Kisah Monopoli Restoran Cepat Saji



Model diperani Ginta Kamka

Suatu kali saya makan malam di restoran cepat saji di perempatan Sarinah. Orang Jakarta pasti tahu restoran yang saya maksud. Letaknya sebelah kiri jalan kalau dari Harmoni. Saya membeli setangkup nasi, ayam goreng, kentang goreng, dan segelas besar minuman bersoda. Saya menyantapnya di balkon seraya menyimak keriuhan yang berlangsung di dalam dan di luar restoran. Terus terang, ini cukup istimewa bagi saya. Bukan lantaran makanannya tentu saja, melainkan sangat jarang saya makan di restoran cepat saji seperti ini. Sekali sebulan pun tidak.

Selama ini saya lebih memilih makan di warung tenda yang banyak kau temui di setiap pojok Jakarta. Lebih kerap lagi di warteg. Alasan saya sederhana saja: lebih murah. Saya tak perlu menyebutkan alasan lain, karena akan terdengar heroik dan sentimentil: nasionalisme.

Mungkin agak berlebihan kalau saya katakan bahwa setiap makan di restoran cepat saji saya acap diserang perasaan tak tenteram. Kau tahu, waralaba asing yang bergerak di bidang restoran cepat saji yang mewabah di negeri ini merupakan praktik nyata monopoli ekonomi yang tentu saja berlawanan dengan keadilan. Padahal prinsip waralaba adalah berbagi kepemilikan yang bertujuan untuk kemakmuran bersama. Praktiknya, sebuah waralaba asing yang memiliki ratusan gerai kepemilikannya hanya oleh satu orang.

Padahal,  waralaba asing meskipun jumlahnya jauh lebih kecil dari waralaba dalam negeri, tapi omsetnya lebih dari 60 persen dari total omset waralaba di negeri ini. Tidakkah ini menyedihkan? Saya sedikit merasa lega ketika belum lama ini Kementerian Perdagangan menerbitkan Surat Keputusan terkait pembatasan kepemilkan toko dan restoran modern guna memutus praktik monopoli usaha.  Keputusan tersebut jika dijalankan secara benar,  maka waralaba asing di bidang makanan cepat saji seperti McDonald  bakal dibatasi kepemilikannya. Keputusan ini tentu patut didukung. Aduh, saya kok belaga jadi pengamat ekonomi sich.

Baiklah, lepas dari perkara dukung mendukung,  pada kunjungan saya ke restoran cepat saji kali ini entah mengapa saya teringat cerpen “Kisah Muram di Restoran Cepat Saji” besutan Bamby Cahyadi.  Cerpen ini sama sekali tidak menyinggung soal praktik monopoli  yang hanya memperkaya pemilik modal. Waktu pertama membaca judul cerpen ini, saya juga tidak membayangkan cerpen ini bakal menyinggung perkara monopoli atau intrik di balik bisnis restoran cepat saji. Karena untuk keperluan kisah yang saya bayangkan itu mungkin tidak cukup ditulis sebuah cerita pendek (semoga saja Bamby Cahyadi akan mengembangkan cerpen ini menjadi novel dengan cerita seperti yang saya sarankan, hahahaha).

Maka, saya hanya mengira-ngira cerpen ini mungkin bercerita tentang seorang pramusaji yang mengalami tekanan kerja, dan supaya agak dramatis lagi, tekanan seks dari bos pemilik restoran. Ternyata tidak. Cerpen ini mengetengahkan kisah perilaku curang seorang karyawan restoran cepat saji bernama Adimas.Ia seorang mahasiswa jurusan matematika yang nyambi sebagai karyawan resotoran guna mencari tambahan uang saku sebagaimana, konon, dilakoni sebagian mahasiswa Indonesia di luar negeri. Laku curang Adimas dipicu oleh rengekan pacarnya yang minta kawin. Jadi, yang dimaksud muram oleh cerpen ini adalah prilaku curang si karyawan restoran.

Yang paling menarik dari cerpen Bamby ini saya kira adalah aktualitas. Bukan hanya menyangkut tema yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat urban yang makin keranjingan makan di restoran cepat saji, tapi juga mental korup masyarakat—mereka mencontoh para petinggi—negeri ini, yang dalam cerpen ini diwakili oleh Adimas. Tema semacam ini sejauh yang saya tahu, makin jarang ditemukan dalam realitas cerpen koran (dan majalah) mutakhir, atawa masih dimonopoli cerpen Bamby Cahyadi.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka