Tembok Bolong


pernah disiarkan Tribun Jabar, Minggu 23 November 2008
 
Seorang lagi hilang ditelan tembok bolong. Kali ini yang jadi korban Wujil, pria yang sehari-hari berjualan ketoprak. Dia tak pernah kembali setelah menerobos masuk tembok bolong itu, meninggalkan gerobak ketopraknya yang diparkir di sisi jalan. Dua orang pembeli ketopraknya mengira Wujil sehabis kencing langsung beli rokok di warung sebelah sekalian menukar uang untuk kembalian. Tapi tunggu punya tunggu Wujil tak muncul-muncul juga. Karena kesal menunggu dua orang pembeli ketoprak itu akhirnya meninggalkan gerobak ketoprak Wujil. Mereka pikir biar nanti siang atau besok saja menemui Wujil di mulut perempatan tempat biasa dia mangkal untuk meminta uang kembalian.

Namun sampai besok dan besoknya lagi gerobak ketoprak Wujil masih terparkir di sisi jalan tak jauh dari tembok bolong itu karena memang Wujil tidak pernah kembali. Hari berikutnya petugas kebersihan menyingkirkan gerobak Wujil dari sana dan menganggap Wujil benar-benar hilang ditelan tembok bolong. Nori, istrinya menangis meraung-raung, di depan gerobak ketoprak yang mengonggok bisu.

Meski penjual ketoprak Wujil selalu merasa dirinya orang terpelajar, maklumlah jelek-jelek begitu dia pernah kuliah di fakultas filsafat UGM. Jadi dia tidak boleh mudah percaya dengan hal-hal tak masuk akal. Tembok bolong yang bisa menelan manusia menurut Wujil tidak masuk akal. Maka selama ini Wujil tidak pernah percaya dengan kabar-kabar yang berseliweran mengenai hilangnya sejumlah orang setelah mereka memasuki tembok bolong. Menurut kabar-kabar yang didengar Wujil dari obrolan para pembeli ketopraknya, sudah ada sembilan orang yang lenyap tak pernah kembali setelah mereka memasuki tembok bolong. Kendati demikian Wujil tidak mau berdebat dengan orang-orang yang mengobrolkan kabar tersebut sambil makan ketoprak, jualannya. Sebagai penjual yang baik, Wujil tahu bagaimana menghormati pembeli.

Wujil merasa tidak perlu membuktikan kabar-kabar tersebut dengan mencoba masuk ke tembok bolong itu misalnya. Karena kalau dia lakukan jelas itu kurang kerjaan. Meski setiap hari Wujil  mendorong gerobak ketopraknya melewati jalan itu. Paling banter Wujil hanya memandangnya sekilas. Tak berminat mengamatinya lebih jauh. Apalagi terdorong untuk mencari tahu bagaimana mulanya sampai tembok tersebut bolong. Tapi kalau dilihat bentuk bolongnya yang cukup untuk ukuran tubuh orang dewasa, jelas itu ulah orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas. Kalau mau ke hiper mall yang berada di dalam kompleks perumahan elit itu, jalan melalui tembok bolong memang jauh lebih meringkas jarak. Tidak perlu memutar mengikuti jalan raya yang jaraknya berlipat-lipat jauhnya.

Tembok itu Wujil tahu merupakan pembatas yang memisahkan kompleks perumahan mewah dengan perkampungan kumuh di sebelahnya. Memang setiap lewat jalan tersebut Wujil melihat tembok bolong itu selalu sepi. Tak pernah sekalipun tampak orang masuk atau keluar dari sana. Wajar saja karena kalau Wujil lewat di jalan itu hari masih pagi saat dia mau berangkat berjualan atau menjelang maghrib ketika dia pulang dari berjualan.

Tetapi begitulah, hampir semua pelanggan ketopraknya mempercayai betul tembok bolong itu sudah banyak menelan orang dan tak pernah kembali. Jumlah korban yang sembilan orang itu adalah mereka yang mencoba menembus masuk ke kompleks perumahan mewah melalui tembok bolong tersebut. Tidak ada yang tahu apakah warga kompleks perumahan mewah di balik tembok sana juga ada yang hilang ditelan tembok bolong saat mau menerobos ke perkampungan kumuh. Mungkin tak pernah ada. Siapa yang tertarik dengan kekumuhan?

“Kalau benar menelan korban kenapa tidak ditutup saja,” ujar Wujil iseng menanggapi pembeli ketopraknya yang tampak serius mengobrolkan tembok bolong.

“Itulah, mana ada orang yang berani. Jangan-jangan sebelum menutup tembok bolong mereka duluan yang lenyap ditelan,” ujar pembeli itu seraya menyuapkan ketoprak ke mulutnya. Dari sembilan orang korban itu bukan semuanya warga perkampungan kumuh tempat di mana Wujil ngontrak. Sebagian besar, yakni tujuh orang di antaranya justru tamu di perkampungan kumuh tersebut. Umur mereka rata-rata di atas tigapuluh. Tentu soal umur ini perkara kebetulan belaka. Di perkampungan kumuh itu Wujil memang pendatang, baru enam bulan lalu dia menikahi Nori, warga asli perkampungan kumuh tersebut.

Mendengar obrolan para pembeli ketopraknya yang kelihatannya sangat serius itu Wujil ingin tertawa, namun dia segera sadar tidak boleh menyinggung perasaan pembeli. Sebab dia tak mau gara-gara hal itu ketopraknya kehilangan pelanggan. Maka Wujil hanya mengangguk-angguk menahan geli. Tapi rupanya salah seorang pembeli ketoprak tahu kalau Wujil tidak pernah percaya.

“Kenapa abang nggak percaya?”  pembeli ketoprak bertanya, menyelidik.

“Saya memang tidak percaya. Saya rasa itu cuma kabar burung yang dibesar-besarkan,” cetus Wujil.

“Abang mengganggap hanya kabar burung?” kejar pembeli ketoprak, sedikit gemas.

“Iyalah Mba, mana ada tembok bolong bisa menelan orang. Kalau ada orang masuk melalui tembok bolong itu kemudian tidak kembali, mungkin dia memang tidak mau kembali lantaran diterima bekerja dengan gaji besar di salah satu rumah mewah itu,”

“Tidak mungkin, Bang. Saya istri salah satu korban yang hilang ditelan tembok bolong itu. Suami saya benar-benar tidak pernah kembali. Kami kehilangan kontak sama sekali,” ujar pembeli ketoprak, tampak mulai emosi.      

Mbak pembeli ketoprak itu kemudian bilang bahwa suaminya semula juga tidak percaya tembok bolong bisa menelan orang. Makanya dia penasaran ingin membuktikan. Perempuan itu sudah berkali-kali bilang tidak usah nekat. Ternyata benar, malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih. Suaminya benar-benar lenyap dan tak pernah kembali.

Wujil manggut-manggut, ragu. Dia mau bilang ‘bisa saja suami mbak memang sengaja meninggalkan mbak pergi dengan perempuan lain lantaran merasa bosan dengan mbak’ tapi Wujil tahu dia tidak boleh menyakiti perasaan perempuan pembeli ketopraknya dengan kalimat seperti itu.

“Mbak tidak mencari ke kompleks perumahan mewah yang ada di balik tembok itu? siapa tahu suami mbak tersesat di sana, tidak bisa pulang.”

Perempuan itu menggeleng perlahan. Lalu terdiam lama menahan kesedihan.

“Sudah berapa lama suami mbak hilang?” tanya Wujil akhirnya.

“Hampir setahun yang lalu.” perempuan itu berkata dengan nada rendah dan muka murung.     

“Pernah lapor polisi?”

“Saya tidak lapor polisi karena suami saya bukan diculik tapi ditelan tembok bolong. Mana bisa polisi melacaknya!”  perempuan itu mulai terisak.

“Mbak tahu warga kampung sini lainnya yang hilang?” Wujil bertanya lagi. Dijawab oleh pembeli ketoprak yang lain. Menurut orang itu, dia perempuan. Tetangganya yang baru pulang dari bekerja sebagai penyanyi pub. Karena tak tahan kebelet pipis perempuan itu pipis di got yang ada di balik tembok bolong. Sejak itu dia tidak pernah keluar-keluar lagi sampai sekarang. 

Sementara korban lainnya mereka adalah tamu warga perkampungan sini yang mau ambil jalan memotong melalui tembok bolong itu. Mereka semua hilang lenyap bagai ditelan bumi. Keluarga mereka akhirnya menganggap mereka meninggal, yang mau tak mau harus direlakan. Lalu  mereka menggelar tahlilan di rumah masing-masing supaya arwahnya tenang.

Wujil tercenung. Benaknya mulai disusupi rasa penasaran. Mungkinkah tembok bolong itu semacam segitiga bermuda yang mampu menelan orang tanpa jejak sama sekali seperti tempo hari dialami sebuah pesawat berpenumpang ratusan orang yang karam dan hilang di lautan tanpa pernah ditemukan bangkainya?    
***

Sebelum hilang ditelan tembok bolong itu, Wujil memang pernah mengatakan pada istrinya bahwa suatu hari dia akan membuktikan sendiri. Hanya saja Wujil tidak pernah punya kesempatan. Bisa jadi sebenarnya dia tidak punya nyali.

“Sudahlah, Bang. Jangan macam-macam sok mau mencoba. Cari perkara itu namanya. Aku tidak mau jadi janda,” kata istrinya sambil menumbuk kacang goreng untuk bumbu ketoprak.

Sekali waktu Wujil memang pernah mengamati tembok itu dengan sedikit serius. Tingginya tidak kurang dari satu setengah meter dengan puncaknya ditanami aneka macam beling yang sanggup mencelakai orang yang nekat memanjat ke sana. Belum cukup dengan beling-beling yang mencuat runcing, beberapa senti di atasnya terdapat kawat berduri. Ketebalan tembok kira-kira limabelas senti, kendati demikian kurang kokoh lantaran terbuat dari batako yang tengahnya kosong. Bagian luarnya tidak dilapisi semen pula sehingga tidak terlalu sukar dijebol. Di beberapa tempat terlihat gambar penis dan kata-kata cabul dari cat semprot. Bagian yang bolong itu tidak lebar juga tidak sempit. Orang tidak perlu memiringkan tubuh dan menundukkan kepala terlalu dalam untuk lolos masuk ke sana. Kalau dilihat dari kondisinya tembok itu sudah lama bolong. Mungkin beberapa hari setelah tembok dibangun. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang menjebol tembok itu sehingga jadi bolong.

Tetapi beberapa kali Wujil hanya berdiri kira-kira dua meter di depan tembok bolong. Dari jarak tersebut dia dapat melihat jalan kompleks perumahan yang mulus, taman yang tertata rapi, dan rumah-rumah megah dengan pagarnya yang tinggi-tinggi. Kontras sekali dengan keadaan perkampungan di sebelahnya. Ada kalanya dia melihat sekawanan anak-anak melintas menggunakan sepatu roda. Berseliweran di antara perempuan-perempuan muda—agaknya pembantu— yang tengah mendorong keranjang bayi.

Jadi pada hari lenyapnya Wujil ditelan tembok bolong itu sama sekali bukan karena dia sedang mencoba membuktikan sendiri kabar-kabar itu. Melainkan Wujil benar-benar kebingungan mencari warung mau menukarkan uang untuk kembalian. Dia melihat ada warung rokok di seberang got dibalik tembok bolong itu. Tanpa sadar dia menerobos tembok bolong. Kita tidak tahu apakah Wujil benar-benar lenyap dan tidak pernah kembali dari sana.

Sementara itu nun di suatu tempat entah di mana Wujil mendapati dirinya berada di dalam sebuah gudang yang sangat luas. Di sana dia menemukan barang-barang miliknya yang dulu pernah hilang: uang dua ratus ribu, celana jeans, jaket kesayangan, sepatu kebanggaan, tas, topi, flash disk, ulekan ketoprak, ember, hand phone, gunting rambut, buku-buku filsafat masa kuliah, bahkan ijazah SMAnya yang entah berapa tahun lalu hilang di rumah kawan dia temukan di sana. Wujil juga bertemu dengan keponakannya yang autis yang dulu hilang di pasar malam. Dengan para aktifis yang pernah dia lihat fotonya di tembok-tembok. Wujil melihat mereka ngongkrong malasan-malasan sambil minum kopi. Wajah mereka kelihatannya berbahagia sekali. Ada beberapa orang lagi yang wajahnya tidak dia kenal. Dia hitung jumlahnya ada sembilan. Mungkinkah mereka yang hilang ditelan tembok bolong?      

Pondok Pinang, Oktober-November 2008

Comments