Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia


Pentas drama musikal Mutiara Timur Indonesia di PRPP Semarang.
Pertunjukan ini melibatkan 504 orang pemain.  Bisa dibayangkan betapa kolosalnya pentas ini. Padahal panggung itu hanya berukuran panjang sekitar 6 meter dan lebar  4 meter. Perkara panggung yang sempit dan tidak mungkin menampung seluruh pemain secara bersamaan, tidak perlu dirisaukan. Karena toh tidak semua pemain harus tampil di panggung, atau panggung meliputi area penonton.  Sehingga dalam pertunjukan semacam ini antara penonton dan pemain lebur; antara tontonan dan pononton seakan kehilangan batas.

Tapi benarkah seperti itu? Catatan ini tidak saya maksudkan untuk menjawab pertanyaan ini.  Biarlah para ahli pertunjukan saja yang menjelaskan. Saya hanya ingin mengungkap pengalaman spiritual saya menonton pertunjukan drama musikal yang dibawakan mahasiswa-mahasiswi yang datang dari seluruh penjuru tanah air, mulai dari Aceh sampai Papua.
Drama musikal yang mengusung tajuk “Mutiara Timur Indonesia” ini mengangkat tema yang penuh pesan tentang merawat persatuan, untuk terus menerus menjaga Indonesia.  Terdengar propagandis dan agak agak bokis? Silakan sinis. Pentas ini memang bertujuan mempropagandakan pentingnya persatuan untuk lestarinya Republik ini.

Digagas, digelar, dan dibiayai oleh perusahaan rokok, pentas yang diarahkan koregrafer Denny Malik di Pusat Rekreasi, Promosi, dan Pembangunan (PRPP), Semarang,  pada Selasa 20 November 2012 lalu itu merupakan puncak dari program yang mereka sebut Nation Building, sebuah kegiatan yang menandai program pemberian beasiswa oleh perusahaan rokok terkenal yang berpusat di Kudus, Jawa Tengah itu kepada mahasiswa berprestasi dari seluruh penjuru negeri.

Cerita yang diusung memang terlalu usang—adakah yang tidak usang di kolong langit ini?—tapi berhasil tampil dengan apik dan memukau. Saya yang menyaksikan pertunjukan sambil sibuk jeprat jeprit mengambil gambar merasa larut dalam emosi yang sejak awal dibangun dengan begitu konsisten. Akting para mahasiswa—saya yakin sebagian besar tidak akrab dengan dunia pentas— yang hanya berlatih kurang dari seminggu untuk pentas kolosal ini sungguh patut dipuji.  Denny Malik sukses mengarahkan mereka menjadi pemain-pemain profesional yang mengagumkan.

Tak ada dialog atau pun gerak tari yang berlebihan. Tak ada lelucon yang meluncur dengan cara memaksa seperti sering kita saksikan saat melihat acara lawak di televisi. Semua berlangsung bersahaja. Dengan demikian tatkala ada sedikit kekakuan dalam dialog, sungguh itu bisa dimaafkan, bahkan kita bisa mengatakan bahwa itu bagian dari cara mereka menafsirkan karakter tokoh yang dimainkan.

Kalau Anda ingin tahu secara rinci cerita yang disajikan, baiklah saya jelaskan. Jadi, sesuai dengan tajuk pementasan, drama musikal ini mengambil setting di Papua, kawasan Indonesia timur yang menyimpan kekayaan alam dan budaya. Di Bumi Cendrawasih yang kekayaan alamnya banyak dieksploitasi oleh pihak asing ini, sejumlah mahasiswa berprestasi lulusan perguruan tinggi terkenal yang mengusung idealisme membangun Indonesia, bertemu. Yaitu mereka yang rela meninggalkan kesempatan bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional dengan gelimang gaji besar serta kemudahan hidup di kota-kota metropolitan, tapi justru memilih mengabdi di daerah pedalaman, melayani saudara-saudara sebangsa yang membutuhkan perhatian. Coba dengar kalimat saya barusan, di telingamu mungkin terdengar seperti omong kosong.

Tapi percayalah masih banyak jenis mahasiswa/i yang memiliki idealisme seperti di atas.  Tidak semua anak-anak muda kita larut dalam hedonisme, terkubur dalam pergaulan tanpa arah di diskotik diskotik, suntuk mengejar kesenangan dan karir pribadi yang berujung pada orientasi memperkaya diri sendiri, melupakan tanggung jawabnya kepada kemanusiaan dan lingkungan.
  
Saya merasa harus berterima kasih pada Denny Malik dan perusahaan rokok yang menyeponsori  pertunjukan ini. Rasa gembira dan puas menyakskan drama ini terus membekas dalam perasaan saya bahkan setelah saya meninggalkan Semarang, dan kembali ke Jakarta untuk menuliskan liputan kegiatan tersebut. Karena rasa gembira itu pula, saya menuliskannya di blog ini.

Comments