Duplikasi



Apa yang sebaiknya saya ceritakan tentang perayaan malam pergantian tahun? Tentang hujan yang mengguyur Jakarta dan tempat-tempat lain pada momen menjelang pergantian tahun? Tentang Jalan Sudirman Thamrin—terus ke Monas— yang dijubali oleh warga Jakarta bersama gubernurnya yang populer itu? Tentang taman-taman yang rusak akibat diinjak-injak dan berton-ton sampah yang ditinggalkan usai perayaan yang fenomenal itu
?

Mungkin sebaiknya tidak semua itu. Semua orang dan media massa telah melaporkannya dengan gegap gempita. Lagi pula saya memang tidak merayakannya di sana. Lepas kumandang azan isya terakhir di tahun 2012 itu saya keluar dari kamar sewaan di Gondangdia menuju salah satu warung kopi tak jauh dari sana. Duduk menikmati segelas coklat hangat dan menyesap rokok. Menyaksikan orang-orang menembus gerimis yang enggan reda.

Saya menghubungi seorang kawan dan bertanya tentang rencananya menghabiskan malam pergantian tahun. Rupanya dia masih dijerat pekerjaannya.  Bagi sebagian orang, malam pergantian tahun memang bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Mereka melewatinya seperti malam-malam lainnya dengan menyuntuki kesibukan yang tak ingin ditinggalkan. Saya mungkin termasuk bagian dari mereka, meski dengan kesibukan yang lain, kesibukan menyimak histeria orang-orang meniup terompet , membakar kembang api, melempar mercon ke angkasa lantas menghambur di jalan-jalan dan titik titik keramaian yang lain.

Sejujurnya, malam pergantian tahun kerap mendatangkan semacam kegelisahan tertentu dalam diri saya. Kadang sebagian saya yang lain mengajak saya untuk ikut bersama mereka menghambur ke persimpangan jalan yang ramai, melempar mercon, membakar kembang api, meniup terompet . Jadi, ketika malam pergantian tahun itu saya kembali berjalan pulang dan membenamkan diri di keheningan kamar sewa, sejujurnya saya tidak sepenuhnya merasa tenteram. Untunglah kantuk segera menaklukan  saya sehingga tak sempat mempedulikan keinginan merayakan tahun baru dengan menatap langit yang penuh percikan kembang api dan letupan mercon.

Melewatkan malam pergantian tahun dengan perayaan, kau tahu,  tidak hanya populer di kalangan masyarakat urban.  Ritual serupa juga melanda masyarakat di perdesaan. Termasuk desa saya di daerah Pantura, Cirebon.  Ini kemungkinan terjadi sejak siaran televisi tertangkap di desa-desa. Masyarakat perdesaan yang selalu menjadikan gaya hidup masyarakat perkotaan sebagai model kemodernan kemudian mengadopsinya dengan riang gembira.

Ketika teknologi informasi dan saluran komunikasi makin mudah diakses  seperti saat ini, maka setiap perilaku masyarakat perkotaan diduplikasi oleh masyarakat perdesaan secara massif. Komunitas yang satu adalah tiruan komunitas lainnya. Sehingga sekarang ini seperti yang kau lihat, dalam perilaku apa pun, hampir tidak ada perbedaan antara masyarakat desa dan kota. Termasuk dalam merayakan malam pergantian tahun. Langit desa dan langit kota sama dipenuhi kembang api dan letupan mercon yang memekakan telinga. Apakah ini sebuah berkah atau bencana, kau tentu boleh memilihnya.

Comments