Bintan, Bintan, di Mana Hati yang Rawan Kau Sembunyikan


sebuah pantai di Lagoi, Bintan, Senin (5/11/2012).
Jika kamu mengunjungi Lagoi walau hanya beberapa jam saja, percayalah, perasaanmu akan begitu terusik. Kawasan ini sungguh permai. Bukan hanya rangkaian pantainya yang menghamparkan pasir putih lembut dengan deretan pohon-pohon kelapa yang tinggi dan ramping, tapi juga kawasan hutannya yang rindang dan tertata rapi. Inilah sebuah kawasan wisata terpadu eksklusif yang terletak di Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Kawasan ini memiliki luas sekitar 23.000 Ha, diresmikan 18 Juni 1996 oleh mendiang Presiden Soeharto bersama Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong. Yap, kawasan ini memang disewakan dengan  kontrak selama 70 tahun kepada Singapura.  Berdasarkan situs bintantourism.com, saat ini sekurangnya ada sekitar sembilan resort di kawasan wisata Lagoi, yaitu Nirwana Resort Hotel, Indra Maya Villa, Mayang Sari, Banyu Biru, Nirwana Beach Club, Banyan Tree, Angsana, Club Med dan Bintan Lagoon.

Tapi bukan ini benar yang mengusik perasaan saya. Sejak dari pintu gerbang memasuki kawasan ini, saya langsung merasakan atmosfer Singapura yang begitu nyata: tertib, bersih, dan serba tertata. Bukan hanya pohon-pohon dan jenis yang dipilih dan ditanam sepanjang jalan, tapi juga pemeliharannya. Berbeda sekali dengan kondisi wilayah yang berada dalam kelolaan Pemkab Bintan.

“Kalau dikelola pemkab, hutannya mungkin sudah rusak, Mas,” ujar orang lokal yang mengawani saya dalam perjalanan kali ini. Dia bercerita, suatu hari ada orang menyetir mobil dalam keadaan mabuk, dia menabrak pohon di sisi jalan hingga tumbang. Mobilnya ringsek, si pengendara tewas. Pengelola kawasan ini tidak mau tahu, mereka tetap menuntut keluarga si penabrak pohon harus mengganti sebesar Rp10 juta atas sebatang pohon yang tumbang ditabrak!   

Ada dua hal yang membuat perasaanmu mendadak rawan. Pertama, betapa seriusnya Singapura mengelola lingkungan dan kekayaan hutan yang berada di kawasan yang disewanya; kedua betapa bodohnya bangsa ini menyewakan lahan yang demikian kaya dan strategis kepada Singapura.  Tapi ini memang dilematis.  Dalam perkara bisnis, menyewakan wilayah kepada pihak asing sah sah saja, (hal ini konon diatur dalam undang-undang) sejauh masyarakat setempat tetap dapat menikmati manfaat hutan di sana.  Kenyataannya,  kita seperti tamu di negeri sendiri. Di sebuah kawasan lain yang disewa asing, sejumlah nelayan kita dilarang menangkap ikan di perairan yang disewa asing itu.

Idealnya memang, seluruh wilayah kedaulatan bangsa ini dikelola oleh pemda setempat. Namun kita juga tahu betapa pemda kita, apa boleh buat, tidak mampu mengelola kawasanya sendiri dengan baik, yakni memanfaatkan seluruh kekayaan wilayahnya untuk kemakmuran masyarakat sambil merawatnya.  

Atmosfer negeri tetangga bahkan sudah saya rasakan begitu mendarat di bandar udara Hang Nadim, Batam.  Sopir taksi yang mengantar saya ke hotel Planet Holiday, berbicara dalam dialek Malaysia. Dia menawari saya untuk menyeberang ke Singapura. “Kalau Sabtu Minggu banyak orang Indonesia yang jalan jalan ke sana, belanja. Murah-murah,” dia bilang. Saat saya menyetel televisi di kamar hotel, siaran TV3 Malaysia tertangkap dengan gambar yang jernih. 

Warga lokal lainnya yang saya temui di Tanjung Pinang, bercerita, dia dan hampir semua kerabatnya di Batam ini kalau sakit, lebih memilih berobat di Singapura atau Malaysia. Selain biayanya murah,  pelayanannya sangat profesional. Hal ini sebenarnya yang sangat penting. Ibaratnya, harga mahal pun kalau masakannya enak, kau akan mencarinya ke mana pun.

“Biaya pemeriksaan atau kalau harus operasi, lengkap dengan harga obat dari yang mahal sampai yang murah dipaparkan dengan transparan,” kata dia. Wilayah Indonesia yang sangat luas memang berpengaruh pada pelayanan kesehatan yang layak. Daya jangkau yang terbatas, misalnya. Tapi masalah sebenarnya adalah pada mental. Bangsa ini tak pernah punya mental untuk bekerja secara profesional demi kebaikan masyarakatnya.

Ini tercermin jelas dalam sikap dan cara pandang umumnya pejabat negeri terhadap makna jabatan. Beberapa bulan lalu Gubernur Kepulauan Riau Drs Muhammad Sani mengangkat bekas terpidana korupsi alih fungsi hutan lindung Bintan, Azirwan, sebagai Keala Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Riau-- atas desakan publik Azirwan akhirnya memang mundur. Jelas contoh yang sangat telanjang tentang mental busuk pemimpin bangsa ini.
  
Baiklah, rasanya cukup sudah saya membicarakan perihal kebusukan. Sekarang mari ikuti sisa perjalanan saya yang sangat singkat di Kepulauan Riau. Saya mampir ke Lagoi setelah beres dengan tugas pokok di Pangkalan Kapal PT Palindo Marine, Batam. Saya menyeberang ke sana melalui pelabuhan Telaga Punggur. Sekitar 45 menit saya terayun ayun bersama speed boat yang membelah perairan Kepulauan Riau, yang mengingatkan saya pada perairan Kepulauan Seribu, Jakarta. Kedua wilayah ini memang memiliki kemiripan; terdiri dari banyak pulau yang menyimpan sejuta kejutan.             

Tanjung Pinang, ibukota Kepulauan Riau, sangat panas di siang hari. Untunglah angin dan permainya sekujur Bintan  sejauh mata memandang membuat ingatan saya tentang panas, menguap. Saya masuk ke kedai nasi di antara permukiman penduduk yang berdiri di atas pantai. Kawan Bintan saya memesan gonggong sebagai makanan pembuka. Gonggong ini jenis kerang yang cangkangnya mengkilap yang biasa kamu temui sebagai hiasan di akuarium-akuarium. Cara makannya tentu saja kamu harus menarik dagingnya terlebih dulu dari cangkangnya yang keras itu. Lantas celupkan ke dalam sambal sebelum disantap. Jika tidak ingat makanan ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, kamu akan susah berhenti menggayangnya sebelum muntah. Tenang, jus buah naga yang warnanya merah membara itu, kata kawan saya, dapat berfungsi sebagai penawar. Hmm...

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka