Senin



Minggu siang kemarin, kawan saya minta dibuatkan naskah tentang pendidikan. Dia menyodorkan tema: Hari Senin dan Pendidikan. “Pokoknya menyangkut pelajar gitu deh,” dia bilang.  Naskah ini untuk dipampang di halaman Informasia.Ini adalah halaman yang berisi tulisan-tulisan ringan tentang apa saja sekadar mengisi halaman kosong menemani ruang baris kolom. Umumnya tentang info-info ringan semisal sejarah asal mula sepatu hak tinggi, manfaat lipstik bagi kesehatan, cara merawat cermin di kamar mandi, dan semacam itu.

Tapi kali ini, dia meminta naskah yang agak berbau motivasi. Terus terang, saya jengkel dengan permintaan tema semacam itu. Di antara banyak jenis buku, buku motivasi adalah yang paling saya hindari. Kalau kau memeriksa koleksi buku saya, kau hanya akan menemukan satu buku motivasi. Ini buku yang saya dapatkan secara gratis dalam sebuah acara peluncuran.  Jangan pula bertanya kenapa saya menghindarinya, karena saya merasa agak ruwet untuk menjelaskannya.  Bagi saya motivasi-motivasi yang ditulis orang dalam buku-buku yang konon best seller itu terlalu menyederhanakan kompleksitas manusia.   

Saya tidak tahu, apakah naskah pesanan yang saya tulis itu beraroma motivasi atau tidak. Ini dia....

Hari di awal pekan, atau Hari Senin (semestinya Ahad atawa Minggu),  acap menjadi hari yang selalu ingin dihindari bagi kebanyakan kaum pekerja. Karena inilah hari untuk memulai kembali rutinitas setelah dua hari libur. Dua hari libur rasanya tak pernah cukup. Tapi kita tahu, Hari Senin, seperti juga hari-hari lain, tak pernah bisa dihindari. Orang harus bersiap kembali terjun menyuntuki  pekerjannya seperti biasa. Bagi para pelajar, mereka harus kembali ke sekolah. Bangun pagi, mandi, dan berebut angkutan menuju sekolah. Mengikuti apel bendera, menghadapi buku-buku pelajaran, mengisi soal-soal dari guru pengajar, dan seabrek kegiatan lain.

Mereka harus mencampakkan keinginan untuk berleha-leha di rumah, main game, atau menikmati kegiatan santai lainnya yang tidak menuntut kening berkerut atau omelan guru. Main game dan kegiatan santai pun memang tidak lepas dari kerutan kening. Namun tidak punya konsekuensi seserius urusan pelajaran di sekolah ketika kita mengabaikannya.

Hari Senin tetap harus datang—kecuali waktu berhenti berputar— dan mereka mau tak mau harus menyambutnya dengan kegiatan yang banyak direcoki aturan yang acap menjengkelkan kesenangan. Atura sekolah, aturan guru, aturan mengerjakan tugas dengan baik. Karena jika tidak maka dapat berakibat pada nilai pelajaran yang buruk. Kalau hal itu terjadi tinggal kelas menjadi ancaman yang mengerikan. Tentu saja mengerikan. Bukan hanya akan menghadapi kemarahan orang tua, tapi juga harus menanggung malu kepada guru dan teman-teman di sekolah karena ketahuan bodoh (malas).

Sebenarnya, menghadapi Hari Senin dengan perasaan senang adalah persoalan sepele. Namun karena kebanyakan kita menimbunnya, perkara sepela jadi terasa berat. Caranya adalah biasakan mengerjakan tugas sekecil apa pun tanpa menundanya. Tumbuhkan motivasi bahwa dengan mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya tanpa menundanya akan menyelamatkan kita dari kebuntuan. Percayalah sesuatu apa pun jika sudah menjadi kebiasaan akan lebih enak dikerjakan.

Semua memang bermula dari pikiran. Termasuk kebiasaan melakukan pekerjaan dengan baik tanpa menundanya. Jangan remehkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan yang remeh sekalipun. Karena hal itu akan merembet pada jalan hidupmu. Dalam konteks ini, marilah kita simak nasihat yang pernah dikatakan Margareth Thatcher, Perdana Menteri Kerajaan Inggris yang terkenal itu. Dia bukan hanya cerdas dan mendobrak tradisi kursi perdana menteri kerajaan Inggris yang selalu diisi laki-laki itu, tapi juga dikenal dengan ketegasannya. Tak heran dia dijuluki Lady Iron, Perempuan Besi.

Baiklah, Margareth Thatcher pernah memberi nasihat begini, “Jangan main-main dengan pikiranmu karena pikiran akan mempengaruhi tindakan. Jangan main-main dengan tindakanmu karena akan berpengaruh pada kebiasaan. Jangan pernah main-main dengan kebiasaanmu (sekecil apa pun) karena akan menjadi karaktermu, dan Jangan main-main dengan karaktermu karena itu akan menjadi orientasi hidupmu.

Maka mulailah hidupmu dengan pikiran yang baik. Ini bukan hal mudah apalagi jika kita berada dalam pusaran orang-orang dan lingkungan yang buruk. Tapi kita harus melakukannya. Karena orientasi hidup yang baik, tidak hanya akan membuatmu lebih mudah, lingkungan juga akan menangguk manfaatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka