Schindler's List, Thomas Keneally, Steven Spielberg

Model diperani Vany Saptarini


Belum lama ini saya selesai membaca novel Schindler’s List besutan Thomas Keneally.  Sutradara Hollywood Steven Spielberg pernah memfilmkan novel ini dengan judul sama pada 1993. Ketika beredar di Indonesia setahun berikutnya film ini sempat memicu kontroversi. Oleh para penentangnya film Schindler’s List dianggap sebagai propaganda Zionist Yahudi. Majelis Ulama Indonesia melarang peredarannya.

Sewaktu kontoversi itu berlangsung saya masih pelajar SMA di kota kelahiran saya, Cirebon. Namun sejak saat itu saya dibuat penasaran dan menyimpannya sampai bertahun-tahun sesudahnya. Ketika zaman Torrent Butler datang 19 tahun kemudian, barulah rasa penasaran saya dapat dituntaskan. Lepas dari soal kontroversi itu, Schindler’s List adalah film yang sangat bagus. Spielberg jempolan dalam menggarap film-film kolosal berlatar sejarah. Sutradara berdarah Yahudi ini mampu memvisualisasikan imajinasi dalam teks novel ke dalam bentuk gambar bergerak—terakhir film biografi tentang Presiden Amerika terbesar Abraham Lincoln garapannya menuai sukses di ajang Golden Globe.  

Schindler’s List mengangkat kisah pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman pada masa  Perang Dunia II. Ribuan orang Yahudi  digiring ke dalam gerbong-gerbong kereta di Cracow, Polandia. Mereka diangkut untuk dimasukkan ke dalam kamp-kamp penyiksaan di kemuraman kota Auschwitz sebelum dibunuh secara massal menggunakan gas beracun.

Oskar Schindler, lelaki flamboyan industriawan Jerman, datang mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi orang Yahudi dengan menjadikan mereka buruh di pabrik panci miliknya. Ia mengangkat Itzack Stern, seorang Yahudi terpelajar sebagai asistennya.

Schindler menebus ribuan tawanan Yahudi dari Letnan Satu Nazi  Amon Goeth yang gemar membunuh orang Yahudi seperti menepuk lalat yang hinggap di meja makannya. Dengan ringan Goeth bisa menembak orang Yahudi di kamp kamp kerja paksa dalam proyek tentara Nazi, hanya karena mereka terlihat lambat dalam bekerja atau kurang bersih menggosok bak kamar mandinya. Ia berjanji pada Helen Hirsch, perempuan Yahudi yang jadi pelayan di rumah Goeth, untuk membebaskannya. Goeth gemar menyiksa Hirsch. Menelanjangi Hirsch, mengikat tangannya dan mengurungnya dalam kamar. Goeth tak memperkosa Hirsch karena ia Yahudi yang dianggap dapat mengotori darah Aria Goeth.

Kecuali selera seksual Amoen Goeth yang tidak konvensional, cara Spielberg menggambarkan penderitaan yang dialami Bangsa Yahudi sangat mencekam dengan tingkat kerincian tak tertandingi. Pilihan gambar hitam putih, membuat muncratan darah yang banyak bertebaran di film ini tidak terlihat nyata sehingga tak terlalu mengerikan. Jika film ini propaganda Zionist Yahudi, Spielberg telah berhasil membuat saya bersimpati terhadap orang Yahudi.  Tapi simpati saya tidak membuat saya kemudian memaklumi kekejaman Zionist Yahudi terhadap orang-orang Palestina. Bagi saya kekejaman adalah kekejaman. Siapa pun yang melakukannya harus dikutuk, dan bangsa manapun yang menjadi korban kekejaman harus dibela. Sejarah mencatat, kekejaman tidak hanya milik Nazi dan Yahudi bukan satu-satunya korban. Bangsa Palestina sampai sekarang berada dalam penindasan Zionist Yahudi dan Bosnia pernah melewati sejarah kelam pembasmian oleh Serbia.   

Jadi, tema yang diangkat film Schindler’s List bersifat universal. Tentang kekejaman manusia atas manusia lainnya. Motif pembasmian suatu bangsa atas bangsa lain hampir serupa, yakni keterancaman eksistensi. Pada kasus kekejaman Nazi atas Bangsa Yahudi tak lain dilatarbelakangi keccemburuan Nazi Jerman terhadap  keberhasilan kaum semit itu menguasai sumber-sumber ekonomi berkat keuletan dan kerja keras mereka. Sehingga Jerman yang merasa diberkati ras lebih tinggi terancam eksistensinya.   

Saya tak pernah tahu sebelumnya bahwa Schindler’s List diangkat dari novel yang meraih Booker Prize 1982, sampai saya menemukannya di lapak buku bekas milik kawan saya awal tahun ini. Nama pengarangnya pun, Thomas Keneally, terdengar asing. Penerbit Jalasutra, Yogyakarta, yang menerbitkannya dalam bahasa Indonesia pada 2006 tidak mencantumkan informasi apa pun mengenai pengarangnya. Dengan ketebalan 520 halaman serta penerjemahan yang kurang mulus, dibutuhkan kesabaran untuk menuntaskan membaca novel ini.

Comments

mill yellovaa said…
Selamat pagi, Sist / Bro boleh pinjam buku Schindler's List nya ? atau apakah di jual ? saya penasaran sama isi bukunya

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka