Buddha dan Penderitaan Manusia



Model diperani oleh Yunitha

Membaca “Buddha” Deepak Chopra menyeret ingatan saya ke masa remaja. Saya pernah secara sengaja mendatangi vihara yang berjarak sekitar dua kilometer dari sekolah saya. Kepada penjaga vihara saya berkata bahwa saya perlu bertemu bhikkhu.

"Kamu siapa. Ada perlu apa?" tanya si penjaga. Dengan gagah saya jelaskan keperluan saya mencari Tuhan. Seperti dugaan saya, penjaga vihara itu menatap saya curiga. Alasan yang saya sampaikan memang terdengar mengada-ada. Coba pikir, di tengah anak-anak sebaya saya yang sibuk pacaran, bolos sekolah untuk nongkrong di perempatan atawa menyelinap ke gedung bioskop, sekonyong-konyong saya datang ke vihara dengan alasan serupa itu.

Waktu itu saya kelas 1 SMA semester akhir. Saya tidak mengenal Buddha kecuali dari program mimbar agama Buddha yg ditayangkan TVRI saban Rabu malam. Pada masa itu hanya ada satu saluran televisi, jadi saya mau tahu mengikuti acara itu. Saya terkesan dengan wajah teduh para bhikkhu yang mengenakan kain berwarna oranye itu. Tapi bukan itu yang melantari kedatangan saya ke vihara. Sampai sekarang saya tidak tahu apa sebenarnya yang mendorong saya datang ke sana. 

Yang jelas saya tidak sempat bertemu bhikkhu, karena penjaga bilang bhikkhu sedang tidak ada di tempat. Dia menyuruh saya datang lagi besok. Namun saya tak pernah datang lagi. Keteduhan wajah bhikkhu kemudian kutemui juga dalam film-film shaolin kungfu yang saya tonton, dan terutama "Little Buddha" yang diperani aktor Hollywood Keanu Reeves. Sajian wajah teduh bhikkhu dan Buddha membuat keinginan menjadi bhikkhu sempat terlintas dalam benak saya. Keinginan saya itu mungkin dipengaruhi oleh cara pandang saya yang kelewat romantis dan sentimentil. Waktu itu saya membayangkan menjadi bhikkhu kegiatannya hanya bertapa di dalam vihara dan melulu sibuk dengan diri sendiri.

Buddha yang saya temui di novel Deepak Chopra ini terasa sangat manusiawi. Pangeran Siddharta Gautama, putra Raja Suddhodhana itu berjuang keras meninggalkan segala kenikmatan duniawi setelah melihat betapa manusia berada dalam penderitaan. Keluar dari istana pergi mengembara mencari guru yang dapat membimbingnya jadi pertapa, menjadi Buddha. Jelas ini keputusan sangat besar. Tidak mudah sampai ke sana. Jalan hidup asketik yang ditempuh Siddharta kurang lebih mirip sufi dalam dalam tradisi Islam.

Hambatan menempuh jalan ini sangat berat. Tidak hanya datang dari dalam diri, tapi juga dari ayah dan istrinya, Yashodhara, yang saat itu masih sangat muda dan ranum. Sang ayah, Raja Suddhodhana, terpukul atas keputusan putra tunggalnya yang diharapkan meneruskan kekuasaan sang ayah. Namun ini harus ditempuh Siddharta demi membebaskan manusia dari penderitaan.  

Pergi menjadi pertapa pengembara merupakan jalan untuk melepas pribadi dulu sebagai manusia yang penuh penderitaan menjadi manusia dengan pribadi baru yang mengatasi dunia dan mencapai Buddha. Ajaran yang kelak mengguncang dunia spiritual India, menghancurkan hak-hak istimewa kasta Brahmana dan mengangkat kehormatan spiritual orang-orang berkasta rendah yang tadinya merupakan kalangan terpinggirkan hingga kedudukan mereka sejajar.

Novel ini bertutur lembut sekali menuntun saya meresapi penderitaan Siddharta. Kisah dibuka pada 563 SM, Raja Suddhodhana, Raja Kerajaan Sakyamuni, India Utara, dari atas kudanya mengawasi pertempuran pasukannya melawan tentara musuh. Kerajaan Sakyamuni di bawah kepemimpinannya memang terus melakukan penaklukan-penaklukan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Pada saat yang sama sang permaisuri, Ratu  Maya, pulang ke kampung halamannya untuk melahirkan bayi yang kelak menjadi Buddha.

Sebelum menjadi Buddha, Sang Pangeran hidup di dalam istana sebagaimana pangeran-pangeran umumnya. Di sana ia dihindarkan dari pelbagai peristiwa dan pemandangan yang membuatnya bersedih. Orang-orang tua, orang sakit, orang miskin, disingkirkan dari ibukota yang mungkin terlihat Sang Pangeran. Tapi semua tidak berlangsung lama. Pangeran Siddharta melihat bahwa di luar tembok istana begitu banyak pederitaan. Inilah yang mencetuskan pilihannya keluar mengembara menjadi pertapa, menjadi Buddha.

Sang pangeran melewati aneka cobaan yang hampir saja membuatnya goyah. Mara, sang iblis, datang menawarkan tiga anak gadisnya kepada sang pangeran. Usia muda Siddharta yang secara biologis tengah matang-matangnya membuat darahnya bergejolak menahan gelora hasrat.

Bagi saya ini adegan paling menegangkan dan membuat saya tercengang-cengang bagaimana akhirnya Siddharta dapat melewati godaan itu dengan selamat. Mengabaikan segala kenikmatan yang ditawarkan dunia. Deepak Chopra dengan bahasa yang sederhana sangat cekatan menghidupkan sifat-sifat kemanusiaan sekaligus ke-Budha-an Siddharta Gautama.

Adegan mengharukan lainnya yang saya sukai adalah saat Siddharta telah menjelma jadi Sang Buddha dan menemui istrinya, Yashodhara, di istana. Perempuan itu memeluk Sang Buddha penuh dendam kerinduan.  Sang Buddha membalas pelukan itu tidak dengan hasrat ketubuhannya melainkan pelukan haru yang diliputi keinginan membebaskan pula Yashodhara dari penderitaan. Bagi Sang Buddha keinginan adalah sumber penderitaan. Maka ia berpesan sudahilah keinginanmu pada dunia jika kau ingin mencapai kebahagiaan.

Comments

Hm, bunyi "budha" dan "yunitha" memang tak jauh beda yah.