dan membikin berisik saat tak diperlukan.

Ia ingin beranjak, menyeberang jalan, dan duduk bergabung dengan mereka. Mula-mula ia mungkin berpura-pura beli rokok, bertanya ini itu sebelum kemudian duduk di antara mereka. Tapi ia ragu. Ia tak mengenal penjual rokok itu. Ia memang belum lama tinggal di kompleks perumahan ini. Baru beberapa minggu. Mestinya ia sudah bisa mengenal penjual rokok itu. Mestinya ia tidak perlu terlalu membenci kebiasaan para tetangga yang sangat suka bicara, banyak bertanya. Ia menyesal kenapa begitu tak peduli dengan tetangga sebelah, tak pernah sekadar menyempatkan diri mampir di warung rokok itu. Membeli korek api misalnya.

Keinginan seperti itu memang sering muncul, tapi ia merasa kurang punya alasan untuk mampir ke sana. Suaminya bukanlah perokok. Hanya sesekali saja laki-laki itu merokok. Paling banyak sehari tiga batang. Setiap selesai makan. Ia sendiri memang perokok, meski bukan pecandu berat, tapi rokok itu selalu ia beli bersama kebutuhan dapur lain di supermarket. Tapi kalau pun mau, rasanya rumah para tetangga di sini jarang sekali pintunya tampak terbuka. Kecuali pagi menjelang berangkat kerja dan malam sepulang dari kerja.

Kemudian ia merutuki kantor suaminya yang mengadakan acara di luar kota selama beberapa hari sehingga ia ditinggal seorang diri. Meski sebelum berangkat laki-laki itu sudah menawarinya untuk ikut. Tapi ia menolak dengan alasan hendak menyelesaikan tulisannya yang seminggu ini belum juga rampung. Suaminya tahu, itu hanya alasan dibuat-buat. Alasan sebenarnya, ia enggan bertemu dengan kawan-kawan suaminya yang datang bersama istri dan anak-anak mereka. Ia enggan bertemu mereka, karena pasti selalu mengobrolkan dan membanggakan anak-anak mereka.

"Cuek saja, kenapa sih?" ujar suaminya tahu pikirannya.

 "Kamu laki-laki, bisa cuek."

Suara tawa perempuan itu mengiang lagi di telinganya. Suara tawa yang terdengar sayup-sayup, namun terasa begitu dekat dan membuatnya merinding. Beberapa malam lalu ia mendengar tawa itu. Suara tawa namun terdengar menyakitkan. Kalau tidak salah dua minggu setelah ia dan suaminya menempati rumah ini. Bukan hanya ia, malam itu suaminya pun mendengarnya. Konon rumah ini dulunya rumah orang China yang dijarah dan diperkosa. Ia memang seorang pengarang yang biasa berpikir rasional sekaligus imajinatif. Justru karena itulah pengalaman itu tak urung membuatnya merinding.

"Suara tawa yang menyayat," ujarnya.

"Seperti tangis," timpal suaminya.

"Mungkin hantu perempuan yang diperkosa itu." Lantas mereka berpelukan lebih erat lagi.

Detik demi detik bergerak begitu cepat. Jam digital di layar ponselnya sudah menunjukkan angka 21.00. Penjual rokok di seberang jalan sana masih asyik ngobrol, sesekali diselingi tawa. Penjual rokok itu ngobrol dengan orang yang baru datang, yang tadi sudah masuk dan sedang dicukur. Satu jam lagi barbershop itu tutup, disusul warung rokok itu. Jalan akan semakin sepi. Apalagi jika hujan. Dadanya makin bergemuruh melihat langit tak menyisakan sebiji pun bintang.

Mestinya ia mengikuti saran suaminya: cuek saja mendengar obrolan istri kawan-kawannya. Sekarang tidak mungkin dia meminta suaminya pulang. Karena, acara puncaknya justru baru dimulai besok. Suaminya paling cepat bisa meninggalkan acara itu pada tengah hari besok. Lebih tidak mungkin lagi jika ia menyusul laki-laki itu.

"Salah siapa? Aku kan sudah ngajak," ujar suaminya lewat telpon.
 
"Gimana dong, aku takut sekali."

"Takut, apa sih?"

"Suara tawa itu."

"Ah, pengarang masa takut. Ajak ngobrol aja," goda suaminya.

"Aku benar-benar takut, Fred."

"Kamu sih nggak mau denger saranku."

"Aduh, jadi gimana?"

Telepon terputus. Pulsa habis. Ia makin gelisah dan begitu cemas. Otaknya seperti disusupi kawanan semut rangrang. Ia merasa tak punya jalan keluar dari masalah yang dihadapinya kini. Suara tawa itu, sungguh ia tak mau mendengarnya seorang diri. Ia bangkit, dan mondar-mandir berupaya meredam perasaan takut yang makin merasuki benaknya.

Ia berharap penjual rokok di seberang jalan itu melihat dan menghampirinya. Ia tahu hal itu tak mungkin terjadi. Penjual rokok itu tak mungkin dapat memperhatikan dirinya. Jajaran pohon yang memagari rumahnya itu pastilah menghalangi pandangan orang dari luar. Angin bertiup menggoyang-goyang daunan terdengar. Kemudian suara air sungai di belakang rumah.

Ia tak habis pikir kenapa dulu suaminya setuju saja dengan pendapatnya memilih rumah di dekat sungai. Bukankah sungai memudahkan perampok menghapus jejak kejahatan yang dilakukannya? Ia teringat pembunuhan yang dilakukan perampok dengan mengikat korbannya, kemudian tali tadi dibanduli batu besar dan dicemplungkan ke dasar sungai.

Aku harus pergi, gumamnya. Tapi kemudian ia bingung, hendak pergi ke mana. Ia tidak punya kenalan apalagi saudara di kota ini. Suaminya baru satu bulan dimutasikan dari kantor pusat ke kota kecil ini. Kenapa pula suaminya mau saja dimutasikan. Ah, ia tak peduli, pokoknya harus pergi.

Ia harus keluar dari kompleks perumahan itu menuju jalan besar, mencari taksi. Ia akan minta sopir taksi berputar-putar mengelilingi kota sampai subuh. Toh ia bisa mengambil tabungannya di ATM. Bukankah itu bermanfaat untuk sekalian mengenal lorong-lorong kota kecil ini. Tapi, kemudian terbayang jika di tengah jalan ia justru diperkosa, dibunuh dan lantas mayatnya dibuang ke sungai. 






Di seberang jalan penjual rokok tampak duduk sendirian, mengisap rokoknya dengan nikmat. Asap putih tebal menutupi mukanya. Masih ada satu orang yang sedang dicukur di barbershop itu. Muncul ide untuk memotong rambutnya di barbershop itu, supaya mendapat alasan ngobrol dengan mereka. Ia berharap mereka menolak dengan alasan salon khusus pria. Tapi jika mereka tak mau menolak rejeki?

Ia meraba rambutnya yang panjang sepunggung. Rambut yang sering menerbitkan pujian suaminya. Biarlah kukorbankan rambut ini, pikirnya. Suaminya pasti bisa menerima penjelasannya, kalau laki-laki itu nanti bertanya. Toh laki-laki itu sangat bijak dan dewasa.


Tapi, keraguan lagi-lagi menyerang benaknya. Ia khawatir tindakannya memotong rambut dapat membuat suaminya berpaling. Di depannya laki-laki itu bisa saja memahami alasan ia memangkas rambutnya. Tapi siapa yang bisa menjamin kekecewaan suaminya tak dilampiaskan dengan cara mencari perempuan lain yang berambut panjang? Ia tahu laki-laki itu menyukai perempuan berambut panjang. Tak tahu kenapa, barangkali perempuan rambut panjang lebih memunculkan kesan keibuan. Atau bisa jadi enak buat bergayutan saat bercinta.




Ia menghela napas berat. Cahaya bolham memantulkan bayangannya yang kaku di tembok. Menit demi menit terus bergerak begitu cepat. Barbershop itu telah bersiap-siap tutup. Bahkan seorang pekerjanya telah lebih dulu pulang dijemut motor. Akhirnya tekadnya mantap untuk mendatangi saja penjual rokok itu. Ia sudah menyiapkan apa-apa saja yang akan dilakukannya. Mula-mula ia akan membeli rokok, lalu ngobrol.
Setelah agak akrab ia akan meminta tolong laki-laki itu supaya tak usah menutup warungnya sampai pagi untuk menemaninya. Ia bahkan bersedia membayar mahal. Kalau perlu ia akan mengajak penjual rokok itu ke rumahnya. Sekadar menemani ngobrol barangkali tak apa-apa. Ia adalah perempuan setia, tak akan mungkin mengkhianati suaminya. Jika tiba-tiba laki-laki itu memaksanya, di dapur ia punya pisau yang cukup tajam.

Balai Budaya Tangerang 2007

Comments