Suatu Malam Tanggal 30

ilustrasi dari devianart.com
disiarkan juga Tabloid Cempaka edisi 38, (16 Desember 2012)
Seharusnya Malida senang mendengar suaminya mau pulang malam ini. Malida memang telah merapikan seluruh ruangan: membereskan kamar, mengelap meja, mengepel lantai, membersihkan debu yang nempel di dinding dan baling-baling kipas angin, mengganti air di jembangan bunga, menyiapkan teh gula dan menyalakan dispenser. Tetapi tidak seperti biasanya semua itu Malida kerjakan tanpa konsentrasi dan begitu gugup. Semua yang dikerjakannya terasa tidak sempurna sehingga Malida harus berkali-kali mengulanginya.

Malida sama sekali tidak bisa santai membaca tabloid gosip atau nonton televisi sebagaimana dia lakukan setiap menunggu suaminya pulang. Tiap kali didengarnya deru motor lewat, jantungnya berdebar lebih kencang. Beberapa kali Malida bolak balik dari dapur ke ruang tengah, dari ruang tengah ke ruang tamu. Menyibak gorden, mengintip keluar. Lantas masuk kamar anak-anaknya yang sudah terlelap. Menatap satu persatu wajah mereka dengan gelisah. Malida tidak akan membangunkan mereka sekarang. Tapi nanti begitu ayah mereka datang. 

Malida melangkah lagi ke dapur, berdiri di depan kulkas berlama-lama tanpa membukanya. Kalau sedang bosan Malida suka berdiri di depan kulkas yang terbuka, mendengarkan desis mesin pendingin dan merasakan setiap pori kulitnya menggigil.  Jam 12 malam. Biasanya suaminya, yang dia  panggil kakak, datang jam 1 atau paling telat jam 2. Dia ingin waktu berhenti bergerak dan Suaminya tidak pernah datang.  

Rasa kantuknya sama sekali hilang. Malida tidak bisa berbaring sambil tidur-tidur ayam di sofa ruang depan supaya bisa lekas bangun membuka pintu begitu mendengar langkah kaki suaminya itu mendekat pintu gerbang. Padahal Malida cukup lelah karena seharian sibuk beres-beres rumah, melayani pembeli dan belanja barang-barang untuk toko kecilnya. Biasanya walaupun suaminya sudah mengabari mau pulang lewat sms, Malida akan terlelap dengan mudah di sofa ruang depan. Lalu tergeragap bangun manakala terdengar bunyi gerendel pintu gerbang.

Menahan-nahan cemas yang meruyak di dadanya sekarang Malida berdiri memandang ikan yang tengah menari-nari dalam akuarium mungil di sudut ruangan. Malida berharap pendar sinar lampu berwarna hijau dan ricik air serta oksigen yang berbentuk bulatan-bulatan kecil dalam air mampu sedikit meredakan ketegangan yang menelikung benaknya.

Tepat pada saat itu didengarnya gerendel pintu gerbang berderak. Jantungnya bagai mau melompat dari rongga dadanya. Buru-buru Malida menyibak gorden memastikan suaminya yang datang. Sialan! Ternyata seekor kucing mengejar tikus got. Begitulah kucing kalau melihat daging, bisiknya menghibur diri. Malida mengendus-endus aroma pewangi ruangan yang tadi disemprotkannya. Aroma pewangi yang biasanya memberi ketenangan itu kali ini terasa mencekik penciuman.

Didengarnya deru motor berhenti di depan gerbang, suara roda mencecah kerikil. Dadanya kembali berdebar kencang. Malida tak menghiraukan. Itu pasti tetangganya yang baru pulang, pikir Malida. Tetapi kali ini dugaannya salah. Suaminya benar-benar datang. Lekas Malida membuka pintu, berlari ke arah pintu gerbang. Di bawah lampu redup dilihatnya lelaki itu berdiri menunggu di depan pintu gerbang. Wajahnya kelihatan tampan dengan senyum mengembang.   

“Anak-anak nggak kamu bangunin,” ujar suaminya, menatapnya lekat-lekat degan hasrat ingin segera bercumbu.
  
