Wulan Terbang

pernah disiarkan tribun Jabar, Minggu 29 November 2009
-->
Di dalam kelas itu akhirnya Wulan bisa terbang. Mula-mula ia berdiri dengan ujung ibu jari kakinya. Ibu jari kakinya yang mungil itu tampak bergetar menahan beban tubuhnya. Pelan-pelan ia terangkat, mengambang, terus mengambang naik, melayang-layang  berputar-putar sebelum kemudian menyentuh langit-langit. Dari situ Wulan lalu dengan mudah mengendalikan arah terbangnya. Wulan cuma berputar dalam kelasnya. Teman-temannya tengadah memandang dari bawah.

Mereka bersorak-sorai, “Hoi, Wulan bisa terbang, Wulan bisa terbang…”  seisi kelas bergemuruh oleh sorak sorai yang makin lama makin keras menggemparkan murid-murid  lainnya  yang sedang belajar. Mereka saling berpandangan sebelum berlarian menghambur ke asal sorak sorai. Guru-guru, penjaga kantin, satpam, semuanya menyerbu ke kelas Wulan. Mereka ternganga melihat tubuh itu melayang berputar-putar.

Maka makin bergemuruhlah suara sorak sorai seperti mau meruntuhkan tembok sekolah yang memang sudah lapuk. Penduduk yang bertempat tinggal sekitar sekolah langsung menyerbu bagai air bah  ke dalam kelas. Tak ketinggalan orang-orang yang kebetulan lewat, mereka segera menghentikan  perjalanan dan buru-buru bergabung dengan arus manusia yang mengalir ke kelas Wulan. Dalam sekejap bangunan sekolah yang temboknya retak-retak serta lumutan itu bagai tenggelam  oleh lautan manusia. Sekolah yang gentingya banyak yang melorot dan pecah sehingga kalau hujan bocor itu segera menjadi pusat perhatian. Televisi, koran-koran  semua memberitakannya. Bukan karena keadaannya yang memprihatinkan, atau honor gurunya yang tak dibayar-bayar, melainkan  karena di sana ada seorang anak yang bisa terbang.

Koran-koran memuat gambar  Wulan dalam posisi melayang. Wulan, gadis cilik 11 tahun berkulit  coklat dan berwajah tidak terlalu cantik dengan tubuh kurus dan nampak sakit-sakitan dalam sekejap menjadi begitu terkenal mengalahkan popularitas bintang sinetron. Segera setelah itu bukan cuma  wisatawan asing yang mengubah kunjungan ke sekolah Wulan, menteri, bahkan presiden sendiri langsung melakukan kunjungan resmi ke sekolah Wulan yang  letaknya terpelosok di sebuah  desa  miskin di mana  penduduknya makan cuma dua hari sekali. Jalanan  menuju sekolah Wulan jadi macet  meski telah dilakukan pelebaran.

         Terdengar  kasak-kusuk para guru berkomentar.

         “Wulan itu ‘ kan murid kelas lima . Anda wali kelasnya ‘ kan , Bu Angel?”

         ”Ya, dia  murid yang paling dungu.”

         “Anak  siapa sih dia?”

         “Wah, saya tidak tahu, kata teman-temannya sih dia tinggal dengan neneknya.”

         Wulan masih melayang berputa-putar.

         “Wulan, Wulan, ikut terbang dong!”

         “Wulan, turun dulu. Wulan aku ingin terbang bersamamu. Nanti kutraktir bakso!”

         “Wulan! Wulan!”

         Teman-temannya terus berteriak histeris. Wulan terus melayang-layang, roknya melambai-lambai. Para wartawan  dengan sigap terus menjepretkan kamera dari segala sudut membuat suasana makin panas. Wulan tersenyum memandang teman-temannya yang tangannya mengacung-acung berusaha ingin meraihnya namun tak pernah sampai. Wulan memandang mereka semuanya yang basah oleh keringat dengan mata hampa.

         “Benar-benar ajaib.”  ujar para turis tak henti-henti memelototkan matanya yang biru dan belekan  habis begadang.

         “Wulan, coba turunlah dulu, nak…” teriak  Bu Angel, wali kelasnya yang gara-gara  peristiwa ini jadi ikut sibuk meladeni pertanyaan wartawan.

         “Jadi dia  murid yang paling dungu?”

         “Pelajaran apa yang paling disukainya?”

         “Apa dia suka pacaran?”

         “Wulan itu hobinya apa?”

         Bu Angel kewalahan  melayani pertanyaan para wartawan yang  kadang kurang ajar. Ia sampai megap-megap, wajahnya  nampak merah memanggil-manggil Wulan.

         “Wulan! Wulan! Turunlah dulu. Ibu janji tak  akan  memberimu pe-er! Ayo turunlah dulu.”

         Neneknya yang  dihubungi segera didatangkan dan ikut berteriak-teriak dari bawah.

         “Wulan, ini nenek, ayo turun dulu sebentar. Sebentar saja. Kalau sudah turun silakan terbang lagi sesukamu. Ayo, Wulaaaan…!”

         Semuanya berusaha membujuk  Wulan untuk turun. Namun sampai suara mereka  serak semua, Wulan tidak juga turun. Kini giliran nenek  yang diserbu  pertanyaan  wartawan.

         “Wulan itu benar cucu nenek?”

         “Ya benar, dia cucu kesayangan  saya. Dia sebenarnya tidak  dungu, justru sebaliknya dia sangat cerdas. Guru-guru dan teman-temannya saja yang tidak dapat mengikuti alur pikirannya yang memang terlalu maju. Dia pernah bercerita gurunya memberi soal lima kali lima , dia menjawab nol. Gurunya marah. Wulan jengkel, masa  perkalian  itu-itu juga yang diajarkan.”

         “Tolong ceritakan kehidupan sehari-hari Wulan.”

         “Tidak ada yang istimewa. Cuma saja Wulan memang tidak suka bergaul. Dia lebih gemar menyendiri.”

         “Katanya Wulan sudah punya pacar?”

         “Wah, kalau itu saya kurang tahu. Tapi umpamanya sudah punya pacar, itu wajar saja ‘kan ?”

         Wartawan terus mencecarkan pertanyaan sampai nenek terbatuk-batuk. Seorang wartawan menyodori nenek  segelas air mineral. Dari nenek kemudian diketahui kedua orang tua Wulan bercerai ketika dia berumur 7 tahun. Wulan lalu dititipkan  pada nenek karena kedua orang tua Wulan masing-masing berkeluarga lagi. Sejak itulah Wulan tidak pernah ketemu lagi dengan ayah dan ibunya. Ia sering bertanya  pada neneknya tentang mereka. Nenek selalu bilang mereka  sedang pergi jauh. Wulan tak mengerti kenapa mereka cuma melahirkannya ke dunia tanpa mau mengurus. Jadilah Wulan pendiam dan paling benci kalau disuruh gaul  dengan teman-teman  sebayanya. Wulan bilang teman-temannya dungu. Mereka selalu cerita tentang orang tua mereka. Pada neneknya Wulan sering bilang  kalau bisa  terbang ia akan  cari ayah ibunya sampai ketemu dan meminta mereka untuk mengembalikannya ke  alam rahim.

         “Jadi Wulan pengen ketemu orang tuanya.”

         Neneknya menjawab dengan tangis.

         “Memangnya kenapa sih mereka bercerai dan tidak pernah mau menemui Wulan?”

         “Saya tidak tahu.””

         “Jadi Wulan ingin  kembali  ke alam rahim?” 

         Tangis nenek makin menjadi. Tubuhnya sampai terguncang sehingga kaca matanya berkali-kali melorot mau jatuh. Para wartawan berusaha  menenangkannya. Disodorinya lagi  nenek segelas minuman. Kali ini soft drink. Suasana begitu mengharukan. Bu Angel masih berusaha membujuk  Wulan. “Wulan, sekali lagi  ibu mohon turun dulu  sebentar, please…”

         Akhirnya Wulan turun juga. Begitu kakinya menginjak lantai langsung saja dia diserbu teman-temannya. Para wartawan tak mau ketinggalan ikut berdesakan. Guru-guru sekolah Wulan yang diam-diam sudah menyiapkan bodyguard segera mengamankan Wulan ke kantor  kepala sekolah. Maka orang-orang pun  bergerak mengalir mengikuti setiap langkah Wulan. Kantor kepala sekolah yang sempit dan temboknya banyak pada bongkar-bongkar itu seperti berderak-derak hendak runtuh. Para wartawan tak bosan-bosannya  menjepretkan  kamera ke arah Wulan yang jadi keringatan karena panas. Televisi-televisi menayangkan Wulan dalam acara talk show.     

         “Apa hobi Wulan?”

         “Makan gado-gado.”

         “Katanya Wulan  sudah suka pacaran, bener nggak sih?!”

         Wulan tersenyum, tersipu-sipu.

         “Kalau sudah besar  cita-cita Wulan ingin jadi apa?”

         “Tidak pengin jadi  apa-apa. Wulan cuma ingin ketemu ayah dan ibu dan meminta mereka mengembalikan Wulan ke alam rahim.”  Moderator sejanak tercenung mendengar kalimat yang baru kali itu didengarnya, lantas buru-buru beralih pertanyaan lain.
        
          “Bagaimana  rasanya bisa terbang?”

         “Senang,”

         “Dari mana belajar terbang?”

        Wulan menggeleng. Dia memang tidak tahu bagaimana ia bisa terbang.

        “Senang bisa terbang?”  

        “Senang. Karena bisa melihat orang-orang dari atas. Lucu sekali, mereka kelihatan begitu dungu dan sia-sia.”

         Di tempat terpisah kedua orang tua Wulan yang menonton acara itu menangis tersedu-sedu. Dalam acara itu kemudian ditayangkan bagaimana  Wulan memeragakan adegan terbang. Mula-mula Wulan berdiri pada ujung ibu jari kakinya.. Pelan-pelan terangkat, mengambang  di udara, terus naik, naik, melayang berputar-putar sampai menyentuh langit-langit studio yang penuh peralatan lampu. Wulan menyenggol lampu, meliuk, menyentuh  kamera  yang terpasang di atas. Semua penonton baik  yang  di studio  maupun  di rumah terpana. Mereka tanpa  sadar berteriak-teriak. Pemilik stasiun televisi yang menayangkan acara itu pun mengeruk keuntungan  besar. Wulan kemudian jadi rebutan para pengusaha hiburan. 

         Dalam acara tawar-menawar yang dilakukan di sebuah hotel bintang lima seorang pengusaha menawar Rp100 miliar. Dan segera tawaran dinaikkan menjadi Rp200 miliar ketika pengusaha lain berani mengontrak dengan nilai lebih dari itu. Tawar menawar terus berlangsung dengan nilai kontrak yang makin fantastis. Wulan yang duduk didampingi nenek, guru-guru, dan  bodyguard-nya hanya tersenyum  saja dengan mata mengerling ke sana kemari. Sementara neneknya semakin empot-empotan saja mendengar tawaran terus-menerus naik.

         “Saya berani 300 miliar.”

         “Saya 350 miliar!”

         “500 miliar!” Seru seorang pengusaha botak sambil mengacungkan tangan.

         Ketika tawaran mendekati angka  1 triliun, tiba-tiba Wulan berdiri. Wulan pelan-pelan berdiri pada ujung ibu jari kakinya. Ibu jarinya yang mungil tampak bergetar menahan beban tubuhnya. Pelan-pelan kemudian tubuhnya terus terangkat, terus naik, mengambang melayang ke udara. Seketika tawar menawar terhenti.

         Semua yang hadir tengadah memandang Wulan yang terus naik menyentuh langit-langit ruangan hotel. Berputar melayang-layang mempermainkan lampu kristal. Neneknya kemudian berteriak, “Aduh Wulan,  jangan terbang dulu.”  Disusul pembawa acara dan yang  lainnya. Semua berteriak histeris memohon Wulan turun.

         “Wulan, tawar menawar belum selesai. Ayo turun dulu!”

         “Turun Wulan! Ayo turun…”

         Wulan tak mau turun meski telah  dibujuk dengan segala  cara. Ia terus melayang-layang tak mempedulikan teriakan yang makin menggelombang. Kemudian mereka berusaha menangkap Wulan menggunakan tangga maupun tambang. Namun tentu saja dengan mudah Wulan mengelak dengan gerakan-gerakan indah. Dan malah makin melesat, mempercepat laju terbangnya, menerobos jendela dan keluar. Wulan meninggalkan mereka yang terus memandangnya dengan mulut ternganga. Regu pasukan helikopter segera dikerahkan untuk menangkap Wulan. Terjadilah kejar-kejaran yang seru di udara seperti dalam film-film animasi buatan Hollywood. Wulan meluncur meninggalkan regu pasukan helikopter yang memburunya.

         “Wulaaan kembalilah, Wulaaan…” Demikian regu pasukan heli memperingatkan. Namun Wulan tidak menurunkan laju terbangnya yang makin meninggi  menembus awan gemawan. Keluar dari atmosfer bumi. Wulan terus terbang meluncur di antara bintang-bintang. Di sana ia berkejaran dengan arwah-arwah yang sedang terbang menuju langit. Ia mau mencari ayah ibunya dan meminta mereka untuk mengembalikannya ke alam rahim.

Pondok Pinang, 10 Oktober 2009.

Comments