Menghirup Bunaken, Menyesap Tinutuan



Dermaga Marina, Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, Jum'at (7/12/12)


Sekali kesempatan saya ke Bunaken, Manado, Sulawesi Utara. Dengan penerbangan malam, saya mendarat di bandara Sam Ratulangi sekitar pukul 23.30.  Hujan deras saat saya keluar dari gedung terminal, mencari taksi. Taksi di bandara Sam Ratulangi, seperti di bandara-bandara di daerah lain, banyak yang tidak menggunakan argo. Jadi, saya harus melewati acara tawar menawar yang menjengkelkan sebelum memakai jasa mereka. 
 
Untuk menuju Hotel Sedona, di Kecamatan Malalayang, tempat saya menginap, berjarak sekitar 50 kilometer dari bandara, mereka memasang tarif Rp175 ribu. Jumlah ini, belakangan saya ketahui dari sopir yang disewa kawan saya, terlalu besar. Saya memang bukan orang yang gigih dalam hal tawar menawar, apalagi jika melihat kondisi sopir taksi yang terlihat memelas. Padahal setelah taksi berjalan, si sopir sama sekali tidak terlihat memelas. Tampang memelas rupanya sekadar akting.

Secara visual saja, sopir yang mengaku bernama Pierre ini, cukup jenaka. Kau ingat Samo Hung? Bintang Mandarin seangkatan Chen Lung? Seperti itulah tampangnya kira-kira. Sepanjang perjalanan dengan antusiasme yang tak kunjung padam dia terus bicara. Mula-mula dia membanggakan keahliannya menyopir.   
“Saya sejak SMA sudah cari uang sendiri,” katanya.

Mencari uang pada masa SMA itu masih terkait erat dengan profesi yang dilakoninya sekarang. “Saya ngredit motor sendiri dari hasil ngojek,” ujar Pierre dalam nada bangga yang tak hendak surut. Kegiatan ngojek ini semula memicu kemarahan bapaknya lantaran khawatir Pierre ketinggalan pelajaran di sekolahnya. Namun, Pierre mampu membuktikan aktivitas belajarnya tidak terpengaruh, terbukti nilai-nilai pelajaran di sekolahnya tetap baik, “walaupun tidak pinter-pinter banget sih,” kata dia, ketawa.

Dengan badan berukuran besar serta rambut yang dibiarkan panjang, Pierre tampak lebih tua dari usianya yang baru 30 tahun. Tahun ini dia berencana menikah. “Kamu merasa telat menikah, Pier?” saya bertanya. Dia menjawab secara agak diplomatis, “saya harus membantu orang tua membiayai sekolah adik-adik saya.”
Lantas dia bicara tentang kota Manado sambil menunjuk deretan ruko-ruko tepi pantai yang kami lewati. 

“Ini tadinya pantai, diuruk dijadikan perkantoran.” Dia juga menyinggung soal pemerintah Manado yang disebutnya tidak maju-maju.

“Yang saya dengar Gubernur Sinyo Harry Sarundajang dari koran-koran, cukup bagus,” kata saya memancing pendapatnya tentang gubernurnya itu.
“Begitu ya?” sahutnya.

Sesaat kemudian, ketika saya menunjuk sebuah bangunan gereja yang tampak remang tak terawat, dia bicara tentang kerukunan beragama. “Mayoritas masyarakat Manado penganut Kristen. Tapi sekarang di pusat kotanya mungkin sudah berimbang antara Islam dan Kristen. Banyak para pendatang dari Jawa dan Madura yang tinggal di sini menjadi pedagang. Tapi kami hidup rukun. Torang Semua Basudara,” ujarnya merujuk motto masyarakat Manado. 

“Gadis Manado terkenal cantik-cantik,” kata saya berusaha mengalihkan tema pembicaraan yang mulai agak menjemukan.

“Ya, karena banyak keturunan Belanda,” sahut dia. Saya teringat cerita kawan Manado saya di Jakarta, John Tirayoh. Menurut John, pengaruh Belanda memang sangat kuat di Manado. Bahkan, sebagian masyarakat Manado, konon keberatan ketika Sukarno hendak memproklamasikan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pembesar Manado di masa lalu pengikut setia Belanda.

Kecamatan Malalayang rupanya wilayah pinggiran. Hotel Sedona letaknya menjorok lebih dalam ke tepi pantai, sekitar satu kilo dari jalan raya. Ia seperti menyempil di antara rerimbun belukar. Pierre menyarankan saya mampir makan di kedai pinggir jalan lantaran susah mencari kedai nasi di sekitar hotel. Saya setuju. Saya pikir Pierre akan membawa saya ke warung khas Manado. Ternyata warung nasi yang kami hampiri adalah warung nasi padang. Hampir tengah malam, berhujan pula, warung nasi khas Manado sudah pada tutup. Pierre menepikan mobilnya supaya kami tak kebasahan air hujan untuk menjangkau warung nasi yang hampir tutup itu. 

Selain Pierre, Manado meninggalkan kesan menarik lainnya. Terutama jelas Taman Laut Bunaken yang terkenal itu. Menggunakan perahu mesin saya ke sana pagi-pagi sekali, terkantuk-kantuk saya memasuki mobil jemputan. Saya naik perahu bermesin dari Dermaga Marina. Menjelang sore saya kembali ke kota Manado. Saya tidak sempat renang dan menyelam di pantainya yang permai. Hanya berkitar-kitar melihat kedai-kedai cendermata, membeli beberapa kalung untuk orang rumah. Setelah puas, saya duduk menikmati panorama pantai Bunaken seraya menyesap minuman kaleng dan menghisap rokok yang saya bawa dari Jakarta.

Begitu sampai Manado, kawan-kawan yang menemani perjalanan saya mengajak makan malam bubur tinutuan. Kau tahu ini makanan spesial Manado yang banyak dibicarakan orang. Bubur tinutuan ini banyak terdapat di Jakarta, di rumah makan khas Manado tentu saja. Kedengarannya unik, lezat, dan bikin saya penasaran. Ternyata, astaga, bentuknya tak ubahnya—maaf— muntahan kucing. Ia tidak seperti bubur yang kau kenal. Hanya berupa cairan tidak begitu kental (serupa air tajin) dicampur mie dan beberapa gelintir sayuran. Rasanya biasa-biasa saja. Tapi karena lapar saya menyesapnya dengan buas. Ya bubur tinutuan lebih enak disesap ketimbang disantap.

Bubur tinutuan kurasa memang makanan selingan semacam bakso. Saya pernah mendapat informasi dari sebuah cerpen karangan Nukila Amal, pengarang kelahiran Ternate, orang Manado terkenal doyan makan. Terdapat kebiasaan acara makan yang jadwalnya terletak di antara sarapan dan makan siang yang disebut ‘smokol’.

Lalulintas di Kota Manado cukup padat. Saat saya keluar dari hotel Aryaduta di pusat kota hendak mencari warung kopi di kawasan Megamas, jalanan macet. Mobil pribadi dan angkot-angkot, yang di sini disebut oto, hampir sama semaraknya dengan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bedanya angkot di sini jok di kabin belakang memiliki sandaran dan menghadap ke depan seperti layaknya bis kota.  Tapi bukan lantaran macet jika kemudian saya batal ke warung kopi dan malah terdampar di Karaoke Inul Vizta, melainkan kawan-kawan pers di Manadolah penyebabnya...

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka