Orkes Simfoni, Wayang Makutharama, dan Organ Tunggal



konser Wayang in Symphony, Teater Taman Ismail Marzuki, Sabtu (24/11/2012)

Orkes simfoni merupakan kebudayaan musik Barat. Namun, tidak seperti musik Barat yang lain, orkes simfoni seakan menempati  ruang istimewa. Ini mungkin karena persoalan teknis yang terkait dengan jumlah personil dan perangkat musik untuk memainkannya.  Mementaskan orkes simfoni sekurangnya diperlukan lebih dari 50 orang dengan lima jenis alat musik berbeda: biola (ini yang terbanyak, hingga 29), cello, bass, flute, oboe, clarinet, fagot, trumpet, trombone, french horn, timpani dan perkusi, kendang, dan harpa.

Dari jumlah personil dan alat musiknya, pertunjukan musik orkes simfoni jelas spektakuler, tapi sekaligus jadi tidak populer, setidaknya jika dibanding jenis regae dan jazz. Saya jelas bukan penggemar orkes simfoni, meski bukan berarti tidak bisa menikmati musik ini. Saya bukan penggemar fanatik salah satu jenis musik. Jenis musik apa pun saya suka, mulai nasyid, dangdut, jazz, rock, dan tentu saja musik-musik tradisional. Saya punya kaset album Cinta Rasul Haddad Alwi dan Sulis yang tampil dengan iringan orkes simfoni. Sampai sekarang setiap menyetelnya, saya seperti dibawa ke perhelatan agung. Musik orkes simfoni terdengar megah, seperti menyarankan kesakralan.  

Namun, kemegahan semacam itu tidak saya rasakan saat Sabtu (24/11) lalu saya menyaksikan langsung konser ‘Wayang In Symphony’  Makutharama di teater Taman Ismail Marzuki.  Padahal yang memainkannya Jakarta Symphony Orchestra, sebuah grup orkes simfoni yang memiliki sejarah panjang di Jakarta. Makutharama, Anda tahu, adalah sebuah lakon dalam dunia pewayangan. Jadi, konser ini memang menggubah musik gending wayang Jawa ke dalam musik orkes simfoni dari Barat. Hasilnya? Saya tidak bisa membedakannya dengan orkes simfoni murni. Maksudnya, orkes simfoni yang bukan gubahan dari musik lain. Penilaian saya hanya berdasar intuisi lantaran saya tidak pernah menyaksikan konser orkes simfoni sebelum ini.

Eka Budianta (dia datang bersama putrinya) yang duduk di sebelah saya terlihat boring dan tertidur. Bule-bule, kebanyakan penonton yang datang malam itu, memang terlihat bersemangat. Mereka memberikan aplaus panjang sekali saat akhir pertunjukan. Sebenarnya pertunjukan ini tidak bikin boring boring banget. Saya masih bisa menikmatinya dengan cara terpejam dan menengadahkan kepala di sandaran kursi. Kehadiran Jose Rizal Manua sebagai pembaca sajak pada setiap jeda juga memberi sentuhan dramatik yang bisa dinikmati.

Namun semua itu tak bisa melupakan kenyataan betapa saya merasa terkecoh (mungkin juga banyak penonton lain).  Ketika diundang menghadiri pengumuman pementasan beberapa minggu sebelumnya di Yayasan Lontar, sampai saya keluar dari kamar saya, berangkat untuk menyaksikan konser ini, saya membayangkan akan ada pergelaran wayang diringi musik simfoni.

Sosok wayang memang ada, bahkan dengan beberapa gunungan, tapi hanya berupa silhuet yang sayup-sayup dari balik layar. Demikian juga sinden, namun mereka tak lebih seperti tempelan di muka panggung, duduk menghadap penonton dengan begitu khidmat namun terlihat menyedihkan. Saya tidak terlalu akrab dengan wayang (siapa sih orang yang tinggal di Jakarta seusia saya sekarang yang akrab dengan wayang?), tapi bukan berarti saya tidak menyukainya. Waktu kecil  (mungkin  awal-awal usia belasan) saya pernah menyaksikan pertunjukan wayang golek yang ditanggap orang hajatan.  Ya, wayang golek, bukan wayang kulit. Di daerah saya, Cirebon, memang adanya wayang golek.

Sekarang, bahkan sejak belasan tahun lalu, seingat saya sudah tidak ada lagi orang hajatan nanggap wayang golek. Selain tidak praktis, anak-anak muda menganggapnya kuno. Nanggap organ tunggal jelas lebih mereka sukai. Tidak hanya praktis (karena cukup tiga orang personil plus penyanyi dengan gaun super ketat dan mini, pertunjukan bisa jalan), organ tunggal menawarkan erotisme dan kedangkalan yang memabukkan.

Comments