Magnet Singapura

Oke, semua orang kaya Indonesia pernah ke Singapura. Bahkan tidak sedikit yang bolak balik ke negara kota itu hanya untuk minum kopi. Cerita-cerita tentang ketertiban, kebersihan, keindahan, dan kepatuhan masyarakat Singapura terhadap aturan, menyembur dari mulut mereka di mana-mana sambil mengutuki prilaku barbar bangsa sendiri. Jadi, tak perlulah saya menambah panjang cerita tentang ketertiban Singapura. Selain hanya bikin frustrasi (saat membandingkannya dengan kondisi kota kota di negeri sendiri), akan terasa membosankan.

Mari kita kita lupakan frustrasi, dan hanya bicara mengenai perjalanan saya ke Singapura. Ini kali pertama saya keluar negeri. Seperti perjalanan-perjalanan keluar kota yang belakangan kerap saya lakukan, kepergian saya ke Singapura bukan atas biaya sendiri, melainkan klien perusahaan tempat saya bekerja sebagai penulis advertorial. Meski begitu saya tak pernah melewatkan setiap kunjungan ke mana pun tanpa diisi acara kelayapan memenuhi rasa penasaran seraya berlaga mencari data untuk bahan cerita.

Maka begitu sampai Grand Park City Hotel di 10 Coleman Street, tempat saya menginap, saya langsung mandi seusai makan siang untuk bersiap kelayapan menyesatkan diri ke sudut-sudut Singapura sambil menenteng kamera. Tujuan pertama adalah Merlion, sebuah ikon negeri kepala singa yang termashur itu. Seperti yang saya duga, ternyata tidak terlalu sulit menemukannya. Maklumlah, Singapura hanya kota kecil yang ke mana pun kau melangkah akan sampai kesitu situ juga, bahkan tanpa perlu menggunakan taksi atau bis wisata yang di sini disebut bas persiaran.

Saya segera membaur dengan keriuhan wisatawan lain yang datang dari seluruh penjuru bumi. Mengamati mereka sibuk mengambil foto di depan patung kepala singa yang memuntahkan air itu sambil iseng memikirkan apa sesungguhnya yang mereka bayangkan saat difoto dengan aneka macam gaya. Tepatnya, apa tujuan mereka berfoto-foto selain untuk kenangan? Mungkinkah sama dengan saya? Untuk dipamerkan kepada orang-orang supaya mereka tahu bahwa saya telah mengunjungi tempat tempat yang jauh dari tanah kelahiran, betapa mobil-nya saya.

Terus kalau mereka tahu, memangnya kenapa? Apakah seseorang yang telah mengunjungi tempat tempat yang jauh kemudian akan lebih menaikkan gengsi? Ah... Rekan yang menemani saya kelayapan tiba-tiba menarik tangan saya dan menawarkan diri untuk memotret saya seperti yang dilakukan orang-orang. Puas foto-foto saya duduk lagi dan melanjutkan mengamati mereka yang datang dan pergi membawa urusan masing-masing. Tapi belum lama duduk sepasang kekasih menghampiri saya dan meminta tolong saya memotret mereka.

Take me picture, please,” kata yang laki-laki, menyodorkan kamera poket. Permintaan seperti ini akan terus berdatangan jika saya tidak segera menjauh dari sana. Selama berdiri di sana, sekurangnya saya memotretkan dua pasangan, dua rombongan keluarga, dan seorang remaja Jerman.

Remaja Jerman ini kembali saya pergoki hari berikutnya di Bugis Street, pusat perbelanjaan menengah bawah di Singapura. Tapi saya tak sempat menegurnya. Orang Jerman lainnya yang justru menyapa saya. Namanya Elias. Dia meminta rokok kepada saya saat saya merokok di belakang halte depan Bugis Street. Kau tahu, tidak mudah menemukan tempat buat merokok di Singapura.

From Indonesia?” cetusnya ketika melihat bungkus rokok Sampoerna yang saya sodorkan. Rokok itu saya beli di Seven Eleven tak jauh dari Grand Pak City Hotel.

Ya, have you visit Indonesia?” tanya saya.

“Ya,” sahutnya dalam Indonesia. Lantas dia mengucapkan terima kasih dan berlalu.

Di Bugis Street ini saya membeli beberapa potong kaus dan cenderamata pesanan orang rumah dan teman. Sedangkan coklat dan biskuit saya beli di Mustafa, sebuah kawasan pertokoan yang dihuni komunitas India. Selebihnya saya kelayapan ke Sentosa, Universal Studio, dan Asian Civilisation Museum.

Comments