Pembunuh Pria Penghibur*


Juga disiarkan Inilah Koran, Minggu 2 Desember 2012
dari Deviantart.com

Seandainya sore itu Deuce  tidak pergi ke Malibu menyaksikan lomba berenang menunggang lumba-lumba, tentulah dia tidak akan datang ke Amsterdam dan menghadapi masalah serumit ini. Tetapi Deuce tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

Dia bisa menolak secara halus maupun lugas undangan kawan Afrikanya yang kini jadi warga negara Belanda, Tiberius Jefferson Hicks, yang memiliki rumah perahu mewah di Amsterdam. Deuce tidak pernah tertarik dengan negeri Belanda sekalipun negeri itu surga bagi pecandu hasis, pasangan sesama jenis, pelacuran, dan segala bentuk kenikmatan lain. Deuce cukup bahagia hidup di pinggiran California, merawat cintanya kepada Kate yang tewas disambar hiu saat mereka berbulan madu di Malibu setahun lalu. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Kate di benak Deuce. Cinta Deuce kepada Kate terlalu besar. Lihatlah, sejak bertemu Kate, Deuce berhenti dari pekerjaan sebagai pria penghibur.

Dua bocah yang merebut speaker dari tangannya dan mengacaukan perlombaan berenang menunggang lumba-lumba. Gara-gara bunyi speaker itu, lumba-lumba seperti kehilangan konsentrasi sehingga kemudian berubah liar, ganas. Deuce jadi buron karena dialah pemilik speaker itu. Dua bocah itu yang memberi keterangan kepada polisi. Mau tak mau Deuce datang ke Belanda untuk bersembunyi sekaligus memenuhi undangan Tiberius Jefferson alias TJ yang kini menyeretnya dalam kerumitan.

Deuce tak mengira bahwa kawan lama yang ditemuinya dalam sebuah pesta bunga di Pasadena itu, kini menjadi seorang penyalur pria penghibur di Amsterdam. TJ yang berperangai hangat namun temperamental menawari Deuce bekerja sebagai pria penghibur sebagaimana pekerjaan Deuce dulu di California. Dia menjanjikan gaji besar dan sejumlah fasilitas menggiurkan.

No, TJ. Aku tidak mau mengkhianati Kate,” tepis Deuce.

“Ini bisnis, Deuce. Tidak ada hubungannya dengan cinta dan perasaan,” kata TJ mengingatkan,

“Aku tahu cara bagaimana seorang penghibur tidak perlu terperosok dalam perasaan cinta dengan pelanggannya. Paling banyak dua kali dia melayani pelanggan yang sama,” suara TJ begitu bersemangat. Tetapi ini bukan awal kerumitan itu. Sekalipun aneh TJ bisa menghargai perasaan Deuce yang tidak mau mengkhianati Kate yang telah meninggal. Kerumitan itu berawal dari Deuce sendiri.

Suatu malam sepulang dari minum-minum di pub, saat Deuce berjalan sendirian melintasi sebuah lorong yang lengang dia melihat Heinz Hummer, seorang pria penghibur sangat terkenal di Amsterdam, tengah terduduk di sebuah pojok dalam keadaan pingsan. Dengan harapan pria ini bisa bekerja untuk TJ, dibawanya Heinz Hummer ke rumah perahu TJ. Susah payah Deuce menyeret Heinz melewati lorong, menyeberangi kanal. Sesampai di rumah perahu TJ, Deuce baru sadar yang dia bawa ternyata mayat! TJ yang semula memuji inisiatif Deuce berbalik menghardik kebodohan Deuce.

What do you thinking, sehingga kau membawa mayat pelacur ini ke rumahku, Deuce!” umpat TJ, menggelegar, “Kau lihat Deuce, Heinz mati dibunuh!” TJ tampak panik.

“Oke TJ, kita telepon polisi…”

“Jangan, jangan! Kau pikir polisi akan percaya kepada pria penghibur kulit hitam macam aku?”

Malam itu jadilah TJ menyeret mayat Heinz Hummer ke tepi Kanal Pringsenracht. Dia akan membuang mayat Heinz di kanal itu. TJ penasaran dengan kabar-kabar bahwa Heinz memiliki penis sangat besar yang membuat namanya melejit dan tarifnya selangit. Puluhan klient, baik pria maupun wanita, ngantri untuk dapat berkencan dengan Heinz, termasuk Delusha, mantan tunangan TJ. Tidak heran bila Heinz pun pernah menggondol Golden Boner**, bahkan dua kali berturut-turut. Maka sebelum melempar Heinz ke kanal, TJ tergoda untuk melihat penis Heinz. Ketika TJ sedang terpana memandang penis Heinz, tiba-tiba melintas sebuah perahu yang ditumpangi rombongan wartawan. Mereka segera menyorotkan lampu dan kamera ke arah TJ. Malang tak dapat ditolak untung tak bisa diraih, TJ jadi tertuduh sebagai pembunuh. Dalam keadaan panik TJ akhirnya kabur dan menjadi buron.

Deuce shock melihat itu di siaran kriminal televisi. Saat dia hendak beranjak pergi dua orang polisi tiba-tiba telah menerobos rumah dan membawanya ke kantor polisi.

“Dia bukan pembunuh,” seru Deuce meronta.

“Katakan nanti di kantor polisi,” Mereka membawa Deuce ke kantor polisi. Di sana Deuce diinterogasi Inspektur Gasper supaya mengatakan di mana TJ bersembunyi. Tak terbayang oleh Deuce akan mengalami kejadian seperti ini. Apa yang mau dikatakan kalau Deuce memang tidak tahu di mana sekarang TJ berada. Polisi di mana-mana sama saja: suka menginterogasi dengan cara kekerasan. Memang Inspektur Gasper tidak sampai menggampar.

“Katakan di mana TJ!”

“Dia bukan pembunuh, Inspektur!” ujar Deuce tetap membela kawannya.

“Terus apa yang dia lakukan terhadap Heinz?”

“Dia hanya mau memeriksa…”

“Di manaaa…” Gasper mengebrak meja. Sekalipun ini bukan pengalaman pertama Deuce berurusan dengan polisi, namun tetap saja gebrakan Gasper bikin jantung Deuce bagai mau melompat. Dulu di California Deuce pernah ditangkap polisi gara-gara pekerjaannya menjadi pria penghibur.

“Aku tidak tahu…Swear!”

“Kuhargai kesetiaanmu, Bung! Kami akan segera menemukan negro itu tanpa bantuanmu,”

“Dengar Inspektur, aku yang pertama kali menemukan mayat Heinz Hummer di sebuah lorong. Aku ingat, ketika aku menemukan Heinz yang kukira pingsan, aku melihat seseorang berjalan menjauh. Ciri-cirinya aku ingat, bertubuh tinggi besar dan berambut panjang. Kurasa dia seorang waria. Dialah yang membunuh Heinz,” papar Deuce. Tetapi Inspektur Gasper tidak pernah percaya dengan keterangan Deuce.  Dia lalu menyodorkan foto para korban pembunuhan. Di setiap wajah korban si pembunuh selalu meninggalkan cap bibir dari lipstik.

Rupanya Heinz Hummer bukan satu-satunya pria penghibur yang menjadi korban pembunuhan. Sebulan ini telah terjadi pembunuhan berantai terhadap pria-pria penghibur yang menggegerkan Amsterdam. Sebuah kejadian yang merugikan perusahaan jasa penyedia pria-pria penghibur. Dan masyarakat mengalamatkan tuduhan pembunuh kepada TJ. Jiwa kepahlawanan Deuce muncul. Dia berjanji tidak akan kembali ke California sebelum mengungkap jati diri pelaku pembunuhan tersebut.
***

Deuce menemukan TJ di Van Gogh cafe, satu-satunya kafe yang menjual ayam dan kue di Belanda. “Kita harus mengatur strategi memancing pembunuh itu, TJ!”

“Oke, Deuce. Terima kasih kau mau membantuku.” Keduanya merancang siasat memancing si pembunuh keluar. Mau tidak mau Deuce berlaga menjadi pria penghibur. Mereka mendatangi klub pertemuan persatuan pria penghibur Royal Order. Majlis tempat berkumpulnya para pria penghibur termahal itu tengah membicarakan pembunuhan berantai yang meresahkan para pria penghibur. Mereka mengadakan rapat guna mencari solusi menghentikan pembunuhan keji itu.

Seorang pria pirang maju ke hadapan majlis, mempresentasikan sebuah solusi: dia mengeluarkan cincin sistem keamanan. “Cincin ini dipasangkan pada penis, dan cincin ini terhubungkan langsung dengan sistem satelit. Ada banyak ukuran sesuai kebutuhan. Sementara polisi belum menemukan pelaku pembunuhan kita bisa menggunakan ini sebagai sistem  keamanan…” Seseorang tiba-tiba memotong si pirang. Dia keberatan dengan solusi yang ditawarkan si pirang. 

Deuce nekat maju ke hadapan majlis. Memperkenalkan diri dan mengatakan bahwa Tiberius Jefferson bukan pelaku pembunuhan. “Pelakunya adalah seorang waria. Dan kalian bisa menjadi target berikutnya. Kalau kita bekerja sama kita bisa tahu siapa dia..” Belum selesai Deuce bicara petugas keamanan tiba-tiba menangkap dan melempar Deuce ke luar jendela.
***

Deuce belum menyerah. Ia menempuh cara lain. “Kita harus mencari daftar nama-nama pelanggan pria penghibur. Utamanya pelanggan Heinz Hummer,”  kata Deuce. Tidak terlalu sulit bagi mereka mendapatkan data para pelanggan Heinz Hummer. Hanya butuh waktu dua hari mereka sudah bisa memperolehnya dari seorang pria penghibur yang putus asa menghadapi ketakutannya terhadap kejadian pembunuhan berantai.

Tanpa membuang waktu lagi Deuce dan TJ lantas mendatangi mereka satu persatu. Inilah petualangan yang memberikan pengalaman tak terlalu menyenangkan pada Deuce. Bayangkan, Deuce harus berkencan dengan semua pelanggan Heinz Hummer. Mereka memiliki selera dan perilaku seks yang sungguh tak lazim. Selama bertahun-tahun dalam karirnya menjadi pria penghibur di California rasanya Deuce belum pernah menemukan klient seperti mereka. Salah satunya adalah Nyonya Janette Achterborg. Perempuan bertubuh tinggi besar ini suka bercinta dengan memperlakukan lawan mainnya sebagai bayi. Dia mendandani Deuce laksana bayi yang lucu. Dan Deuce harus berlaku seperti bayi. Bila tidak dia tak segan berlaku kasar terhadap Deuce. Dengan tubuhnya yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih kuat dari Deuce gampang saja bagi Nyonya Janette Achterborg membanting Deuce. Tapi Deuce sudah telanjur berjanji mau mengungkap si pembunuh, maka apa pun dia lakukan. Dia mencuri semua lipstik milik setiap perempuan-perempuan yang dicurigainya.  

Namun setelah Deuce menyerahkan lipstik-lipstik yang diperolehnya tersebut kepada Inspektur Gasper untuk dicocokkan dengan lipstik yang melekat di wajah para korban, Inspektur Gasper tanpa perasaan melempar lipstik-lipstik itu ke tong sampah. “Dengar Deuce, lipstik yang melekat di wajah korban bermerek Lavender Love Nomor 66 yang sudah tidak diproduksi lagi sejak tahun 1985!” hardik Inspektur Gasper, “kau katakan saja di mana Tiberius Jefferson Hicks saat ini berada!”

“Dia bukan pembunuhnya, Inspektur” teriak Deuce, putus asa. Dua orang polisi segera menyeret Deuce keluar.

Deuce benar-benar putus asa dan berniat pulang ke California. TJ pun akhirnya menyerah. Polisi menangkapnya  ketika dia berada tak jauh dari lokasi pembunuhan terhadap seorang pria penghibur yang kembali terjadi.  Begitulah semuanya terjadi secara kebetulan seperti dalam film thriller murahan. Termasuk akhir cerita ini. Mungkin kau sudah bisa menduga sebelumnya. Saat Deuce hendak pulang ke California dia berkenalan dengan Eva, seorang gadis yang mengidap compulsive obsessive disorder stadium ringan yang tak lain keponakan Inspektur Gasper.

Eva tak bisa mengendalikan diri bila mendengar orang bersin dan bunyi sirine. Dialah pemilik lipstik Lavender Love Nomor 66. Lipstik yang dicari Deuce itu tumpah dari tas Eva ketika gadis manis itu mendengar suara sirene. Kontan Deuce membawa temuannya pada Inspektur Gasper. Tetapi ternyata lipstik tersebut bukan milik Eva, melainkan Inspektur Gasper. Kau bisa menyimpulkan sendiri siapa pelaku pembunuhan berantai itu. Alasan pelaku melakukan pembunuhan sungguh mengada-ada: dendam terhadap pria penghibur lantaran Insepktur Gasper tidak memiliki penis sehingga obsesinya menjadi seorang pria penghibur tidak pernah terwujud!   

Gondangdia, 2012

*Cerpen ini merupakan adaptasi film Gigolo Eropa
**Penghargaan untuk gigolo terlaris

Comments