Medan dan Buku Cerpen



foto diambil dari yptravel.com

Teman saya Aishah Basar di Medan, Sumatra Utara, melalui layanan pesan singkat (short mesagge service) meminta alamat saya untuk pengiriman buku kumpulan cerpennya yang baru saja diterbitkan secara independen.  Kedatangan pesan singkat itu mendadak menyodorkan dua hal pada ingatan saya, yaitu tentang Medan dan buku kumpulan cerpen.

Dua kali saya mengunjungi Medan. Pada Kunjungan pertama saya akhir 2011, saya sempat bertemu sejumlah teman Medan. Beberapa di antaranya Idris Pasaribu, Hasan Al Banna, dan Ilham Wahyudi di Balai Budaya Medan. Idris Pasaribu, pengarang novel “Acek Botak” dan “Pincalang” itu menjemput saya di bandara Polonia dan mengajak saya berpusing-pusing kota Medan, minum bir dan makan kerang setengah matang bumbu sambal.

Esoknya Hasan Al Banna datang ke hotel tempat saya menginap. Kini giliran dia mengajak saya menyusuri pasar. Di mana-mana di Medan pasar sangat panjang dan beraspal. Tak akan kau temui para pedagang di dalamnya. Karena pasar dalam bahasa orang Medan adalah jalan raya. Sedangkan pasar sendiri disebut pajak. Menurut cerita Hasan, dalam sebuah wawancara dengan televisi Jakarta, seorang pejabat Pemkot Medan pernah salah menyebut pasar sebagai pajak, “kami akan membangun pajak-pajak tradisional....”

Hasan pula yang mengantar saya ke bandara Polonia pada hari berikutnya. Bahkan, penulis buku kumpulan cerpen “Sampan Zulaikha” ini membelikan saya bika ambon sebagai oleh-oleh. Pada kunjungan kedua di kota itu pada Juli 2012,  saya tidak dijemput siapa pun. Saya memilih naik betor (becak motor) dan keliling Kota Medan sendirian. Istana Maimon, merupakan salah satu tempat yang saya kunjungi. Bangunan yang menjadi ikon Kota Medan ini ternyata tidak semegah dalam gambar-gambar yang pernah saya lihat di kalender. Catnya kusam, rerumputan di halamannya pun tidak terawat, bahkan dijadikan arena main bola oleh anak-anak. Selebihnya saya lebih banyak berdiam di dalam hotel. Memandang Medan yang redup dari sana.  

Selama di hotel itu, ingatan pada Harta Pinem sempat terlintas pula. Dia adalah penyair Medan yang menderita gangguan penglihatan. Tubuhnya jangkung ringkih dan terlihat rapuh dengan kacamata minus sangat tebal bertengger di hidungnya. Menurut Idris, kini sama sekali sudah tidak dapat melihat. Tokoh ini pertama kali saya jumpai di Jakarta dalam acara pertemuan penyair. Dia penjaga halaman sastra majalah rohani Katolik Menjemaat. Dengan tekun dan telaten dia senantiasa mengirimi saya majalah tersebut yang memuat naskah saya. Bahkan mengirimi kliping media Medan lainnya. Tokoh ini pula yang menghubungkan saya dengan Idris Pasaribu.

Saya menghubungi Idris Pasaribu pada hari kedua. Redaktur sastra Harian Analisa, sebuah harian terbesar di Sumatera Utara itu membawa saya ke kantornya, tak jauh dari Pasar Hindu.  Di kedai berbangunan kuno yang ada di salah satu sudutnya, kami makan siang dengan menu gule Medan. Kedai sederhana ini tidak hanya bangunannya yang kuno, tapi semua perkakas untuk menyajikan makan pun terkesan kuno.  

Dua kali lawatan ke Medan, saya gagal bertemu Aishah Basar. Dia tinggal Baros, sekitar 60-70 kilo dari Medan. Perkara jarak inilah yang menjadi kendala utama setelah kesibukan. Waktu itu sebenarnya Aisah punya jadwal ke Medan. Hanya, selisih waktu dengan jadwalku. Dia datang beberapa jam sebelum pesawat saya boarding.  Ketika dia ke Jakarta, dia sempat mengungkapkan rencananya menerbitkan kumpulan cerpennya.  Sebagai jejak, dia bilang. Ya, menerbitkan buku memang menjadi cita-cita semua penulis.

Sayang, makin sedikit penerbit yang sudi menerbitkan buku kumpulan cerpen. Salah satu penyebabnya daya serap pasar yang lemah. Jadi, satu-satunya jalan adalah membiayai sendiri penerbitannya alias independen seperti yang banyak dilakukan penulis, termasuk Aisah Basar. Saat ini sangat banyak jasa penerbitan buku, termasuk yang sistim print of order. Baik hanya cetak atau sekaligus desain cover dan halamannya. Untuk cetakan sederhana, dengan jumlah halaman 200 halaman, dicetak sebanyak 1.000 eskemplar, kau perlu merogoh kocek setidaknya Rp15 sampai Rp17 juta. Ini yang tidak mau saya lakukan. Kecuali saya dapat rejeki nomplok ratusan juta.

Comments

Medan Kreatif said…
Keren
medansastra.esy.es

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka