Romantika Kereta Ekonomi



Model diperani Ariel (kanan) dan Ezar.  Foto diambil di Stasiun Babakan medio tahun lalu

Sekurangnya sekali dalam dua pekan saya ulang alik Cirebon-Jakarta. 260 kilometer jarak yang memisahkan kedua kota itu saya tempuh dalam 4-5 jam menggunakan bis, 3 jam menggunakan kereta Cirebon Express (Cirex). Sejak dua tahun terakhir saya lebih sering menggunakan kereta ekonomi jurusan Tegal. Berangkat dari Stasiun Kota Jakarta (Beos) pukul 15. 

Saya memilih kereta ekonomi lantaran tarifnya lebih murah dan aman dengan waktu tempuh hampir tak berbeda dari menggunakan bis. Dengan kerete Cirex tentu jauh lebih aman dan cepat. Terang ongkosnya pun beberapa kali lipat dari kereta ekonomi. Dompet saya bisa jebol kalau terlalu sering memakai jasa Cirex.
 
Dengan selisih waktu yang tidak terlampau jauh beda ditambah layanan yang makin lumayan baik ( :jumlah penumpang sesuai kursi) sejak PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dipimpin Ignasius Jonan, maka saya lebih memilih kereta ekonomi. Beberapa bulan terakhir saya harus kembali menggunakan bis tersebab makin susah mendapatkan karcis kereta ekonomi. Tarif yang sangat murah serta layanan yang terus membaik membuat minat masyarakat menggunakan kereta ekonomi makin meningkat. Kau harus memesannya jauh-jauh hari untuk bisa memperoleh karcis.

Tingkat kesulitan mendapatkan karcis kereta ekonomi belakangan makin berlipat sejak PT KAI menggunakan sistem boarding untuk seluruh jenis kereta jarak jauh. Jangan coba-coba kau naik kereta menggunakan karcis yang tidak sesuai nama dan nomor KTP, kau akan dihadang petugas di pintu keberangkatan. Itu masih untung, karena jika kau sudah berada dalam kereta nasibmu bisa lebih malang lagi, petugas tidak segan menurunkanmu di stasiun terdekat.

Menggunakan jasa bis Cirebon-Jakarta sungguh pilihan terburuk yang, apa boleh buat, harus saya telan. Entah mengapa semua bis, baik Patas AC maupun ekonomi,  jurusan Cirebon Jakarta tidak pernah mengalami peningkatan layanan. Makin hari kurasa malah makin buruk. Bayangkan, sopir tak akan memberangkatkan sebelum bis benar-benar penuh. Benar-benar penuh artinya, selain jok, lorong dalam kabin untuk lewat pun harus terisi. Jadi, kru bis meletakkan kursi plastik sepanjang lorong untuk duduk penumpang. Sumpek dan panas sudah jelas. Ditambah dengan kepulan asap rokok para penumpang membuatmu serasa berada dalam pub-pub dangdut yang membuat matamu perih dan sesak napas. Jika perjalanan siang hari kondisinya lebih menderita lagi.

Segala penderitaan itu masih harus berlipat jika sepanjang jalur pantura macet, baik karena pasar tumpah maupun perbaikan jalan yang seakan tak pernah selesai sepanjang sejarah peradaban. Melihat kondisi ini saya kadang  frustrasi. Untuk bertanya kesungguhan negara mengurusi transportasi pasti hanya akan membuatmu ingin bunuh diri.
 
Jalan paling realistis adalah saya harus pandai mengatur jadwal ulang alik supaya bisa mendapatkan karcis kereta ekonomi. Pembelian online dapat dimanfaatkan. Sebenarnya ada satu alasan penting mengapa saya lebih gemar menggunakan kereta ekonomi, sebuah alasan yang mungkin terdengar bernada  sentimental: lebih romantis dan inspiratif. Jika masih mau ditambahkan satu alasan lagi, anak bungsu saya dan ibunya lebih senang menjemput saya di stasiun ketimbang di perhentian bis yang bertempat di perempatan pasar! Stasiun Babakan memang terus berdandan, kantinnya yang menyediakan aneka jajanan mulai tertata lebih tertib, area parkir terlihat rapi. Si bungsu yang selalu takjub melihat kereta berlalu lalang dapat menunggu kedatangan saya secara lebih nyaman.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka