"Pulang" Leila S Chudori



model diperani oleh Paula.
Hampir sebulan lalu novel kedua Leila S Chudori “Pulang” diluncurkan.  Mengambil tempat di Goethe Haus Institute, inilah acara peluncuran buku paling ‘serius’ yang pernah saya datangi. Bukan hanya lantaran dihadiri para pesohor dari pelbagai disiplin seni, tapi juga jam acara yang sesuai jadwal serta pertunjukan pembacaan penggalan novel yang melibatkan aktor aktor kenamaan.

Ada Reza Rahadian, aktor muda berbakat dari dunia perfilman kita, Slamet Rahardjo Djarot, Sitok Srengenge, Joko Anwar, sampai Ine Febriyanti. Mereka
tampil dengan akting yang meyakinkan dalam iringan suara flute dan cello yang mengiris. Dialog-dialog yang mengalir dengan tekanan suara yang bolehlah. Siapa sih yang meragukan keaktoran Slamet Rahardjo Djarot dan Sitok Srengenge? Siapa pula yang buta dengan ketampanan Reza Rahadian kemolekan Ine Febriyanti yang sarat melankolia itu?

Memang tidak ada yang meragukan. Tapi bukan berarti mereka kemudian boleh berlarat-larat menggelar drama di panggung yang remang-remang itu kan? Hei, ketahuilah ini hanya acara peluncuran novel,  kenapa kalian jadi berlebihan begitu sih? Okelah, kalian memang butuh panggung.

Nah, sekarang saat sang pengarang muncul di panggung, astaga, drama masih juga berlangsung. Lihatlah, seusai Leila menuturkan proses penulisan novel yang kedengaran begitu dramatis: memakan waktu 6 tahun disertai riset yang mengharuskannya hilir mudik Paris, para pembaca itu menghadiahi Leila karangan bunga. Rupanya malam itu Leila juga pas merayakan hari ulang tahunnya yang ke 50 (12-12-2012, hari H kiamat). Setelahnya diputar video ucapan ulang tahun dari teman-teman Leila yang hadir malam itu. Tentu saja termasuk para aktor itu.

Biasalah, cipika cipiki disertai ucapan-ucapan selamat hari ulang tahun yang klise. Ya, sekarang kau makin insyaf yang klise dari para aktor dan sastrawan kita memang bukan hanya karya mereka, tapi juga cara mereka dalam memberi ucapan selamat ulang tahun. Coba dengar ucapan Sitok Srengenge: “Tak ada kata lain untuk Leila: top, semoga panjang umur, sehat dan terus berkarya.” Titik.

Untunglah novel “Pulang”, seperti karya-karya Leila sebelumnya, bergizi dan enak dinikmati. Saya tidak mau menyelingi membaca buku lain sebelum tuntas membaca novel ini. “Amba” novel Laksmi Pamuntjak yang saya dapatkan jauh sebelum “Pulang” belum juga saya selesaikan membaca.

Meski sama-sama mengambil latar peristiwa “1965” yang fenomenal itu, tapi “Pulang” dan “Amba” hadir dengan cara yang sangat berbeda. “Amba” punya tendensi berpuisi dengan penuturan yang berlarat-larat nan melelahkan.  Sebalikya “Pulang”, seperti pengakuan Leila S Chudori dalam chat-nya, sangat antipuisi. “Pulang”, sebagaimana justifikasi Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir— majalah Tempo yang terbit seminggu setelah peluncuran novel yang dipenuhi ilustrasi ini— adalah novel dengan gaya bahasa yang transparan dan lurus tanpa ambiguitas dan kegelapan yang membuat kita merenung. Tentu saja saya tidak percaya bahwa bahasa yang lurus dan transparan tidak membuat kita merenung. 

Gaya bahasa “Pulang” yang lurus dan transparan buktinya banyak yang membuat saya tercenung (lebih dalam dari merenung!). Tentu bukan tercenung kebingungan menerka-nerka maknanya, melainkan lantaran bisa selugas dan sejernih itu untuk mengungkap hal yang sulit. Mungkin ini menjadi kebalikan dari para penulis yang gemar berpuisi itu; mengungkap hal-hal yang remeh menjadi begitu berbelit dan rumit.
Tentang pengakuan Leila S Chudori bahwa dirinya antipuisi, saya kira tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Paling tidak bagi saya, ada sejumlah dialog yang begitu rapi secara rima sehingga terdengar begitu puitis. Mari kita dengar dialog Surti pada halaman 390 sebagai berikut.

“Terima kasih sudah datang dan membawa untaian melati ini. Inilah salah satu yang membuat saya selalu bisa bertahan. Anak-anak, harum melati, dan pindang serani. Mungkin itu hanya sekadar melankoli. Tapi aku tak keberatan bersandar pada sesuatu yang sudah berlalu, jika itu bisa membuatku kuat.”     

Yang paling tidak terlupakan adalah adegan persenggaman yang bertebaran di sejumlah halaman novel. Ia hadir secara wajar dalam situasi yang pas dan kondisi pendukung yang tepat serta dituturkan tanpa keinginan romantis-romantisan, simple tapi justru sangat erotik dan memantik ereksi bagi pembacanya.

Tentang cara bertutur, novel multinarator ini, bagi saya tidak memiliki kekhasan antara satu penutur dengan penutur lainnya. Ujaran-ujaran seperti taik, ngehe, anjing, bro, (mestinya ada pula ngentot, kontol) yang meluncur dari penutur tokoh aktivis ‘98 seperti Segara Alam terasa hanya tempelan sekadar untuk membedakan dengan penutur tokoh-tokoh gaek seperti Dimas Suryo. Sebab cara pandang dan kesadaran mereka hampir serupa belaka.        

Tapi, secara umum saya menyukai cara bertutur Leila yang lincah dan segar, seperti juga saat Leila meresensi film. Sekalipun “Pulang” seperti novel yang secara bersemangat mengambil latar peristwa ‘65’ lainnya tidak membuat kita makin memahami apa sesungguhnya yang terjadi pada tahun ‘65’ yang serupa sirkus malam itu. Sebuah novel barangkali ditulis memang tidak untuk menerang-jelaskan sebuah peristiwa penting dalam sejarah. Hei, bukankah setiap orang punya tafsir berbeda terhadap sejarah?

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka