Biduan Desa

Sebagai biduan, tak ada yang bisa menandingi kehebatan Asnah saat dia menyanyi di atas panggung organ tunggal. Dia tidak memiliki suara dan gaya khas yang mestinya dimiliki seorang biduan sohor. Tapi justru itulah kehebatan Asnah dibanding biduan organ tunggal mana pun di dunia. Karena Asnah mampu menyanyi dengan suara dan gaya yang sangat persis penyanyi aslinya.

Jika ia menyanyikan lagu milik Elvy Sukaesih, maka seakan Ratu Dangdut itulah yang tengah menyanyi di panggung lengkap dengan gaya kerlingan mata, desahan manja, dan getaran bahunya. Demikian pula saat Asnah melantunkan lagu milik Rita Sugiarto, Nur Halimah, atau pun Ikke Nurjanah. Asnah seolah menjelma jadi biduan dangdut kesayangannya itu dengan sempurna.

Tak heran kehadiran Asnah selalu dinantikan di desa mana pun dia manggung. Dan siapa saja akan dengan sukarela memberi saweran seperti ingin memperoleh pahala. Ini tentu saja membuat rombongan musik organ tunggal untung besar. Padahal wajah maupun bentuk tubuh Asnah biasa-biasa saja seperti biduan desa kebanyakan yang kalau dandan noraknya bukan kepalang. Bahkan, kalau mau dibanding-bandingkan, banyak biduan desa yang lebih cantik dan seksi ketimbang Asnah.

Alhasil, Asnah menjadi biduan yang paling diperebutkan banyak rombongan musik organ tunggal. Tapi ini tidak membuat Asnah jadi besar kepala. Seakan tak mau mengecewakan mereka, Asnah selalu berusaha keras membagi waktunya memenuhi tawaran manggung dari sekian rombongan musik organ tunggal. Ia tak pernah terlihat lelah apalagi sakit. Vitalitas tubuh dan suaranya tetap terjaga saat beraksi di panggung. Namun justru hal ini pernah memunculkan selentingan bahwa Asnah mempunyai susuk pengasihan dan bersekutu dengan setan. Apalagi ibu Asnah seorang dukun, sekalipun hanya dukun bayi.

“Waktu ia menyanyi, sesungguhnya jin yang berada di dalam tubuh Asnah.”

“Itu sebabnya Asnah bisa hadir menyanyi di dua sampai tiga desa berbeda pada waktu bersamaan.”

“Coba kalian ingat, Asnah tidak mau manggung setiap malam Jumat Kliwon. Itu karena pada malam Jumat Kliwon Asnah khusus menyanyi untuk setan sesembahannya.”

Selentingan-selentingan semacam itu pastilah berhembus dari dari mulut orang-orang usil lagi berhati dengki. Toh orang-orang tak peduli. Bagi mereka Asnah adalah malaikat yang mampu melepaskan diri mereka sejenak dari kehidupan yang membosankan dan nyaris tak ada gunanya.

Memang sulit—terutama ibu-ibu— untuk tidak merasa iri kepada Asnah. Berkat  kebiduanannya Asnah tidak saja membuat suami-suami mereka tergoda dan menjadikan Asnah sebagai model perempuan yang sempurna, tapi Asnah juga mampu menyejahterakan hidup keluarga. Membelikan ibunya perhiasan emas, membiayai sekolah keponakan-keponakannya. Maka tak sedikit yang gembira ketika Asnah dilabrak istri Pak Lurah yang sakit hati lantaran suaminya lebih rela datang dan nyawer Asnah di panggung acara hajatan ketimbang menunggui anak mereka yang sedang sakit.

Tanpa basa basi didobraknya pintu rumah Asnah. Begitu Asnah muncul dari kamarnya, langsung diterkam. Dijambaknya rambut biduan dusun itu disertai semburan caci maki yang bukan main kurang ajarnya.

“Dasar sundal busuk.!” seru istri Pak Lurah histeris, seperti jagoan kalah tanding dan putus asa, “jangan harap kamu bisa merebut suamiku hah!”

Sambil menangis orang tua Asnah yang tubuhnya telah bongkok lantaran usia lanjut mencoba membela anaknya yang dianiaya di depan mata. Para tetangga yang mendengar keributan itu segera datang untuk melerai atau pura-pura melerai. Kau tahu, bagi sebagian orang pertengkaran seringkali jadi tontonan yang mengasyikkan.

Sejak kejadian itu, Asnah menangis seharian di dalam kamarnya, mengurung diri, tak mau ditemui siapa pun. Ia jadi makin pendiam. Naga-naganya jiwanya terguncang. Ia tak mau manggung lagi. Berminggu-minggu. Entah pada minggu ke berapa, kepala rombongan organ tunggal datang menjenguk seperti pahlawan yang hendak menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Menghibur lagi membujuk dengan ketekunan yang luar biasa.

“Kamu tidak salah, Asnah,” kata kepala rombongan musik organ tunggal, mirip ustad yang membesarkan hati jemaat pengajiannya, “tidak usah takut. Merekalah yang salah,” ujar kepala rombongan musik organ tunggal bertubuh ceking berambut gondrong dicat pirang dan berpakaian kedodoran itu.

Berkat bujukan kepala rombongan musik organ tunggal yang tak kenal lelah, sedikit demi sedikit Asnah kembali bangkit. Menganggap kejadian itu sebagai hal biasa yang harus dihadapi dengan wajar pula. Ditambah pula kerinduannya dielu-elukan saat berdiri di atas panggung, serta ingin memenuhi kembali panggilan takdirnya sebagai biduan yang menghibur banyak orang.  

Asnah pun berkibar lagi. Namun kebencian orang-orang berhati dengki pun berkobar kembali. Suatu malam sepulang manggung dari desa seberang, istri juragan beras ditemani sejumlah tukang pukul dan lelaki bersorban datang menuduh Asnah menyembunyikan suaminya. Sambil berkacak pinggang, perempuan itu menuding-nuding muka Asnah dengan sengit.

“Awas kamu, Asnah, ketahuan merayu suamiku, aku bakar rumahmu!”

Pada kesempatan yang lain lagi, rumah Asnah digeruduk sekelompok ibu-ibu yang marah dibakar cemburu gara-gara suami dan anak-anak lelaki mereka tidak betah di rumah. Mereka melempari rumah Asnah dengan segala macam batu, bahan kotoran. Peristiwa inilah yang menyebabkan Asnah kembali runtuh. Ia lantas benar-benar berhenti jadi biduan. Bahkan Asnah kemudian pindah dari desanya. Meninggalkan orang tuanya, kemudian hidup menyembunyikan diri di desa ini.

“Aku bukan biduan, aku juga bukan sinden. Aku hanya penjual kue keliling,” kata Asnah kepada orang-orang yang usil bertanya.

“Tapi selentingan tentang susuk pengasihan dan persekutuannya dengan setan, sampai sekarang tak ada yang bisa membuktikan,” kata seseorang kepada Blarat, penggemar lagu-lagu dangdut yang baru datang di desa ini. Blarat begitu penasaran dengan bekas biduan yang kini berjualan kue dari rumah ke rumah.

Sayangnya Blarat tak punya nyali untuk bahkan sekadar berkenalan dengan Asnah. Saban Blarat memanggil Asnah untuk pura-pura membeli kue, Blarat tak berani menatap mata perempuan itu. Selain menyebutkan kue yang dibelinya, lidah Blarat seakan terbelit akar beringin yang tumbuh di depan balai desa. Sehingga kata-kata yang telah disiapkan hanya menggumpal di tenggorokan. Blarat cuma bisa memandang punggung Asnah yang berjalan menjauh sampai lenyap di tikungan. Dengan lesu Blarat masuk kembali ke rumah. Melahap kue yang dibelinya sambil membayangkan melahap bibir Asnah.

Desa ini hanya ratusan kilometer jaraknya dari Jakarta. Namun riuh rendah pembangunan ibukota yang gemerlap seperti tak sampai kemari. Kondisinya bahkan tak lebih baik dari daerah transmigrasi di Sumatra. Jangan tanya berapa banyak lubang yang membentuk kubangan di jalan saat hujan sebentar sekalipun. Namun tak ada tanda tanda bakal diperbaiki pemerintah daerah setempat. Listrik baru beberapa bulan belakangan masuk dengan pelayanan yang buruk. Baru tiga bulan Blarat tinggal di desa yang terletak di sepanjang pantai berpasir putih ini, mengabdi sebagai guru bantu yang gajinya bikin kau mengelus dada.

Rumah-rumah penduduk sebagian besar terbuat dari anyaman bambu, dengan halaman yang luas dan ditumbuhi pohon mangga atau jambu air serta rumput alang-alang. Selain dari siaran televisi, orang-orang hanya dapat menikmati hiburan panggung organ tunggal yang ditanggap warga pada musim hajatan. Biasanya jatuh pada bulan Ruwah. Berbulan-bulan Blarat mengumpulkan keberanian untuk datang ke rumah Asnah dan melamar bekas biduan itu.

**

Malam terang bulan ketika Blarat sampai di undakan pertama rumah Asnah. Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara biduan menyanyi dari panggung organ tunggal yang ditanggap orang hajatan. Tiba-tiba terdengar suara dua pasang langkah kaki dari dalam rumah itu. Siapakah pemilik sepasang kaki itu? Batin Blarat. Ditajamkannya kuping Blarat dengan perasaan berdebar cemas tak keruan, tapi tak terdengar percakapan apa pun. Blarat tertegun beberapa lama dengan pikiran dipenuhi pertanyaan yang membuat Blarat tertimbun galau. Meski lampu di ruang tamu itu menyala terang, namun lantaran gorden yang berwarna gelap, mata Blarat tak mampu bahkan untuk menangkap bayangan orang di dalam.

Sudah berapa bulankah Blarat menanti saat terbaik ini? Blarat enggan menghitungnya. Yang terang Blarat telah menyiapkan setumpuk basa basi, berlembar-lembar bahan percakapan, dan terutama segumpal keberanian untuk sampai di waktu yang telah dihitung secara cermat ini. Mendadak hati Blarat ciut. Haruskah aku berbalik, lalu membatalkan semua rencana yang telah disusun dengan begitu baik? Blarat bergumam, gelisah. Jalan di depan sana terlihat remang dan sunyi. Cahaya bulan jatuh di atas daun- daun dan ilalang. Perlahan-lahan keraguan menyemak dalam benak Blarat. Ia meneguk ludah yang terasa kental dan pahit.
Blarat tercenung.

Beberapa jam sebelum sampai di pagar pekarangan rumah Asnah, hampir satu jam Blarat mematut matut diri di depan cermin. Melihat berbagai ekspresi wajah sendiri dari berbagai sisi. Memastikan bahwa semua terlihat pantas dan enak ditatap. Blarat telah mengenakan pakaian terbaik, kaus berkerah dan bercorak batik Mega Mendung yang dia beli beberapa bulan lalu di pasar yang jauhnya puluhan kilo dari desa ini. Blarat juga telah menghapal sejumlah kalimat sebagai pembuka maupun memilih kata-kata untuk memulai menyampaikan tujuan utama bertandang ini malam. Blarat bahkan telah mengabaikan kegemarannya menonton pertunjukan organ tunggal.

Mula-mula Blarat akan memperkenalkan diri. Menceritakan secara garis besar asal-usulnya yang biasa-biasa saja. Setelah itu barulah ia akan  mengutarakan maksud kedatangannya untuk melamar Asnah. Blarat yakin dengan segenap kesungguhan yang dimilikinya dia akan mampu meruntuhkan hati Asnah untuk menerima lamarannya.

Inilah kalimat yang telah Blarat susun dan hapalkan berminggu-minggu, “Hatiku telah mantap ingin menjadikanmu istriku, Asnah. Kita ditakdirkan untuk bersanding sebagai sepasang pengantin. Kita akan hidup bersama untuk saling mengisi dan mencintai sepenuh hati.”

Tapi Blarat tak menyiapkan apa pun untuk menghadapi orang selain Asnah di rumahnya ini. Siapa pun dia. Apalagi jika orang lain itu suami atau kekasih Asnah. Ah, kenapa semua tiba-tiba menjadi runyam dan di luar perkiraan, itulah gerundelan yang membuat Blarat jengkel sendiri. Apakah Asnah telah memiliki seorang kekasih atau malah diam-diam telah bersuami? Rasanya tak mungkin, Blarat menyangkal pikirannya sendiri.

Selama dua bulan secara diam diam Blarat mengamati Asnah. Dan Blarat merasa apa yang dikatakan orang-orang benar belaka. Asnah tinggal seorang diri di rumah tua berdinding gebyok yang dibelinya dari seorang penduduk dari hasil keandalannya menyanyi. Asnah selalu terlihat sendiri saat bepergian ke mana pun. Lantas milik siapa suara langkah kaki yang Blarat dengar tadi?

Blarat hendak berbalik ketika didengarnya suara pintu dibuka dari dalam.  Diangkatnya wajah Blarat dan dipandangnya siapa yang membuka pintu. Seorang perempuan berdiri diambang pintu, menatap dan memanggil namanya.   

“Kamukah itu Blarat? Masuklah, kami sudah lama menunggu kamu.”

Blarat terpana, ia seolah tak mempercayai pendengarannya. Lantas terdengar lagi perempuan itu memanggilnya dari ambang pintu.

“Masuklah, Blarat. Aku sudah menyiapkan teh hangat. Saya ibunya Asnah, dia ada di dalam,”

“Menungguku, benarkah?” Gugup Blarat menaiki undakan menuju pintu.

“Duduklah,” kata ibu Asnah. Ternyata dia tidak bongkok.  

Blarat duduk di kursi kayu dengan meja kotak persegi di depannya. Di pojok ada bufet kecil  tempat menaruh piring dan cangkir. Di atas terlihat foto Asnah. Di pojok yang lain terlihat dipan yang bagian atasnya dselubungi kelambu. Di sana terbaring Asnah.

“Asnah sudah tidur, bu? Apa dia sedang sakit?”

“Tidak, Blarat. Dia sedang menyanyi ditanggap orang hajatan di desa yang jauh. Kalau sudah selesai menyanyi, akan dia bangun.”

Gondangdia 11 Juli 2012 


juga disiarkan Tribun Jabar, Minggu 4 November 2012

Comments