Pembunuhan Sabtu Malam



cerpen ini awalnya disiarkan Tribun Jabar, Minggu 10 Maret 2013
ilustrasi diambil dari devianart.com

Suatu siang seorang peramal tua tanpa diundang datang ke rumah pengarang itu, dan mengatakan ia akan mati terbunuh pada Sabtu depan. “Mereka dua orang, seorang meringkus kedua tanganmu, seorang menghajar dan meludahi mukamu sebelum meletuskan pistol tepat di antara kedua matamu!”

Waktu itu ia tengah sibuk melakukan kegiatan rutinnya setiap hari: mengetik naskah skenario sinetron gampangan pesanan kawannya. Kedatangan peramal itu tidak disadarinya, tahu-tahu nyelonong ke ruang kerjanya yang belakangan disadari rupanya terbuka. Suara peramal itu terdengar jelas. Ia baru tersadar manakala peramal itu berlalu melalui pintu belakang. Ia mau bertanya apa sebabnya mereka membunuh dan di mana terjadinya pembunuhan itu. Sayang, peramal itu keburu meloncat ke dalam angkot. Ia terlongong serupa orang dungu di ambang pintu belakang.   

Kenapa pula aku mempercayai omongan peramal tua sialan itu, dengusnya seraya menyulut rokok. Lantas masuk ruangan dan kembali meneruskan mengetik naskah. Namun agaknya tidak semudah itu melupakan omongan si peramal. Konsentrasinya buyar seperti agar-agar tumpah di lantai; omongan si peramal terngiang terus di kupingnya.

Siapakah peramal tua itu sebetulnya? Kenapa meramalkan sesuatu yang buruk? Sungguh ia tidak pernah kenal apalagi berurusan dengan peramal itu. Selama tinggal di kompleks perumahan ini lebih dari lima tahun lalu ia sangat jarang bersinggungan dengan tetangga apalagi dengan peramal itu. Sibuk menulis skenario sinetron demi mengejar setoran. Dia hanya pernah mendengar selintasan dari tetangga atau mungkin obrolan di kios rokok pojok jalan bahwa peramal itu pada hari-hari tertentu berkeliling ke kompleks perumahan ini, mendatangi warga dari pintu ke pintu menawarkan jasa meramal masa depan mereka.

Secara selintasan pula ia pernah mendengar bahwa perceraian Pak RT dengan istrinya sebelumnya telah diramalkan oleh peramal tua itu. Dikatakan si peramal, istri Pak RT yang jauh lebih muda itu berselingkuh dengan tukang ojek yang saban malam mangkal di mulut gang. Ternyata benar, suatu malam Pak RT memergoki istrinya tengah bercumbu dengan tukang ojek di rumahnya. Itulah yang menyebabkan Pak RT kembali menjadi duda. Demikian pula kematian Andra, putra Pak Kades, gara-gara overdosis mengonsumsi drugs, jauh-jauh hari telah diramalkan oleh si peramal tua. Seingatnya ada beberapa lagi kejadian yang konon sesuai dengan ramalan peramal tua itu.

Selama ini ia tidak pernah tertarik apalagi percaya dengan kabar-kabar yang beredar itu. Kalaupun iya, bagi dia, semua itu pasti  kebetulan belaka. Atau mereka sendiri yang memang gemar bergunjing melebih-lebihkan dan  mendramatisir kabar-kabar tersebut.

Tetapi kenapa sekarang ia gelisah? Lantas diam-diam ia menyesali kenapa sampai lupa menutup pintu sehingga peramal tua sialan itu bisa nyelonong masuk dan menerocoskan ramalan buruk yang akan menimpa dirinya. Ia jadi kesal sendiri. Selama ini ia selalu menutup rapat-rapat seluruh pintu dan jendela bila sedang mengetik naskah. Paling banter membuka gorden separuh. Ini ia lakukan supaya konsentrasinya tidak tergangggu, juga sengaja untuk menghindari siapa pun orang yang tidak dikehendaki, termasuk peramal menjengkelkan itu, mampir ke rumahnya.      

Ia membayangkan seandainya ramalan buruk itu betul-betul jadi kenyataan. Betapa mengerikan. Alangkah menyedihkannya mati dengan cara seperti itu. Tanpa sadar ia meraba jantungnya. Seakan jantungnya betul-betul bolong mengucurkan darah, melihat telapak tangannya bersimbah darah segar. Ia tidak pernah mempunyai musuh, tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun yang membuat orang punya alasan membunuhnya. Memang pernah ada surat pembaca di koran yang mengkritik keras sinetron-sinetron yang ditulisnya. Surat pembaca itu mengatakan dengan geram bahwa skenario sinetron yang ditulisnya sangat merusak karena membodohi anak-anak, meracuni akal sehat mereka. Surat pembaca itu juga mengancam akan membunuh penulis skenario sinetron jika tidak segera bertobat.

Tiba-tiba ia khawatir ramalan itu betul-betul bakal terjadi. Ia tidak ingin mati dengan cara tidak bermartabat seperti itu. Lebih penting lagi usianya masih muda, ia baru merayakan ulang tahunnya yang ke 30 tiga pekan lalu.

Lalu ia teringat jalan hidupnya yang rumit. Kuliahnya kocar kacir lantaran lebih memilih mengembangkan bakatnya berteater. Orang tuanya yang marah dan jengkel akan sikapnya kemudian masa bodo dengan jalan hidup yang dipilihnya. “Minggat saja sesukamu. Kamu urus sendiri masa depanmu,” hardikan bapaknya yang tak pernah lekang dari kepalanya. Ia bertekad akan membuktikan kepada siapa pun bahwa jalan yang dipilihnya tidak salah.

Namun kenyataannya ia terlunta-lunta dari sanggar teater ke sanggar teater. Bukannya jadi aktor atau sutradara teater seperti impiannya, dia malah jadi penjaga gedung kesenian di pojok kota yang sepi. Menikah dengan penjaga kantin yang kemudian kabur dengan lelaki lain karena tak sudi menyerahkan hidupnya pada lelaki yang tidak punyai masa depan jelas. Beruntung suatu hari dia bertemu seorang kawan yang menawarinya menulis skenario sinetron. Dari situ kehidupan ekonominya berangsur membaik, sampai ia bisa mencicil rumah tipe 35 di kompleks perumahan ini yang kini dipugarnya menjadi dua lantai.

Saat ini ia sekuat tenaga  mengumpulkan uang untuk rencana pernikahannya tahun depan. Ia juga kemudian teringat, betapa jalan hidup yang dilaluinya sampai sekarang, mirip dengan apa yang pernah diramalkan oleh seorang guru ngajinya dulu.  Lalu apakah hidupnya akan selesai sampai tahap ini saja? Ah, kenapa pula aku jadi kacau begini? Rutuknya lagi. Bukankah peramal itu tidak sempat membaca garis-garis pada tanganku? Jangankan membaca, menyentuh dan melihatnya pun tidak. Selama ini meski tidak mempercayai ramalan apa pun bentuknya, ia juga sangat membenci para peramal.

Berdasarkan pertimbangan yang agak matang, dengan sedikit kesal diam-diam ia mencari informasi mengenai peramal tua itu. Hari apa biasanya peramal itu mendatangi kompleks perumahan ini. Kalau perlu ia minta diantar menemui peramal tua itu di rumahnya seandainya ada yang tahu. Ia akan membayar besar pada tukang ojek yang mau mengantarnya ke sana. Ia akan bertanya apa sebabnya kedua orang itu akan membunuhnya, dan di mana pembunuhan itu akan terjadi supaya dia bisa menghindari pembunuhan itu.

Setelah ke sana kemari mencari informasi, ia hanya memperoleh sedikit bocoran, bahwa peramal itu hanya seminggu sekali datang berkeliling ke kompleks ini, biasanya pada hari Rabu. Sedangkan menurut ramalan pembunuhan yang menimpa dirinya itu akan terjadi Sabtu malam. Berarti tiga hari lagi. Tiba-tiba ia menjadi sangat gelisah.

Ia terus melakukan pelacakan sampai ke kompleks perumahan sebelah.  Merelakan diri nongkrong di warung bubur kacang ijo, mendengar obrolan orang-orang yang nongkrong di sana. Sampai beberapa lama ditunggu, obrolan yang menyinggung peramal tua itu tidak juga meluncur dari mulut orang-orang yang nongkrong di sana. Akhirnya dengan hati-hati ia bertanya pada tukang bubur tentang si peramal tua.  Tapi jawaban tukang bubur tak memuaskan.

Tapi ia belum menyerah. Esoknya kembali ia merambah ke kompleks perumahan sebelahnya lagi. Dari tukang ojek yang mengantarnya ke sana, ia memperoleh sedikit titik terang.  

“Saya kenal saudaranya,” cetus tukang ojek.

Maka diantar si tukang ojek, ia mencari saudara si peramal. Hanya saja tukang ojek makin berbelit-belit ketika ditanya di mana saudara si peramal tinggal. “Aku sering melihatnya berkitar-kitar seputar terminal, kalau tidak nongkrong di kios jamu seduh,” ucap tukang ojek. Mereka lalu menelusuri tempat-tempat di mana saudara peramal itu nongkrong. Ini jelas bukan perkara mudah.

SAMPAI hari Sabtu yang diramalkan berlalu, pengarang itu merasa tidak ada kejadian buruk yang menimpa dirinya. Bahkan badannya terasa lebih segar dan ringan. Pasti lantaran ramuan jamu tradisional yang dua hari ini dikonsumsinya, begitulah ia berpikir. Ia mendapati dirinya terbangun di lantai atas rumahnya. Membuka jendela, dan melangkah ke balkon yang langsung menghadap kebun rambutan. Sambil meregangkan badannya ia menghirup udara yang masih bersih kuat-kuat, memenuhi paru-parunya dengan oksigen yang menguar dari pori-pori daun rambutan. Merentang kedua lengannya. Ia merasa inilah pagi paling sehat sepanjang hidupnya. Kini ia benar-benar merasa lega. Ia melanjutkan dengan push up.

Ketika dia turun ke bawah untuk mengambil air minum di kulkas karena haus, barulah dia tersentak. Di  dilihatnya ruang tengah berantakan. Di lantai yang mengilap terdapat genangan darah, dan tak jauh dari sana dilihatnya sosok tubuh yang sangat dikenalnya terkapar dengan wajah berlubang tepat di antara kedua matanya. Dia memekik, tapi tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya...

Cirebon, Maret 2013

Comments