Sepotong Malam Sepotong Sajak

juga disiarkan Analisa, Minggu 16 Juli 2012

Ia menarik napas dalam-dalam. Ini malam suasananya sungguh indah, gumamnya. Dibukanya jendela kamar yang menghadap jalan. Gelap. Senyap. Tak ada seorang pun lalu. Ditengoknya langit, kesenyapan tampak lebih gawat lagi. Tidak ada bintang atau bulan yang konon ampuh menyodorkan ilham kepada para pengarang. Di atas sana melulu berisi gumpalan awan hitam yang mencemaskan. Dan angin sesekali terdengar menderu merontokkan daun-daun pohon mangga di halaman.

Tapi ini malam benar-benar indah, gumamnya lagi, seperti kurang yakin. Ia merasakan hatinya begitu penuh dan gembira. Ini memang hari libur. Ternyata benar, pikirnya, betapa istimewa hari libur bagi seorang pekerja. Ia bangun pukul sebelas siang. Usai makan dengan menu hasil masakan sendiri, ia membaca novel, untuk kemudian kembali tidur. Dan baru terbangun pukul empat sore tadi. Alangkah nikmat....

Ia merasa jantungnya berdegup dengan baik, memompa sirkulasi darahnya mengalir lancar. Paru-parunya mengembang, menyerap oksigen secara optimal. Seluruh syaraf dan organ tubuhnya bekerja sebagaimana mestinya. Membuat ia merasa betul-betul hidup secara utuh dan berancang-ancang menangkap kerumunan gagasan yang melintas di kepala untuk segera diwujudkan menjadi sajak cinta untuk kekasih. Sejak dulu ia percaya bahwa cuaca dan kondisi alam tidak mempengaruhi suasana hati. Pengalaman berkali-kali membuktikan.

Kini ia duduk di depan laptop, menghadap jendela. Ia sudah menyiram pot-pot bunga kesayangannya di teras. Ia juga telah mencuci lantai dan menyemprotkan pewangi ruangan, serta menghabiskan segelas besar susu segar. Semua telah kulakukan dengan sempurna dan memuaskan, desahnya. Ia merasa rileks dan bugar. Keadaan yang amat ditunggu-tunggu untuk keperluan menulis sajak cinta. Situasi yang tidak mungkin ia dapatkan pada hari-hari kerja.

Pada hari-hari kerja waktu dua puluh empat jam seakan tak pernah cukup. Ia selalu mendapati tubuhnya tinggal ampas pada pukul sebelas malam saat tiba di rumah. Ia membayangkan otaknya mirip karet yang tidak dapat digunakan untuk berpikir apa pun. Sehingga tak ada yang mampu dilakukannya selain mandi air hangat, nonton tivi, lantas terjungkal tidur tanpa sempat lebih dulu menekan tombol off pada remote control.

Penat yang mengeram di sekujur tubuhnya masih menggelayut saat harus terbangun pukul tujuh. Dengan kantuk yang belum lunas ia terhuyung ke kamar mandi. Sambil mengguyur tubuh, kepalanya sudah dipenuhi jadwal pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Tiba di kantor dalam keadaan lecek tak keruan lantaran digasak kemacetan yang berlarat-larat sepanjang perjalanan. Lebih buruk dari nasib sebuah manekin, bisiknya. Ia kerap ingin keluar dari pekerjaannya, tapi ia tahu itu gagasan bodoh dan nekat yang akan memburuk keadaan.

“Hari gini merayu pacar dengan sepotong sajak? Wah romantis sekali,” sindir seorang kawan.

Ia tak perlu peduli pada sindiran sesinis apa pun. Maka, inilah saat yang tepat untuk menulis sajak cinta. Ia bertekad untuk tidak menyia-nyiakannya. Tak ada waktu lagi, besok kekasihnya akan menagih sajak pesanannya. Harus jadi sebuah sajak cinta paling romantis, begitu janjinya pada diri sendiri. Dihirupnya anggur dari cangkir khusus untuk sedikit menghangatkan tubuh, dan mulai berkonsentrasi. Tak ada rokok di sela jarinya. Ia tak memerlukan asap tembakau untuk melancarkan imajinasi. Jari-jarinya yang tirus telah melekat di atas keyboard. Kekasihnya tak menginginkan apa pun selain sepotong sajak. Permintaan kekasihnya dibuatkan sepotong sajak bukan hanya terlalu melankolis, tapi juga mungkin terdengar agak konyol. Tapi ia sungguh menyukai permintaan kekasihnya. Dialah perempuan yang dikirimkan Tuhan untukku, bisiknya.

Ia mulai membayangkan kekasihnya. Dia seorang perempuan bertubuh ramping bergaun tipis melambai-lambai dihembus angin. Ia pertama melihatnya di sebuah kafe. Duduk begitu anggun menopang dagu. Mengenakan gaun berkain lembut dan jatuh pas di lekuk tubuh. Sorot matanya sayu menatap kemacetan jalan. Ia begitu tergetar melihat caranya menyedot minuman dari gelas langsing berkaki panjang di hadapanya. Bukan hanya itu. Cara matanya berkedip sungguh menebar pesona yang hanya bisa ditandingi oleh Angelina Jolie dalam film The Tourist.

Ia begitu gelagapan saat mata si Angelina Jolie memergoki tatapan matanya yang penuh gelora hasrat. Lantai yang dipijaknya laksana goyah, saat dilihatnya si Angelina Jolie melempar senyum, bangkit berdiri, dan melangkah...

Sesungguhnya ia ingin membayangkan dirinya sebagai Johnny Deep yang berjuang mempertaruhkan nyawa demi si pacar. Tapi yang terjadi ditundukkan kepalanya, dipejamkan matanya. Ingin ditulikan pendengarnya supaya tak didengarnya ketukan langkah sepatu hak tinggi Angelina Jolie. Tapi tentu tak mungkin. Ia mendengar langkah mendekat. Oh, apa yang akan dilakukannya? Oh bagaimana menghadapi si Angelina Jolie ini? Ia berdoa entah apa. Ia berharap si Angelina Jolie mendekat dan duduk menemaninya ngobrol, tapi pada saat bersamaan ia dihinggapi perasaan gugup yang parah.

Ia memang memiliki masalah besar kalau berhadapan dengan perempuan. Tak tahu bagaimana semuanya bermula. Seakan begitu saja ia mendapati dirinya menjadi seseorang yang kuper, interovert, selalu kehilangan kepercayaan diri. Si pecinta kesendirian akut, begitu ia dijuluki teman-teman kantornya.

Kali kedua melihatnya di kafe yang sama. Di kursi yang sama dengan model gaun yang dikenakan juga sama. Hanya motifnya yang berbeda, motif tumbuhan dasar laut. Ia memang segaja datang ke sana dengan harapan melihat lagi tarikan bibirnya saat tersenyum, kedipan matanya, dan caranya menopang dagu.

“Anda sendirian?” tiba-tiba si Angelina Jolie berada di depannya. Bulu matanya yang melengkung indah bagai menggerayangi hatinya.

“I .. iyaa,” ia menyahut gagap.

“Boleh duduk di sini?”

“Si..silakan”

Mungkin inilah hari paling bersejarah dalam hidupnya ketika ia mendengar si Angelina Jolie yang memikat hatinya berupaya menenangkannya seperti seorang ibu menenangkan anaknya yang ketakutan lantaran harus maju ke depan kelas.

“Tidak perlu gugup. Karena saya juga mengagumi Anda,” kalimat itu seperti dentuman suka cita yang hampir meledakkan dadanya.

Entalah ia lupa percakapan apa yang berlangsung menit menit berikutnya. Tahu-tahu si Angelina Jolie berucap kalimat permohonan “buatkanlah saya sepotong sajak cinta, maka aku akan jadi kekasihmu.”

Ia ternganga beberapa lama. Lantas memperbaiki sikap duduk, merapikan kemeja. Sampai di rumah ia tak juga percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Menatap muka bulat, bola mata yang seperti hendak melesat keluar dari kelopaknya. Lantas mulai berpikir untuk menulis sajak. Permintaan sederhana yang mengganggu tidurnya. Mengganggu konsentrasinya bekerja.

**
Ia kini bersama si Angelina Jolie berada di dalam taksi yang meluncur membelah malam menuju sebuah hotel untuk sebuah kencan. Gemerlap lampu lampu jalanan bagai turut bersorak sorai. Telapak tangan Angelina Jolie yang selembut bulu angsa Persia tak lepas digenggamannya. Tak bosan ia menatap kening, hidung, bibir, dagu, geraian rambut kekasihnya yang tampak begitu sempurna. Mengkilap tanpa cacat seperti porselin Cina. Dan matanya, sungguh ia tak mau tenggelam di sana sekarang. Seperti kata si Angelina Jolie, butuh tempat yang tepat.

Sajak cinta yang diminta kekasihnya ada di balik kemeja. Ia telah menulisaknnya sepenuh jiwa dan raga. Ia merogohnya perlahan-lahan.

“Nanti saja kau tunjukkan dan bacakan di tempat yang tepat,” kata si Angelina Jolie saat ia hendak mengeluarkan sajak cinta pesanannya di kafe.

“Kafe ini terlalu riuh,”

Taksi terus melesat meninggalkan gemerlap pusat kota.

“Kita akan ke mana?”

“Tenang, Sayang. Kita sedang menuju tempat yang tepat untuk kamu membacakan sajak cinta untukku,” kata kekasihnya. Ia berdoa ini bukan dialog norak dalam sebuah drama cinta sinetron remaja

Ia makin berdebar. Si Angelina Jolie menyandarkan kepala ke dadanya.

“Aku mau tempat yang sepi,”
**
Ia merasakan kesadarannya masih mengambang di antara gemerlap lampu-lampu jalan, saat mendapati tubuhnya terkapar di antara semak belukar pinggir tikungan jalan yang sepi. Ketika kesadarannya genap, ia merasa perutnya bergolak, cairan pahit merayap naik ke kerongkongan. Ia mencoba bangkit dan duduk. Namun isi perutnya seakan ditarik keluar secara paksa Hoek... lendir berbau busuk tumpah menodai celananya, membasahi lembar kertas yang berisi sepotong sajak yang ditulisnya sepenuh jiwa dan raga. Ia kembali terjungkal, lemas. Kesadarannya kembali menguap seperti semua barang berharga miliknya yang lenyap digasak si Angelina Jolie yang kini tertawa-tawa bersama sopir taksi.

Pondok Pinang, Juni 2012.

Comments