Menggulingkan Superioritas Laki-laki


Model diperani oleh Ginta Kamka
An Unsuitable Job for A Woman”, Ini novel thriller klasik besutan Phyllis Dorothy James (P.D. James). Judul ini kalau diindonesiakan kira-kira jadi “Pekerjaan yang Tak Cocok bagi Perempuan”. Mungkin kau akan berpikir betapa judul ini terdengar seksis, menyarankan pembagian pekerjaan berdasar jender. Seakan ada pekerjaan yang hanya cocok untuk laki-laki, dan sebaliknya. Semangat superioritas lelaki terasa keras sekali pada judul novel ini. Padahal pengarangnya seorang perempuan.

Jangan terjebak pada judul. Sebab isinya justru sebaliknya. Cordelia Gray, perempuan detektif yang baru bekerja di kantor detektif swasta Agency Detektif Pryde, ditugasi menyingkap kematian Mark Callender, anak seorang ilmuan mikrobiologi Ronald Callender. Gray meneruskan pekerjaan Bernard G Pryde, pendiri  Agency Detektif Pryde, yang terbunuh terkait tugasnya menyingkap kasus ini. Dari sini saja, P.D. James ingin menggulingkan superioritas laki-laki.

Kepolisian menyatakan itu adalah kasus bunuh diri. Ronald Callender meminta Kantor Detektif Pryde menyingkap  penyebab Mark bunuh diri. Gray menduga keras Mark dibunuh, dan Gray harus membuktikan dugaanya. Upaya keras Gray dengan mempertaruhkan nyawanya, sedikit demi sedikit berhasil menyingkap kebenaran dugaanya. Gray yang semula diremehkan para koleganya yang semuanya laki-laki, kini dengan telak membalik semua keraguan. Otak pelaku pembunuhan Mark tak lain ayahnya sendiri: Ronald Callender. 

Istri Ronald, Evelyn, adalah anak dari seorang miliarder yang sangat menginginkan cucu. Sayangnya, pernikahan Evelyn dengan Ronald Callender tidak membuahkan keturunan.  Untuk menutupi kekecewaan sang ayah, Evelyn mengangkat Mark menjadi anak. Mark adalah anak Elizabeth Leaming atas hubungannya dengan Ronalds yang direstui Evelyn. Secara hukum Mark menjadi anak Evelyn dan cucu dari seorang miliarder.

Kematian Evelyn membuat semua subsidi dan warisan dari sang miliarder akan jatuh ke tangan Mark.  Hal ini membuat biaya penelitian yang akan dilakukan Ronald Callender yang membutuhkan biaya besar terancam batal.  

Novel pengarang yang  namanya terdengar kurang familiar ini mengambil setting Cambridge sebuah kota di Inggris yang dihuni polisi, para ahli koroner, dokter, mahasiswa, penjual bunga, bos mafia, ilmuan, dan tentu saja para pensiunan tentara.  

Cerita cerita detektif, kriminal, merupakan jenis novel yang saya gemari meski tidak mengoleksinya secara khusus. Para detektif, penyidik, mereka bekerja berdasarkan data dan logika. Jadi, kalau mau belajar logika, membaca novel detektif dapat menjadi bisa pilihan menarik. Untuk menyingkap pelaku pembunuhan, petakanlah dulu siapa yang paling diuntungkan dengan kematian korban. Begitulah kira-kira sederhananya. Meski tidak semua pembunuhan bermotif keuntungan materi.

Saya mendapatkan buku ini medio 2010 dari penerbit Jalasutra. Saya membaca ulang karena penuturannya yang menarik. Karakter tokohnya juga saya suka. Gray perempuan yang gigih dan gemar mengkritik atasan. Novel ini ditulis era 70-an, pada tahun tersebut perempuan yang melakoni profesi yang sangat berbahaya itu sangat langka. Namun, Gray bisa membuktikan dia mampu mengerjakannya dengan gemilang.

Di zaman BlackBerry dan social media yang menghubungkan setiap orang di seluruh dunia seperti yang kita lihat sekarang, novel tema detektif dan intelejen toh tetap menyimpan pesona. Terkait hal ini film Skyfall (Serial James Bond 007), pernah menyinggung pertanyaan ini dengan maksud autokritik. Social media seperti twitter, facebook dan jejaring sosial lainnya tidak begitu saja dapat menyapu novel-novel detektif dan profesi intelejen. Novel thriller dalam negeri seperti karangan S. Mara Gd terbukti masih memiliki banyak penggemar.

Comments