Sepasang Jenazah

pernah ditayangkan Jurnal Nasional, Juli 2007

Dia duduk di sana, di pojok ruang remang. Kamu tak dapat melihat wajahnya secara jelas. Hanya kilauan bibirnya yang basah dan rambutnya yang tergerai menghalangi separuh wajahnya. Gerakannya mengisap rokok canggung dan gugup. Tampaknya hanya upaya untuk meredakan kegelisahannya. Tampak kontras dengan lukisan sepasang kekasih sedang bercinta yang menggantung di dinding di belakangnya. Lukisan yang sangat erotis, namun sudah lama tak lagi menarik minatmu. Kilatan warna-warni lampu disko sesekali mengusap sebagian wajahnya. Tampak olehmu sepasang matanya yang mengerjap resah. Dia meneguk lemon tea segar yang tadi dipesannya.
Kamu pun gelisah. Beberapa batang rokok menguap percuma. Kamu sendirian di deretan kursi berkaki tinggi di depan bar itu. Deretan botol minuman dengan bentuknya yang lucu-lucu berkilau-kilau memantulkan kembali cahaya yang menyorot, berputar-putar dari atas ruangan. Bulatan-bulatan cahaya bermacam warna dari serupa bola itu berputar berkedip-kedip menyapu seluruh ruang.
Bartender tampak sibuk bermain game di layar komputer di atas meja pojok ruang bar. Abai pada asap rokokmu yang menyapu wajahnya, bahkan pada sapaan sopanmu. Sepasang kekasih duduk berhimpitan di sofa. Tidak ada kaki-kaki mengentak menari di lantai. Di panggung rendah sisi bar, seorang penyanyi melantunkan lagu-lagu berirama lembut. Mendadak, dia bangkit, lalu berjalan kikuk melintasi meja biliar yang juga sepi. Kamu melihat punggungnya lenyap masuk toilet.
Di luar mulai temaram. Kamu melangkah ke sana, duduk di salah satu kursi yang berderet di teras. Hanya tampak tiga mobil yang terparkir bisu di pelataran parkir. Iseng, kamu menduga-duga mana mobil milik perempuan itu. Percuma dengan upaya ini, kamu masuk lagi ke dalam. Menghindar dari tatapan mata satpam. Tiba di dalam, matamu langsung menyapu pojok ruangan. Tapi, kamu tak mendapati dia duduk di sana. Ketika kamu sibuk menerka-nerka, dia keluar dari toilet, melangkah masih dengan gerak canggung ke tempat semula.
Kamu melangkah pulang membawa rupa perempuan itu dalam kepalamu. Tetapi, berkali-kali gagal membayangkan wajahnya. Yang muncul justru wajah-wajah yang tak diharapkan.
Malam mencekam sunyi. Hanya suara derum mesin kendaraan yang sesekali melintas sayup. Kamu tak tahu sedang melangkah ke mana. Kini tak ada yang mengharuskanmu menyelesaikan dan menyetor tulisan kepada siapa pun. Tak ada. Kebebasan yang dulu kamu angankan itu kini justru membuatku sedih dan hampa. Kamu merindukan suasana tertekan ketika waktu membebaskanmu.
Udara terasa sangat gerah, seperti pertanda hujan bakal tumpah. Kamu terus melangkah seperti melayang, menembus apa saja. Tetapi, heran, udara gerah tak mau juga pergi. Beberapa kenangan buruk begitu saja melintas yang membuat nyalimu ciut. Segerombolan preman menggedor pintu rumahmu. Kecurigaan yang kamu pupuk semalaman menampakkan wujudnya. Refleks, kamu menyambar alat-alat kerjamu dan kabur melalui jendela. Sayang, seorang dari mereka menghadang dan sempat menghantam pelipismu, menggoreskan pisau di jidatmu sebelum kamu berkelit dan kabur. Tapi, goresan itu memberi jejak kenangan yang dapat kauraba setiap saat.
Kamu pernah memergoki perempuan itu berbicara lirih tentang sebuah rencana dengan seseorang yang sering kamu lihat di acara-acara yang pernah kamu ikuti. Wajahnya memucat dan tubuhnya beringsut gugup saat melihatmu. Lalu, mereka berpisah.
Kamu memergoki mereka bertemu lagi di sebuah kafe yang lain. Cuaca bagus sekali malam itu. Bulan melimpahi bumi dengan cahaya, meski kemudian mengerut oleh lelampu. Kamu pun turut merasa gelisah. Perasaan ini menyerang tanpa dapat dilacak dari mana sebabnya. Kamu hanya ingat beberapa kali seseorang mirip perempuan itu tepergok membuntutimu. Bayangannya memanjang di lorong sempit saat kamu pulang menuju kamar sewaan di ujung lorong sempit itu. Tapi, di tengah sergapan kantuk setelah beberapa malam begadang di kantor menuliskan hasil investigasi kasus penggelapan uang, kamu segera melupakan kecurigaan itu. Hanya perempuan, paling pelacur murahan, bisikmu seraya terhuyung memasukkan anak kunci ke lubang pintu, menendangnya. Lalu, bergegas menyungkurkan diri di kasur busa yang terhampar di lantai.
Pada waktu yang sama malam berikutnya, kamu melihat perempuan itu duduk lagi di sana. Apakah yang dikerjakannya? Ia tampak gelisah seperti kemarin, menyedot-nyedot sebatang rokok. Kamu ingin mendekat, tapi ragu dan sedikit takut. Entah kenapa. Aneh dan ganjil menyumpal perasaanmu sejak peristiwa itu. Peristiwa menakutkan yang membuatmu penasaran kepada perempuan itu.
Tapi, kini, kamu takut mendekatinya. Kamu khawatir orang-orang memperhatikanmu. Kamu khawatir di antara mereka ada kawanmu yang akan membocorkan peristiwa ini di kantor. Kamu tidak siap diolok-olok. Cukuplah menjadi laki-laki tak beristri di umurmu yang mendekat angka 40. Cukup. Tak perlu ditambah dengan olokan yang membuatmu kesal dan menyalahkan diri sendiri.
Tapi, pada saat yang sama, sebenarnya, kamu yakin betul, orang-orang tak akan memperhatikanmu dalam suasana remang seperti dalam bar itu. Sebenarnya bukan karena suasana remang belaka, namun juga karena suatu kondisi yang sebenarnya sempat kamu curigai tentang keberadaanmu.
Kali ini, perempuan itu mengikat rambutnya menyerupai gelungan, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ia terus duduk di sana, sekarang agak lebih tenang. Dari pojok ruang yang lain, kamu melihat bar mulai ramai. Orang-orang mengalir dari arah pintu. Mereka menyebar mencari tempat duduk yang dianggap nyaman. Ini Selasa malam. Bar menggelar Latin Night. Sebentar lagi, suasana bakal ingar-bingar oleh irama Latin yang mengentak jantung. Mengajak semua orang turun berjingkrak di lantai. Kepul asap rokok membaur dengan bau alkohol. Matamu bakal terasa pedih. Dari arah meja kasir, sepasang penari muncul ke tengah lantai seperti meluncur dari balik impian. Gerak tubuh mereka yang dinamis segera menarik perhatian.
Tapi, kamu memalingkan wajah dari sana. Mencari-cari perempuan itu. Ia sudah tak terlihat di sana. Irama latin tak lepas dari kupingmu ketika kamu keluar ke arah pelataran parkir. Perempuan itu ada di antara mobil yang pintunya terbuka. Berdiri bercakap-cakap dengan seorang lelaki. Refleks, kamu menarik tubuhmu ke balik dinding. Mereka saling berbisik, tapi kamu segera menangkap pertengkaran mereka. Sepintas, si perempuan menyebut kata-kata uang, diperalat, pergi. Si laki-laki hanya menatap dengan mata dingin. Laki-laki itu menyorongkan bibirnya ke bibir perempuan yang hanya tertegun kaku dengan mata tampak berkaca-kaca. Adegan itu berlangsung agak lama sebelum mereka berpisah.
Si perempuan pergi membawa sedan abu-abu metalik. Sementara, laki-laki itu berbalik, berjalan kembali memasuki pintu bar. Langkahnya tegap dengan sorot mata sedingin es yang mengepulkan uap. Kamu buru-buru menyingkir, membaur ke tengah orang-orang yang berjingkrak mengikuti hentakan irama latin.
***
Entah siang ke berapa sejak kepergianmu, kamu mendapati kamar sewaanmu melompong. Sulur-sulur cahaya matahari menerobos lewat jendela. Debu melapisi lantai. Ada bangkai kupu-kupu di kusen jendela, seperti menegaskan kabar buruk tentang kepergian. Tapi, senyuman Mahatma Gandhi tak pernah lekang di dinding. Berdampingan dengan Che Guevara. Alat-alat kerjamu tak ada di sana. Tumpukan majalah dan koran di sisi kasur di bawah meja, ceceran abu rokok dan sebuah asbak yang terjungkal telungkup.
Masih ada jejak di lantai itu, jejak terakhir sebelum kamu meninggalkan kamar sewaan suatu malam berlangit kelam. Tak akan pupus dari ingatan, telepon tiba-tiba berdering. Suara di seberang yang sangat kaukenal memintamu segera meninggalkan tempatmu malam itu juga. “Di kantor saja, kamu aman,” ujar suara di seberang. Suara Bang Kusnandar, pemred yang sering memuji ketelatenanmu menginvestigasi dan menulis.
Agak malas, kamu keluar dari pintu belakang. Kamu tak sempat menoleh saat terdengar suara pintu didobrak paksa. Kedua kakimu yang segera meresponsnya dengan membuat langkah-langkah lebar melipir got yang menghamburkan bau amoniak. Paru-parumu yang sering disumbat asap rokok kini terasa mau pecah menghirup udara berembun campur dengan zat beracun yang menguap dari got berwarna gelap. Beberapa kali, kamu nyaris tergelincir ke dalam got jika tanganmu tak tangkas mencengkeram pagar kawat di sisi got.
Kamu lupa perasaan macam apa yang mencincangmu waktu itu. Kini terlihat pintu kamarmu mengatup rapat. Seseorang telah mengatupkannya. Mungkin, dia pengamen atau pengemis atau mungkin juga seseorang yang semula berniat mencuri. Para tetangga tak ada yang tahu di sini. Kamu maklum, mereka para perantau yang tak memiliki waktu buat mengurusi rumah tetangganya.
Kamu berdiri di depan pintu. Tanganmu menggapai hendak meraba, meraih tangkai pintu. Tiba-tiba, kamu membalikkan tubuhmu. Seorang perempuan melintas. Ia tampak bergegas. Ia tak mengacuhkanmu. Kamu tahu, perempuan itu tinggal beberapa blok di kompleks perumahan ini. Kemarin-kemarin, kalian sering berpapasan, tapi tak pernah saling menyapa. Hanya sekelebat saling menatap dan melempar senyum dipaksa.
Malam ke sekian, kamu datang lagi ke sana. Melihat perempuan itu duduk lagi sana. Tak berubah, ia memilih kursi yang sama di pojok ruang yang di dinding belakangnya tergantung lukisan sepasang kekasih sedang bercinta. Tak jelas benar karena hanya berupa goresan warna cokelat dan kuning tua. Tetapi, justru membuat orang yang menatapnya berimajinasi sendiri.
Kali ini, perempuan itu memesan anggur. Tak lama kemudian, si lelaki yang kemarin muncul. Ia mengucapkan beberapa kalimat. Perempuan itu hanya merespons dengan lirikan mata melawan. Si perempuan kesal, tapi segera si laki-laki merenggut tangannya. Mereka bertengkar. Si laki-laki menyeret perempuan itu ke sebuah ruang diikuti dua laki-laki lain.
Kamu berdebar-debar di pojok lain. Menduga-duga apa yang bakal terjadi dengan perempuan itu. Beberapa menit berlalu, orang-orang masih berjingkrak mengikuti irama musik lambada. Makin riuh, makin memabukkan. Kamu tiba-tiba nekad mengikuti ke arah mana perempuan tadi diseret. Menyusuri lorong-lorong ruang. Di depan sebuah pintu, kamu tertegun dan hampir tercekat. Semua sudah terlambat. Kamu melihat perempuan itu terkapar dengan mulut menganga dan bola mata mau melompat dari rongganya. Sementara, ketiga laki-laki itu tertegun saling berpandangan.
Kini, kamu dapat melihat paras perempuan dengan jelas. Meski mulai pucat membiru, kamu tak akan lupa. Dialah yang pernah membuntutimu begitu kamu keluar dari kantor malam itu, lalu menawarimu pulang bersama dalam mobilnya. Kamu mengangguk begitu saja. Waktu itu, kamu berharap, perempuan itu mau menjadi pacarmu. “Saya karyawan baru di lantai 13,” ucap perempuan itu ramah. Tapi, di tengah jalan yang sunyi di atas jembatan, mobil berhenti. Dua laki-laki segera masuk ke dalam mobil dan memepet tubuhmu. Menghantam pelipismu, dadamu yang kurus, hingga pingsan. Belum cukup, mereka lantas menjerat lehermu hingga napasmu putus. Mereka membawa jasadmu ke tepi pantai, membenamkannya dalam urugan pasir. Kini, kamu berharap, ketiga laki-laki itu membenamkan jasad perempuan itu di tempat yang sama di mana jasadmu telungkup beku ditimbun pasir di tepi pantai itu.

Comments