Orang Laut dari Perspektif Orang Darat

Model diperani oleh Meirina
juga disiarkan Jurnal Nasional, Minggu 7 Oktober 2012
Pembangunan yang menjadi jargon rezim Orde Baru (Orba) bagi orang yang diberkahi kewarasan dan daya kritis adalah kebalikannya: sebuah proses pengrusakan dan pembodohan tak terperi. Karena pada prakteknya, gelora pembangunan yang mereka dengung-dengungkan hanya dinikmati segelintir orang, yakni mereka yang berada di lingkaran, atau kroni, rezim tersebut.

Bagi rakyat pada waktu itu, bahkan dampaknya terus terasa pada kehidupan berbangsa dan bernegara hingga sekarang di semua segi kehidupan, pembangunan yang dipraktikkan Orba tak ubahnya pemerkosaan atas hak-hak dan kemanusian yang dilegalkan penguasa. Maka siapa pun yang dianggap menghambat akan langsung disingkirkan tanpa proses hukum yang jelas. Mereka dianggap pengkhianat, separatis, dan pelbagai stigma lainya yang antipembangunan. Masyarakat harus patuh dengan apa pun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Watak pembangunan Orba seperti itu pula yang disajikan 'Pincalang', novel kedua besutan sastrawan Sumatra Utara Idris Pasaribu. Syahdan, dengan bekal seadanya Amat, si tokoh utama, melarikan diri ke sebuah pulau di perairan Sumatra Barat. Ia menyembunyikan diri di sana demi menghindari kejaran aparat negara yang hendak membunuhnya. Meninggalkan keluarga dan usaha yang tengah dirintisnya. Orang Pincalang itu dianggap mengganggu proyek besar rezim Orba menghidupkan perekonomian masyarakat pantai di perairan Sumatra Barat dengan memodernisasi atau memesinkan kapal-kapal penangkap ikan melalui Keppres (Keputusan Presiden).

Manusia perahu yang mengenal tabiat laut seperti mengenal telapak tangan sendiri itu memang berhasil menyelamatkan diri dari jangkauan tangan-tangan kekuasaan yang hendak menghabisinya. Bahkan beberapa petugas patroli mampu dikecoh dan dibunuhnya dengan anak-anak panah beracun. Pelarian Amat digambarkan begitu heroik. Seorang diri Amat menanggung risiko itu. Kita seperti menyaksikan adegan film thriller yang penuh ketegangan.

Sayangnya, pelarian Amat tak bertahan lama. Setelah berminggu-minggu hidup dalam pelarian, aparat negara akhirnya (hanya) meringkus Amat dan menyeretnya ke meja persidangan. Tertangkap dan dijebloskannya Amat ke dalam penjara adalah antiklimaks novel berketabalan 255 halaman ini. Berkat perjuangan pengacara yang luar biasa, Amat hanya dipenjara selama 4 empat tahun. Setelah bebas dari penjara, Amat memulai lagi hidup dari awal.

Drama pelarian Amat diceritakan pada bab-bab terakhir novel yang bergerak dengan alur lurus ke depan ini. Amat adalah orang pincalang, yakni sebuah kelompok masyarakat yang secara turun temurun menyelanggarakan hampir seluruh hidupnya di atas pincalang yang terombang-ambing di permukaan laut. Pincalang tak lain sebutan lain dari perahu kecil yang berlayar mengandalkan hembusan angin. Orang-orang pincalang dikenal mahir membaca perangai alam. Mereka tahu kapan badai datang, di mana ikan-ikan berkumpul untuk dijaring. Mereka menangkap ikan sekadarnya untuk menyambung hidup. Dijual kepada orang-orang darat sekadar untuk ditukar beras, kopi, gula, serta kebutuhan sehari-hari lainnya.

Proyek memodernisasi kapal-kapal penangkap ikan yang dananya berasal dari hutang luar negeri itu, setelah Amat ditangkap, tentu saja terus berlangsung. Dampaknya memporandakan keharmonisan kaum pincalang dengan laut serta memicu terjadinya gegar budaya yang berdampak pada makin terpinggirkannya masyarakat lokal serta hancurnya tata nilai yang berlaku di sana. Porandanya keharmonisan manusia dengan alam terlihat dari penangkapan ikan yang dilakukan dengan cara-cara yang merusak seperti menggunakan bom, pukat harimau, dibabatnya hutan bakau. Sementara di sisi kehidupan sosial sekitar pantai adalah terjadinya konflik horisontal lantaran makin menganganya kesenjangan sosial. Masyarakat yang miskin makin miskin dan yang bermodal semakin kaya. Amat akhirnya menjadi orang yang kalah.

Paradoks
Novel ini memperlihatkan sejumlah paradoks. Perjuangan orang pincalang mempertahankan keharmonisan hidup mereka dengan laut, pada saat yang sama berarti membiarkan diri mereka tetap dalam lembah kebodohan. Namun saat mereka keluar dari laut, berarti harus menjadi bagian dari orang darat yang di mata mereka jahat. Laut yang ganas bagi kaum pincalang tak ubahnya ibu yang tidak saja memberi berkah tapi juga melindungi mereka dari perangai buruk orang-orang darat. Orang-orang pincalang menganggap bahwa semua orang-orang yang tinggal di darat adalah curang, rakus, kafir, dan segala perangai jahat lainnya. Sebab itu harus berhati-hati menghadapi orang darat, kalau perlu menghindarinya.

Namun, Amat yang ulet bekerja, rajin belajar, serta memiliki otak yang cerdas, tidak begitu saja percaya anggapan kaumnya. Ia justru tertarik meninggalkan cara hidup sebagai orang Pincalang. Ia mengirim Buyung, anaknya, ke darat untuk bersekolah di sekolah kelautan. Suatu tindakan yang tidak pernah dilakukan oleh masyarakat pincalang. Keinginannya meninggalkan cara hidup orang pincalang ditegaskan lagi dengan membeli rumah, tanah, dan membesarkan usaha di darat. Di titik inilah paradoks makin menguat.

Seperti pada karya-karya Idris sebelumnya, ia mengamalkan cara bertutur dengan kalimat-kalimat deskriptif dan beraroma reportatif. Seperti pengakuannya dalam banyak kesempatan, Idris secara sadar sangat menghindari bahasa-bahasa simbolis. Tapi, lepas dari pilihan tersebut, Idris terasa sangat menyetir tokoh-tokohnya. Mereka direduksi menjadi sekadar alat-alat untuk menyampaikan gagasan dan perspektifnya sebagai orang darat memotret orang laut dari jarak jauh. Akibatnya kompleksitas persoalan orang laut diungkapkan kurang menghunjam dan terjadi simplifikasi-simplifikasi dalam kalimat-kalimat verbal. Terlihat dari lemahnya penggambaran karakter tokoh-tokohnya.

DATA BUKU

Judul : Pincalang
Penulis : Idris Pasaribu
Penerbit : Salsabila Pustaka Al Kautsar
Cetakan : I, April 2012
Tebal : 256 halaman

Comments