Stalin, Tukang Jagal Pecinta Puisi



model diperani oleh Diana
Di beranda rumah yang berdiri di puncak bukit rimbun di atas Gagra, pesisir Laut Hitam, lelaki Georgia itu duduk menikmati pemandangan indah yang terhampar di bawahnya. Bentangan perbukitan yang bersih menghijau kala musim salju menjauh. Sambil ngobrol dengan kawan-kawan masa kanak dan remajanya di sekolah seminari di Gori, Josef Vissarionovich Dzugashvili (Joseph Stalin), Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Sovyet itu, mengenang perjalananya mencapai tampuk kekuasaan tertinggi Partai Komunis Rusia, penaklukan-penaklukan guna mengembangkan pengaruhnya dan menciptakan negara komunis terbesar yang pernah ada di dunia: Uni Sovyet.

Begitulah cara Simon Sebag Montefiore menggambarkan hari-hari tua Joseph Stalin dalam buku biografi ini. Penuturuan Montefiore yang deskriptif-naratif membuat kenikmatan membaca buku biografi ini seperti membaca sebuah novel yang kaya dan intim. Membuatmu merasa sayang untuk meninggalkan buku berketebalan 578 halaman ini.

Montefiore menuturkan betapa pada masa kekuasaan Stalin antara 1917-1953, mendengar namanya saja orang akan bergidik. Bahkan sampai saat ini nama Joseph Stalin menjadi salah satu simbol kekuasaan tiranik paling kejam sepanjang sejarah peradaban manusia modern abad 20. Secara rinci Montefiore ini memaparkan perjalanan hidup tokoh yang dengan tangan besinya menjadi malaikat maut bagi 20-25 juta nyawa manusia sepanjang sepak terjangnya di dunia politik dan kekuasaan.

Sejak masa kanaknya yang liar dan penuh perkelahian di jalanan Gori, Georgia, Stalin menjadi penyanyi gereja, calon pendeta, menggeluti dunia sastra dan main drama, penakluk banyak wanita, perampok bank, kepala gangster, provokator licin, pengatur intrik yang gemar membantai, sampai mencapai kekuasaan tertinggi di Partai Bolshevik, partai penguasa di negara komunis terbesar Russia.

Stalin mungkin menjadi salah satu contoh terbaik, bagaimana politik dan kekuasaan begitu efektif menyeret seseorang menjadi monster bagi sesamanya. Menjadi megalomaniak paranoid. Bukan hanya lawan dan kawan politiknya yang dihabisi, bahkan saudara dan karib masa kanaknya ia tembak mati jika menentang garis politiknya. Praktik pembersihan lawan-lawan politik, sebenarnya lumrah terjadi dalam dunia politik. Khemer Merah di Kamboja, bahkan rezim Orde Baru di negeri ini memperlihatkan betapa upaya melanggengkan kekuasaan harus ditebus dengan ribuan nyawa tak berdosa.  

Sebagai buku biografi, tentu saja Montefiore tidak membahas hal ini. Melainkan secara khusus setiap peristiwa penting yang dilalui Stalin lengkap dengan situasi batin sang tokoh dengan begitu teliti dan intim seperti sebuah kisah dengan tebaran dialog-dialog yang memperkuat peristiwa yang dialami Stalin. Buku ini menampilkan sosok Stalin dengan utuh, tidak hanya sebagai tukang jagal sebagaimana selama ini dikenang dalam sejarah.

Montefiore misalnya menuturkan kerapuhan jiwa Stalin saat menghadapi kematian istrinya Kato; perlakukan brutal sang ayah terhadap ibunya yang sangat ia kasihi. Jiwa Stalin terguncang, pertahanan dirinya pecah. Dia melemparkan dirinya ke liang kubur bersama peti mati Kato (hal.291). Montefiore juga menyingkap sisi lain Stalin yang memiliki kegemaran pada puisi dan sastra umumnya (bidang yang konon mampu melembutkan hati seseorang).

Selera Stalin kepada puisi tumbuh sejak ia berusia 16 tahun. Pada akhir semester sekolah Seminari, Stalin remaja datang ke kantor surat kabar terkenal Iveria. Puisi-puisi Stalin memikat hati penyair terhebat di Georgia Pangeran Chavchavadze yang kemudian meminta editor koran tersebut untuk memuatkan puisi Stalin. Inilah masa-masa kepenyairan Stalin yang dikagumi sebelum terkenal menjadi revolusioner yang paling diburu Tsar Russia (hal.84). Dada Ena bunga rampai puisi anak-anak Gerogia  yang terbit antara 1912 dan 1960 an memuat puisi pertama Stalin.