“Belum. Keretanya telat ya?” kata Malida susah payah meredakan gugupnya. Untunglah lampu tidak terlalu terang sehingga ekspresi wajahnya tidak jelas kelihatan. Malida meraih tas lelaki itu, membawanya masuk. Meletakkannya di ruang tengah, lalu bergegas menuju kamar anak-anaknya untuk membangunkan mereka. Namun ketika tangannya mau meraih gagang pintu, suaminya menahannya.

“Biarkan mereka tidur. Aku kangen kamu…” kata suaminya itu.

Malida tersenyum, mencoba menghalau debar dadanya yang tak kunjung reda. Begitu saja tangannya meraih remote control dan telunjuknya memencet tombol on. Segera tampak siaran ulang pertandingan sepak bola di layar televisi. Malida lupa suaminya tidak pernah menyukai sepak bola. Secara bercanda lelaki itu pernah bilang, betapa absurdnya sepak bola. “Kenapa bola satu diperebutkan banyak orang. Kenapa tidak diberi saja satu bola masing-masing orang.”   

“Bagaimana kalau satu gawang dimasuki oleh lebih dari satu bola?” bisiknya tiba-tiba. Malida sungguh heran mendapati dirinya melontarkan kalimat aneh itu. Untunglah suaminya tidak mendengar kalimat itu.

“Kenapa menyalakan televisi?” tanya suaminya yang bernama Gunadi.

“Kamu nontonlah dulu, Ka. Aku belum gosok gigi,” kilahnya, berlalu ke kamar mandi.

Malida keluar dari kamar mandi dengan debaran dada sedikit mereda. Suaminya segera merangkulnya. Menciumi seluruh wajahnya secara bertubi-tubi. Lalu menatapnya dengan teliti setiap gurat pada raut mukanya. Dia memiliki bibir mungil yang seksi sekali. Hidung yang bangir dan sorot mata sayu yang membuat suaminya dengan mudah jatuh hati.

Malida mendorong pelan tubuh suaminya. “Kenapa Ka pulang telat sekali,” ujarnya.

Sekarang tanggal 10. Setiap bulan biasanya suaminya pulang tanggal 30, paling telat tanggal 2 atau tanggal 3. Mentok-mentoknya tanggal 5. Begitulah, sepanjang 10 tahun perkawinan, suaminya hanya sepekan dalam setiap bulan bertemu istri dan anak-anaknya. Selebihnya suaminya bekerja dan tinggal di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari kota kelahirannya. Ketika masih pacaran dan hendak menikah Malida memang sudah menyepakati hal itu.  Bagi Malida ini resiko menikahi lelaki perantau. Lelaki itu bekerja di sebuah perusahaan pengiriman barang. Bosan. Lalu, pindah bekerja sebagai wartawan hiburan di sebuah mingguan gosip. Dan sekarang di kantor penerbitan.

Malida tidak pernah kerasan mengikuti suaminya hidup di kota besar. Pernah dicobanya, hanya bertahan sampai empat bulan. Setelah itu pulang bersama dua orang anaknya yang mulai masuk usia sekolah, dan tidak pernah lagi menghirup udara kota besar mengikuti suaminya.  

“Kenapa kamu pulang telat sekali, ka,” dia mengulangi pertanyaannya.

“Kan sudah aku jelaskan,” sahut suaminya itu, lirih, menyorongkan mulutnya ke telinga Malida seperti ingin mengeremus daun telinga perempuan itu. Malida mendorong tubuh suaminya.

“Kamu kenapa, Sayang?” kata suaminya, heran, “bukankah aku sudah jelaskan dan minta maaf tidak bisa pulang tanggal 30 karena ada pameran di luar kota?”

“Kamu selalu punya alasan, ka” ujar malida, bibirnya mulai bergetar.

“Ada apa denganmu? Aku kangen, Sayang, jangan kamu rusak sisa malam yang indah ini,” kata suaminya seraya menahan hasrat bercumbunya yang hampir menggelegak tak tertahankan. Suaminya itu merenggangkan rangkulannya. Rasanya baru didengarnya perempuan itu melontarkan kalimat yang membuatnya tak mengerti selama 10 tahun perkawinan mereka.

“Mestinya kamu pulang tanggal 30, ka,” ujar Malida mulai terisak, menggeser tubuhnya, membuat jarak dari suaminya. Wajahnya menunduk dalam-dalam. Membuat sisa malam yang hening dipenuhi rasa haru.

Ini sungguh di luar kebiasaan. Setiap pulang suaminya biasanya langsung menumpahkan kerinduannya bercumbu menghabiskan sisa malam sebelum anak-anak mereka terbangun seusai kumandang azan subuh mengalun dari masjid di ujung jalan. Kini hasratnya bercumbu menyurut bertukar dengan perasaan asing yang menjalar perlahan-lahan.

“Sayang, selama 10 tahun kamu tak pernah meragukan ucapanku seperti aku juga selalu mempercayaimu. Lalu kenapa sekarang terlontar kalimat itu?” suara suaminya terdengar parau, “ada apa ini, Sayang? Jelaskan supaya aku mengerti…”

Malida masih berdiri kaku dengan wajah menunduk. Ya, selama ini dia memang tak pernah meragukan suaminya mengkhianati kepercayaannya. Sangat percaya. Sikap ini Malida pegang teguh bukan hanya supaya merasa lebih tenteram, melainkan memang begitulah sifat suaminya sepanjang yang Malida ketahui. Dengan sikap seperti inilah usia perkawinannya sampai 10 tahun namun dengan kebersamaan kurang dari separuhnya bisa terus dijalaninya dengan lega dan tanpa beban. Malida tidak perlu mendengar omongan orang-orang bahwa laki-laki kalau jauh dari istri pasti punya selingkuhan.  

“Bukankah kita sudah berjanji tidak mempercayai omongan orang lain?” suaminya menatap perempuan yang dipacarinya sejak SMA itu dengan nanar.

“Mestinya kamu pulang tanggal 30, ka” bisik perempuan itu lagi, kalimat itu seakan terlontar di luar kesadarannya.

“Iya, tapi kenapa?” suaminya itu mulai histeris, lepas kontrol. Lupa anak-anaknya bisa terbangun.   

“Benarkah kamu mau tahu jawabannya, ka?”

“Tentu saja Sayang. Aku harus tahu apa penyebab semua ini.”

“Benarkah kamu akan siap dan baik-baik saja setelah mendengarnya?”

“Baiklah, kalau kamu pikir penjelasanmu akan membuat rusak malam indah ini. Kamu bisa menundanya sampai besok,” suaminya itu melunak, lalu merapatkan kembali rangkulannya. Hasratnya bercumbu mekar lagi. Suaminya mau mendaratkan bibirnya pada bibir Malida, tetapi perempuan itu secara tidak terduga melengos dan mendorong tubuh suaminya.

“Tidak. Aku harus mengatakannya sekarang. Setelah itu aku siap menerima apa pun yang akan terjadi.”

Tangan suaminya yang semula merangkul mendadak terlepas. Menggantung hampa. Hidungnya seperti mencium sesuatu yang asing memenuhi udara pada sisa malam ini. Perasaannya mendadak berdesir menegaskan penciumannya.

“Seandainya kamu pulang tanggal 30 semua ini tidak akan terjadi, ka. Tidak akan pernah terjadi,” kata Malida getir.

Lelaki itu mematung. Menatap ujung kaki sampai ujung rambut perempuan di hadapannya.

“Malam tanggal 30, Kamid, kakakmu, dalam keadaan mabuk datang merayuku, membujukku. Sekuat daya aku mengelak. Sekuat daya pula dia merayu dan membujukku. Dia bilang kamu mengkhianati kepercayaanku. Terpaksa aku menamparnya, bahkan hampir membunuhnya,”

Usai menuturkan kalimat itu dia menangis keras sekali, jatuh tersujud di kaki lelaki itu.. Di luar embun beterjunan.

Setelah  mematung sekian menit untuk meredakan gemuruh dadanya,  lelaki itu merengkuh dan mengangkat pundak perempuan itu. Menelusupkan kepala perempuan itu ke dalam pelukannya. Lantas keduanya menangis berbarengan.

Pondok Pinang, Medio 2011

Comments