Dua Butir Peluru untuk Shakira

juga disiarkan bunga rampai Ibu Kota Keberaksaraan 2011

Suara tangis dan bunyi kelotak hak sepatu beradu lantai terdengar jelas di telingamu. Bahkan gulir air mata mereka dapat kamu tandai seperti kamu menandai guliran anggur ke dalam gelas berkaki panjang. Mereka adalah kawan-kawanmu. Ada dua orang berseragam polisi juga di sana, berjalan tergopoh mengiringi jasadmu yang didorong lekas ke kamar mayat.

Tapi kamu tidak sempat memperhatikan air mata mereka mengelupas bedak tebal di wajah yang sesungguhnya kasar seperti ruas jalan berbatu. Juga bulu-bulu mata palsu yang copot, terempas ke lantai dingin oleh derasnya air mata yang mengucur. Lorong rumah sakit yang muram dan sunyi.

“Shakiraaa,” jeritan itu menyentakmu. Milik seorang kawanmu yang muncul dari ujung lorong. Berlari dengan payah mengejar kereta jenazah, menubrukmu, menyingkap kain yang menutup wajah bekumu yang terlihat memucat. Ketika melihat dua lubang bekas peluru di leher dan dadamu, dia menjerit lagi, kemudian pingsan. Kawan-kawanmu yang lain masih sibuk bertangisan terpaksa segera membopong tubuhnya ke bangku panjang dekat tikungan. Kamu ingin menenangkannya seperti yang sudah-sudah. Tapi kamu kini tahu semua habis sudah.

Pet!

Anastasia memejam. Dilemparnya remote control ke lantai berkarpet merah hati, lantas menghempaskan kepalanya ke bantal motif kembang-kembang merah jambu. Hampir tengah hari, tetapi dia enggan meninggalkan tempat tidur. Semangatnya untuk segera bangun, mandi, dan sarapan seperti biasa, tanggal entah ke mana. Perutnya yang melilit minta diisi pun ia abaikan. Perasaan gerowong membuat ia hanya mampu bangkit dan duduk di tepi pembaringan. Menyeduh kopi sachet dengan air dari teko elektrik di sisi tempat tidur. Desis suara pendingin ruangan membuat perasaannnya makin lengang seperti mulut gua di pegunungan yang sunyi, kelam. Ya Tuhan, apa sebenarnya yang sedang terjadi pada diriku, desisnya, putus asa. Disambarnya rokok meski ia tahu menghisap asap tembakau kali ini tak akan mampu menawar kecamuk perasaannya.

Pesawat televisi di sudut kamar tiba-tiba melesakkan kecemasan ke dalam benaknya. Anastasia tak ingin menyaksikan siaran berita itu. Tak ingin membikin hatinya makin diremat kepedihan, rasa salah yang mungkin ia sendiri tak dapat memaafkan. Bagaimana mungkin aku telah tega menjadi penyebab matinya Shakira? Ia menurunkan suhu pendingin udara. Di luar pastilah sangat panas. Matahari yang membias di kerai jendela mengabarkan dengan sangat jelas. Ia merasakan perutnya tiba-tiba mulas tak keruan.

Anastasia menyentuhkan mulut cangkir ke bibirnya, menggelincirkan beberapa tetes kopi coklat ke tenggorokannya. Ia melakukannya beberapa kali secara perlahan-lahan sambil membayangkan orang-orang di bawah sana, di permukiman padat beberapa meter dari apartemen ini, pastilah tengah ramai membicarakan seorang waria yang mati ditembak pukul tiga pagi tadi.

Demi Tuhan, Anastasia tak ingin mendengar secara langsung orang-orang membicarakan bagaimana pada pukul dua dini hari tadi dua orang lelaki yang turun dari taksi menyisir lokasi para waria mangkal. Menepis rayuan genit para waria yang atraktif luar biasa. Tapi dua lelaki berperawakan tegap itu tak menggubris, dengan lihai berkelit serta menepis colekan dan rabaan. Dua lelaki dengan tatapan dingin dan melecehkan itu memang hanya mencari yang bernama Shakira.

Tidak terlalu sulit menemukan Shakira, ia terkenal di kompleks itu bukan karena paling cantik tapi juga diangggap sebagai pemimpin yang aktif mengorganisir para waria di sana. Kedua laki-laki itu melihatnya tengah duduk-duduk santai sambil berbincang cekikikan di warung kopi. Mereka menariknya keluar, membawanya ke tepi sungai yang remang-remang. Pura-pura bertanya tentang tarif dan menawarnya dengan harga sangat menghina. Kontan Shakira menolak, tapi mereka memaksa dengan cara kasar sekali. Shakira sempat berteriak ketika melihat salah seorang lelaki itu mencabut pistol dari balik pinggangnya, lantas menembaknya dua kali dari jarak dekat. Dua butir peluru merobek leher dan dadanya, tembus ke punggung dan tengkuk. Shakira terkapar, ia hanya sempat mengerang sesaat sebelum tak bergerak selamanya. Seketika terdengar teriakan panik warga kompleks yang melihat kejadian tersebut. Dalam sekejap suasana penuh cekikikan campur celetukan cabul berubah jadi mencekam. Dua lelaki pelaku penembakan kabur tak terkejar. Tinggalah mayat Shakira yang bersimbah darah.

Anastasia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah adegan itu terjadi di depan matanya. Lalu ia mengerang seperti ingin mewakili Shakira menahan rasa sakit ditembus timah panas. Butiran air bergulir dari celah jemarinya.

Sebentar lagi mayat Shakira tentulah segera dikuburkan oleh kawan-kawannya. Tak akan ada keluarganya yang bakal menjemput dan menguburkan mayat Shakira di kota kelahirannya. Anastasia tahu betul, karena ia berasal dari kota yang sama. Bahkan Shakira adalah cintanya sejak remaja, ketika mereka bertemu sebagai sesama santri di pesantren, sebelum kabur ke Jakarta. Shakira, sebagaimana dirinya, telah dibuang dan anggap tak pernah ada oleh keluarganya.

Melalui remote control suhu pendingin udara ia setting di angka 5 derajat celcius. Bulu-bulunya terasa meremang. Namun gelisah yang mengepung perasaanya makin tak mampu diredam. Anastasia merasakan pori-pori kulitnya membesar menyerap seluruh udara ac, membuat badannya menggigil menahan dingin. Ia duduk meletakkan kepalanya di antara dua lutut yang ditekuk. Seperti membuat pertahanan dari peristiwa-peristiwa masa lalu yang deras menyerbu kepalanya.

ORANG tuanya memberi ia nama Syukron. Dalam bahasa Arab bermakna terima kasih atau pujian. Tapi bagi dia nama tersebut terlalu kampungan, sama sekali tak enak terdengar di telinga. Ia ingin mengubahnya jadi Shakira, bentuk berbeda dari makna yang sama. Nama Shakira ia perkenalkan pertama kali kepada Anastasia, suatu malam. Waktu itu nama Anastasia pun baru diproklamirkan. Semula ia Nasrullah, yang bermakna pertolongan Allah.

“Nama yang bagus,” kata Anastasia, “kamu memang mirip penyanyi berdarah Lebanon itu.”

“Tapi aku tidak bisa pake nama ini kalau kita masih terus di sini,” kata Shakira.

“Kamu mau ke mana, Shakira?”

“Pergi.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja, asal tidak sini. Bisa-bisa aku mati beku kalau terus dikerangkeng di sini.”

“Aku ikut, Shakira. Kamu benar, kita memang harus segera meninggalkan tempat ini.”

Mereka kabur dari pesantren saat azan subuh hampir berkumandang. Begitu saja keduanya menyetop bis jurusan Jakarta. Mereka berjanji untuk tak saling meninggalkan satu sama lain apa pun yang terjadi. Mula-mula mereka menyewa kamar di bilangan Kramat Raya. Untuk mendapatkan uang pada siang hari mereka ngamen. Malam harinya kelayapan di lapangan Banteng. Beberapa kali saudara dan orang tuanya menjemput dan membawanya pulang ke rumah mereka. Namun beberapa kali pula Shakira kabur dan kembali ke Jakarta. Sampai orang tuanya frustrasi, dan tak pernah lagi mencarinya. Namun demi menghindari kejaran keluarganya, di Jakarta Shakira tinggal berpindah-pindah.

Hubungan Anastasia dan Shakira mulai renggang sejak Anastasia memperoleh pekerjaan sebagai tukang make up artis di sebuah rumah produksi. Apalagi sejak ia tinggal di apartemen murah seberang permukiman padat di mana ia dan Shakira sebelumnya menyewa kamar sempit. Mereka hanya bertemu seminggu sekali, itu pun acap diwarnai pertengkaran, saling menuduh telah mengkhianati janji setia. Anastasia meminta Shakira tidak ngelayap lagi kalau malam. Menjauhi aktivis LSM yang menurutnya hanya memperalat kaum waria.

“Mereka hanya memperalat kalian untuk mendapatkan uang,” kata Anastasia, kesal. “Untuk sementara aku yang akan menanggung hidup kamu, memenuhi kebutuhan. Nanti aku carikan kerja. Kalau kamu mau pasti kamu diterima jadi asisten tukang make up,” bujuk Anastasia. Tapi Shakira menampik. Ia memilih tetap mangkal di Taman Lawang sambil makin akrab bergaul dengan aktivis LSM. Bagi Anastasia ini masih bisa ditolelir, namun ketika Shakira mulai terlibat hubungan asmara dengan salah seorang aktivis LSM, Anastasia tak bisa lagi menahan kemarahannya.

“Kamu pengkhianat, Shakira. Mulai sekarang kita putus saja. Jangan pernah hubungi aku lagi” kata Anastasia, bermaksud mengancam. Tanpa diduga Shakira justru menginginkan hubungan mereka benar-benar bubar.

“Pergilah kamu, Nas. Jangan pikirkan aku lagi,” kata Shakira membuat Anastasia syok dan patah hati. Sambil menangis ia berusaha membujuk Shakira untuk mencabut kata-katanya. Anastasia tak habis pikir bagaimana Shakira bersikap seperti itu. Ia jadi benci tapi tetap bahkan makin mencintai Shakira.
“Shakira, please, kita tidak boleh berpisah.”

ANASTASIA ingin melihat untuk terakhir kali paras Shakira, kalau sempat sekalian membisikkan maaf di telinganya. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong rumah sakit. Ia membungkus tubuhnya dengan baju serba hitam. Mengenakan penutup kepala dan kacamata, yang juga hitam. Ia berjalan dengan pandangan lurus ke ruang jenazah. Dari jarak beberapa meter di depan pintu ruang jenazah dia melihat beberapa orang kawan Shakira yang dua di antaranya sangat ia kenal. Ia menyurutkan langkah, membalikkan badan, lantas berjalan menjauh.

Sungguh Anastasia tak bernyali bertatapan dengan sorot mata penuh kehilangan yang akan berubah menjadi penuh curiga. Semua kawan-kawan Shakira tahu kisah cinta mereka, hingga pertengkaran besar yang pernah terjadi antara Anastasia dan Shakira tempo hari. Pertengkaran yang berujung perseteruan yang mengakhiri hubungan kasih membara keduanya.

Anastasia tidak bisa bersandiwara. Ia memutuskan segera menyingkir sebelum ada yang mengenalinya. Ia tak ingin mereka mengaitkannya dengan pelaku pembunuhan. Ia takut mereka tahu apa yang ia lakukan sebelum malam penembakan itu.

SEBELUM malam tragedi itu, Anastasia ditelepon seseorang yang minta bertemu. Mereka adalah dua orang yang pernah menemuinya saat Anastasia pulang ke kota kelahirannya. Rupanya mereka berdua. Dalam pertemuan singkat itu mereka meminta informasi tentang keberadaan Shakira. Beberapa detik setelah kedua lelaki itu berlalu dari hadapannya sesudah mendapat informasi yang diinginkan, Anastasia berharap Shakira tidak ada di sana. Berdoa semoga ada rencana mendadak yang membuatnya berada di sebuah tempat tersembunyi, di luar kota kek, di markas para aktivis pembela kaum minoritas seksual kek (bukankah belakang Shakira aktif di LSM itu), atau di mana pun asal jangan di warung kopi itu. Bahkan Anastasia kemudian mencoba menghubungi Shakira supaya segera meninggalkan tempat itu, pergi sejauh-jauhnya, supaya nyawanya selamat. Sesakit apa pun perasaannya lantaran Shakira pernah mengkhianti cintanya, Anastasia tak rela Shakira mati dibunuh dua laki-laki itu. Mati tembak adalah balasan yang terlalu kejam buat Shakira. Namun ponsel Shakira tidak aktif. Ia memang gemar sekali gonta ganti nomor. Kini semuanya telah terjadi, desahnya, penyesalan tak akan mengubah apa-apa.

Desahan Anastasia terdengar berat sekali. Seandainya kemarin ia tidak pulang ke kota kelahirannya, sebuah kota kabupaten yang terbentang di jalur Pantura, Jawa Barat, tentulah tak akan bertemu dengan kedua lelaki yang mengaku tim sukses calon bupati itu, sehingga kejadiannya tidak akan seperti ini. Para polisi tidak akan pernah bersungguh-sungguh memburu kedua lelaki pembunuh itu. Apalagi menangkap dan menghukum keduanya secara setimpal. Bagi polisi, barangkali waria memang pantas dibunuh.

DI RUMAHNYA yang megah dan selalu ramai orang, seorang calon bupati mencampakkan koran yang memuat berita terbunuhnya seorang waria. Parasnya tampak menegang. Di sampingnya, seorang perempuan menangis tersedu-sedu.

“Aku tak mau dipermalukan dan gagal jadi bupati gara-gara dia,” ujarnya pelan.

Pondok Pinang 20 September 2011.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka