Mahoni Natal



Libur Natal kemarin, bersama si bungsu saya ke desa sebelah membeli 15 batang bibit pohon mahoni. Saya bukan aktivis lingkungan, saya hanya seseorang yang acap dilanda rasa jengkel dan sedih jika melihat pohon-pohon terus ditebang tanpa ditanami kembali; Melihat permukiman yang makin padat dan menyingkirkan lahan-lahan terbuka hijau; Melihat lahan di sepanjang jalan di kota kecil saya ditutup semen dan jadi lahan parkir.

Saya tahu, saya tidak boleh hanya jengkel dan bersedih, melainkan harus berbuat sesuatu. Karena rasa jengkel dan sedih belaka tak akan menghentikan niat orang menebang pohon, tak akan dapat menghijaukan
lahan yang gundul. Maka inilah yang saya lakukan: Menanam pohon mahoni. Untuk menanam pohon mahoni (dan pohon apa pun, tentu saja) toh kau tidak harus jadi aktivis lingkungan. Cukup sisihkan waktu sebentar untuk untuk membeli bibit pohon dan menanamnya di lahan yang tersisa.

Saya hanya membeli 15 batang bibit pohon mahoni karena lahan kosong yang saya miliki untuk menanamnya hanya seluas 120 m 2. Menurut seorang kawan serta tulisan tentang cara menanam bibit mahoni yang saya baca di internet. Harus ada pengaturan jarak tertentu untuk menanam mahoni. Jadi, mengikuti saran mereka saya menanam bibit mahoni dengan jarak sekitar 1,5 meter antara satu batang dengan batang lain. Tentu saja, saya tidak melakukannya sendirian. Seorang ipar dan keponakan serta si bungsu turut membantu saya menggali lubang dan mencari pupuk organik.

Setelah mengukur ukur,  ternyata hanya cukup 14 lubang. Jadi ada sisa satu batang bibit mahoni yang harus saya tanam di lahan lain. Lahan lain itu adalah di halaman samping rumah. Di sana memang sudah ada dua batang pohon mangga, kaktus, rumpun lidah mertua, lidah buaya, dan beberapa bebungaan berduri yang ditanam ibunya anak anak tiga tahun sebelumnya. Tapi masih cukup untuk sebatang lagi bibit mahoni untuk menemani mereka.

Bibit pohon mahoni yang saya tanam tingginya sekitar semeter termasuk polibag yang menyimpan akarnya. Saya membelinya dari kawan baru saya, seorang aktivis lingkungan dan peracik ramuan herbal. Saya mengenalnya setelah membaca profilnya yang muncul di halaman 16 Harian Kompas entah berapa tahun lalu. Saya teringat namanya saat saya kebingungan mencari bibit pohon mahoni. Di daerah tempat tinggal saya ternyata tidak gampang mencari penjual bibit pohon (mungkin saya yang kurang gaul).

Saya gembira melihat 14 batang bibit pohon mahoni kini telah ditanam. Lahan yang semula hanya ditumbuhi rumput alang alang sejak itu tampak berseri dengan 14 batang bibit pohon mahoni. Saya menyebutnya Mahoni Natal. Semoga saya selalu bisa menjaganya, menyaksikannya tumbuh menjulang tinggi memberi kesejukan, menyesap karbondioksida (CO2) dan menebarkan oksigen (O2) untuk kebaikan paru-paru siapa pun yang berada di sekitanya; Sementara akarnya menghunjam ke kedalaman tanah, menyimpan dan memelihara air hujan.  

Comments