Tidur di Pekanbaru



Simbol Kota Pekanbaru, foto diambil Sabtu (19/1)

Ini Pekanbaru, Riau. Jumat petang itu saya sampai di sana, entah berapa mil jaraknya dari Jakarta, entah pula dari kota kelahiran saya, Cirebon. Saya tak pernah mengukurnya. Yang terang tentulah jauh sekali—meski belum sejauh ke Planet Pluto. Tetapi saya seolah tidak sampai ke mana-mana. Pekanbaru, Jakarta, Cirebon, Semarang, Padang, Denpasar, Makassar, Manado, Medan, ah entah kota mana lagi di Indonesia ini, seluruhnya terlihat sama belaka.

Di kota-kota itu kau akan menjumpai situasi dan semangat yang hampir serupa. Semangat membangun semata fisik. Kau akan melihat gedung-gedung pemerintahan yang megah, hotel-hotel, mal, angkot-angkot yang berseliweran, tukang ojek berebut  penumpang di saban perempatan, warung makan kaki lima yang menyerobot trotoar, sampah plastik bertebaran, dan terutama kemacetan.

Keruwetan Jakarta seakan menjadi kiblat bagi kota-kota lain di negeri kepulauan ini. Kemacetan Jakarta bak wabah yang ditularkan ke mana-mana. Dan alangkah konyolnya ketika orang pemerintah melihat kemacetan sebagai ciri tingginya pertumbuhan ekonomi, bukan mengakui kegagalan mereka dalam menciptakan pemerataan sumber-sumber ekonomi serta bagaimana mendesain tata ruang kota yang seimbang.

Mungkin itulah sebabnya saya tak pernah bahagia saat kawan di kota-kota yang saya kunjungi itu mengajak saya berkitar-kitar.  Saya lebih memilih mendekam di hotel dan cukup memandang segala keriuhan yang menjengkelkan itu dari ketinggian kamar, lantas menyetel televisi channel Fashion TV atawa Discovery, selebihnya menulis dan tidur. 
“Jadi, jauh-jauh dari Jakarta cuma untuk tidur?” begitulah seorang kawan entah siapa pernah berkata.

Saya harus bersikeras membujuk diri sendiri untuk turun dan keluar dari kamar, bergabung ke keriuhan kota dengan dalih mencari inspirasi menulis cerita. “Kau harus melihat keruwetan karena kau butuh kegelisahan untuk menghasilkan tulisan yang bagus,” bujuk hati saya belagu sekali. “Siapa bilang di mana-mana keruwetan sama saja, amatilah secara rinci pasti ada yang berbeda satu sama lain,” hati saya terus nyerocos.

Saya akhirnya menuruti bujukan hati saya, berjalan sambil bercakap-cakap dengan hati sendiri menyusuri Jalan Sudirman, Pekanbaru, sekalian mampir makan di warung kaki lima. Lantas berjingkat menginjak lantai Mal Pekanbaru dengan perasaan hambar.  Ketika esoknya kawan Pekanbaru saya datang dan mengajak saya jalan, saya menolak kecuali mengunjungi lorong-lorongnya yang sunyi.

Begitulah, kawan Pekanbaru yang jenaka itu membonceng saya mendatangi perpustakaan Soeman HS, lalu mampir di kantornya Harian Haluan Riau, dilanjutkan ke Gelanggang Olahraga yang tahun lalu jadi arena Pekan Olahraga Nasional (PON), sebelum terdampar di tepi danau yang dirindangi kerimbunan pohon di kompleks Universitas Negeri Riau. Sepanjang perjalanan kawan saya terus bicara seperti pemandu wisata dengan kenyinyiran yang untungnya sangat menghibur saya.

“Hanya begini Pekanbaru ya,” ujar saya.

“Kamu pikir seperti apa? Seperti Singapura?”

Pertanyaan bagus, pikir saya. Dan pertanyaan bagus acap tidak mudah dijawab. Saya hanya ingat, bahasa Indonesia yang kau kenal itu berasal dari sini. Dan tidak mudah menemukan kaitan antara bahasa Melayu Riau yang dijadikan bahasa nasional dengan realitas Pekanbaru, pusat Riau, yang kautemui sekarang.
Memandang Pekanbaru dari lantai 12

Comments