Stasiun

-->
disiarkan Lampung Post, Minggu 31 Mei 2009
Ingatan tentang  kehilangan, kepergian, sesuatu yang mencemaskan, menjadi lampau, dan dilupakan, acap menerjang perasaannya saban ia sampai di stasiun kereta api. Kau akan melihat perempuan itu di antara kerumun orang-orang yang menanti kereta dengan pandangan penuh kepedihan yang memupus harapan tentang kepulangan, rumah, dan kehangatan. Jajaran pohon cemara, hamparan kerikil, batangan rel yang memanjang sampai titik terjauh, bentangan sawah, gedung sekolah masa remajanya di ujung sana serupa instalasi kepiluan yang membuat cidera di rongga batinnya makin menganga.

Selalu ada dorongan untuk kembali meraba dada, melihat wajah, menandai tubuhnya.  Lalu perempuan itu akan merasa dirinya tak penuh, tak utuh. Seperti ada yang selalu tanggal dan terpaksa harus ia tinggalkan. Dalam rentang waktu tertentu ia akan merasa goyah, terbelah, lantas pecah terbungkah-bungkah mirip runtuhan tanah. Tapi harus selalu ia susun lagi dengan susah payah—terkadang dengan ingatan yang patah. Menatap mereka dan ia yang harus meninggalkan tanah kelahiran menuju tempat yang diangankan sebagai kota untuk mungkin menjemput serupa cita-cita atau sekadar angan-angan belaka.

Di stasiun itu ia akan selalu bertemu dengan orang-orang yang tak pernah terduga dari masa lalu. Mungkin seseorang yang pernah dekat dan begitu ia rindukan di masa yang telah menjauh dan semakin menjauh, atau seseorang yang diam-diam ia benci dan ingin ia lupakan sama sekali. Mereka berganti-ganti datang dan pergi serupa mimpi yang ingin segera ia akhiri.

Di stasiun kereta, betapa pun ia telah berupaya menyembunyikan diri, ia akan selalu kepergok dengan perjumpaan-perjumpaan tak terduga; ia pernah bertemu kembali dengan kawan masa kanak, masa remaja, dan masa-masa lainnya yang telah bergulir, terbenam entah di mana tapi kadang terasa begitu dekat, begitu akrab. Tapi akan segera ia sadari betapa itu sukar disentuh, muskil ditempuh (kembali).

Suatu kali ia bertemu kawannya di masa remaja. Ia akan selalu merasa gugup dan kebingungan bagaimana caranya berbasa-basi. Ia melihat muka kawanya serupa mendapati wajahnya sendiri; begitu kuyu, sorot matanya berusaha keras menyembunyikan keresahan di dasar hatinya. Lalu secara otomatis ia akan merasakan hatinya berkerenyit nyeri. Ia ingin kembali meraba dada, melihat wajah dan menandai tubuhnya. Tanpa sadar ia akan menggigit bibir bawahnya seakan menahan sesuatu yang begitu lara.

Ia akan memulai percakapan dengan kalimat-kalimat pendek. Ia akan mendengar percakapan itu serupa lantunan keperihan yang sulit diraba namun jelas menggoreskan semacam luka, semacam bara dalam benaknya. Kawannya akan ke Jakarta, ke penampungan TKW sebelum dikirim ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Seorang lelaki, yang ia kira suami kawannya, yang berdiri di sampingnya, hanya sesekali melirik padanya.

“Ya ampun, Dian.” kawannya menjerit. Ia merasakan kedua tangannya kaku saat harus diangkat-bentangkan, menyambut pelukan.

“Mau ke mana? Jakarta? Sendirian? Mana suamimu?” kawannya melontarkan pertanyaan, yang selalu ingin ia hindari, secara bertubi-tubi.

Pertanyaan kawannya ini, seperti juga pertanyaan yang terlontar dari sekian banyak kawan yang lain, saudara, ibu, ayah, akan mengiang beberapa lama menemani perjalanannya di bangku kereta. Namun ia tak pernah kunjung terlatih untuk menjawab, kecuali melupakannya. Kawannya bercerita, ini rencana keberangkatannya yang ketiga jadi TKW di luar negeri. Suaminya yang pemabuk hanya menghabis-habiskan uang kirimannya.

“Kenapa kamu mau berangkat lagi?”

“Mau apa lagi di kampung? Dikejar-kejar hutang!”

Di stasiun kereta ia pernah bertemu dengan kawan semasa kanak yang bekerja di Jakarta. Dia ulang alik Jakarta-kampung halaman seperti yang ia jalani dengan perasaan rawan, tertahan-tahan.

“Aku dan suamiku bekerja di Jakarta. Anak kami titipkan sama orang tua di kampung. Kami bekerja di satu rumah. Suamiku jadi satpam, aku tukang cuci. Bagaimana denganmu, Dian? Kamu kerja kantoran? Kamu cantik sekali.”

“Aku masih sendirian. Aku bekerja sebagai, ah kamu serius ingin tahu kerjaanku?” 

Lontaran kalimat ini akan menemaninya sedikit lebih lama; kadang membuatnya bertanya-tanya pada diri sendiri, apa saja yang telah kukerjakan selama bertahun-tahun ini? Lantas ia akan meyakin-yakinkan diri sendiri betapa ia cukup bahagia dan baik-baik saja. Ia memang bekerja di satu ruangan berpendingin udara yang orang menyebutnya kantor. Membaca huruf-huruf kanji, menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia. Tiap hari masuk pukul sembilan pulang menjelang magrib. Tiba-tiba ia ingat rutinitas itu telah ia jalani hampir sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun. Sampai berapa puluh tahun lagi?

Di stasiun kereta ia bersua dengan sepupunya yang sekian tahun ia hindari. Dia melambaikan tangan, memandangnya yang gugup, gemetar, serba salah. Ia akan melihat sorot mata sepupunya bagai menuduh dengan semacam kata-kata, ke mana saja sih kamu nggak pernah main ke rumah. Bude sakit tak ditengok. Lupa ya? Dan sederet pertanyaan serupa interogasi yang paling ia benci.  Ia akan merasakan tubuhnya mengkerut.

Ia teringat tentang usia, tentang perjalanan, tentang kegagalan, tentang kesia-siaan. Begitu banyak kaum kerabat yang ingin ia kunjungi saat pulang kampung halaman. Tapi tak pernah ia punya nyali. Rasanya tak pernah ada kata-kata yang bisa ia rangkum dan ia deretkan untuk menjelaskan dirinya. Mereka seakan berloncatan. Dan ia tak memiliki selera dan kehabisan tenaga menangkapnya. Maka saban pulang kampung, dua atau paling banyak tiga kali dalam setahun, selain kamarnya tempat favoritnya adalah kebun belakang rumahnya yang tak seberapa luas. Menyiangi rumput, mengelap tiap lembar daun: lidah buaya, kuping gajah, menatapi bunga kenanga, kembang sepatu. Jika bosan, ia akan buru-buru pergi ke kota kabupaten, keluar masuk toko buku, toko kaset, gedung bioskop, sendirian. Pulang saat malam genap mengatupkan pintu rumah dan kelopak mata orang-orang di kampungnya yang mulai ramai. Untuk kemudian subuh buta mengantarnya kembali ke stasiun kereta. Ia tak pernah menyukai terminal dan bus kota, entah mengapa. Mungkin karena terminal tak menumbuhkan ingatan apa-apa. Tak ada kepedihan yang tanpa sadar amat disukainya seperti yang ia dapatkan di stasiun kereta.     

Semakin lama berada di stasiun itu ia merasakan jiwanya terpiuh. Ia akan menggelepar menikmati keterasingan. Kadang ia harus melindap ke bilik toilet, duduk termenung di atas kloset seraya menghisap rokok putih. Merasakan tembok-tembok mendesis, merekam kekosongan yang memenuhi perasaannnya. Ia akan keluar dari sana jika terdengar gemuruh kereta yang akan membawanya tiba dengan lengking peluitnya yang bikin sakit gendang telinga. Sekalipun begitu ia tak akan terbebas dari persuaan tak terkira. Saat menemukan bangku di dalam gerbong kereta, sering dilihatnya sosok yang dikenalnya di masa silam telah mengambil bangku di sebelahnya.

“Heh kamu? Astaga, Dian. Ke Jakarta juga?”

“Ya ampun, Hen. Kok kamu di sini? Tadi nunggu di mana sih, sampai nggak ngelihat,” ucapnya. Tentu saja ia berbohong. Setiap di stasiun matanya nyalang mencari-cari sosok yang mungkin dikenalnya. Bukan untuk dihampiri, melainkan dihindari. Dari jarak tertentu ia akan mengawasi siapa pun sosok yang pernah dikenalnya. Mengamati gerak tubuh, sorot mata, mendengar pembicaraan mereka yang lamat-lamat, pakaian yang mereka kenakan. Lantas menduga-duga kenapa mereka harus pergi. Berpikir tentang keadaan yang memaksa mereka hengkang meninggalkan kampung halaman; dan apa yang mereka pikirkan tentang dirinya jika memergokinya mengawasi mereka.

“Tak pernah pulang, ya?”

“Jarang. Kamu yang tak pernah pulang,”

“Hampir tiap dua pekan pulang, Dian,”

“Kok nggak pernah ketemu,” ucap dia lagi, berbohong lagi. Bagaimana bisa ketemu, jika ia memang sengaja menghindar dari siapa pun kecuali orang rumah. Pada ibunya selalu ia berpesan supaya tidak mengabarkan kepulanganya pada siapa pun. Ia merasa tak ada perlunya bertemu mereka. Kalaupun ketemu terus mau apa? pikirnya. Setiap masa memiliki peristiwanya masing-masing, demikian ia selalu berpikir.

“Kerja apa kamu di Jakarta?” ia melontarkan pertanyaan, sekadar berbasa-basi, yang membuatnya mual sendiri. Ia memang tak pernah ingin tahu apa pun tentang seseorang yang pernah dikenalnya di masa lalu. Tak pernah. Ia sering berpikir, mungkin lebih bagus hidup tanpa masa lalu. Dengan demikian tak perlu menjelaskan tentang hidupnya di masa sekarang.

Tak perlu menjelaskan pada siapa pun bahwa ia mendapati kehidupan cintanya yang mengecewakan. Ramzi, kekasih yang dicintainya sepenuh hati berpaling pada hati yang lain. Seandainya, ya seandainya yang merebut hati Ramzi bukan Nina, adiknya sendiri, mungkin bisa ia atasi sakitnya hati.

Ia tak perlu mengingat apalagi menjelaskan bahwa semuanya berawal dari kejadian biasa saja. Setelah lulus kuliah yang ia biayai, Nina ikut tinggal di apartemen bersamanya sementara menunggu panggilan kerja. Ramzi yang saban Sabtu malam datang ke apartemennya lama-lama jadi akrab. Tentulah tidak ada yang salah Ramzi akrab dengan calon adik ipar. Kadang Ramzi mengantar Nina ke mal, atau Nina menemani Ramzi menghadiri acara ulang tahun rekan kantor Ramzi ketika ia sendiri tidak memungkinkan lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Semuanya wajar-wajar saja, tidak lucu mencemburui adik sendiri. Sampai suatu hari Nina berkata bahwa dia hamil. Dan Ramzi harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.  

Pondok Pinang, April 2009.

Comments