Stalin mempelajari secara mendalam karya karya Nekrasov, Pushkin. Membaca terjemahan Shakespeare dan Goethe, serta gemar mengutip puisi-puisi Walt Whitman. Ketertarikannya pada sastra dan rasa hormatnya bakat artistik membuatnya secara umum lebih suka membunuh lawan-lawan politik di partai ketimbang penyair berbakat. Osip Mandelstam, penyair cemerlang Rusia yang menghinanya lewat puisi, dibiarkannya hidup (hal.88). 

Kubangan kekerasan
Riset mendalam selama 10 tahun dalam penulisan buku ini dengan beberapa sumber yang masih hidup, menjadikan penuturan Montefiore tentang sosok “Soso” (demikian ibu dan kalangan dalam partai Bolshevik memanggilnya) terasa bernyawa. Soso lahir dari keluarga kelas bawah Georgia,tumbuh menjadi anak liar.  Ayahnya,  Vissarion “Beso” Djugashvili, seorang tukang sepatu yang gemar mabuk dan pencemburu kelas berat. Dia melarang Soso melanjutkan ke sekolah seminari dengan bermacam pukulan dan siksaan. Intensitas siksaan Beso kepada Soso makin meningkat demi berhembus gosip Soso bukan anak biologisnya. Kekejaman Beso memupuk kebencian Soso pada tukang sepatu pencemburu itu. Bahkan, Soso menolak mengakui Beso sebagai ayahnya. 

Dua laki-laki lain yang kemungkinan ayah biologis Soso adalah kawan-kawan Beso: Yakov Koba Egnatashvili dan Damian Davrichewy. Mereka inilah yang kerap membantu dan melindungi Soso dan ibunya, Ekaterina “Keke” Geladze Djugashvili. Soso yang mempunyai ketertarikan pada pendidikan kabur dari rumah dan menjadi gelandangan di Gori, salah satu ibu kota di wilayah Georgia yang punya tardisi pertandingan gulat bebas, sampai kemudian Keke, tukang jahit yang lembut,  menitipkan Soso pada Yakov untuk dimasukkan ke sekolah seminari.

Soso memasuki dunia politik Russia melalui konspirasi demi konspirasi yang meninggalkan kerusakan dan teror di mana-mana. Ia membakar kota minyak Batumi yang dikuasai kapitalis Perancis, Rothschlid. Jalan menjadi penguasa tertinggi partai komunis terentang mulus ketika terjadi pemberontakan yang dipicu oleh perpecahan di tubuh Bolshevik.

Kecerdasan, dan terutama kekejaman Soso, menarik perhatian Lenin yang kemudian mengangkatnya sebagai petinggi di Komisariat Nasional Partai Komunis. Naiknya Stalin di posisi ini banyak dipandang sinis di kalangan Bolshevik lantaran Stalin dianggap tidak punya kontribusi yang jelas pada Revolusi 1917. Salah satunya Trotsky, pesaing utama Stalin dalam merebut perhatian Lenin. Kelak ketika tampuk kekuasaan tertinggi partai komunis Russia jatuh ke tangannya, Trotsky dibunuh dengan alat pemecah es.

Buku ini tidak hanya menuntun kita memahami Stalin sebagai manusia secara utuh tapi juga sejarah berdirinya Uni Sovyet berdiri. Dengan bahasa yang lincah dan hidup seperti novel sejarah yang menegangkan, mengharukan, sekaligus mengerikan, serta dilengkapi dengan puisi-puisi karya Stalin pada setiap pergantian bab, membuat karya biografi ini enak dinikmati. Dan tentu saja semua tak lepas dari keberhasilan penerjemahan karya ini ke dalam bahasa Indonesia secara mulus.  


Data buku
Judul               : Stalin Muda, Dari Anak Tukang Sepatu Menjadi Pemimpin Besar Dunia 
Penulis             : Simon Sebag Montefiore
Penerjemah      : Basfin Siregar dan Adi Toha
Penerbit           : Alvabet 
Cetakan           : I September 2012
Tebal               : 587 halaman

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka