Meminjam dan Mencuri Buku



Model diperani oleh Sitta

Saya punya tempat favorite untuk meminjam buku. Ia adalah perpustakan sekaligus toko buku on line milik kawan saya di Tangerang, Banten. Koleksinya terbilang lengkap, bahkan jika dibanding koleksi buku di perpustakaan kantor surat kabar tempat saya bekerja. Meski milik pribadi, perpustakaan kawan saya itu dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang benar. Misalkan dari sisi pengelompokan buku yang disusun berdasarkan disiplin ilmu. Buku ilmu sastra misalnya, kelompok ini sekurangnya terdiri dari empat kategori, yaitu buku puisi, cerpen, novel, dan kritik. Ini dipilah lagi berdasarkan kebangsaan pengarangnya. Dan masih dibagi lagi berdasarkan tahun terbit. 

Pengelolaan semacam ini jelas sangat memudahkan saat kita mencari buku yang dibutuhkan. Ketika butuh data tentang kekerasan misalnya, kita tinggal mencari di rak kelompok buku kriminalitas, dari mana pengarangnya, terbit tahun berapa, dan seterusnya. Karena itu saya sangat patuh dengan sistem manajemen yang diterapkan kawan saya berkaitan dengan buku itu.  Kau harus meletakkan ke tempat semula buku itu kau ambil. Juga tentu tenggat waktu pengembalian buku saat kau meminjam.

Kalau kita bisa menjaga kepercayaan ternyata masih ada orang yang dengan senang hati menyediakan buku-buku di perpustakaannya untuk kita pinjam. Semakin banyak yang membaca semakin banyak manfaat yang diberikan sebuah buku kepada masyarakat dan ilmu pengetahuan, kan? Demikian kira-kira prinsip kawan saya yang baik itu. Saya punya mimpi suatu masa memiliki perpustakaan pribadi yang bisa diakses umum seperti perpustakaan Fadli Zon di Kebayoran itu.

Mempunyai kawan baik yang memiliki perpustakaan lengkap dan bukunya bisa dipinjam
(: dibaca di rumah) jelas merupakan berkat tak terhingga buat penggemar buku. Saya harus menjaga baik-baik hubungan dengan orang langka semacam itu.

Tentu ada jenis buku yang hanya layak dibaca dan ada pula buku yang tidak saja layak dibaca tapi juga harus dimiliki atawa dikoleksi. Jika terdapat buku yang layak saya miliki yang terselip di perpustkaan kawan saya itu, maka saya akan membelinya Kau tahu, setiap orang punya selera berbeda-beda untuk menilai mana buku yang hanya layak dibaca dan mana yang harus dibaca sekaligus dimiliki. Namun apa pun jenis buku yang saya gemari, saya tak pernah ingin memiliki buku tersebut dengan cara mencurinya.

Kisah tentang pencurian buku, baik yang bernada humor maupun tragik, cukup banyak yang sudah pernah saya dengar, bahkan saya alami sendiri. Ada pula yang saya dapatkan dari novel. Salah satu buku yang serius mengisahkan drama pencurian buku berjudul “The Man Who Loved Books Too Much” yang baru kelar saya.  Novel besutan Allison Hoover Bartlett ini menuturkan kisah pencuri buku bernama John Gilkey dan Ken Sanders, seorang detektif yang memburunya.

Novel dituturkan oleh orang pertama tunggal, aku. Aku adalah seorang penulis yang ingin merangkai drama pencurian buku-buku langka berharga jutaan dolar yang dilakukan Gilkey secara berulang dan tak pernah jera. Aku  menceritakan upayanya bertemu dengan Gilkey dan mendengar pria gila buku itu bercerita tentang aneka trik dan modus pencurian yang lakoninya. Sekurangnya Gilkey empat kali tertangkap dan masuk penjara. Namun penjara tak pernah menghentikan napsunya mencuri buku. Ia mengatakan rencananya untuk melakukan aksi pencurian berikutnya.

Motif Gilkey mencuri buku agak aneh dan diselubungi dendam. Ia mencuri hanya untuk memiliki buku, bukan untuk dijual lagi dan mendapatkan keuntungan ekonomi dari sana. Ia ingin memiliki buku dan mendapatkan kekaguman dari orang-orang karena kepemilikannya itu. Coba ingat-ingat, berapa banyak orang-orang seperti Gilkey di sekeliling kita yang membeli buku tidak untuk dibaca tapi demi sekadar supaya dianggap hebat? Jangan-jangan saya sendiri.    

Gilkey tidak cukup punya banyak uang untuk membeli buku-buku langka yang berharga jutaan dollar. Kondisi ini menurutnya tidak adil, dan ia merasa harus mendapatkan keadilan dengan cara mencuri buku-buku yang diinginkannya.

Aku juga menjadi teman Ken Sanders demi mengetahui jebakan apa saja yang pernah gagal dan berhasil menangkap si pencuri. Sanders sendiri juga seorang agen buku langka pernah menjadi korban Gilkey. Novel ini memang lebih seperti memoar Bartlett. Di Indonesia buku ini diterbitkan oleh penerbit Alvabet pada 2009. Saya mendapatkannya dari perpustakaan kawan saya yang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka